The Black Missions

The Black Missions
Eps. 9 Scary Birthday



Pernahkah kau mendapatkan hadiah luar biasa dan tak terlupakan?


Fajar mulai menyingsing matahari mulai bersinar menyinari seluruh jagad raya, terlihat suara bergemuruh mulai meramaikan dan masuk ke dalam rumah, aparat keamanan telah datang. Jay mencoba keluar dari tempat persembunyian dan duduk di samping tubuh Sam, kakaknya yang terbujur kaku dan memucat sembari menangisi segala hal yang terjadi di rumahnya. Ayah, Ibu beserta kedua kakaknya Sam dan Dave telah tiada, kini hanyalah Jay yang tersisa. Ia merasakan kesepian dan kepiluan yang mendalam pada dirinya, nampaknya ia adalah satu-satunya korban yang selamat dari pembantaian massal semalam.


Hari ini, tepat hari ulang tahun Jay yang ke-10 yang ia idam-idamkan sebelumnya, namun karena kejadian itu yang membabat habis keluarganya membuat hari ulang tahun Jay menjadi sebuah tragedi berdarah dan kejadian ini takkan pernah bisa terlupakan dan terhapus dari ingatannya.


Pembantaian itu sangat jelas terekam dalam otak Jay yang saat itu masih menginjak kelas 5 Sekolah Dasar.


“ Aku akan membalas semua perbuatan yang menimpa keluargaku, akan kucari pelaku itu sampai dapat.” gumamnya dalam hati sembari tangannya mengusap air mata yang menetes dalam pipinya.


 


Sejak kejadian itu, Jay berubah menjadi sosok yang pendiam dan pemurung. Ia juga sering terpikirkan untuk melakukan percobaan pembunuhan dan melenyapkan nyawa seseorang karena nafsu balas dendam yang ada di hatinya. Ia pernah mencoba untuk membedah dan memutilasi kelinci dengan tragisnya dan mencoba melukai dirinya dengan sebilah pisau yang tajam, itulah awal mulanya Jay mencoba kekerasan pada hewan sebelum ia melakukannya pada manusia.


Saat Jay menginjak usia 19 tahun, nenek Jay membawa Jay ke psikiater karena tingkah lakunya yang mulai menyimpang dan sering melukai temannya dan bahkan ia pernah mencoba untuk membunuh kepala sekolahnya sendiri dengan senjata tajam yang ia simpan dalam tasnya. Karena meresahkan pihak sekolah dan siswa lain, akhirnya Jay dikeluarkan secara tidak hormat oleh pihak sekolah walaupun pihak sekolah tahu bahwa Jay adalah siswa paling berprestasi di sekolahnya.


 


Menginjak usianya yang ke 24 tahun, Jay bergabung dengan komunitas genk motor yang berbahaya di Las Vegas. Ia mulai menjadi seorang berandal dan preman yang ditakuti di sana, dalam perjalanan kriminalnya ia mulai menjadi seorang pembegal dan pembunuh bayaran hingga menjadi seorang bandar narkoba dan sabu-sabu yang radarnya diincar kepolisian.


" Kau takkan tahu, betapa beratnya hukumanku saat ini." ujar Jay dengan menyangga kepalanya menatap anak muda yang masih memiliki masa depan cerah seperti Jack O'Hammels.


Jack hanya menelan ludahnya mendengar kisah misteri dan mengerikan yang dialami oleh Jade Jillary, Jay


Jay merasa semakin keji perbuatannya membuatnya semakin jauh dari perilaku normal, ia menjadi terobsesi dengan darah dan kecanduan dalam membunuh orang lain, hingga suatu hari ia mendapatkan tawaran untuk membunuh dan menyandera seorang wakil presiden dengan bayaran yang sangat fantastik. Ia akhirnya menyetujui untuk menjalankan misi hitam ini. Namun, aparat kepolisian dan mata-mata negara telah mengendus gerak-geriknya dan segera menyergap Jay sebelum melancarkan aksinya yang hendak membunuh wakil presiden karena masalah politik, dan ia mulai dibawa menuju tempat introgasi.


 


Jay akhirnya di tangkap dan di jatuhi hukuman mati dengan pasal yang berlapis atas semua perbuatan kejinya. Ia di catat sebagai raja kriminal dengan membunuh 48 korban yang dimutilasi dan 12 orang korban pembegalan serta penjualan 10 ton narkoba dengan bentuk ganja dan sabu-sabu, bukan hanya mengidap gangguan jiwa yang menjadikannya seorang psikopat atau pembunuh berantai tapi juga ia di kenal sebagai seorang bandar narkoba yang pekerjaannya dapat merusak diri para generasi bangsa, dengan penangkapan yang sangat sulit hingga membuat para oknum polisi meluncurkan peluru pada kakinya , kini Jay berhasil dilumpuhkan dan mendekam di penjara sembari ia menunggu eksekusi hukuman matinya.


 


“ Kau seharusnya berpikir dengan matang dan jernih sebelum kau melakukan misi berbahaya seperti ini, lihatlah apa ada orang-orangmu yang menolongmu untuk keluar dari jeruji ini? Tidak, bukan? Mereka tidak peduli bagaimana nasibmu sekarang, mereka egois hanya ingin diri mereka selamat.” Tambah Jay dengan menepuk pundak Jack yang terdiam merenung mendengar perjalanan kriminal sang raja kekerasan.


“ Mungkin esok atau lusa adalah hari dimana aku akan di eksekusi mati dan kau akan sendiri meratapi nasibmu di jeruji sunyi ini, Jack. Kau tahu, menyendiri itu menyakitkan bahkan lebih menyakitkan daripada kau putus cinta.” tambah Jay dengan menatap penuh harap dan air mata kepada Jack yang tengah duduk membatu tanpa suara yang terdengar.


Jack mulai menatap penuh kejut mendengar ucapan pria kriminal legendaris itu, bagaimana bisa ia mendapatkan sebuah motivasi dan nasehat baik dari sosok pria pembunuh yang kali ini telah sadar akan segala perbuatan bengisnya.


Jay hanya menatap memberikan senyuman tulusnya dari hati dan pergi membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur lipat khas milik tahanan sesekali ia juga mulai menghela napas panjangnya yang nampaknya membuat relung batinnya tersiksa karena telah menceritakan kisah kelam yang ia pendam dalam diam selama ini.


Esok ketika pagi menjelang adalah hari dimana Jay hidup di dunia ini, ia harus segera tidur mengistirahatkan pikirannya dan menikmati kasur dunia sebelum benar-benar ia terkubur dan tertidur dalam peti mati untuk selamanya.


“ Kau tahu Jack, kau masih muda janganlah seperti diriku yang tak berguna dan hanya membuat orang resah dengan keberadaanku.” tambahnya dengan mencoba memejamkan kedua matanya yang nampaknya enggan terpejam karena terlintas dipikirannya tentang hari eksekusi kematian seorang penjahat kejam tanpa hati macam Jay.


 


Jack hanya diam menatap penuh kepiluan, ia seperti melihat sosok dirinya untuk beberapa tahun ke depan, dimana ia juga akan menunggu giliran eksekusi hukuman matinya. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada tembok dan menatap langit-langit penjara yang agak sedikit suram oleh bayangan ilusinya tentang masa depannya yang tergantung pada hakim.


 


Nampaknya, pikiran Jack mulai terbayang misi untuk melarikan diri dari hukuman tapi bagaimana caranya, Jack masih terus memikirkannya. Ia tak mau mati sia-sia dengan rasa pilu yang mendera batinnya seperti apa yang dirasakan oleh raja kriminalitas itu, Jade Jillary.


Ia harus segera bebas dan menjadi liar di luar sana. Tapi, bagaimana caranya Jack masih terus membayangkan, amat tidak mungkin bagi Jack O'Hammels untuk kabur karena penjagaan di sel ini sangat ketat banyak penjaga dengan senjata api yang berjaga di setiap sudutnya.


Akankah Jack melarikan diri dari jeruji besi yang sunyi seperti ini?