The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Cemburu



Kemunculan Valerie merupakan sesuatu yang disyukuri oleh Cathyrene. Ia dengan senyuman manis menyambut kedatangan salah satu dari begitu banyak gadis bodoh diluar sana yang mau mencintai Poseidon.


"Tentu saja tidak, Vale." ujar Cathyrene beralih memandang Poseidon seakan menyuruh pria itu segera enyah dari sana melalui gerakan matanya yang menunjuk Valerie.


Poseidon mengangkat sebelah alisnya.


"Lihat! Pemuja sungguhan telah datang. Pergilah bersamanya, jangan buat dia kecewa, aku percaya kau tidak suka mengecewakan para gadis kecuali diriku, ya kan? Oh iya dong." cerocos Cathyrene ikut berbisik ketika Poseidon hanya berdiam diri saja ditempatnya.


Poseidon melirik Valerie sekilas, mendesis tidak terima mendekatkan bibirnya ditelinga Cathyrene, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Cathyrene seorang, "Awas kau! Aku tidak akan melepaskanmu nanti."


Glekk


Cathyrene menoleh memandang Poseidon. Dalam hati ia gelisah akan apa yang akan dilakukan oleh dewa itu terhadapnya nanti. Jika didengar dari nada bicara Poseidon, pria itu sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.


Tamat sudah riwayatnya kali ini..


Poseidon menegakkan tubuhnya. Ia melemparkan senyum manis kepada Valerie sekilas sebelum memutuskan untuk pergi dari sana. Kali ini pria itu tidak menggoda Valerie seperti biasanya, entah apa yang terjadi. Poseidon justru membalikkan badan, memilih pergi menghilang ditelan kabut buatannya, dan meninggalkan Valerie yang memandang sedih ke arah tempat sang dewa menghilang.


Kecemburuan mulai merasuki hati Valerie. Ia tidak senang melihat Cathyrene yang sekarang didekati oleh sang dewa pujaan hati. Sungguh, Valerie tak akan siap dan tak akan pernah menerima orang lain mengambil hati poseidon.


"Cathyrene, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Valerie mendekat, memposisikan dirinya duduk disamping Cathyrene.


"Tidak ada, Vale." jawab Cathyrene kembali pada aktivitas menghias mahkota bunganya yang hampir hancur karena kedatangan Poseidon yang selalu merusak mood nya.


"Kau tau, bahwa dia lebih dulu mendekatiku."


Gerakan tangan Cathyrene terhenti setelah mendengar nada bicara Valerie untuknya yang terkesan sinis, "apa maksudmu, Vale?"


"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya menyadarkan dirimu saja sebagai seorang teman."


Hah!


Tidak taukah Valerie sebelumnya bahwa Cathyrene sudah berkali-kali dilukai hatinya oleh Poseidon?


Cathyrene menyeringai, merasa sebal karena harus terjebak dalam Cinta segitiga seperti ini. Hey! Come on! Memang siapa yang mau dilukai hatinya lagi?


"Sebagai teman aku pun ingin menyadarkanmu bahwa memuja secara berlebihan itu tidak baik. Dan kalau mau cemburu, jangan kepadaku karena kau salah orang, Vale." kesal Cathyrene melempar mahkota buatannya lalu beranjak pergi.


----


Waktu kesepakatan hampir berakhir namun Persephone belum juga kembali. Hal tersebut membuat Hades diliputi kegelisahan hingga berimbas bagi para penghuni lain dunia bawah, mereka turut merasakan kemarahan sang dewa setiap hari karena merindukan Ratunya.


Setelah kepergian Persephone ke dunia atas. Dunia bawah sering terjadi kekacauan, dan Hades sendiri selalu mangkir dari tanggung jawabnya tersebut. Ia lebih banyak menyendiri.


"Yang mulia, aku ingin meminta ijin untuk melempar pria berdosa yang baru saja dibawa itu ke Tartarus."


Hades mendongak setelah mendengar laporan dari Minor, "Apa harus kau menanyakan masalah ini padaku? Lalu apa fungsimu sebagai hakim jika hal seperti ini saja harus menanyaiku?" marah Hades mengibaskan jubah hitamnya yang mengeluarkan api ke belakang.


"Maafkan kami, Yang mulia."


Hades beranjak dari singgasananya. Dengan sorot mata tajam nan dingin yang memancarkan aura kematian ia melangkahkan kaki keluar dari istana. Membunuh waktu dengan cara mengelilingi daerah kekuasannya, berharap bisa menemukan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.


"Kita harus melakukan sesuatu. Jika tidak Yang mulia akan terus seperti itu pada kita."


"Thanatos, lakukan sesuatu!"


"Cuma ada satu cara. Dewi Persephone harus kembali ke sini." Thanatos menjawab pertanyaan dari ketiga hakim yang berdiri disampingnya.


----


Cathyrene kembali ke kamar dengan sebuah kertas ditangan kanannya, menghampiri Apollo yang sejak tadi penasaran menunggu Cathyrene mengambil hasilnya di ruang utama kuil Athena.


"Apa kau sudah tau lokasi yang akan kau urus?" tanya Apollo penasaran.


Cathyrene mengangguk sambil menunjukkan kertas ditangannya kepada Apollo, "Aku mendapatkan bagian barat." jawabnya kemudian.


Apollo membelalakan mata. Raut wajahnya berubah menjadi tidak senang saat mendengar Cathyrene mendapatkan wilayah tersebut.


"Tunggu! Ada apa, kau seperti tidak senang?" tanya Cathyrene hati-hati.


"Jangan wilayah barat, Rhea. Tempat itu tidak strategis. Sebaiknya kau meminta wilayah lain."


"Apa bisa?"


Apollo mendengus sebelum menjawab, "Tidak."


Cathyrene memutar kedua bola matanya, "Memang ada apa dengan bagian barat, Al. Kenapa tempat itu seakan buruk dimatamu.?" Cathyrene bertanya


Al memang panggilan yang hanya dipergunakan oleh Artemis dan ibunya akan tetapi Rhea juga ikut terbiasa karena merasa panggilan tersebut sangat cocok untuk Apollo dan sang dewa pun tidak keberatan dengan hal itu, hanya saja jangan sampai Artemis mendengarnya saja, saudari kembar Apollo itu sangatlah pencemburu jika sudah menyangkut dua orang tersayangnya tersebut.


"Tentu sangat buruk, disana banyak orang jahat tinggal, dan poin penting kau tidak akan bisa sampai disana."


"Kenapa?"


"Karena mereka tertutup dan tidak mau pihak luar mengusik kehidupan mereka."


Sial!!


"Lalu apa yang harus ku lakukan untuk masalah ini."


"Hanya ada satu tapi aku yakin kau tidak akan mau meski itu pilihan tetakhirmu."


Perasaan Cathyrene mulai tak enak namun ia tetap memantapkan hati untuk bertanya, "Beritahu saja."


"Aiden-"


"Tidak!" tolak Cathy tegas tak bermiat mendengarkan lebih banyak lagi


----


Artemis melangkah dengan anggun memasuki ruang Olympus. Diantara kedua belas kursi yang ada ditempat itu, Artemis melihat sosok ibunya tengah menduduki salah satu kursi milik dari kedua anaknya.


Sesungguhnya, kursi para dewa di ruang utama Olympus adalah sesuatu yang suci, tidak bisa di duduki sembarangan bahkan oleh dewa atau pun dewi lainnya terkecuali sang pemilik tempat memberikan tempat mereka untuk diduduki oleh dewa dewi lain seperti halnya dengan Helios yang memberikan posisinya untuk Apollo setelah anaknya mati dan Selene yang menyerahkan tempatnya untuk Artemis. Akan tetapi bagi Apollo dan Artemis hal tersebut bukanlah perkara besar. Cinta mereka kepada sang ibu jauh lebih besar daripada kedudukan mereka di gunung Olympus.


"Ibu, dimana Al berada? Sejak kemarin aku tidak melihatnya." tanya Artemis pada ibunya.


"Ibu pikir kalian berburu bersama kemarin, sayang."


Artemis menggeleng cepat, "Tidak, ibu. Dia meninggalkanku berburu sendiri." lapornya.


"Art, syukurlah kau kembali. Aku ingin bicara sesuatu denganmu." panggil Athena menghampiri Artemis dan dewi Leto membuat perhatian kedua dewi itu teralihkan.


"Ada apa, Athena?"


"Ini tentang anak itu. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Artemis memandang ibunya sebentar seakan meminta ijin untuk pergi bersama Athena yang langsung dibalas anggukan kecil oleh Dewi Leto.


Setelah berpamitan kepada Dewi Leto, Athena berubah menjadi cahaya putih begitu pun dengan Artemis. Kedua cahaya tersebut kemudian pergi, menghilang dari pandangan Leto.


Sepeninggalnya kedua dewi cantik tersebut. Leto kembali menerima kedatangan dewa lain. Kali ini Hermes, putra Zeus dan Maia itu terlihat muram ketika melangkahkan kaki, masuk ke Olympus.


"Dimana Persephone?" tanya Hermes langsung.


Zeus muncul entah dari mana. Sang penguasa Olympus itu teihat menduduki singgasananya dengan gagah sebelum menanggapi pertanyaan putranya yang baru saja datang dengan tegas,


"Ada keperluan apa kau mencari Persephone?"


"Saat ini dunia bawah sedang kacau."


"Apa?" Zeus berdiri dari singgasana. Ia cukup kaget mendengar kabar dari Hermes padahal setahunya selama ini dunia bawah selalu aman saja, "Lalu kemana Hades? Kenapa dia tidak berusaha menghentikan kekacauan yang terjadi disana?"


"Itu dia masalahnya ayah, dia menggila di Tartarus melebihi anjing kepala tiga peliharaannya."


"Lalu apa hubungannya dengan Persephone?" kali ini Hera bertanya, ia juga belum lama memunculkan diri disamping Zeus.


Leto tersenyum menanggapi, "Persephone sedang bersama ibunya. Ini memang sudah waktunya bagi Dewi musim semi kembali pada suaminya namun aku tidak menyangka keadaannya akan seperti ini. Hades bukanlah orang yang sulit mengontrol emosi kecuali jika dia memang merasa terganggu."


"Kau benar, Persephone adalah jawaban dari masalah ini." angguk Zeus lalu memandang Hermes, "pergilah temui Demeter, minta dia untuk membujuk Persephone agar kembali pada Hades."


"Tidak perlu." sahut Demeter muncul dari balik punggung Hermes bersama Persephone.


"Demeter."


"Aku sudah mendengarnya, sekarang Persephone akan pulang ke rumah suaminya, untuk itu bisakah aku meminta bantuan Hermes untuk mengantar putriku ke sana?"


Hermes memandang Persephone yang terdiam seakan menjelaskan melalui tatapan matanya yang kosong bahwa ini bukan pilihannya.



Seperti yang sudah direncanakan sebelum pergi ke wilayah bagian barat, Cathyrene akan lebih dulu mencari tau tempat yang akan menjadi tanggung jawabnya selama beberapa bulan ke depan.


Menurut cerita Apollo, bagian barat adalah wilayah pembuangan bagi rakyat miskin. Cara orang-orang disana bertahan hidup pun cukup ekstrem, adalah dengan mencuri di kota tetangga. Kekecewaan muncul karena merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah kerap membuat rakyat bagian barat tidak ingin menerima siapapun datang ke sana.


Oke, ini sama saja cari mati. Apakah orang-orang kuil mencoba membunuhku dengan mengirimku ke sana?


Cathyrene menghela nafas panjang, membuangnya kasar. Disinilah dia berada, di perpustakan pusat kota yang tidak terlalu besar tapi dia berharap dapat menemukan informasi yang dibutuhkan didalam sana mengenai wilayah barat.


Kedatangan Cathyrene disambut baik oleh penjaga perpustakaan. Mereka sudah menerima kabar tentang kedatangan Cathyrene dan menyiapkan semua kebutuhan yang diminta, dan dari keenam calon, hanya Cathyrene saja yang bersedia turun langsung sedang sisanya meminta untuk dikirimkan ke kuil.


"Silahkan ke sebelah sini, Nona." ucap seorang pria paruh baya menuntun jalan Cathyrene menuju bagian paling belakang perpustakaan sebelum pada akhirnya berhenti pada rak buku paling kotor dan tak terurus.


"Astaga." Cathyrene melongo.


"Tempat ini memang jarang didatangi, Nona." lanjut pria paruh baya penjaga perpustakaan menjelaskan.


Ia lalu memandang sebuah meja dan kursi yang telah usang diletakkan didekat rak yang dimaksud. Sekali lagi, Cathyrene hampir saja jatuh pingsan melihat keadaan sekitar.


"Nona, apa anda baik-baik saja?"


"Ya, aku hanya terlalu terkejut saja, Paman." balas Cathyrene tersenyum, "oh ya, bisakah aku minta tolong untuk mengumpulkan saja buku yang aku inginkan dan aku akan mengambil tempat lain saja, tidak apa kan?"


"Tentu saja, Nona. Tunggulah sebentar." serunya dibalas anggukan Cathyrene.


Cathyrene melangkah pergi dari sana sebelum ia kehabisan nafas karena tumpukan debu.


Tempat yang dipilih oleh Cathyrene terletak tidak jauh dari tempat tadi namun jauh lebih baik dari yang ia lihat sebelumnya. Cathyrene mendudukkan diri disana, setidaknya tempat itu akan membuatnya nyaman karena selain bersih, tempat tersebut juga strategis, memberikan ketenangan yang ia inginkan.


Pria paruh baya tadi kembali dengan buku-buku yang dibutuhkan Cathyrene, "Nona, ini buku yang anda minta." ucapnya sembari menunjukkan buku yang ada dikedua tangannya.


"Oh ya silahkan diletakkan disini," perintah Cathyrene yang langsung dituruti oleh pria itu. Ia meletakkan tumpukan buku dengan berbagai bentuk dan warna cover berbeda di atas meja Cathyrene, "terima kasih." sambung Cathyrene.


"Sama-sama, Nona apa ada yang dibutuhkan lagi?"


Cathyrene menggeleng menjawabnya, "Hm kurasa tidak. Paman bisa kembali bekerja," ramahnya.


"Baiklah kalau begitu, Nona. Jika membutuhkan sesuatu saya ada didepan sana."


"Iya."


Sepeninggalnya pria paruh baya itu. Cathyrene mulai menyibukkan diri membaca, menyerap segala informasi yang dia butuhkan sebelum pergi ke bagian barat untuk melakukan bakti sosial.


Satu, dua, tiga jam Cathyrene habiskan tanpa sadar. Sesekali ia merenggangkan otot tubuhnya yang sudah mulai lelah. Belum ada setengah dari tumpukan buku yang dia baca tapi tubuhnya sudah selelah ini.


"Capek sekali rasanya, aku sangat membutuhkan komputerku." keluh Cathyrene menutup buku kasar lalu menjatuhkan kepalanya diatas buku yang ada diatas meja.


"Disini panas sekali. Kira-kira tahun berapa AC diciptakan?" lirihnya kembali mengeluh, "Es krim coklat, stroberi, vanila yang lembut dan manis, aku haus akan rasa kalian sayangku..."


Rasa letih yang dirasakan menyebabkan Cathyrene tidak bisa menahan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang hingga para akhirnya ia jatuh tidur setelah meletakkan kedua tangannya diatas meja, menjadikan tumpuan untuk kepalanya.


----


Sebuah cahaya memasuki kamar melalui balkon lalu berubah menjadi sosok pria tampan dengan seorang gadis yang terlelap dalam gendongannya.


Sejenak ia memandang gadis yang berada dalam dekapannya memastikan gadis itu tidak terganggu sebelum melangkah perlahan menuju ranjang milik gadis itu.


Perlahan tapi pasti tubuh Cathyrene diletakkan diatas ranjang dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan gadis yang terlampau nyenyak dalam tidurnya hingga tak dapat merasakan bahwa ia baru saja dipindahkan dengan cara tak biasa.


"Gadis bodoh."


----


Tbc


Nimfa itu Dalam mitologi Yunani, nimfa atau nimfe (bahasa Yunani: Νύμφες) adalah salah satu jenis makhluk legendaris yang berwujud wanita dan diasosiasikan dengan lokasi atau tempat tertentu. Mereka diidentikkan dengan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas.


Udah tau lira kan? Lira itu semacam alat musik gitar tapi lebih kecil, siapa disini pernah nonton film anak-anak jack waktu naik kacang panjang sampai nembus langit dan nemu kerajaan langit dimana dihuni oleh sepasang raksasa, nah dia harus ambil alat music yang bisa bikin ayam bertelur emas kan? Itu dia bentukan lira.