The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Ketahuan



Cathy benar-benar dibuat kebingungan saat ini. Belum cukupkah ia mengurusi masalah wilayah barat dan sekarang pertanyaan tentang siapa yang bersamanya akhir-akhir ini mulai mengambil alih pikirannya.


"Al, kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Cathy memastikan, "Sebelum aku pergi kau datang ke Kuil, saat aku pertama kali datang disini juga kau ada, dan terakhir tadi siang, kau mengajakku berkeliling dan menceritakan tentang wilayah barat yang tidak ku ketahui bahkan bersedia membantuku mengatasi masalah di sini." lanjut Cathy menjelaskan.


Apollo terdiam cukup lama seakan tengah memikirkan sesuatu. Sepertinya ia tau ciri-ciri seseorang yang paling mendekati cerita Cathy.


"Al, jawab!" panggil Cathy melepas pekerjaanya lalu berjalan mendekati Apollo ketika sang dewa hanya diam saja.


Rasa penasaran yang terpancar dimata Cathy dibalas tawa kecil oleh Apollo. Ia menunduk menatap Cathy, "Rhea, tidak perlu dipikiran ya, sekarang fokus saja pada urusan wilayah barat ini." balas Apollo mengalihkan perhatian, Ia butuh mencari tau yang sebenarnya terjadi saat ia tidak berada disana.


"Huh! Tidak lucu, Al." decak Cathy memangku tangan menunjukkan kekesalannya didepan Apollo.


Apollo tersenyum menarik gadis itu dalam pelukan. Kedua mata Apollo terpejam, "Rhea ku sayang." gumam Apollo. Cathy dapat merasakan perubahan begitu besar pada Apollo, seperti ada sesuatu yang menganggu sang dewa matahari.


Akan tetapi ...


Perasaan lain itu muncul. Tidak sama seperti saat Apollo memeluknya tadi siang. Sebenarnya ada apa dengan dirinya, mengapa bisa ia bisa merasakan kenyamanan yang berbeda pada satu pria.


"Al, ada apa?"


Apollo melepas pelukannya lalu menatap Cathy. Ia membuka tangan, mengeluarkan sesuatu yang telah dipersiapkan olehnya dan Artemis. Sebuah gelang berbandul matahari dan bulan. Saudara kembar yang menguasai siang dan malam itu bahkan mendatangi Kiklops, dan meminta secara khusus untuk membuatkan gelang Cathy.


"Apa ini?"


"Ini hadiah dari ku dan Art."


"Tapi aku tidak sedang berulang tahun."


Apollo menggeleng, "Tak ada penolakan! Kau harus menerimanya." pinta Apollo tegas, "Semua ini untuk kebaikanmu, Rhea." lanjut Apollo dalam hati.


"Selama kau memakai gelang ini, jika kau dalam bahaya aku dan Art adalah orang pertama yang akan mengetahuinya. Untuk itu, Rhea. Jangan pernah melepaskannya."


Blushh


Ditengah pembicaraan Cathy dan Apollo. Cahaya bulan yang menyinari kamar Cathy bersinar begitu terang memunculkan sebuah sosok cantik elegan lengkap dengan atribut kebanggaan sebagai dewi bulan. Dewi Artemis.


Kemunculan Artemis yang tiba-tiba mengalihkan perhatian Apollo dari Cathy. Pria itu tersenyum menyambut kehadiran saudari kembarnya, sangat berbeda dengan Cathy yang nampak terkejut dengan sosok yang berdiri dihadapannya.


Gadis itu terlihat seperti salah satu kakak perempuan yang lebih dulu bergabung dalam group nya.


"Art."


Panggilan Apollo terhadap gadis cantik dengan gaun putih cantik seakan melenyapkan anggapan Cathy bahwa Seulgi ikut terdampar bersamanya. Jika ya, pasti gadis itu akan sama terkejutnya saat melihat Cathy tapi yang terlihat adalah gadis cantik yang memiliki kemiripan dengan orang yang dia kenal di masa depan itu justru tidak mengenalnya.


"Jadi semua itu benar?" tanya Artemis senang menghampiri Cathy dan Apollo. Ia telah mendengar segala cerita dari ibunya sebelum memutuskan menyusul Apollo.


Cathy mengernyit binggung. Sedari tadi kedua bersaudara itu membicarakan sesuatu yang tidak ia pahami. Kebenaran apa? Apa yang mereka ketahui dan tidak ia ketahui?


"Tunggu dulu! Apa maksud kalian?"


Artemis mendekat, "Belum saatnya kau tau gadis kecil." balasnya menepuk-nepuk lembut pipi Cathy membuat sang empunya mengerucut lucu.


Brakk


Suara seperti benda jatuh berhasil menarik perhatian ketiganya didalam kamar Cathy. Mereka menoleh memandang asal suara. Apollo sebagai satu-satunya pria disana mulai tertarik mendekati asal suara yang berasal dari balkon kamar Cathy.


Perlahan tapi pasti Apollo melangkah menuju balkon. Alisnya saling bertautan ketika melihat tempat itu kosong akan tetapi sebagai seorang dewa Apollo dapat merasakan kehadiran dewa lain didekatnya saat ini. Ck! Tidak salah lagi...


Dasar keras kepala..


"Al, ada siapa disana?" tanya Artemis dan Cathy kompak.


Artemis terbelalak sementara Cathy menoleh menatap sang Dewi. Wajah Artemis terlihat tidak senang ada orang lain yang memanggil Apollo seperti dirinya.


"Siapa yang menyuruhmu memanggil seperti itu?"


Apollo kembali memasuki kamar Cathy. Ia melihat Cathy dan Artemis saling melempar tatapan dingin satu sama lain.


"Rhea.. Art.."


"Al, dia mamanggilmu sama seperti aku dan ibu. Jawab aku! Apa semua wanita didekatmu kau suruh memanggilmu 'Al' juga? Kau tau kan tidak ada yang boleh memanggilmu seperti itu kecuali aku dan ibu."


Apollo menghela nafas frustasi. Sudah ia duga akan terjadi seperti ini, "Astaga, Art. Apa itu penting?"


"Tentu saja," balas Artemis menoleh sebentar menatap Cathy, "khusus Rhea pengecualian. Aku tidak akan mentoleransi wanita mana pun yang berani menyamai aku, ibu dan Rhea."


"Tidak ada, Art. Tidak ada. Hanya kau, ibu dan Rhea saja. Puas!" ungkap Apollo, "sudahlah, aku mau pergi dulu sebentar." pamitnya tanpa menunggu balasan dari siapapun langsung saja melesat pergi dan menghilang dari balik tirai pembatas balkon.


Artemis memilih menghiraukan Apollo lantas beralih memandang Cathy, "ku dengar dari Al, kau tengah kesulitan menangani masalah wilayah ini?" tanya Artemis basa-basi.


"Ya begitulah." balas Cathy menunjuk tumpukan berkas dibelakangnya yang belum beres ia periksa dan diperinci satu persatu.


Dalam ingatan Cathy. Artemis adalah dewi yang dekat dengannya namun dewi cantik itu sangat jarang menemui Cathy karena dia membenci kecintaan Cathy terhadap Poseidon yang dinilainya berlebihan. Sebagai dewi yang melambangkan keperawanan dan pemburu di alam liar, Artemis adalah wanita tangguh yang tidak gampang terjebak pada hal-hal berbau romansa.


"Tenang saja, aku dan Al akan membantu sebisa kami. Katakan saja, apa yang kau butuhkan."


Sementara itu,


Poseidon baru saja memasuki Olympus ketika Apollo datang menyusulnya dari belakang lalu merangkul Poseidon. Senyum bodoh ia lemparkan kepada Poseidon berhasil membuat sang dewa laut berdecak kesal.


Apollo memang temannya, mereka bahkan sempat bekerja sama untuk menentang Zeus, ayah Apollo sendiri namun tetap saja, sikap bodoh Apollo selalu menuai decak kekesalan dimata Poseidon yang kerap sekali diganggu oleh sang dewa matahari.


"Udah mulai berani ya. Kemarin katanya biasa saja, kenapa sekarang memaksa keadaan?" goda Apollo menaik turunkan alisnya.


"Apa maksudmu?"


"Tidak perlu pura-pura tidak tau disaat sudah ketahuan. Aku tau apa yang kau lakukan."


"Memang apa yang ku lakukan?"


"Huh, masih saja bersikap idiot. Mengaku saja! Kau kan yang menyamar jadi aku selama beberapa hari ini dan menemani Rhea? Ayo mengaku!"


"Rhea?" ulang Poseidon binggung. Ia tak mengetahui fakta tentang nama lain Cathy.


"Iya, ah maksudku Cathyrene." ralat Apollo memberitahu.


"Kalau iya memang kenapa? Apa kau keberatan? Biasanya juga kau menyamar jadi aku tanpa ijin untuk menggoda para gadis di kuil Parthenon agar selamat dari amukan Athena." balas Poseidon membongkar rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh mereka berdua.


Apollo kelabakan, ia melirik ke sekeliling dengan panik takut ada yang mendengar, "Hey, jangan mengungkitnya disini."


"Aku tidak mengungkit, hanya mengingatkan saja."


"Aku tau, aku tau tapi dari sekian banyak wanita kenapa harus Rhea." bantah Apollo penasaran akan alasan sebenarnya Poseidon sampai melakukan hal tersebut.


"Dari sekian banyak tempat, kenapa harus di kuil Athena?" balas Poseidon balik bertanya.


"Ya karena disana banyak wanita cantik- eh tunggu, jadi maksudnya?" Apollo menjawab cepat setengah kesal. Kedua matanya melebar sempurna tatkala menyadari perkataan Poseidon.


"Pikir saja sendiri."


----


Ariadne tidak berpikir kedua kali untuk membantu Perseus melewati Labirin rumit yang selama ini di jaga olehnya dan Minotaur. Cinta pada pandangan pertama telah menghilangkan akal sehat Ariadne. Tidak seharusnya ia membantu Perseus melewati labirin berbekal pedang dan benang pemberiannya setelah pria itu menjanjikan akan menikahinya dan mengajak Ariadne pergi dari sana.


Hal tersebut tentunya membuat Dionysus merasa kecewa terhadap Ariadne. Gadis pujaan hatinya itu lebih memilih mengkhianati tanggung jawabnya hanya demi seorang pria yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya.


Setelah berhasil menaklukkan labirin. Perseus membawa Ariadne ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni bernama Naxos. Ariadne ditinggalkan disana seorang diri selama beberapa hari dengan harapan Perseus tidak akan mengingkari janjinya untuk segera kembali menjemput Ariadne disana.


Akan tetapi, berhari-hari sampai beberapa bulan berlalu Ariadne belum juga mendapatkan kepastian hingga nyaris membuat gadis cantik itu patah hati.


Ternyata seperti ini rasanya dibohongi? Rasanya sungguh sakit bagi Ariadne.


"Kenapa?" tunduk Ariadne menangis.


"Karena dia tidak benar-benar mencintaimu." sahut seorang pria tampan nan gagah lengkap dengan jubah kebesarannya, muncul di hadapan Ariadne.


Ariadne mendongak, memandang pria didepannya. Pria yang dia ketahui bernama Dionysus itu kini tengah memandanginya iba dan itu bukanlah sesuatu yang ingin dilihat oleh Ariadne. Sungguh ia paling benci ditatap seperti itu.


"Mau apa kau kesini! Pergilah ke Labirin." cuek Ariadne memalingkan wajah tak mau Dionysus melihat keadaannya yang sedang kacau.


Dalam hati Ariadne berpikir pasti Dionysus tengah menertawai kebodohannya yang mau saja percaya pada Perseus yang nyatanya hanya memanfaatkan dirinya agar bisa keluar dari labirin dan kedatangan pria itu ke sini adalah untuk mengejeknya.


Dionysus tersenyum, "Untuk apa aku ke Labirin lagi kalau alasanku datang tak lagi disana?"


"Ck! Apa semua pria selalu mengatakan hal yang sama." Ariadne mendongak, menatap tajam ke dalam mata Dionysus menyiratkan luka mendalam yang dapat dengan jelas dirasakan oleh sang dewa anggur.


"Apa sesakit itu?"


"Kau tidak akan pernah mengerti."


Dionysus mendekat, mendudukkan dirinya tepat disamping Ariadne yang terus menunggu ditepi pantai setiap hari.


"Untuk itulah aku disini. Aku siap mendengar jika kau ingin bercerita, bersedia meminjamkan bahu saat dibutuhkan dan akan menjagamu agar tidak sendirian menunggunya disini."


Pada akhirnya pertahanan Ariadne runtuh. Ia meledakkan tangisannya didepan Dionysus. Menyandarkan kepala dipundak sang dewa.


----


"Nona, saya sudah mendapatkan surat dari pihak kerajaan yang menyatakan bahwa Putra mahkota bersedia menemui Nona." ucap Baron Deracles kepada Cathy ketika mereka sedang makan siang bersama diruang makan.


Cathy tersenyum lebar mendengar kabar baik tersebut. Syukurlah semalam perincian yang ia lakukan hampir selesai berkat bantuan Artemis. Saudari kembar Apollo itu sangat membantunya menggali informasi yang ingin ia ketahui.


"Benarkah? Kalau begitu secepatnya akan ku selesaikan rincian pengeluaran agar Putra mahkota bisa mempelajarinya." balas Cathy senang.


"Tapi, Nona ada satu hal yang ingin saya ingatkan sebelum pergi."


"Apa itu?"


"Putra mahkota bukanlah orang yang gampang dibujuk. Dia pasti akan menyulitkan Nona selama berhadapan dengannya. Tidak sedikit pejabat kerajaan yang tidak mau berurusan dengan Putra mahkota karena sikap Arogannya itu."


Cathy mengangguk. Mendengar perkataan Baron Deracles sama sekali tak mampu mematahkan semangat dalam dirinya, "Baiklah, kali ini aku akan mengingatnya, Tuan."


"Aku harap Nona berhasil melakukannya karena sudah lebih dari sepuluh tahun tempat kami terus mengalami penurunan dan hanya mendapatkan sedikit bantuan dari pihak kerajaan."


"Aku berjanji akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membantu wilayah barat." Janji Cathy.


"Bibi.." pekik Bella berlari dari kejauhan mendekati Cathy. Gadis cilik itu baru saja kembali setelah puas bermain ditaman belakang kediaman Baron.


"Bella, sayang." sapa Cathy menyambut si kecil Bella ke dalam pelukan.


"Bella main di kamar bibi ya." pinta Bella memohon dengan wajah lucu membuat Cathy gemas lalu membalas,


"Tentu saja, Bella sayang."


"Bella, jangan menganggu bibi Cathy." tegur tuan Baron tidak enak.


"Tidak apa, Tuan Baron, aku senang bermain dengan Bella." balas Cathy mengelus pipi gembul Bella yang kini duduk dipangkuannya.


"Bella mau ketemu paman tampan." bisik Bella kemudian yang hanya didengar oleh Cathy.


Cathy mengernyit. Tidak menyangka gadis kecil seperti Bella akan mengatakan hal seperti itu. Cathy tertawa. Jika begini ia merasa Bella mau datang ke kamarnya karena ada maunya.


----


Artemis baru saja menginjakkan kakinya di hutan ketika melihat Onion duduk dibawah pohon salam. Keadaan pria itu pun terlihat sudah lebih membaik dari sebelumnya membuat Artemis senang.


"Lycan, apa lukamu sudah sembuh?" tanya Artemis berjalan menghampiri Orion, "harusnya kau tidak boleh keluar dari istana untuk ke sini. Kau tau kan akan sangat berbahaya sekali berada disekitar sini."


"Ya begitulah. Tidak perlu khawatir, dewi. Aku akan baik-baik saja." jawab Orion Lycan tersenyum.


Kedekatan Artemis dan Lycan berlangsung sejak kejadian dimana pria itu menolong Artemis namun berakhir tragis pada dirinya yang hampir saja merenggang nyawa jika tak dirawat oleh Artemis.


"Lain kali jika kau membahayakan dirimu lagi, aku tidak akan mau menolongmu." ancam Artemis untuk yang kesekian kalinya.


"Iya, Dewi." angguk Orion tak bosan meskipun harus mendengar kata-kata tersebut berulang kali.


"Bagus, kalau begitu aku akan memeriksa lukamu untuk memastikan apakah perkataanmu benar atau tidak." balas Artemis berjalan mendekati Orion.


Senyum lega terukir dibibir Artemis saat melihat luka Orion sudah lebih membaik dari sebelumnya, jika tidak. Artemis akan terus merasa bersalah selama masa hidupnya karena telah menyebabkan pria iru terluka.


"Bagaimana? Aku tidak berbohong kan?" ucap Orion menyadarkan Artemis. Gadis cantik itu mengangguk kecil membalas perkataan Orion.


"Aku tidak akan berbohong padamu, Dewi. Apapun yang terjadi tolong percayalah padaku." pinta Onion menatap Artemis.


Sempat terdiam selama beberapa saat. Artemis pada akhirnya mengangguk menjawab Orion.


----


To Be Continue