
...Happy Reading^^...
Seminggu setelah pengakuan yang dilakukan oleh Yerim, tak ada yang berubah. Ia masih saja suka berdiam diri dalam kamarnya. Hal tersebut tentu saja membuat ketiga kakaknya sangat khawatir hingga mereka memutuskan bermohon pada agensi agar memberi Yerim tambahan waktu untuk pemulihan.
Hal tersebut mereka lakukan demi kebahagiaan Yerim. Gadis bungsu dalam group Red Velvet itu di harapkan dapat menggunakan waktu libur dengan sebaik mungkin dan akan kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik.
"Yer, kau tidak bisa begini terus."
Yerim menoleh, "Aku baik-baik saja."
Seulgi menggeleng, "Tidak, jangan kau pikir kami buta. Kau jelas tidak dalam keadaan baik."
"Seulgi benar, Yer. Untuk itulah kami sudah sepakat meminta agensi agar memberimu tambahan waktu untuk pulang ke rumah. Kami berpikir mungkin kau membutuhkan suasana baru."
"Hah."
"Sudahlah, kami hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Berjanjilah kau akan menggunakan waktu liburmu dengan baik dan setelah itu kembalilah ke sini jika sudah merasa lebih baik, bagaimana?"
Yerim mendongak, menatap para kakak perempuan nya dengan haru. Wajah-wajah dihadapannya juga lah yang hadir dalam mimpi panjangnya sebagai putri Cathyrene serta ikut menghiasi perjalanannya.
Berbekal buku panduan tour Yerim menginjakkan kaki di tempat yang tercatat dalam sejarah Yunani. Keputusan paling nekat yang di ambil oleh Yerim tanpa berpikir dua kali demi pergi mencari sebuah kebenaran yang tak kunjung ia dapatkan.
Ia putus asa, kecewa, marah pada dirinya sendiri karena tak mampu bertahan. Nyatanya dia justru ingin kembali kepada Poseidon. Hanya pria itu yang mampu membuatnya jatuh cinta juga terluka di saat bersamaan.
Meyaksikan sendiri deru ombak laut biru hanya menambah rindu. Yerim memandang sekeliling, tempat itu terasa tak asing, hanya ada beberapa penempatan sedikit berubah.
"Yeri, sampai kapan kau akan berdiri disana? Ayo! kita akan pergi mengunjungi tempat lain."
Yerim memejamkan kedua mata. Tour kali ini untung saja dia berhasil membujuk agensi sebelum persiapan comeback beberapa bulan mendatang bersama member lain.
Rombongan tour yang di ikuti oleh Yerim menuntun para wisatawan menuju kuil Apollo. Bangunan yang dulu kuat sekarang nampak hancur berantakan membuat Yerim membeku tak percaya.
Masih segar dalam ingatannya bagaimana kuil itu berdiri dengan kokoh penuh kemewahan. Entah apa yang terjadi hingga kuil di mana para Oracles Apollo berada hanya meninggalkan sisa puing-puing kehancuran.
"Al, apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Yerim. Ia tak menginginkan melihat kehancuran ini. Tujuannya datang adalah untuk mencari jalan kembali tapi melihat keadaan di depan matanya. Yerim jadi tak yakin keputusannya kali ini akan membuahkan hasil yang dia inginkan.
Yerim berjalan menjauh dari rombongan lain. Tiba-tiba saja merasa kedatanganya hanyalah sebuah kesia-siaan. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk bisa kembali pada masa itu.
Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Yerim. Langkah kaki kecilnya secara tak sengaja masuk ke dalam sebuah pintu yang berada di bagian belakang kuil. Yerim melesak masuk, merasa membutuhkan waktu sendiri.
"Akhirnya kau datang juga." seru satu sosok yang entah sejak kapan muncul dihadapan Yerim dengan jubah hitam dan cadar yang menutupi wajahnya.
"Siapa kau!?"
"Karena kali ini yang datang adalah dirimu jadi ku rasa aku bisa membuka cadarku." ucapnya mulai membuka cadar, menunjukkan wajah cantiknya yang tak lekang oleh waktu dan sialnya Yerim mengenal dengan jelas siapa wanita itu.
"Delphie?" gumam Yerim tak menyembunyikan keterkejutannya melihat salah satu Oracles kepercayaan Apollo berada disini, dan lebih parahnya hidup di dunia nya.
Oh astaga, ternyata selama ini mimpi-mimpi itu bukan sekedar bunga tidur saja?
"Yang mulia Ratu dari sang penguasa lautan, Poseidon." tunduk Oracles Delphie pada Yerim sontak saja membuat Yerim mundur beberapa langkah saking terkejutnya.
"Aku bukan orang yang kau maksud." Bantah Yerim.
Oracles itu tersenyum, "Tapi takdir membawamu ke sini, membuat ku yakin kau adalah orang yang ku tunggu selama ini. Alasan mengapa diriku hidup abadi." jelas Oracles.
Yerim mengerutkan dahi. Benar-benar dibuat binggung oleh pernyataan Delphie terhadapnya.
"Apa maksudmu, bagaimana bisa aku menjadi alasan kau hidup abadi?"
Oracles Delphie menghela nafas mendudukkan kepala seperti tengah bersiap memulai cerita..
Flasback..
Poseidon marah, amukan sang dewa laut tak terhindarkan. Angin berhembus kencang, lautan bergemuruh mewakili kesedihan sang penguasa lautan pasca di tinggalkan istrinya.
"Asthrea!!!"
Semua sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Apollo yang ikut menjadi saksi atas berakhirnya kehidupan Rhea-nya berlutut tepat di sisi raga Cathy yang terlihat pucat.
Menyesal, merasa tak berguna di saat bersamaan, bahkan kekuatan dewa nya tak mampu untuk menyelamatkan sahabat terbaiknya.
Artemis turun menyusul Poseidon dan Apollo tak kalah terkejut melihat semua yang terjadi. Sesaat Artemis terdiam sebelum melangkahkan kaki dan ikut berlutut disamping Apollo.
"Al," Artemis memeluk Apollo yang terlihat begitu rapuh dan hanya menatap kosong ke depan.
"Aku sepertinya telah melakukan kesalahan dengan membawa Rhea ke kuil ku, Art." lirih Apollo.
Diam-diam Poseidon mendengar semua yang diucapkan oleh Apollo. Seperti pasang surut air laut, begitu pula dengan sang penguasa lautan yang kerab kali labil jika sudah menyangkut emosi.
"Setelah itu Poseidon mendatangi kuil kami, dia menghancurkan apapun yang dia lihat hingga pada akhirnya mengutukku seperti ini." jelasnya.
Oracles Delphie memejamkan mata tatkala dirinya harus mengulang kembali masa kelam di mana ia dihukum hidup abadi seperti sekarang ini karena suatu menyebabkan Ratu yang paling di cintai oleh sang dewa lautan pergi.
"Kau pasti mengarang cerita."
"Sama sekali tidak. Kami para Oracles tidak bisa berbohong. Mengenai Hera, itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Yang kau lihat waktu itu bersama Demeter adalah Zeus yang kala itu menyamar agar bisa bicara dengan Demeter. Sejak insiden dimana Zeus ikut terlibat karena memberi ijin Hades untuk menculik Persephone, Demeter tidak lagi mau berhubungan dengan Zeus."
Bisa dikatakan Oracles delphie menyesali tindakan gegabah nya yang telah menyembunyikan sebuah kebenaran yang dia ketahui demi memperbaiki keadaan namun justru akibat dari perbuatannya segalanya menjadi tak terkendali bahkan Apollo sebagai dewa yang melindungi mereka tak turun tangan menyelamatkan kuilnya yang berada dalam ambang kehancuran.
Semua itu karena satu kebohongan dan bagi Apollo itu adalah sebuah kesalahan tak termaafkan.
"Aku hanya ingin memperbaiki keadaan namun tanpa sengaja malah mengacaukannya."
"Bukankah kau dapat melihat masa depan? Kenapa tidak menggunakannya untuk dirimu?"
"Jika bisa, tapi sayangnya kemampuan kami hanya sebatas anugerah yang tidak bisa datang setiap saat seperti yang kami inginkan."
Setelah penjelasan yang cukup panjang. Oracles Delphie mengeluarkan sesuatu dari jubah hitam yang ia kenakan kemudian meniup serbuk berkilauan di telapak tangannya didepan Yerim reflek membuat Yerim menutup matanya.
"Aku tau kau ingin kembali. Maka dari itu tujuanku disini adalah menunggu mu untuk mengabulkan keinginan itu. Gelang dari dewa kembar Apollo dan saudarinya Dewi Artemis memiliki dua fungsi yaitu bisa membawamu pergi dan memulangkanmu, masing-masing hanya bisa digunakan sekali saja."
"Bagaimana kau bisa yakin begitu?"
"Takdir.." jawabnya cepat," Kau akan kembali ke masa lalu tapi tidak lagi sebagai Putri Cathyrene."
Yerim terdiam. Jika dia kembali bukan sebagai Cathy lalu bagaimana bisa dia menemui Poseidon? Ia menggeleng lemah. Sesuatu yang tak disadari oleh Yerim bahwa tubuhnya telah mengeluarkan cahaya kecil ketika ia menutup wajahnya dengan kedua mata.
"Semoga berhasil."
Oracles dihadapan Yerim menyunggingkan senyum tipis. Tugasnya telah selesai. Sesaat setelah Yerim menghilang tubuhnya perlahan berubah menjadi abu dalam sekejab mata.
Yerim membuka kedua matanya. Hal pertama yang menyambut penglihatannya sungguh tak dapat ia percayai padahal terakhir ia ingat dia berada dalam ruang gelap bersama Oracles akan tetapi sekarang dia terjebak di sebuah tempat yang tidak ia ketahui.
Oh astaga. Yerim benar-benar ketakutan sekarang. Ia memandang sekeliling tak ada siapapun sampai mulutnya dibekap lalu wajahnya ditutup kain hitam di susul tubuhnya yang tiba-tiba di belenggu dari belakang.
"Dasar budak tidak tau diri." maki seorang pria.
"Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera menyiapkan budak untuk dewa." balas yang lainnya.
Dari suara yang Yerim dengar. Jelas yang menculik dirinya adalah pria, dan mereke terdengar lebih dari dua orang.
"Ayo pergi sekarang. Sepertinya harga jual budak ini lumayan."
Sial! Jika saja mereka tau dengan siapa mereka berurusan pasti ia tidak akan menerima perlakuan kurang ajar seperti ini. Tunggu saja..
Sepanjang perjalanan yang ditempuh menggunakan kereta kuda. Tubuh Yerim dilempar pada tumpukan jerami. Yerim meringis kesakitan, betapa kasarnya dia diperlakukan. Sungguh tak manusiawi.
Kepalanya masih tertutup kain hitam dengan kedua tangan terikat ke belakang Yerim mencuri dengar pembicaraan yang dilakukan oleh dua orang pria yang menculiknya.
"Apa kau sudah dengar bahwa sebelum Troya hancur. Dewa Poseidon sempat menculik seorang Putri dari kerajaan musuhnya, dan karena itu juga sang Putri di buang oleh keluarganya sebab di anggap sebagai pengkhianat."
"Aku mendengarnya dengan versi berbeda. Sang Putri di jadikan korbankan demi kemenangan mereka. Kurang lebih begitu."
"Ya mungkin tapi sudahlah, itu semua sudah berlalu, toh juga dewa Poseidon sudah memiliki calon Ratu baru kan? Kita saja ditugaskan mencari budak yang dapat bertugas melayani sang Ratu."
"Itu benar."
Yerim mendengar semuanya dengan jelas. Dalam hati ia yakin dua orang yang menangkapnya ini bukanlah rakyat biasa karena tidak memungkinkan bagi manusia biasa dapat mengetahui segala informasi tentang dewa sedetail ini, bahkan untuk sekedar gosip sangat keramat untuk dilakukan para manusia biasa selain para keturunan dewa atau bisa disebut demigod.
Setetes air mata jatuh. Mungkin kedatangannya adalah keputusan yang salah. Poseidon telah melupakannya lalu untuk apa dia disini?
Sial! Kalau bukan karena tangannya terikat, sudah dipastikan Yerim akan segera menghilang dari sana untuk selamanya.
Tak terasa mereka membawa Yerim sampai ke tempat tujuan. Tanpa basa basi mereka menyeret Yerim keluar kemudian menarik kain di kepalanya.
Tepat dihadapan matanya. Sebuah istana kokoh milik Poseidon. Tempat yang dulu menjadi rumah paling nyaman tapi sekarang dia datang lagi sebagai orang asing.
"Ayo masuk! Pekerjaan menunggumu!"
Yerim masih dengan dress selutut dari masa depan sama sekali tak menimbulkan kecurigaan berarti tiga pria dibelakangnya. Yerim berjalan perlahan memasuki istana. Dia sudah berjanji jika punya kesempatan ia akan segera melarikan diri.
Kedua tangan yang membelenggu Yerim di buka kasar, setelahnya Yerim di dorong masuk ke dalam gudang makanan bersama dua budak lainnya yang telah berada didalam dengan pakaian compang camping, sangat mengenaskan.
"Bagus. Aku dijadikan pembantu dirumah suamiku sendiri." batin Yerim tertawa membuatnya di tatap dua wanita lain didalam ruangan tersebut.
"Wajahmu tidak asing." ucap seseorang memasuki ruang makanan. Gaun berwarna jingga melekat ditubuhnya menegaskan posisi wanita itu disana bukanlah pelayan dapur biasa.
Yerim gelagapan. Tidak, dia tidak boleh dikenali. Dia tau bahwa wajahnya dan Cathy tidak jauh berbeda, hanya saja mereka hidup di masa yang berbeda dan secara garis besar mereka bisa di bilang mirip jadi wajar ada yang mengenalinya.
"Mungkin salah orang." bantah Yerim memalingkan wajah. Tak ingin orang tersebut berhasil mengenali dirinya. Yerim pada akhirnya menaburi wajahnya dengan tepung.
Hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa. Hanya dengan begini maka dia tidak akan menambah beban. Yerim menatap gelang ditangannya dan sudah bersiap untuk melepaskannya agar bisa kembali, seperti yang sudah dikatakan oleh Delphie ketika suara berat menyapa pendengarannya.
"Apa yang kalian lakukan disini? Pesta di depan kekurangan pelayan dan kalian bersantai disini?"
Yerim menunduk dalam, sebisa mungkin menyembunyikan diri dari seseorang itu.
Apollo, sang dewa yang mau tak mau turun tangan langsung meski dia sebenarnya tidak ingin hadir dalam pesta itu membalikkan badan.
"Al." batin Yerim.
Langkah kaki Apollo terhenti. Ia menoleh menatap ke belakang, "Siapa yang memanggilku dengan lancang hah?" tanyanya emosi.
Sontak saja semua orang yang ada disana tertunduk tak berani menjawab sang dewa matahari. Apollo mengerang ketika tak ada yang mau menjawab pertanyaannya, ia kemudian berjalan pegi dari sana.
Tbc
Maaf ya kemarin aku aktifin status tamat krn sibuk.. Wkwkk sekarang udah di cabut lagi kok, selamat menikmati yaa.. Orion dan Artemis kayaknya aku gabungin di sini deh kisahnya..