The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Poseidon



Penipuan yang dilakukan oleh Raja Troya adalah sesuatu kesalahan besar yang tak termaafkan oleh kedua dewa besar seperti Poseidon dan Apollo. Akibat dari kemarahan tersebut, Poseidon mengirim monster laut untuk memporak-porandakan Troya dibawa kekuasaan Laomedon sementara Apollo mengirim sampar ke Troya sebagai bentuk amarah sang dewa matahari.


Akan tetapi, pertahanan dilakukan oleh Raja Troya dengan mengorbankan Putri Hesione sebagai umpan untuk dimakan monster laut yang dikirimkan oleh Poseidon. Akibatnya, Herakles turun tangan menolong sang Putri Hesione dari maut hingga Beberapa bulan sejak kejadian itu, Hesione meninggal setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Rhea Ammora.


Kelahiran yang dirahasiakan karena kebungkaman Hesione untuk memberitahukan siapa ayah dari Putri yang dilahirkan membuat Raja Laomedon menjadikan Rhea sebagai Putri bungsunya, mengantikan Hesione, ibunya. Putri yang kini dikenal dengan nama Cathyrene of troy.


"Aku telah bersumpah akan menghancurkanmu melalui keturunanmu, Laomedon."


Setiap perbuatan dan perkataan Poseidon tak pernah luput dari penglihatan dan pendengaran Cathyrene sejak masih dalam perut Hesione tapi meskipun begitu, ia tak kuasa menahan rasa cinta yang datang tanpa bisa dicegah olehnya, walau harus menanggung rasa sakit karena dendam sang dewa.


Poseidon, dewa itu terlalu angkuh dan bersikap seenaknya terhadap orang yang ia benci, ia pun tidak segan menjadi membuat musuhnya hidup dalam penderitaan.


Sejak kecil, Cathyrene telah mendedikasikan hidup dan matinya untuk Poseidon. Dimana pun, kapan pun ia selalu menyembah sang dewa. Memanggil nama Poseidon siang dan malam, berharap sang dewa akan memperhatikannya namun yang selalu ia terima adalah penolakan dan penghinaan.


"Waktuku terbuang percuma. Tidak bisakah kau berhenti mengusikku?"


"Gadis bodoh!"


Meskipun berulang kali mendapatkan penolakan dari sang dewa tapi hal tersebut sama sekali tak membuat Cathyrene menyerah hingga hari itu tiba..


Cathyrene yang lemah memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari tebing ketika Poseidon tak lagi mempedulikan dirinya.


Poseidon tak mempedulikannya? Itu yang terlihat namun pada kenyatannya lain..


"Bodoh!"


Kata tersebut terucap secara reflek ketika sang dewa penguasa laut berhasil membawa tubuh seorang gadis yang nyaris tenggelam ke daratan.


Poseidon mendengus, Setelah sebelumnya memutuskan untuk mengabaikan teriakan Cathyrene. Ia tak menyangka gadis itu akan melakukan hal yang membahayakan nyawanya.


Dengan menggunakan kekuatannya sebagai dewa. Poseidon melakukan penyelamatan diatas tubuh lemah Cathyrene dan ketika merasa cukup, ia langsung berbalik pergi dari sana setelah mendengar pekikan seorang wanita dari kejauhan.


"Ya ampun Putri!!"


Hari demi hari berlalu. Poseidon merasa sepi karena tak mendengar suara Cathyrene memenuhi pikirannya membuatnya penasaran hingga memutuskan menemui Apollo untuk mencari tau.


"Apollo." panggil Poseidon ketika melihat Apollo hendak menuruni gunung Olympus. Sepertinya dewa tampan tersebut akan mengunjungi bumi lagi hari ini.


"Ada apa?" tanya Apollo menghentikan langkah, berbalik memandang Poseidon.


"Kau mau turun ke sana lagi?"


Apollo mengernyit, pertanyaan Poseidon terlalu aneh untuk didengar olehnya, "Iya, kenapa? Apa kau sedang mencoba mengurusi kehidupanku atau memang ada hal lain yang ingin kau ketahui?" tanya sang dewa matahari memangku tangan.


"Ck! Tidak ada, aku hanya berpikir sebagai dewa penganti Helios kau terlalu santai."


"Tunggu dulu! Aku tetap melakukan tugasku tepat waktu, Dewa. Apa yang kau khawatirkan tentang matahari yang terlambat terbit atau tenggelam?" bela Apollo tak terima akan tuduhan Poseidon terhadap dirinya.


"Tidak ada."


"Kau dewa yang aneh. Sudahlah, aku harus pergi menemui teman bodohku di kuil Parthenon hari ini."


"Parthenon?"


"Aduh keceplosan. Sudahlah, lagipula kau tidak akan tertarik."


Apollo mengibaskan tangan. Memilih untuk segera turun dan mengabaikan Poseidon. Mungkin akan lebih baik jika dia turun ketimbang harus berdebat dengan dewa arogan seperti Poseidon.


Lagi dam lagi, rasa penasaran membuatnya tidak bisa berdiam diri di Olympus. Ia kemudian turun, ikut menyusul Apollo beberapa saat setelahnya dan langsung menuju kuil yang dikatakan oleh Apollo tadi.


Ketika menginjakkan kaki di taman dekat kuil. Dengan cepat Poseidon mengubah wujud menjadi seorang pria lain agar tidak diketahui oleh siapapun tentang kedatangannya tapi sayang, seorang gadis sudah terlebih dulu menyadari kehadiran sang dewa laut yang gagah.


"Dewa.." gagap gadis bernama Valerie tergagap karena terpesona dengan ketampanan Poseidon.


Cukup lama Poseidon berdiri disana sebelum pada akhirnya berjalan pergi meninggalkan Valerie yang hanya bisa memandang sang dewa dari kejauhan penuh kekaguman.


Brukkk


Seorang gadis terlihat tergesa-gesa menuruni anak tangga berhasil menarik perhatian Poseidon. Ia memperhatikan setiap langkah gadis itu dengan seksama sampai ketika gadis itu hampir terjungkal, sang dewa dengan gerakan gesitnya menahan cepat tubuh gadis yang menjadi alasannya datang mengunjungi kuil Parthenon setelah insiden Medusa, gadis yang ia jadikan pelampiasan sekaligus harus menerima amukan Athena beberapa waktu lalu.


"Bodoh!" desisnya memarahi Cathyrene karena kecerobohan yang dilakukan gadis itu.


Cathyrene melepaskan diri dari Poseidon. Sembari mengatur nafas ia menunduk berterima kasih kepada orang yang sudah menolongnya.


"Terimakasih banyak. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika tuan tidak menolongku tadi."


Poseidon diam ditempatnya, tak membalas ucapan Cathyrene sama sekali membuat Cathyrene mau tidak mau mendongak, menatap Poseidon.


"Maaf, tuan. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Cathyrene mengernyit.


Lagi, Poseidon mengabaikan Cathyrene. Ia malah melangkahkan kaki meninggalkan Cathyrene yang terlihat kaget karena ditinggal begitu saja.


"Ya ampun, sombong sekali orang tadi." komentar Cathyrene kesal. Ucapannya tersebut terdengar cukup jelas ditelinga Poseidon yang memiliki panca Indra yang tajam.


Poseidon memberhentikan langkah ketika sudah sedikit jauh dari Cathyrene. Cahaya bermunculan seiring dengan wujudnya yang kembali pada bentuk semula. Sang dewa menatap Cathyrene dari jauh..


"Ada yang bilang rasa penasaran bisa membunuh." celetuk Apollo berpangku tangan sembari terkekeh, ia ikut memperhatikan Cathyrene dari kejauhan.


"Maksudmu?" tanya Poseidon tak suka.


"Aku tau kau membencinya tapi jangan terlalu larut dalam kebencianmu."


"Kau selalu sok tau ya?"


Apollo tertawa kecil, menundukkan kepala sebentar lalu memandang ke arah yang sama, "aku hanya terlalu mengerti gadis yang kau benci itu hingga hal terkecil pun yang berhubungan dengannya aku tau." jelas Apollo dengan nada tak seperti biasanya. Pria itu terdengar begitu marah, bahkan Poseidon bisa merasakan kemarahan sang dewa matahari di samping nya itu.


"Kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Ya, ya kau dewa Agung. Semua wanita jatuh dalam pesonamu dan mendapatkan kasih sayangmu sementara dia tidak mendapatkan kelayakan itu darimu." sambung Apollo kemudian.


Poseidon menyunggingkan senyum tipis, "kalau begitu kenapa tidak kau saja yang memberikan kasih sayang terhadapnya?" balas Poseidon santai.


Ditengah pembicaraan keduanya. Poseidon tiba-tiba merasakan sesuatu dibelakangnya sebelum sebuah suara panah terdengar seperti menuju kearahnya membuat Poseidon menggunakan kekuatan yang ia miliki untuk menangkap panah Cinta yang ditujukan kepadanya dengan tangan kirinya yang bebas.


Dalam sekejab panah emas ditangan Poseidon ia hancurkan lebur. Wajahnya memerah menahan amarah saat menyebutkan satu nama, satu-satunya yang berani melakukan hal ini terhadap dirinya.


"Eros."


"Tangkapan yang Bagus, Aiden."


Bukannya merasa bersalah. Pelaku yang dipanggil Eros oleh Poseidon itu justru tertawa kecil seperti tidak melakukan apapun.


Pria tampan yang selalu bersama panah cintanya kemanapun ia pergi melangkah mendekati Apollo dan Poseidon.


"Ck! Jadi ini rencanamu?" tuduh Poseidon terhadap Apollo.


"Bukan aku." bela Apollo.


Eros menepuk bahu Poseidon guna menenangkan pria emosional itu dari amarah tapi sang dewa laut yang diliputi kemarahan membalikkan tubuh, menepis tangan Eros kemudian menghilang meninggalkan Apollo dan Eros tanpa pamit.



Ketika sang Mentari hampir tenggelam. Poseidon sedang dalam tugas tak sengaja melihat Cathyrene ditepian sedang berdiri memandang lurus cahaya Apollo. Hal tersebut membuatnya seperti disihir dipikirannya untuk menemui gadis itu.


"Jangan bilang kalau kau sedang berpikir untuk menenggelamkan diri di laut lagi?" seru Poseidon muncul dibelakang Cathyrene.


"Ya, aku memang berniat menenggelamkan ingatan tentang rasa yang adalah sebuah kesalahan ini."


Cathyrene melangkah mundur. Ia terlihat seperti ingin menghindari Poseidon.


"Tunggu!" panggil Poseidon membuat langkah Cathyrene terhenti. Ia lantas membalikkan tubuh, "Bisa kita bicara sebentar." pinta Poseidon.


"Ku pikir kau tidak pernah mau bicara denganku karena kau membenciku." balas Cathyrene dingin. Hal tersebut cukup mengejutkan Poseidon.


Sikap gadis itu jauh berbeda dari sebelumnya. Apa mungkin insiden bunuh diri itu membuat gadis itu menyerah atas dirinya? Suara Cathyrene yang selalu memenuhi pendengarannya hampir setiap malam tak terdengar lagi.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," jelas Poseidon menatap Cathyrene. Tatapan lemah yang selalu diperlihatkan oleh gadis itu sirna. Sama seperti kemarin, Cathyrene justru memandangnya kesal,


"Dan aku menghargaimu, bukan membencimu,"


Entah apa yang terjadi. Poseidon tidak dapat berbohong kali ini. Ia bersungguh-sungguh pada perkataannya, "hanya saja ada beberapa hal yang tidak dapat diubah." sambung Poseidon menatap Cathyrene yang terdiam, sibuk dengan pikirannya membuat Poseidon menatapnya penasaran.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Poseidon bertanya.


"Tidak ada yang ku pikirkan." jawabnya tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh Poseidon.


Angin berhembus kencang mengirimkan hawa dingin yang makin parah kian hari membuat Cathyrene yang hanya memakai gaun tipis menggigil kedinginan.


"Ya ampun, kenapa setiap malam semakin dingin." runtuk Cathyrene mengepalkan kedua tangannya.


Poseidon melihat itu, ia melepas jubah yang ia kenakan, "Pakai ini! Aku tidak mau menjadi alasan kau jatuh sakit." ujar Poseidon menyodorkan jubahnya.


Cathyrene menatap jubah Poseidon, "Apa aku harus tersanjung lalu berterima kasih?" tanyanya sengit sekali lagi mengejutkan Poseidon.


"Tenang saja, aku tidak terlalu memikirkannya."


"Oh." angguk Cathyrene.


"Ini adalah bencana alam yang akan terus berlanjut entah sampai kapan, atau mungkin tidak akan berakhir." cerita Poseidon mencairkan suasana dingin diantara mereka.


Poseidon menoleh memandang Cathyrene. Gadis itu terlihat seperti tengah berpikir. Sesekali bahkan Cathyrene terlihat tersenyum kecil, entah apa yang dipikirkan olehnya, Poseidon tak tau.


"Musim semi untuk dunia bawah." bisik Cathyrene tersenyum.


"Dari mana kau tau?"


Cathyrene menoleh, "Hey, come on! Kau bukan satu-satunya Dewa yang mengeluhkan hal ini kepadaku."


Ah Apollo..


Untuk kesekian kalinya Poseidon nampak tak senang dengan apa yang ia dengar.


"Kalian sedekat itu ya?"


"Hm.." angguk Cathyrene nampak senang tapi tidak dengan Poseidon.



Poseidon merasa mungkin dirinya sudah cukup gila. Rasa penasaran telah merusak akal sehatnya. Ia menjadi seorang dewa pecandu, candu ingin selalu melihat gadis itu..


Jujur saja sejak insiden Cathyrene memberikan ide untuk kasus yang tengah terjadi di Olympus membuat Poseidon kagum akan cara berpikir Cathyrene yang luar bisasa dan mampu menemukan jalan keluar yang bahkan tak terpikirkan oleh penghuni Olympus lain.


Sejak saat itu, Poseidon sangat suka menemui Cathyrene. Dimanapun gadis itu berada, Poseidon ingin mengetahuinya....


Tapi bagaimana dengan dendamnya?


Ya, memang Poseidon mengakui bahwa dia sempat membenci gadis itu karena ayahnya. Poseidon bukan type dewa seperti Apollo, dendam yang ia rasakan itu berlaku untuk semua yang berkaitan dengan orang yang ia benci tanpa terkecuali.


Kini, Poseidon menemukan dirinya mulai melanggar keegoisan hatinya dengan mendatangi Cathyrene di perpustakaan pusat kota. Ia tak dapat menahan diri untuk tak melihat gadis itu, tapi sayang kedatangan Poseidon justru disambut oleh wajah damai gadis yang tengah terlelap dengan posisi yang cukup membuat Poseidon tertawa.


"Gadis aneh." komentar Poseidon sesaat sebelum mengangkat tubuh Cathyrene untuk dibawa pulang ke kuil.


Akan tetapi sebelum itu, Poseidon perlu untuk mengurus satu hal. Cathyrene masuk ke sana dengan ijin, maka dia pun harus berpamitan sebelum pulang agar tak menimbulkan kecurigaan.


Dengan tubuh Cathyrene yang ada dalam rengkuhannya, Poseidon berjalan keluar dari ruang baca menuju tempat seorang pria paruh baya tengah berdiri membelakanginya dan terlihat sibuk menata buku di rak yang ada dibelakangnya.


Brukk


Buku yang ada ditangan pria itu jatuh, "Nona dari kuil Parthenon telah selesai membaca dan dia akan segera pulang," gumam penjaga perpustakaan yang telah dipengaruhi oleh kekuatan yang dimiliki Poseidon.


Poseidon tersenyum melanjutkan langkah kakinya dengan Cathyrene berada dalam gendongan lalu dalam sekejab menghilang tanpa jejak setelah melewati pintu masuk seolah ditelan bumi.


--‐-


Hari keberangkatan menuju wilayah barat telah tiba. Cathyrene baru saja selesai membereskan barang yang akan dia bawa ketika sosok Apollo terlihat masuk melewati balkon kamarnya.


"Sudah mau pergi ya?" suara Apollo mengagetkan Cathyrene.


Ia berbalik, menatap Apollo setengah kesal karena kehadiran pria itu yang tiba-tiba, "Mengagetkanku saja. Kapan kau datang?"


"Baru saja." Apollo mendekat, memeriksa barang yang akan dibawa oleh Cathyrene dari jarak dekat.


"Oh."


"Kau sudah selesai mengemasi barang-barangmu?" tanya Apollo.


"Iya," angguk Cathyrene berbalik menghadap Apollo dengan wajah memelas sukses membuat Apollo terkejut, "tapi rasanya aku masih belum siap. Ada banyak hal yang ingin ku siapkan dulu sebelum ke sana." keluhnya.


"Kalau kau tidak yakin, maka kau bisa mundur."


"Kenapa begitu?"


"Karena kau berkata belum siap padahal kau bisa siap kapanpun kau mau."


Diam. Cathyrene tak mampu membalas perkataan Apollo yang adalah kebenarannya. Selama ini ia hanya merasa kurang percaya diri saja.


"Apa kau percaya padaku?"


"Lebih dari yang kau bayangkan."


"Aku tau aku bisa mengandalkanmu, Al." balas Cathyrene memeluk Apollo yang nampak terkejut karena perlakuannya yang tiba-tiba, "terima kasih."


Cathyrene melepas pelukannya. Sudah waktunya ia pergi karena mungkin peserta lain telah menunggu dibawah sana. Ia hanya tidak mau keluar paling akhir dan menjadi peserta yang ditatap jengkel hanya karena keterlambatannya.


"Well, aku harus pergi." seru Cathyrene lagi.


"Aku akan datang mengunjungimu."


"Ya, kau memang harus melakukannya."


----


Tbc