The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Penyesalan



Cahaya kecil terlihat memasuki koridor menuju paviliun milik Cathy sebelum berubah wujud menjadi seorang wanita cantik dan anggun dengan gaun putih bercorak emas menghiasi bagian depan gaun yang terbuat dari kain sutra.


"Nyonya, apakah harus seorang seperti anda turun tangan langsung hanya untuk gadis itu?" tanya sebuah suara mengikuti sang wanita.


"Tentu saja, harus memastikan dia mati dengan mata kepalaku sendiri." jawabnya menarik senyum tipis membentuk smirk sembari menatap pintu kamar yang letaknya hanya beberapa langkah saja dari hadapannya.


Demigod tampan yang selama ini menjadi kepercayaan sang dewi itu menyondorkan sebuah botol kecil berisikan ramuan bewarna hitam pekat ke tangan wanita yang tengah dibakar api cemburu itu. Lagi dan lagi seakan tidak habisnya ia turun tangan sendiri untuk membunuh salah satu anak suaminya dari hubungan terlarang yang dilakukan di masa lalu.


Untuk kesekian kali dia merasa di khianati. Pengorbanan yang dilakukan selama mendampingi kepemimpinan suaminya sama sekali tak pernah di hargai. Didepan matanya sendiri suaminya bahkan secara terang-terangan menggoda wanita. Belum cukupkah dengan kehadiran Athena, Apollo dan Artemis yang menduduki kursi dewa utama Olympus hingga membuat dirinya harus menahan amarahnya setiap kali melihat anak-anak itu duduk bahkan kadang berdiri bersama untuk melawannya di persidangan yang kerap dilakukan di ruang rapat.


Dan sekarang, setelah kehadiran Hermes. Persephone dan Dionysus, kini ada anak lain lagi, dari cucu titan penguasa laut terdahulu sebelum peperangan dengan para titan terjadi yang juga ternyata sengaja disembunyikan darinya.


"Dewi Hera."


Hera tidak mempedulikan panggilan demigod dibelakangnya terus melangkahkan kaki measuki kamar milik putri Troya yang ia yakini sebagai anak yang harus ia lenyapkan. Setidaknya jika dia berhasil membunuh Cathy maka perasaannya akan sedikit lega karena untuk pertama kalinya bisa melenyapkan anak haram suaminya tanpa sepengetahuan sang dewa petir tersebut.


Ini akan menyenangkan untuk dilakukan..


Saat Hera memasuki kamar. Ia mendapati punggung Cathy yang tengah berdiri di balkon kamarnya dan sama sekali tidak menyadari kehadiran Hera disana. Hal itu sangat mengutungkan. Hera tersenyum perlahan mulai menjalankan aksinya.


"Tidurlah dengan tenang selamanya, anak bodoh."


----


Sejak Artemis memberitahukan apa yang ia khawatirkan, bagaikan wabah yang dengan cepat menyebar, perasaan Apollo pun ikut gelisah sama seperti Artemis. Entah apa yang akan terjadi. Perasaan ini pernah muncul ketika ibu mereka hampir diserang oleh makhluk kiriman Hera dan sekarang bagai dejavu bahkan lebih parah kekuatannya dapat dirasakan oleh Apollo.


Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Rhea? Sudah lebih dari dua hari Apollo tidak turun menemui gadis itu membuatnya rindu. Apollo mencoba berpikir jernih, bisa saja hal yang ia rasakan kini hanyalah bentuk kerinduannya kepada gadis itu. Ya, semoga saja.


"Al, ada apa denganmu?"


"Aku mau menemui Rhea, Ibu."


"Ini sudah tengah malam, mungkin anak itu sudah tidur. Jangan menganggunya, Nak." nasihat Leto. Ia bukannya ingin melarang tapi itu adalah tata krama kerajaan. Meski mereka masih memiliki keterikatan tetap saja kebiasaan Apollo yang selalu mendatangi Cathy dengan cara menerobos masuk tidak termasuk tindakan sopan.


"Tidak bisa, Ibu. Aku tidak akan pernah bisa tenang begitupun dengan Art, " balas Apollo memohon, "Aku hanya ingin memastikan saja dan setelah itu aku akan kembali." lanjutnya berjanji.


"Baiklah." angguk Leto menyerah. Memang sangat sulit melarang anaknya yang satu ini. Selalu ada aja cara untuk meluluhkan ibunya.


Apollo berbalik dengan cepat meninggalkan ibunya yang hanya bisa memandangi kepergian sang dewa matahari yang secara cepat telah menghilang dari pandangannya.


Leto kembali memasuki ruang utama dimana putrinya berada dan tengah sibuk bercengkrama dengan Athena, sang dewi perang dan strategi. Mereka membicarakan berbagai macam hal. Sebagai saudari tiri mereka cukup akrab dibanding dan Leto senang akan hal tersebut.


Artemis terdiam. Tiba-tiba merasakannya kembali. Sebuah perasaan kacau balau seperti tengah diremas jantungnya, "Art, cepat ke sini aku butuh bantuanmu. Rhea, dia tidak sadarkan diri." suara Apollo terdengar lantas langsung membuat Artemis berdiri.


"Aku harus pergi."


"Ada apa?" binggung Leto. Artemis menoleh ke arah ibunya dengan tatapan sedih dan seakan paham betul,  Leto menutup mulutnya tidak percaya.


Artemis beralih, "Kau tidak ingin ikut?" tanyanya pada Athena yang tidak berpikir dua kali untuk mengangguk menyetujui ajakan Artemis.


Apollo yang baru menginjakkan kaki di kamar Cathy sungguh dibuat terkejut oleh bayangan tubuh gadis yang berbaring dilantai dengan posisi tengkurap.


"Rhea." panggil Apollo mendekat, menarik tubuh Cathy. Apollo menatap wajah yang nampak begitu pucat itu dengan perasaan campur aduk.


Oh tidak! Sial, dia terlambat.


"Rhea, bangun! Kau masih disana kan? Ayo buka matamu." panggil Apollo namun tak kunjung mendapat jawaban.


"Art!! Art!!" teriak Apollo memanggil Artemis melalui telepati.


Apollo tidak bisa tinggal diam. Dia mengendong Cathy dan membawa tubuh tak berdaya itu berbaring di atas ranjang sebelum keluar mencari pelayan gadis itu.


Alis Apollo saling bertautan binggung ketika membuka kamar Cathy kemudian berjalan keluar namun tak menemukan satu pun penjaga atau pelayan disana padahal mereka harusnya berjaga-jaga setiap saat. Apollo bergegas menuju pintu utama paviliun tapi sekali lagi dia tak menemukan apapun.


Sialan! Sebenarnya kemana orang-orang ini? Apa yang terjadi? Mengapa dia tak dapat menemukan satupun manusia disana.


"Art, cepat ke sini aku butuh bantuanmu. Rhea, dia tidak sadarkan diri." panggil Apollo sekali lagi.


Saat Apollo kembali ke kamar Cathy. Artemis telah berada disana, saudarinya itu tidak sendiri. Artemis datang bersama Athena.


"Al, apa yang terjadi padanya."


"Aku tidak tau, Art. Aku datang dia sudah dalam keadaan seperti ini." jawab Apollo.


"Dia diracuni." celetuk Athena memperhatikan Cathy dan sekitar tempat kejadian. Athena meraih gelas yang dipakai oleh Cathy lalu menumpahkan isinya.


Kedua mata Artemis dan Apollo membulat melihat cairan putih dari gelas diatas meja kerja Cathy berubah menjadi warna hitam mengepul.


"Hera." kompak Apollo dan Artemis.


Apollo menggeram marah begitupun dengan Artemis. Athena menatap si kembar yang benar-benar sudah dikuasai amarah. Athena bahkan tidak dapat lagi membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Hal pertama yang dilakukan oleh si kembar ialah menetralkan racun di tubuh Cathy agar tidak menyebar lebih jauh. Racun dari Hera tidak mudah ditaklukkan oleh Artemis dan Apollo yang ahli dalam pengobatan. Sang Dewi seakan sudah tau racun jenis apa yang harus dipakai untuk gadis seperti Cathy.


"Aku akan mencari penawarnya." ungkap Apollo.


Artemis mengangguk. Ia memandang Apollo yang juga tengah menatapnya. Sesekali Artemis mengernyit, "kupikir hanya perasaan ku saja. Ada yang tidak beres disini, Al. Ini bukanlah tempat teraman lagi untuk Rhea. Kita tidak bisa meninggalkannya disini."


"Kau benar." balas Apollo seraya mengangkat tubuh Cathy, membawanya ke dalam gendongan.


"Mau kau bawa kemana dia, Apollo?" tanya Athena binggung.


"Dia tidak akan aman disini. Rhea akan ku tinggalkan di Olympus." putus Apollo berjalan menuju balkon.


Dalam sekejab mata ketiganya telah kembali ke Olympus tepatnya di kediaman keluarga Leto. Apollo mengistirahatkan Cathy di Artemis sesuai permintaan saudarinya.


"Dia melakukannya? Kekhawatiran kalian benar terjadi." seru Leto.


Artemis mengangguk sedih, "dia benar-benar nekat, ibu. Aku membencinya."


Ini gawat!


"Hera tidak akan selamat kali ini."


"Art! Cepat susul Adikmu!!" perintah Leto.


Artemis tertawa menanggapi perintah ibunya. Apa ibunya itu yakin bahwa dia bisa menghentikan Apollo. Tidakkah wanita yang sudah melahirkan mereka ke dunia ini berpikir bahwa menyuruh Artemis menyusul Apollo sama saja memperkeruh keadaan.


"Aku akan membantu Al untuk membunuhnya juga, ibu." ucap Artemis berbalik pergi menyusul Apollo.


----


Poseidon melangkah memasuki ruang utama Olympus. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk atau lebih tepatnya tengab menyibukkan diri agar tidak terus memikirkan tentang Cathy. Poseidon masih marah, dan kali ini dan tidak berminat untuk mendatangi Cathy sampai gadis itu memohon sendiri untuk didatangi olehnya.


"Aiden, jadi bagaimana keputusannya?"


"Aku masih menyelidiknya." balas Poseidon tak bersemangat sama sekali. Entah hal apa yang menganggunya, yang jelas sejak tadi dia terus saja memikirkan tetang gadis itu.


Oh astaga, mengaoa harus dirinya yang tersiksa seperti ini. Gadis itu mungkin bahkan tidak sedang memikirkannya apalagi merindukannya.


"HERA!!!" teriak Apollo menggema di seluruh penjuru ruang utama Olympus berhasil mengundang perhatian beberapa dewa yang ada disana.


Poseidon yang bahkan baru saja tiba dari tugasnya mau tidak mau  menoleh memandang Apollo yang terlihat membara seperti ingin membunuh seseorang.


Hera berdiri dari tempatnya tak lupa dengan senyum menawan terukir dibibir cantiknya. Hera mengangkat dagu memandang Apollo.


"Apa ini yang diajarkan ibu kalian selama ini? Berteriak seperti makhluk gila dihadapan ku?"


"Pengalaman tenyata tidak membuatmu belajar." balas Apollo, "Apa yang sudah kau lakukan kali ini tidak akan bisa kumaafkan."


Zeus, Poseidon dan Hermes, ketiga dewa yang berada disana mengernyit, tidak paham dengan arah bicara Apollo kepada Hera.


"Apa yang terjadi, Apollo? Mengapa kau begitu marah dan berteriak seperti tadi?" tanya Zeus.


"Tanyakan itu pada isterimu yang suka sekali menyiksa wanita yang berkaitan denganmu, ayah!! Celetuk Artemis muncul dan berdiri disamping Apollo.


Hera mendengus sebal. Sudah dapat menebak hal ini sebelumnya.


"Oh, gadis dari Troya itu? Bagaimana, apa dia sudah mati?" tanya Hera diiringi tawa.


Poseidon seakan tertampar oleh kenyataan setelah mendengar ucapan Hera. Pikirannya langsung saja tertuju pada satu orang.


"Apa kau bilang?" Poseidon menjatuhkan gulungan ditangannya kemudian berjalan mendekati Hera.


Athena datang, ia tersenyum, "Bagus, Hera. Kau sekarang menggali kuburanmu sendiri."


Hera tercekik lehernya oleh tangan Poseidon yang begitu kuat. Zeus yang berada disana mencoba untuk membantu istrinya tapi dirinya justru mendapatkan tatapan tajam dari sang dewa laut.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" desis Poseidon bertanya. Mata biru seperti laut itu tidak berkedip menatap Hera.


Hera terpejam. Rasa panas menjalari tubuhnya. Ini pasti ulah Apollo tapi dibalik semua itu Hera paling takut melihat cara Poseidon menatapnya. Biar bagaimanapun Poseidon tetaplah dewa terkuat diantara mereka. Dia benar-benar bisa lenyap jika seperti ini terus.


"Aiden, hentikan!" titah Zeus.


"Kau berani menyentuhnya." sambung Poseidon tak mempedulikan perintah Zeus.


"Le-pas." pinta Hera susah payah.


"Dewa Apollo, dewi Artemis. Ibu kalian memanggil. Gadis itu sudah sadar." ungkap seorang demigod memberitahu Apollo dan Artemis.


Poseidon melepas cengkraman tangannya dileher Hera kemudian membalikkan badan.


"Kalian membawa gadis itu ke sini? Ini pelanggaran besar!" seru Hera.


Apollo dan Artemis saling melempar pandangan. Benar, mereka tidak memikirkan dampak perbuatan tersebut. Keduanya seakan lupa dengan peraturan Olympus yang sudah ada sejak dulu bahwa manusia biasa tidak dapat memasuki Olympus seenaknya karena beberapa alasan dan hanya jika manusia itu menikah dengan salah satu dewa atau dewi barulah dia bisa menginjakkan kaki di Olympus dengan syarat tidak akan bisa lagi keluar dari sana.


Bukan tanpa alasan mengapa peraturan itu ditetapkan karena beberapa hal yang diketahui oleh para dewa sama sekali tidak ingin dibagi dengan manusia dan bisa juga dibayangkan jika para manusia bisa bebas keluar masuk Olympus, apa saja yang akan mereka lakukan.


Tak menutup kemungkinan kan bahwa setiap hari Olympus akan kedatangan tamu hanya untuk meminta sesuatu dari para dewa.


Hera tersenyun puas merasa menang kali ini, "lihat! Kalian bahkan tidak mampu menjawab."


Athena yang berdiri dipihak Apollo dan Artemis juga ikut tak berdaya. Sebagai Dewi kebijaksana Athena seakan kehilangan kemampuannya tersebut disaat genting seperti ini.


Artemis menatap benci Hera. Rasanya ingin sekali mencekik wanita itu seperti yang dilakukan oleh Poseidon.


"Kirimkan perwakilan ke kerajaan Troya dan tanya apa yang mereka mau sebagai mahar pernikahan!" titah Poseidon mutlak.


"Apa?!" kompak Apollo, Artemis dan Athena.


----


Pengobatan yang diberikan olh si kembar hanyalah bersifat sementara karena racun bawaan Hera sangat kuat. Apollo membutuhkan ramuan lain agar dapat menghilangkan keseluruhan racun yang bersarang ditubuh Cathy.


Cathy membuka kedua matanya dan berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada. Leto yang siap sedia duduk disamping Cathy, meskipun baru kali ini melihat Cathy namun Leto sangat terlihat begitu menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri.


"Rhea, kau sudah sadar." pekik Leto memerintah salah satu demigod untuk segera memanggil kedua anaknya ke sini.


Cathy menggerakkan bola matanya karena untuk menggerakan kepalanya rasanya masih sakit. Cathy mengernyit. Sial! Kenapa dia seperti tidak asing dengan sosok cantik didepannya.


"Kau siapa?" tanya Cathy.


Leto tersenyum mengusap kepala Cathy penuu kasih sayang berhasil membuat Cathy terharu, "aku adalah ibu Artemis dan Apollo."


----


Tbc