The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Kembali



Dikenal sebagai pesaing dalam hal peperangan kerap membuat Ares dan Athena berdebat ditiap kesempatan. Ares yang terkenal sebagai dewa perang dan kehancuran yang haus akan darah merupakan perwujudan dari pembunuhan, sedang Athena sang dewi perang dan kebijaksanaan sering disebut dewi perdamaian karena lebih banyak melambangkan aspek mulia dalam perang seperti keberanian dan pengendalian diri.


"Sebentar lagi ramalan itu akan menjadi kenyataan." Ungkap Athena berdiri memandang jauh ke arah bawah dimana bumi berada melalui gerbang pintu masuk gunung Olympus.


Dibelakang Athena, Ares yang akan kembali menuju istana miliknya tidak sengaja melihat Athena dan mendengar kata yang diucapkan oleh sang dewi cuku merasa tertarik.


"Ramalan? Apa itu bisa disebut ramalan jika pada dasarnya Zeus lah yang berada dibalik semua rencana besarnya yang dapat menyebabkan sebagian besar umat manusia punah?" kata Ares membuat Athena beralih memandangnya.


"Ares, jaga bicaramu! Jangan bicara hal yang tidak baik tentang ayah kita."


"Aku bicara sesuai fakta, Athena. Kenapa tidak kita nikmati saja keadaan ini."


"Lagipula kau pasti senang kan, karena ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk bersaing lagi denganku." Balas Athena.


"Tentu saja, urusan kita tidak akan pernah selesai, dan sepertinya kau akan kecewa karena Apollo dan Artemis kali ini berada dalam kubu yang sama denganku." Tuntut Ares tidak mau kalah.


Athena tidak akan terkejut lagi mengenai hal tersebut karena sebelum ramalan disebutkan, ia sudah tau akan kemana Apollo dan Artemis memihak seakan ini memang sudah menjadi ukiran cerita yang harus mereka jalani, namun sayang sepertinya Ares tidak banyak tau tentang cerita sebenarnya dibalik kekhawatiran Athena selama ini.


"Kau tidak akan pernah mengerti."


Ares mengernyit. Belum sempat ia melayangkan pertanyaan. Suara lain muncul melemparkan pertanyaan yang ditujukan untuk keduanya.


"Kalian bertengkar lagi?" tanya salah seorang pria tampan muncul bersama Artemis, siapa lagi kalau bukan Apollo.


Athena menoleh. Senyum manis terukir di wajah cantiknya kala melihat salah satu saudari perempuannya yang telah menghilang akhirnya pulang, "Art, kau sudah kembali?"


"Ku pikir kau tidak akan pulang." Komentar Ares.


"Maaf mengecewakanmu kalau begitu, Ares." Seru Artemis tidak mendapatkan balasan apapun dari sang dewa perang yang memilih segera pergi dari sana.


"Kerjanya selalu bikin onar." Decak Athena.


"Sudah sifat alami dari ibunya mungkin." Celetuk Apollo asal berhasil membuat Artemis dan Athena tertawa.


----


Siapa yang bisa melarang keinginan salah satu dari dewa paling kuat penghuni Olympus? Bahkan Apollo dan Artemis pun angkat tangan dengan memilih pergi duluan menuju gunung Olympus sama sekali tidak membantu Cathy.


"Yang mulia." Sapa Cathy mendatangi Putra mahkota yang tidak pernah absen mengunjungi tempat kerjanya. Pria itu memiliki banyak alasan dan cara untuk bisa menemui Cathy kapan pun dia mau.


"Hari ini aku datang untuk berpamitan."


"Berpamitan?" ulang Cathy diangguki oleh Putra mahkota.


"Iya, Nona. Aku diminta kembali ke istana utama karena tugasku disini sudah selesai." Jelasnya lagi.


"Ouh." Angguk Cathy tiba-tiba merasa canggung dengan sekitar selain mengingat fakta bahwa kini ia tengah diawasi oleh seseorang ditempat lain. Pernyataan sang Putra mahkota juga cukup membuatnya dihinggapi berbagai macam pertanyaan yang menuntut untuk dijawab tapi entah siapa yang dapat menjawabnya.


Ini kan cuma mau pulang, kenapa harus pakai ijin segala sih? Batin Cathy merasa seperti seorang pacar yang sebentar lagi akan dipisahkan jarak dan waktu bersama sang pujaan hati.


"Tentang ajakanku kemarin. Apa bisa kita melakukannya sekarang saja?" sambung Putra mahkota ketika melihat Cathy hanya diam saja ditempatnya berdiri saat ini.


"Hah."


"Jangan salah paham, Nona. Aku hanya ingin menepati janji makan siang bersama kita yang sempat batal."


"Ouh." Angguk Cathy diiringi tawa kecil. Sial! Mengapa juga perkataan Putra mahkota mengandung kata yang membuat otaknya tertuju ke arah lain.


"Bagaimana?"


"Itu." Gumam Cathy menoleh memandang ke arah pintu ruang kerjanya yang tertutup sembari bertanya dalam hati apakah Poseidon masih menunggunya disana atau pria itu sudah pergi karena tidak sanggup menunggu terlalu lama?


Cathy bisa saja menolak akan tetapi sifat alamiah sebagai seorang gadis pecinta kuliner pada kehidupannya yang dulu tentu membuat dirinya merasa sangat disayangkan menolak ajakan makan dari Putra mahkota, lagipula ia sangat penasaran dengan masakan ala jaman yunani kuno, dan bagaimana mereka menyajikan makanan untuk disantap seorang anggota kerajaan.


"Baiklah." Angguk Cathy setelah berpikir cukup lama.


Sang Putra mahkota tersenyum senang. Ia dengan lembut mengulurkan tangan dihadapan Cathy yang mengernyit namun setelah sadar bahwa ini bentuk tata krama pada masanya membuat Cathy mau tidak mau menerima uluran tangan tersebut.


Kereta kuda yang membawa rombongan kerajaan akhirnya melaju meninggalkan seseorang yang kini menatap datar kereta yang membawa Cathy pergi bersama Putra mahkota.


Poseidon masih tetap berdiam disana, memperhatikan dari tempatnya berdiri saat kereta kuda tersebut menjauh lalu menghilang dari pandangannya.


----


Keributan terjadi di dunia bawah ketika sang raja dan ratu penguasa kegelapan saling berdebat diruang utama, didepan para penghuni lain termasuk Thanatos, sang dewa kematian.


"Kau berbohong padaku."


"Aku tidak berbohong."


Untuk pertama kali mereka bertengkar setelah Hades mengetahui rencana Dionysus dan Artemis untuk menipunya serta melibatkan Persephone dalam rencana besar mereka. Hades sangat murka, ia paling benci di bohongi apapun alasannya.


"Semua yang bersalah selalu mengatakan hal tersebut."


Hati Persephone benar-benar terluka mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Ia seakan tidak mau mempercayai pendengarannya sendiri namun melihat tatapan tajam yang di berikan Hades menyadarkan Persephone.


Persephone akui bahwa sebelum ini ia sangat membenci Hades karena telah menculiknya dan memisahkannya dari ibunya tapi seiring berjalannya waktu Hades mampu membuat Persephone menganggumi kekuatan dan segala hal yang ada pada suaminya.


Sedikit demi sedikit perasaan jatuh cinta itu datang. Persephone sangat menyukai Hades yang baik hati, sabar bahkan tidak pernah mengomeli dirinya, tidak bersikap bossy walaupun pria itu adalah penguasa dunia bawah. Ini semua dilakukan Hades karena ingin Persephone membalas cintanya yang begitu besar kepada sang dewi dengan memberikan banyak hadiah untuk menyenangkan sang Ratu dunia bawah, bahkan untuk menunjukkan cintanya Hades menyewa jiwa tukang kebun yang paling terampil dunia bawah yang dipimpin Askalaphos untuk menumbuhkan tanaman megah bagi Persephone yang rata-rata terdiri dari bunga favorite sang dewi.


"Kau tidak mmepercayaiku?" lirih Persephone, "Baiklah, sepertinya tidak ada gunanya aku membela diriku disini." Lanjutnya berbalik pergi dari hadapan Hades.


"Mau kemana?" tanya Hades. Persephone menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Sudah waktunya aku kembali pada ibuku."


"Thanatos akan mengantar-"


"Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."


----


"Astaga." Pekik Cathy. Ia yang baru saja akan memasuki kediaman Baron Deracles setelah diantar oleh rombongan kerajaan dikejutkan dengan kehadiran sang dewa laut yang berdiri dalam kegelapan ruang depan pintu masuk,


"Kau mengagetkanku." Hardik Cathy memegangi dada. Ia tida mempercayai hantu tapi yang tadi itu diluar kendali.


"Aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Balasnya.


"Tapi kau baru saja melakukannya." Tuntut Cathy.


"Aku tidak ingin kita berdebat."


"Hantu? Laki-laki mana lagi itu?"


Cathy menepuk jidatnya. Rasanya ingin berteriak tapi tidak bisa. Hantu. Laki-laki? Come on! Siapa yang bodoh dan dibodohi disini. Mama, tolong bawa jiwanya kembali ke tempat semestinya. Batin Cathy gemas.


"Itu bukan laki-laki tapi jiwa orang yang sudah mati. Ditempatku disebut Hantu."


"Semua jiwa yang mati akan dikirim kepada Hades."


Cathy mengangguk, "Ya, tapi ada beberapa yang masih punya urusan dibumi jadi mereka gentayangan dulu."


"Aku yakin Thanatos tidak akan membiarkan jiwa-jiwa itu berkeliaran bebas dialam manusia."


"Oke cukup. Aku diam" Desah Cathy menyerah. Sepertinya perdebatan mereka tidak akan berkhir jika salah satu dari mereka terus saja melayangkan protes.


Setelah perdebatan tak berujung. Keduanya terdiam, Cathy menghela nafas memulai pembicaraan, kali ini tanpa mencoba untuk memulai perdebatan, "Ada hal yang mau disampaikan padaku?"


"Tidak ada, aku hanya mau memastikan kau pulang."


"Hanya itu?"


Poseidon tidak menjawab tapi Cathy jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada yang ingin disampaikan oleh sang penguasa lautan terhadapnya.


"Tidurlah!" ucap Poseidon tiba-tiba. Hal itu sama sekali tidak membantu menjawab pertanyaan dikepala Cathy.


"Paman Aiden." Panggil Bella entah sejak kapan sudah berdiri diantara Cathy dan Poseidon.


Kedua mata bulat cantik Bella memandang Poseidon yang kini telah dikenal sebagai paman Aiden membuat Poseidon beralih menatap Cathy sebentar sebelum menunduk, menyamai posisi Bella.


"Bella, kenapa belum tidur, sayang?" tanya Cathy.


"Bella lapar, bibi."


Poseidon dan Cathy saling melempar pandangan. Bella lapar diwaktu yang tidak tepat disaat semua penghuni rumah sudah hampir terlelap.


"Bagaimana?" tanya Poseidon pada Cathy.


"Kenapa tanya aku?"


"Kan kau ibunya." Canda Poseidon.


"Enak saja, dia anak Baron Deracles dan Ny. Deracles ya." Bantah Cathy dibalas tawa Poseidon.


"Paman dan Bibi bertengkar lagi." Keluh Bella cemberut.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita mencari sesuatu di dapur untuk Bella.' Tawar Cathy langsung saja diangguki penuh semangat oleh si kecil Bella.


Setelah memutuskan untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan oleh Bella didapur. Cathy hanya menemukan beberapa roti, daging juga beberapa selai buatan yang membuatnya memutuskan meracik sandwitch ala kadarnya untuk Bella.


"Bibi, ini makanan apa?" tanya Bella keheranan melihat makanan yang disajikan oleh Cathy.


"Ditempat bibi ini sering disebut Sandwitch. Cobain saja, dijamin tidak mengecewakan." Jawab Cathy mengalihkan pandangan menatap Poseidon yang juga nampak penasaran dengan makanan yang dibuat oleh Cathy, "Mau mencobanya juga?"


Pada akhirnya, makanan yang dibuatkan oleh Cathy dengan memanfaatkan bahan seadanya habis tak tersisa ditangan Poseidon dan Bella. Keduanya bahkan belum puas dan ingin memakannya lagi.


"Apa kau sering memasak?"


"Tidak sering, hanya jika ingin saja."


"Aku tidak pernah merasakan makanan selezat ini. Ternyata bangsa Troya memiliki selera makanan berkualitas tinggi bahkan putri Troya pun dapat membuatnya." Puji Poseidon.


Cathy tersenyum. Padahal makanan seperti ini begitu mudah dibuat oleh banyak orang di Seoul. Tidak ada yang spesial jika mereka hidup di masa depan.


"Kapan-kapan buatkan lagi ya." Pinta Poseidon kali ini. Jangan tanyakan dimana Bella. Si kecl itu sudah pamit untuk tidur duluan dan meninggalkan Cathy bersama Poseidon didapur.


Cathy mengangguk. Tidak sulit, pikirnya dalam hati.


----


Sang mentari bersinar terang menyambut hari terakhir Cathy di kediaman Baron Deracles. Hari-hari selama menjalani tugas bakti sosial akhirnya selesai dan sudah waktunya bagi Cathy untuk kembali ke kuil Parthenon.


"Bibi Cathy akan datang lagi kan?" tangis Bella pecah, ia tidak ingin ditinggalkan bibi Cathy-nya.


"Iya, sayang. Nanti bibi akan cari waktu agar bisa datang mengunjungi Bella lagi ya." Ucap Cathy menghapus air mata di pipi Bella membuat Baron Deracles dan istrinya ikut sedih melihatnya.


Cathy berdiri, ia memandang kedua orangtua Bella yang selama ini juga banyak membantu dirinya selama menjalankan tugas hingga Cathy boleh mendapatkan keberhasilan dan nilai tertinggi pada tugas kali ini.


"Terima kasih atas bantuannya. Saya tidak tau harus bagaimana untuk membalas kebaikan yang diberikan pada saya."


"Tidak apa, Nona. Kami juga mau berterima kasih karena sudah menyayangi Bella dan tidak keberatan direpotkan oleh putri kecil kami." Balas Ny. Deracles.


"Kalau begitu saya pamit sekarang ya, sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Seru Cathy untuk yang terakhir kalinya sebelum melangkah keluar dari kediaman Baron Deracles.


----


Beberapa surat datang dari Troya dan langsung diberikan pada Cathy begitu ia menginjakkan kaki di kuil Parthenon. Dalam surat tersebut dikatakan bahwa ayahnya sakit keras dan menginginkan kehadiran Cathy segera disana akan tetapi peraturan teaplah peraturan yang tidak boleh dilanggar, nyatanya Cathy harus tetap berada di kuil sampai pengumuman terakhir hasil bakti sosial mereka diberitahukan.


Alasan terkuat Cathy mengikuti pemilihan ini hanya untuk bisa mempermudah jalannya menemui Poseidon yang dulu selalu menghindar darinya tapi sekarang tidak lagi. Jadi untuk apa dia bertahan disana?


Akan tetapi jika kembali memikirkan hal-hal yang telah dilalui selama ini sangat disayangkan jika Cathy mundur begitu saja. Menang atau kalah memang tidak masalah, yang jadi tujuannya kali ini adalah menerima hasilnya terlebih dahulu.


"Tapi aku harus pulang." gumam Cathy masih berperang dengan batinnya antara ingin tetap menunggu hasip atau kembali pulang kemudian melupakan mimpi Cathy menjadi Pendeta Agung kuil Athena.


Mungkin didalam diri Cathy saat ini adalah Kim Yerim yang bukan siapa-siapa kerajaan Troya, tapi tetap saja. Penolakan sekeras apapun, sekarang dirinya adalah Cathy dan ayah kandung dari gadis ini tengah sekarat menunggu kepulangan putrinya.


Blushh


Angin berhembus kencang diikuti cahaya emas yang melesak masuk ke dalam kamr Cathy sebelum berubah wujud menjadi sosok lelaki tampan yang selama ini selalu dengan bebas keluar masuk ke kamar Cathy.


Senyum cerah nan jahil yang selalu muncul saat hendak menggoda Cathy berubah tatkala sang penguasa siang itu mendapati sahabat terbaiknya tengah duduk dengan wajah bersedih.


"Rhea, ada apa?"


Cathy mendongak, menatap Apollo, "Al, aku baru saja mendapatkan kabar dari istana bahwa ayahku sakit keras." cerita Cathy, "Aku ingin pulang tapi mungkin itu akan sulit karena peraturan kuil tidak mmeperbolehkan peserta untuk pulang sebelum pemilihan selesai." sambungnya kemudian.


Apollo terdiam ditempatnya. Waktu serasa berjalan begitu cepat dan hal yang mereka takutkan sebentar lagi akan terjadi.


----


Tbc