
Tubuh ramping itu menghilang setelah diterjang ombak, Dan turun perlahan di kedalaman laut malam tanpa perlawanan seakan keinginan untuk bertahan bukan lagi prioritas.
Cathy, ah tidak. Kim Yerim menarik senyum tipis menekan diri. Ia tidak tau apakah ini akan berhasil, jika pun gagal maka dia sudah bersiap menerima konsekuensinya.
Semua telah berakhir untuknya di dunia ini..
"Yerim."
Entah dari mana suara itu berasal namun rasa senang tatkala mendengar kembali namanya di panggil sedikit memberi semangat. Sudah lama seseorang taj memanggil nama itu.
Mungkinkah sudah saatnya dia balik ke dunianya dan meninggalkan segala yang ada di sini.
"Nak, apakah kau tega meninggalkan ayah dan ibumu dengan cara seperti ini? Ayah tau kau mendengarnya. Kembalilah."
Suara itu telah menamparnya cukup keras. Kini ia baru sadar seberapa besar keegosiannya kemarin tanpa memikirkan orang-orang yang mencintainya di luar sana, ia justru ingin menetap.
Yerim membuka kedua matanya dan melihat cahaya kecil di atasnya yang perlahan meredup beriringan dengan suara-suara yang semakin pelan hingga nyaris tak terdengar. Tubuhnya terus terbawa arus tenggelam ke dasar. Tidak! Dia masih memiliki keluarga yang mencintainya, juga keempat unnienya. Yerim dapat dengan jelas mendengar suara tangisan mereka berempat sangat jelas dalam pendengaran.
Ia mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbalik arus berenang ke atas. Kali ini sebagai Kim Yerim dan bukan Cathyrene..
"Ayah, ibu tunggu aku!"
Seoul, Korea Selatan..
Dokter yang dipercayakan menanggani Yerim memasuki ruangan. Hari ini sesuai agenda bahwa mereka akan melepaskan alat bantu pernafasan dari tubuh Yerim. Hal terebut dilakukan agar tubuh Yerim tidak semakin rusak oleh karena obat berdosis tinggi yang disuntikkan ditubuhnya, itu akan sama sama saja membunh Yerim secara perlahan.
Terhitung tiga bulan lamanya Yerim dinyatakan koma setelah kecelakan yang di alami. Hanya keluarga dan sebagian pihak agensi yang tau mengenai hal tersebut. Segala upaya telah dilakukan agar Yerim bisa segera sadar. Keluarga Kim bahkan para member Red Velvet telah bersabar hingga hari ini mereka diperhadapkan pada satu keputusan yang harus mereka ambil.
Orang-orang yang mencintai Yerim telah berkumpul dalam ruang tunggu khusus yang terhubung dengan unit gawat darurat Yerim. Mereka yang ada didalam ruangan dapat melihat Yerim melalui kaca steril yang menjadi pembatas.
Sang dokter menatap keluarga Yerim seakan memberi kode bahwa dia akan memulai pekerjaannya yang kemudian dibalas anggukan kepala tuan Kim sedang ibu Yerim memejamkan mata tak sanggup.
Setelah menyuntikan sesuatu ditubuh Yerim. Alat-alat yang menopang kehidupan gadis itu satu persatu dilepas sampai pada saat alat pernafasan di tarik dari tubuhnya membuat tubuh Yerim kejang-kejang. Reaksi yang membuat ibunya panik.
"Yerim." Tangis ibunya pecah. Hati ibu mana yang akan kuat melihat anaknya kesakitan didalam sana sedang dirinya tak dapat melakukan apapun untuk menghilangkan kesakitan tersebut.
Tak hanya ibu Yerim. Ketiga member yang terdiri dari Irene, Seulgi dan Wendy kecuali Joy yang tengah memiliki jadwal individu, mereka yang menyaksikannya menangis tak tega melihat tubuh Yerim bereaksi seperti itu.
"Apa Yerim bisa melewatinya?" tanya Seulgi memalingkan wajah dengan mata terpejam, tak kuat melihat kondisi Yerim.
"Aku tidak bisa." Pekik ibu Yerim menarik diri dari rengkuhan suaminya dan menerobos masuk ke dalam ruangan Yerim.
Tubuh Yerim perlahan melemah, berhenti kejang lalu terdiam. Serempak ayah Yerim ikut menyusul istrinya di ikuti member Red Velvet. Mereka terdiam menunggu hasilnya.
"Ayo bernafas, Yerimmie." Lirih sang dokter.
Dentuman jam dinding satus-satunya yang terdengar menemani ruangan yang senyap itu. Sedetik, dua detik menunggu hingga sebuah tarikan nafas yang dilakukan oleh Yerim berhasil memecah keheningan.
Kedua mata cantik itu terbuka menatap dunianya sendiri..
"Yerim."
Kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata. Rasa syukur bisa melihat Yerim bisa melewati masa kritisnya membuat semua orang bahagia tapi tidak dengan Yerim, ia merasa kehilangan.
Mengapa dia harus kembali dengan ingatan sebagai Cathyrene. Jika di suruh memilih, dia lebih suka melupakannya atau menganggap semua itu hanya mimpi yang samar.
"Yer, apa kau merasakan sakit? Sejak kemarin kau diam terus." Tegur Seulgi duduk di samping Yerim. Hari ini hanya Seulgi yang datang menemani Yerim sedang yang lain akan menyusul begitu pekerjaan mereka selesai.
Yerim menoleh, menyunggingkan senyum tipis seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, hanya hatinya yang tak baik. Sulit sekali hidup dengan ingatan menyakitkan yang pernah dia alami, dan lagi mencertakannya pada Seulgi pasti akan membuat dirinya ditertawai padahal Seulgi selalu menjadi teman curhat Yerim selama ini.
"Kau melamun lagi."
"Apa mimpi bisa terasa begitu nyata?"
"Hah?"
"Dalam mimpiku Unnie adalah seorang dewi."
"Mimpi buruk ya, Yer?" tawa Seulgi pecah. Ia menggeleng, "Ya kali orang seperti aku jadi seorang dewi dalam mimpimu."
Helaan nafas Yerim terdengar. Sudah dia menebak sebelumnya kalau Seulgi akan menertawainya, dan benar kan tebakannya tersebut.
"Artemis."
"Artemis?" ulang Seulgi mengingat-ngingat karena merasa nama itu tak asing dalam pendengarannya, "Tunggu dulu! Kalau tidak salah itu salah satu nama dewi dari Yunani kan?" Seulgi menggeleng lalu berdiri, "Kurasa aku harus bicara dengan doktermu, Yer sekarang."
Yerim memutar bola matanya ketika Seulgi benar-benar mninggalkan dirinya keluar untuk menemui dokter. Gadis bermata sipit itu pasti mengira Yerim bermasalah dengan otaknya atau singkatnya sudah gila.
Kepala Yerim menengok ke samping, ia melihat ponsel Seulgi yang terletak disana lalu mengambilnya, "Unnie, aku pinjam sebentar ya." Ucapnya meminta ijin meski tau pemiliknya tak ada di ruangan tersebut.
"Ternyata itu benar bahkan tertulis dalam sejarah." Gumam Yerim setelah membaca salah satu artikel mengenai sang dewa laut Poseidon.
Ia kemudian mencari tau tentang Cathyrene namun tak menemukan apapun. Ia tidak heran karena sebelumnya dia tau kalau nama itu sudah tak tercatat lagi dalam sejarah Yunani. Apalagi yang diharapkan?
Tapi tunggu! Siapa amprifit? Yerim baru mendengar nama itu sekarang. Kalau kata artikel wanita itu adalah Ratu Poseidon tapi namanya juga tak di catat secara lengkap.
Disana tertulis bahwa Amprifit adalah cucu titan Okeanos Penguasa samudera sebelum era Zeus dan saudaranya yang lain lah satu-satunya istri Poseidon. Mungkinkah Cathy tak selamat dan gadis bernama Amprifit ini yang menurut salah satu versi adalah seorang nimfa malah menempati posisi yang dia tinggalkan? Siapa yang tau.
Yerim memegangi kepalanya yang terasa sakit. Mungkin karena terlalu banyak berpikir ditambah dipengaruhi obat-obatan dokter yang selalu membuat ia ingin tidur terus menerus demi proses pemulihan.
"Apa yang terjadi setelah kepergianku."
Pertanyaan tersebut tiba-tiba muncul di kepala Yerim, tak menampik bahwa dirinya penasaran apakah Cathyrene juga berhasil kembali atau tidak.
Jika pada akhirnya Cathy berhasil kembali. Memikirkan hal itu saja membuat ia sangat marah dan cemburu. Yerim terpejam, nyaris jatuh tidur ketika suara pintu terdengar dibuka oleh seseorang. Itu pasti Seulgi, pikir Yerim mengurungkan niat untuk membuka kedua matanya.
"Ya, Jungkook! Kita salah kamar." Pekik seseorang terdengar berhasil menarik perhatian Yerim yang langsung membuka matanya akan tetapi ketika kedu mata Yerim terbuka, menatap ke arah pintu, kedua orang pria terlihat berjalan keluar membelakanginya.
Alis Yerim menyatu binggung lalu memilih tak ambil pusing. Matanya saat ini sangat berat dan yang dia inginan hanyalah istirahat setidaknya sampai Seulgi datang.
Selama masa pemulihan pasca keluar dari rumah sakit semakin berubah menjadi gadis pendiam, tidak seperti Yerim dulu yang selalu bersikap heboh dan ceria. Yerim yang sekarang hanya berbicara di saat perlu saja, selebihnya para member lain akan menemukan si bungsu duduk melamun didepan tv. Hal tersebut membuat para meber yang termasuk dalam unnie line khawatir.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Yerim? Setelah sadar dari koma dia justru lebih banyak diam." Ucap Seulgi pelan menatap Irene dan Seulgi dikedua sisinya.
Seulgi adalah member yang menempati urutan kedua tertua dalam group sedang Irene adala tertua nomor satu sekaligus dipercayakan menjadi leader, sementara Wendy, si vocal utama mengisi posisi ketiga.
"Jujur saja aku tidak tega melihat Yerim seperti itu terus. Dua bulan lagi dia akan memulai aktifitas bersama kita, bagaiman jika para netizen mengomentari sikapnya."
"Seulgi benar. Kita tau sendiri seperti apa Yerim dimata Netizen, apapun yang ada pada Yerim, yang dilakukan selalu saja salah."
"Mungkin kita harus bertanya." Celetuk Irene yang sejak tadi diam saja, ia berjalan menghampiri Yerim lalu duduk disamping si bungsu di ikuti oleh Seulgi dan Wendy.
"Yer."
Yerim mendongak memandang ketiga kakaknya dengan tatapan sedih, "Ada apa?" lirihnya bertanya.
"Ada apa denganmu, Yer? Kau beruba setelah sadar dari koma."
"Iya, kau bisa menceritakannya." Sambung Wendy disambut anggukan Seulgi.
"Kalian tidak akan percaya jika aku cerita."
"Apa ini ada kaitannya dengan perkataanmu waktu di rumah sakit?" tanya Seulgi tepat sasaran karena Yerim yang langsung menundukkan kepalanya.
"Memang apa yang dikatakan?" tanya Irene mengintrogasi mau tak mau membuat Seulgi menceritakannya.
Serempak ketiga pasang mata itu memandang Yerim kompak usai mendengar cerita Seulgi.
"Itu bukan sekedar mimpi. Aku benar-benar merasakannya," bela Yerim, "Aku tau ini memang terdengar gila tapi begitulah kenyataannya. Unnie, kau sangat mirip dewi Persephone, dan Irene unnie benar-benar ada disana juga sebagai Athena." Lanjut Yerim menunjuk Irene dan Wendy bergantian.
"Yer."
"Astaga, kalian masih menganggapku berimajinasi!?" hardik Yerim kesal. Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan ketiganya di ruang santai dorm lalu masuk ke dalam kamar setelah membanting pintu.
Yerim sangat kecewa. Mengapa mereka begitu sulit mempercayai perkataannya. Dia sendiri yang mengalaminya, mana mungkin semua itu hanya mimpi semata, mimpi yang begitu nyata dimana segala kenangan begitu membekas dalam ingatan.
Sekarang ia harus belajar menerima dan menjalani kehidupan seperti biasa, meski sulit hidup dengan segala kenangan yang tak mau pergi dari dalam ingatannya.
"Apa ini?" tanya Cathy memengangi benda tipis yang melingkari lehernya. Poseidon memasangi sebuah kalung dileher Cathy ketika wanita itu tengah menikmati angin malam di balkon kamar mereka di istana Poseidon.
"Hadiah pernikahan." balas Poseidon.
"Banyak sekali hadiah pemberianmu, sayang. Mengapa memberiku kalung lagi? Perhiasan di kotak pemberianmu saja yang lain belum ku pakai." protes Cathy membalikkan tubuh memandang suaminya.
"Yang ini beda, Asthrea. Kalung ini diciptakan agar dapat membuktikan identitasmu," jelas Poseidon menyentuh kalung Cathy, memainkannya, "Hanya satu permintaanku, jangan pernah melepaskan kalung ini apapun yang terjadi mulai sekarang."
Cathy tersenyum, menganggukkan kepala sebagai jawaban. Poseidon tersenyum lalu menarik Cathy dalam pelukannya.
Tiba-tiba saja kedua mata Yerim terbuka lebar ketika menyadari sesuatu. Ia berdiri, berjalan mendekati kaca lemari dan melihat kalungnya dengan tatapan sulit untuk dijelaskan.
Kalung pemberian Poseidon sebagai hadiah pernikahan ikut terbawa bersamanya, tak hanya itu saja, gelang pemberian Apollo dan Artemis juga melingkari pergelangan tangannya. Itu semua sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak mimpi atau apakah ini sebuah pertanda?
End