The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Perang Troya



Cathy benar-benar tidak menyangka bahwa Apollo akan bertindak sejauh ini terhadapnya yang begitu mempercayai sang dewa matahari sebagai sahabat satu-satunya yang dapat diandalkan selama ini sejak ia menginjakkan kaki di dunia para dewa.


Nyatanya, Apollo tetaplah Apollo yang tentu saja memihak Cathy asli. Ck! Apa yang kau harapkan sebenarnya Kim Yerim? Kau hanya orang asing yang terjebak di dunia dan menetap dalam tubuh orang lain.


Perkataan Oracles tidak sepenuhnya salah, bahkan terlalu sulit untuk ia mengakui kebenaran dimana kedatangannya yang tak terduga telah merusak segalanya. Ia pun tidak mengiginkan hal itu terjadi, jika saja sejak awal dia dibawa kembali mungkin dia tidak akan terjebak dalam kondisi seperti ini.


Bila memang harus memilih antara hidup dan mati, sama seperti disuruh bertahan atau pergi..


"Aku mencintainya, tolong jangan menyuruhku pergi dari sini." lirih Cathy ketika Artemis menyusulnya.


Artemis, sebagai satu-satunya penengah antara Apollo dan Cathy memutuskan untuk meluruskan masalah yang ada dengan menyusul Cathy. Kini keduanya duduk ditaman kediaman si kembar dengan Artemis yang terus memberi nasihat terhadap Cathy.


"Aku tau, Rhea makanya aku sempat menentang ide Apollo untuk membawamu ke kuil Delphi tapi kita tau sendiri seperti apa Apollo. Dia hanya berusaha membantu tanpa membohongi siapapun termasuk dirimu, hanya saja caranya dalam pandanganmu salah. Percayalah, dia menyayangi dirimu melebihi Cathy yang asli."


"Tidak, Art. Al tidak seperti itu."


"Aku telah hidup dengannya cukup lama, Rhea. Dan aku tau dia mendukungmu habis-habisan dari pada menyibukkan diri bersama para wanitanya. Cathy yang dulu tidak mendapatkan keistimewaan itu. Justru sejak kedatanganmu Apollo lebih sering mendatangi Troya padahal sebelumnya dia sempat membantah perkataan ibu."


"Tapi waktu itu dia menganggapku sebagai Cathy."


"Kau ingat kan dia pernah berkata bahwa dia tidak lagi bisa melihat masa depanmu? Rhea, harus berapa kali kami bilang kalau kami tidak bodoh untuk menyadari bahwa kau bukan Rhea yang kami kenal."


Cathy menundukkan kepala, "Maafkan aku, Art. Aku telah menyalahkan Al. Aku hanya binggung harus bagaimana waktu itu." tangis Cathy pecah.


"Aku mengerti ini berat untukmu dan aku juga tidak mau berada dipihak manapun namun yang pasti Al dan aku hanya ingin yang terbaik. Kami sama sekali tidak menyalahkanmu yang datang kesini, itu juga pasti bukan keinginanmu tapi Rhea, yang dikatakan oleh Oracles Delphi benar. Mereka hanya berkata sesuai penglihatan."


Cathy menggeleng, "Tapi aku tidak mau pergi, Art. Aku mencintainya. Bukannya ku memaksa atau melawan takdir tapi aku hanya ingin bersamanya di dunia ini, aku tak mau hal lain lagi."


Artemis menghela nafas. Pandangan mata sang Dewi terarah ke depan. Senyum cantiknya mengembang melihat Apollo berjalan ke arah mereka dan kini berdiri tepat dibelakang Cathy.


"Aku tau, Rhea." sahut Apollo yang sempat mencuri dengar perkataan Cathy berhasil membuat Cathy terlonjak kaget.


Dengan cepat Cathy berdiri, "Al, sejak kapan kau disini?" tanyanya.


Apollo tersenyum, "Sejak kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup untuk pergi," jawabnya, "Aku mengerti meski aku tak paham rasanya bagaimana tapi Rhea, aku hanya mencoba memberi masukan dari sudut pandang ku tanpa niatan sedikitpun melukaimu, aku bersungguh-sungguh."


"Maafkan aku jika perkataan ku telah melukai hatimu, Al." lirih Cathy.


"Kau melakukan semua itu karena Aiden. Tidak masalah, Rhea karena saudariku juga pernah melakukan hal yang sama terhadapku karena cinta." balas Apollo mendekat lalu memeluk Cathy, "Tapi pada waktu itu aku terlambat melakukan ini." lanjut Apollo,


"Aku dan Art sudah sepakat. Kalau pun kamu harus kembali ke tempat asalmu, jika kau ingin maka kami akan mengupayakan apapun untukmu."


"Terima kasih."


"Pergilah, Rhea! Kau sudah terlalu lama pergi, Aiden pasti sedang mencarimu." sahut Artemis menatap sekeliling.


"Art benar. Kau tau kan kalau suamimu itu sangat menyebalkan jika sudah menyangkut tentangmu."


Cathy mengangguk menarik diri dari Apollo. Dia harus segera kembali sebelum Poseidon mencari keberadaannya karena seingat Cathy, mereka memiliki janji.


"Asthrea."


Deg


Belum ada beberapa menit berlalu dari perkataan Apollo dan Poseidon sudah muncul disana.


Dengan gerakan cepat Cathy menghapus sisa air mata diwajahnya. Untung saja Apollo berdiri tegap di hadapannya menghalangi pandangan Poseidon.


"Kau disini rupanya."


Cathy menyunggingkan senyum manis berusaha menyembunyikan kesedihan dan kegundahan hati namun nyatanya sia-sia karena Poseidon tetap menyadarinya.


Poseidon mendekat, menangkup pipi Cathy, "Ini yang kedua kalinya kau menangis setelah tinggal disini. Jawab aku apa yang sebenarnya terjadi?"


Cathy menggeleng, "Aku hanya merindukan rumah." bohongnya.


"Benarkah?" tanya Poseidon dengan mata tertuju pada Apollo dan Artemis bergantian sedang si kembar hanya mengangguk kompak membalasnya.


Poseidon tentu tidak dapat dibodohi dengan mudah. Terlalu banyak hal mencurigakan yang terjadi akhir-akhir ini. Ketiganya terlihat seperti sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.


----


Cathy mendongak menatap jutaan bintang dari jendela kamar yang nampak Indah dan sangat terang dari jarak ia berdiri saat ini sembari menikmati hembusan angin malam di istana Poseidon sampai sebuah pelukan berasal dari belakang mengejutkan Cathy.


"Apa bintang dilangit lebih Indah dariku hingga kau rela berdiri lama disini, mengabaikan suamimu diatas ranjang?"


Cathy tersenyum, menggeleng lalu membalas, "Kau tau? Sampai detik ini pun aku tidak percaya kalau kita menikah setelah berbagai macam hal yang pernah kita lewati dengan terus bertengkar."


Poseidon menenggelamkan wajahnya di curuk leher Cathy, "Aku masih mengingatnya dengan jelas. Wajah marahmu ketika menantangku di kuil Athena dan ucapan pedas tanpa takut sedikitpun meski tau dengan siapa kau bicara. Sesuatu yang membuatku sempat merasa kesal setengah mati."


"Jangan menyalahkanku. Waktu itu kau juga sangat menyebalkan." kekeh Cathy yang hanya memakai gaun tidur tipis terbuat dari sutra.


Ciuman sang dewa laut terus dilayangkan di leher, bahu, sesekali mengigit daun telinga Cathy dengan gemas membuat tubuh istrinya sedikit bergetar karena geli.


Mereka terdiam cukup lama. Poseidon masih melakukan aktivitas favorite nya. Ia sangat menyukai aroma tubuh Cathy hingga pada akhirnya Poseidon menyuarakan isi hatinya yang sejak tadi menganggu pikirannya.


"Aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


Cathy menegok ke belakang, menatap ke dalam mata biru Poseidon.


"Apa kau mencintaiku?" bukannya menjawab. Cathy justru melayangkan pertanyaan.


"Aku mencintai Asthrea. Mengapa menanyakan sesuatu yang sudah jelas kamu ketahui jawaban yang akan ku berikan?"


"Hanya ingin memastikan."


"Itu sudah lebih cukup untuk membuatku bertahan disini," batin Cathy, "Karena aku juga mencintaimu." balasnya.


Cathy cukup percaya diri bahwa dirinya lah yang di cintai oleh Poseidon. Raga memang milik Cathy namun jiwa yang menuntun selama perjalanan kisah Cinta mereka adalah Kim Yerim. Bolehkah ia berbangga hati dengan beranggapan bahwa kisah Cathy dan Poseidon menjadi manis sejak ia datang ke dunia para dewa?


Poseidon mengecup hidung Cathy, "Dasar aneh." ejeknya dibalas tawa kecil Cathy.


----


Perang Troya tak dapat dihindari. Pasukan Yunani telah berada diluar tembok Troya, mencoba untuk menerobos masuk dinding pertahanan yang dibangun oleh dua Dewa kuat seperti Apollo dan Poseidon.


Kesalahan yang disebabkan oleh Paris tengah membawa rakyat Troya dalam kehancuran.


Asal muasalnya. Pada pesta pernikahan Peleus dengan Thetis, semua dewa-dewi diundang, kecuali Eris, dewi perselisihan. Marah, Eris akhirnya melempar sebuah apel emas ke tengah-tengah para hadirin. Apel tersebut bertuliskan


"Untuk yang Tercantik"


Karena hal tersebut ketiga dewi penghuni Olympus berbondong-bondong maju mengklaim diri masing-masing sebagai pemilik apel tersebut, mereka adalah Hera, Athena, dan Afrodit.


Tiga dewi itu meminta Zeus untuk memutuskan siapa yang berhak atas apel tersebut. Namun Zeus tidak mau dan menyuruh mereka meminta keputusan pada Paris, pangeran Troya putra Priamos dan Hekabe.


Ketiga dewi tersebut kemudian mendatangi Paris dan menawarkan berbagai hadiah sebagai imbalan jika Paris memilih mereka. Athena berjanji akan menjadikannya pemimpin perang yang berjaya, Hera menawarkan untuk menjadikannya raja yang sangat kaya, sedangkan Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia, Helene dari Sparta. Paris akhirnya memihak Afrodit dan memberikan apel emas itu pada sang dewi, dengan demikian menyatakan bahwa Afrodit adalah dewi tercantik. Keputusan ini membuat Hera dan Athena murka, dan akibatnya akan terlihat pada perang Troya.


Paris akhirnya memilih Helene dan dengan demikian memilih Afrodit sebagai dewi tercantik padahal Paris saat itu sudah mempunyai istri, yaitu seorang nimfa gunung bernama Oinone, sedang Helene sendiri sebenarnya telah menjadi istri Menelaos, raja Sparta tetapi Eros, dewa cinta anak Afrodit, memanah Helene dengan panah cinta sampai akhirnya Helene jatuh cinta pada Paris. dan bersedia untuk dibawa kabur ke Troya. Suami Helene, Menelaos, marah besar. Dengan didukung oleh saudaranya, Agamemnon raja Mikenai dan raja-raja Yunani lainnya, Menelaos menyerang kota Troya.


Ketika tahu bahwa Paris membawa pergi istrinya, Menelaos langsung memanggil para bekas pelamar Helene dan menangih sumpah mereka dulu, bahwa mereka harus membantu Menelaos mendapatkan Helene kembali. Dengan bantuan hampir seluruh Raja Yunani, mereka menuju kerajaan Troya.


"Kita kekurangan pasukan." seru Hektor frustasi didepan ayah dan para panglima lainnya.


"Mengapa kau harus khawatir. Bukankah pasukan Yunani tidak akan pernah bisa menerobos dinding pertahanan kita yang dibangun oleh Poseidon dan Apollo."


"Kita tidak bisa bergantung pada hal itu karena pasti mereka tengah mencari cara diluar sana."


Hektor sungguh tak paham lagi. Ia telah berada pada puncak kesabaran selama ini.


"Cathy telah menikah dengan salah satu dewa tertinggi Olympus. Mungkin kita bisa meminta bantuannya sedikit." usul salah seorang di sana.


"Itu lebih tidak mungkin."


"Benar. Tidak ada salahnya kita meminta bantuan Cathy. Dia pasti dengan senang hati membantu kita dan kau, Hector. Cathy akan mendengarkan apapun permintaanmu karena dia sangat menyayangimu."


"Maaf, tapi aku juga masih punya malu, Ayah setelah apa yang kita lakukan terhadap bibi."


Pintu ruangan terbuka. Seorang prajurit terlihat berjalan masuk untuk membawa berita.


"Pangeran, aku mendapatkan kabar dari penjaga bahwa Putri Cathyrene mendatangi Pavilliun Yang kini ditempati oleh Putri Helene." ucapnya setelah berdiri dihadapan para petinggi Troya sembari menundukkan kepala.


"Bibi ada disini?" Hektor tersenyum senang dengan cepat melepaskan sebuah bidik ditangannya lalu berlari keluar menuju Paviliun.


Sementara itu,


Cathy yang baru menginjakkan kaki lagi di Troya setelah drama rayuan maut terhadap Poseidon agar mendapatkan ijin, sang dewa laut pada akhirnya memberikan ijin asalkan Cathy tidak menolak untuk didampingi para Demigod terpercaya Poseidon.


"Kau masih disini rupanya." sapa Cathy.


"Aku sudah menikah dengan Paris, tentu Troya menjadi rumahku juga."


"Lalu bagaimana dengan suamimu Menelaos? Dia berada diluar dinding Troya sekarang untuk menjemputmu. Jika saja kau mau pulang, kau mungkin berpeluang menyelamatkan rakyat Troya," nasihat Cathy, "Ouwh, aku lupa, kau mana mau berpikir seperti itu. Kau kan wanita paling cantik juga paling egois yang pernah ada." kekehnya mengejek.


"Cukup!" desis Helene murka.


"Bibi."


Hector datang membuat kedua wanita yang tengah berselisih itu menoleh kompak menatap Hector. Cathy tersenyum ramah menyambut kehadiran Hector. Keponakan paling disayangi olehnya.


Bibi dan keponakan itu saling melepas rindu satu sama lain sedikit membuat Cathy melupakan perdebatannya dengan Helene yang mungkin tak akan ada habisnya jika Hector tak datang.


"Ayo bicara di tempat lain." ajak Cathy menarik lengan Hector menjauh dari sana menuju taman favorit yang berada dekat Paviliun.


Sungguh sangat mengecewakan mengetahui kediamannya telah di tempati oleh wanita seperti Helene. Sekarang Cathy benar-benar harus mempercayai perkataan Poseidon dan lainnya mengenai keluarga yang ia banggakan selama ini.


"Bagaimana kabarmu?"


"Sangat buruk, pasti bibi lebih tau akan seperti apa kami ke depan."


Cathy menghela nafas. Untuk alasan itulah dia datang. Sebelum peperangan Cathy pernah ingin berjuang membela keluarganya namun apa yang dia dapatkan justru pengkhianatan.


"Hector, pergilah sejauh mungkin. Tinggalkan tempat ini karena disini bukanlah tempat untuk orang baik sepertimu."


"Seperti Bibi, kan?" Hector tersenyum, "Tapi aku tidak bisa membiarkan Ayah dan Paris menghadapi pasukan Yunani di luar sana berdua saja."


"Hector, apa kau juga tau yang mereka perbuat terhadapku?" tanya Cathy setelah terdiam cukup lama.


Hactor menunduk. Rasa bersalah itu kembali menghantui dirinya, "Maaf karena aku terlalu pengecut membela Bibi waktu itu."


Cathy telah berhasil memastikannya sendiri. Firasatnya memang tak pernah salah. Untuk alasan itulah Cathy mendatangi Troya. Dia hanya ingin menyelamatkan Hector yang tak layak mendapat hukuman untuk dosa yang dilakukan orang lain.


"Kehancuran Troya sudah didepan mata. Ingatlah perkataanku, Hector. Kesenangan untuk sebuah pencapaian yang belum pasti justru akan membawa kehancuran."


----


Tbc