The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
City Dionysa



Setelah kepergian Apollo. Artemis memulai aksinya karena rencana yang ada dikepalanya tersebut tidak boleh sampai ketahuan oleh Apollo. Artemis telah merundingkan hal ini dengan Athena dan sebagai sesama kaum wanita Athena ikut setuju dengan ide Artemis yah meski ide Dewi alam liar itu sama liarnya dengan isi kepalanya.


Sebenarnya tidak seharusnya Athena membantu Artemis mengingat mereka berada di kubu berbeda namun rencana semula harus dilaksanakan. Mereka tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi.


"Bukannya itu acara untuk para dewa saja?"


Cathy memang membutuhkan dukungan sebagai cadangan ke depan nanti tapi haruskah menjalankan seperti yang di usulkan oleh Artemis?


"Hm iya tapi tidak ada larangan juga untuk manusia."


"Kau yakin ini akan berhasil?"


"Cukup yakin. Kau harus berhasil menarik perhatian Ariadne. Jika berhasil maka kita akan mendapatkan dukungan Dionysus karena cuma Ariadne yang dapat membujuk suaminya." jelas Artemis.


Cathy terpejam. Dionysus itu dewa apa ya? Sungguh dia tidak paham mengapa harus susah payah begini mencari dukungan satu dewa saja.


"Baiklah jadi kapan kita akan melakukannya?"


"Saat pesta berlangsung."


----


"Kau mengecewakanku."


Kesalahan terbesar yang diperbuat oleh Hades untuk pertama kalinya melukai hati Persephone begitu dalam. Hades sangat mencintai istrinya tapi dia juga sangat kesepian saat istrinya menghabiskan waktu bersama Demeter. Biasanya ketika dia akan memiliki urusan sudah dipastikan akan berakhir dengan buruk.


Selama ini Hades selalu menunjukkan cintanya yang begitu besar untuk Persephone tapi tidak dengan wanita itu. Persephone sekalipun tidak pernah membalas ucapan cintanya setiap mereka bersama.


Karena itu juga Hades jatuh hati pada Leiden Oceanid yang cantik sampai pada akhirnya Persephone yang cemburu tanpa ampun mengubahnya menjadi pohon poplar. 


"Ini bukan yang pertama kali." sambung Persephone mengangkat tangannya didepan Hades, "kau telah membuatku menjadi wanita jahat karena cemburu." amuk Persephone menatap Hades penuh luka yang terpancar jelas dalam matanya.


Gadis cantik lainnya bernama Minthe (naiad dari River Cocytus) yang membual tentang cinta Hades yang penuh gairah untuknya dan karena ia lebih cantik dari Persephone pun tak luput dari amarah sang dewi. Dewi yang cemburu dan marah itu segera muncul di hadapannya, dan mengubahnya menjadi tanaman mint.


"Awalnya ku pikir kau berbeda. Kenapa para pria tidak bisa bertahan pada satu wanita? Mengapa wanita juga yang harus menanggung rasa sakitnya."


"Sayang,"  Hades mendekat namun Persephone melangkah mundur seakan tidak mau di sentuh oleh suaminya sendiri.


"Diam! Jangan memanggilku seperti itu!"


Rasa kecewa yang dirasakan oleh Persephone sudah berada dititik terakhir. Untuk kesalahan pertama ia masih bisa menerimanya tapi jika sampai kedua kali. Tidak! Dia tidak akan menerimanya.


Persephone mengeluarkan sebuah krystal berwarna biru. Hades mengetahui fungsi benda bulat itu bergegas untuk menahan Persephone tapi dia terlambat karena istrinya sudah lebih dulu menghilang di telan kabut.


"Persephone, kembali!!" teriak Hades percuma.


----


Cathy sangat yakin jika saat ini Poseidon atau Apollo mengunjunginya di paviliun maka kedua pria itu akan kelimpungan karena tidak dapat menemukan Cathy dimanapun. Ya, karena saat ini Cathy dan Artemis sedang dalam perjalanan menuju gunung Arcadia dimana kediaman Dionisus dan Ariadne berada.


"Dio adalah dewa anggur. Dia memiliki jutaan rasa anggur yang akan membuatmu ketagihan dan ingin terus mabuk-mabukan." jelas Artemis dalam perjalanan mereka menunggangi kuda.


"Aku suka anggur." seru Cathy, "kira-kira anggur jenis apa yang dia punya."


"Semua bahkan yang tidak dapat kau temukan di tempat lain akan kau temukan disana."


Sesampainya di gunung Arcadia. Artemis dan Cathy langsung saja disambut oleh Athena di gerbang masuk sekali lagi mengejutkan Cathy ketika bertatapan dengan dewi cantik tersebut.


Astaga, mengapa dia mirip dengan kakak tertuanya dalam group..


"Athena." panggil Artemis melompat dari atas kuda lalu menarik Cathy yang juga sudah turun dari kudanya menghampiri Athena.


"Kalian datang tepat waktu," Athena tersenyum. Ia memgalihkan pandangan ke arah Cathy, "ini adalah pertemuan pertama kita. Aku sangat menyayangkan keputusanmu mundur dari kandidat calon pendeta agung di kuilku."


Masih dengan keterkejutannya Cathy mengangguk kecil, tidak dapat menemukan kata-kata untuk membalas ucapan sang dewi.


"Ayo masuk."


Ketiga wanita cantik itu melangkah memasuki kediaman sang dewa anggur. Sebentar lagi para dewa Olympus lain akan segera datang menghadiri pesta yang diadakan oleh Dionysus dan Ariadne. Untuk itu mereka harus segera bergegas untuk mempersiapkan diri didalam.


"Mengapa kau disini juga?" seru Athena menatap wanita cantik yang kini sedang berbicara dengan Ariadne.


Merasa terpanggil. Wanita cantik pemilik gelar dewi kecantikan itu menoleh, "Apa ada larangan untukku pergi kemanapun ku mau, Athena?" sinis Aphrodite, "Aku sedang suntuk. Ares membawa wanita lain ke kediamannya." sambungnya bercerita.


Sudah bukan rahasia umum lagi kalau para dewa tidak pernah bertahan dengan satu wanita. Harusnya itu juga bukan masalah besar mengingat Aphrodite saat ini juga masih berstatus istri orang yah meski pernikahan itu dibangun tanpa Cinta.


Lagian juga sudah jelas bukan dari mana sifat alamiah itu muncul. Sejauh ini hanya Dionysus lah satu-satunya anak Zeus yang belum menunjukkan tabiat buruk dari gen Zeus dan semoga saja Ariadne tidak akan pernah merasakan bagaimana berada diposisi Persephone atau Aphrodite.


"Haruskah aku terkejut. Kurasa kau juga sudah tau bagaimana sifat Ares. Mengapa harus protes. Kau pelaku perselingkuhan yang tidak mau di selingkuhi. Benar-benar Aphrodite kebanggan Olympus." sindir Athena. Selain sering berdebat dengan Ares. Athena juga sering beradu mulut dengan Aphrodite.


"Sudahlah. Kau tidak akan mengerti." Aphrodite mengibaskan tangan.


"Kalian sedang membicarakan apa?" sahut seorang dewi lain menarik perhatian mereka.


"Persephone."


Persephone. Sang ratu dunia bawah itu melangkah mendekati kumpulan wanita cantik itu dengan senyum manis. Wajah cantiknya yang terlihat jelas dibawah cahaya itu kembali membuat Cathy terkejut.


Entah sudah berapa kali ia terkejut hari ini. Melihat Athena saja telah membuatnya kehilangan kata-kata dan kini kemunculan Aphrodite dan Persephone juga kembali membuatnya nampak seperti orang bodoh.


Oke, sekarang dia berdiri diantara para dewi cantik penakluk sebagian dewa Olympus.


"Aku ke sini untuk menghibur diri." cerita Persephone dengan wajah sedih, "Hades mengkhianatiku dengan wanita lain."


"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Ariadne. Sejak kejadian dimana Persephone membantunya. Mereka menjadi dekat meski jarang bertemu. Ariadne saja sempat tidak yakin Persephone akan menyempatkan waktu untuk memenuhi undangannya tapi melihat Persephone datang sudah cukup membuatnya senang.


"Aku mengubah wanita itu menjadi tanaman." dengus Persephone memalingkan wajah takut melihat reaksi wanita-wanita disana. Mereka pasti akan berpikir bahwa dia seorang wanita jahat.


"Aku menyayangkan fakta bahwa kau sama sekali tidak membunuhnya." diluar dugaan Aphrodite justru memberi komentar seakan tindakan yang dilakukan oleh Persephone terlalu mulia.


"Wanita yang cemburu lebih mengerikan dari apapun." sahut Ariadne, "tapi kalau aku jadi kau, wanita itu tidak akan ku biarkan hidup dalam bentuk apapun."


Aphrodite mengangguk setuju dengan perkataan Ariadne. Secara langsung wanita itu ikut menyuarakan suara hatinya. Aphrodite sama sekali tidak akan diam saja melihat wanita lain bersama Ares. Sekarang ini ia hanya menunggu waktu saja sebelum bertindak.


"Ouwh, kalian wanita mengerikan." Artemis bergedik ngeri mendengarnya.


"Jangan membicarakan wanita itu. Disini ada menantunya."


"Diamlah!"


"Astaga, Cathy maaf kamu mengacuhkanmu." seru Artemis menarik Cathy yang entah mengapa berdiri dibelakang Athena.


"Ini gadis yang kalian ceritakan ya." sambut Ariadne ramah. Berteman baik dengan Artemis dan Athena membuatnya juga mengenal Cathy ya meski tidak secara langsung.


Cathy membalas senyum Ariadne walau dia sendiri juga sebenarnya binggung karena cukup yakin ini adalah pertemuan pertama mereka tapi mengapa Dewi cantik itu bersikap seolah sudah mengenal Cathy cukup lama.


"Rhea, kau mengingatku." sambung Persephone. Cathy menoleh. Tentu saja dia mengenal suara itu. Dia pernah mendengarnya sewaktu berada di dunia bawah bersama Poseidon. Cathy mengangguk.


"Siapa dia?" tanya Aphrodite kali ini. Mengapa hanya dirinya saja yang tidak mengenal Cathy sedangkan yang lain terlihat akrab dengan gadis yang baru pertama kali ia lihat.


"Dia calon istri Poseidon." kompak keempat wanita itu menjawab Aphrodite membuat Cathy terbelalak. Oh tidak, dari mana gosip itu tersebar?


"Bukan." bantah Cathy mengangkat tangan layaknya tersangka yang baru saja kedapatan melakukan kejahatan.


"Tidak mungkin." sambung Aphrodite terkejut.


----


Pesta yang diadakan oleh Dionysus tidak terlalu ramai karena hanya dihadiri oleh beberapa dewa penting penghuni Olympus seperti Poseidon, Ares, Eros, Apollo, Hermes, dan yang lain kecuali dua dewa utama Hades dan Zeus yang tidak bisa meninggalkan tempat mereka.


Para nimfa yang bertindak sebagai pelayan mulai menyajikan menu dihadapan para dewa yang telah berkumpul sedang oara demigod berjaga disekitar bahkan diluar gerbang. Sebuah pesta yang telah disiapkan sedemikian rapi oleh Ariadne dan Dionysus dengan maksud menyenangkan para dewa. Sayang sekali Zeus dan Hades tidak dapat ikut.


"Bersenang-senanglah. Aku sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk kalian." sambut Dionysus ikut bergabung duduk diantara para dewa.


Blushh


Ditengah perjamuan muncul kabut hitam gelap disusul kehadiran Hades yang melangkah memasuki ruangan dengan gaya angkuhnya.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Eros mengernyit. Pasalnya setahunya Hades tidak suka melibatkan dirinya dalam perkumpulan seperti ini.


"Mengapa kau disini?" tanya Ares.


"Aku sedang dalam perjalanan mencari istriku dan ku dengar disini ada pesta," jawab Hades dingin, "kenapa, apa kehadiranku tidak diharapkan oleh kalian?"


Dionysus menyunggingkan senyum. Perlahan berdiri menghampiri Hades, "Bukan seperti itu. Kau bisa bergabung dengan kita disini. Justru aku merasa tersanjung, hanya saja yaa kehadiranmu cukup membuat kami semua terkejut."


"Aku sibuk." balas Hades dingin.


"Sebentar saja. Mungkin istriku bisa membantu untuk menemukan Persephone tapi dia sedang menyambut teman-temannya dibelakang. Kau mau menunggu?"


Hades terdiam cukup lama sebelum pada akhirnya mengangguk menyetujui perkataan Dionysus. Lagipula ia sudah lelah dalam perjalanan, mungkin sedikit beristirahat disini tidak masalah, "Baiklah." ucapnya.


Tempat kosong disamping Poseidon dan Apollo menjadi tempat pilihan bagi sang penguasa dunia bawah. Hades menyibak jubah bagian belakangnya sebelum sebelum duduk.


"Dio, ku dengar malam ini kau menyiapkan sesuatu yang khusus untuk kami." ucap Apollo.


"Ah tentu saja, aku hampir melupakannya." angguk Dionysus berjalan menuju bagian belakang mencari istrinya.


"Sayang." panggil Ariadne berlari kecil menghampiri Dionysus, "Ini gawat, aku kehilangan para penari." jelasnya dengan wajah murung.


"Benarkah? Kemana mereka menghilang. Kita tidak punya banyak waktu, Ria."


"Maka dari itu aku binggung apa yang harus kita pertunjukkan dihadapan para dewa disana."


"Tenang saja, kami akan membantu."


"Persephone, kau disini?" kaget Dionysus menoleh memandang sang pemilik suara yang tengah bicara. Tidak hanya itu, dia juga cukup terkejut memandang kumpulan para wanita disana.


Seperti melihat taman bunga yang Indah dibagian belakang rumah..


Persephone mengangguk, "tentu saja. Bukankah kalian mengundangku juga."


Dionysus mengangguk. Haruskah ia mengatakan pada Persephone tentang kehadiran suaminya diluar atau lebih dulu memberitahu Hades. Entah mengapa Dionysus merasa keduanya sedang ada menyimpan masalah rumah tangga dan Dionysus sama sekali tidak mau memberatkan pihak manapun dalam hal ini. Mungkin lebih baik dia diam saja.


"Apa yang bisa ku bantu?" kali ini Athena ikut bersuara.


"Kalian serius?" kompak Dionysus dan Ariadne bertanya.


Sementara itu diruang pesta terjadi keheningan sejak kedatangan sang dewa kegelapan. Pesta yang di dominasi para dewa gagah nan tampan itu diliputi suasana mencengkeram karena para pria yang duduk berjejeran tidak berniat membuka suara walaupun sekedar bertukar sapa.


Benar-benar kumpulan pria arogan!


Lantunan musik terdengar menyapa pendengaran para dewa diikuti munculnya para penari berhasil menarik perhatian para dewa yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing mulai mendongakkan kepala memandang ke depan.


Secara kompak mereka membelalakan mata tatkala melihat wajah para penari yang terdiri dari para wanita mereka sendiri. Sontak ekspresi datar di wajah masing-masing dari mereka berubah drastis seperti ingin membunuh mahkluk apapun disekitar.


"Wah." gumam Apollo takjub. Dirinya memang posesif terhadap saudari perempuannya tapi kejadian seperti ini bukanlah sesuatu yang harus dijadikan masalah untuknya. Nyatanya Apollo justru menikmati pertunjukan yang terpampang dihadapannya, tak lupa juga penampakan serta aura jahat yang menguar disekitar tempat duduknya.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Poseidon menahan amarah. Apollo yang berada tepat disampingnya tau dengan jelas siapa yang dimaksud oleh sang dewa laut.


"Aku juga tidak tau, Aiden tapi jelas ini pasti ulah Artemis." balas Apollo tanpa memikirkan dampak yang akan didapatkan oleh saudarinya akibat ucapan polos nya barusan tertawa kecil.


"Dia bahkan tidak pernah menari dihadapanku dan disini dia malah memperlihatkan bakatnya itu." sahut Ares terdengar.


"Persephone," tutup Hades singkat namun mampu membuat sekeliling merasa terintimidasi.


Dionysus muncul lalu ikut bergabung bersama para dewa lainnya. Ia tersenyum lalu berkata, "bagaimana pertunjukannya? Apa kalian menikmatinya?"


Apollo menahan senyum bersama Eros merasa bahwa Dionysus telah melakukan kesalahan dengan melempar pertanyaan tersebut.


Mendengar pertanyaan dari Dionysus membuat ketiga pasang mata menoleh kompak memandang Dionysus.


"Ada apa?"


----


Tbc