
Sebuah perasaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Walau pada dasarnya tubuh tempat ia bersemayam telah berusia matang namun tetap saja, jiwa yang ada didalam sana masih berumur belia.
Kata orang, waktu akan mendewasakan seseorang. Ya, dia berani menjamin hal itu sekarang karena kisah hidup Cathy yang tertinggal telah membuat dirinya dewasa meski secara pengalaman bukan ia pemiliknya.
Alasan mengapa dirinya bisa terjebak disini masih sebuah misteri yang belum dapat dipecahkan. Yerim menatap pantulan dirinya dalam bentuk wajah Cathyrene melalui air kolam permandian.
Cathy terpejam erat merasakan jari-jari hangat menari di punggungnya mengambar sesuatu bentukan abstrak. Cathy tersenyum, siapa lagi pemilik tangan nakal itu kalau bukan suaminya.
Setelah kegiatan panas mereka yang cukup menguras tenaga terlebih Cathy, ia nyaris tak sanggup mengimbangi. Kadang ia lupa bahwa dirinya menikahi seorang dewa, bukan orang biasa.
Mengingat itu semua membuat wajah Cathy bersemu merah. Akan dia pastikan Poseidon tidak menyadari kalau dirinya tengah mengulang kegiatan mereka di kepalanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan ehm?" tanya Poseidon mengambil anak rambut Cathy yang menutupi bahu wanitanya lalu meninggalkan ciuman disana.
Saat ini keduanya tengah berada dalam kolam pemandian. Poseidon duduk bersandar dengan Cathy tepat didepannya, duduk membelakangi sang dewa laut.
Cathy menggeleng sebagai jawaban tak lantas membuat Poseidon puas. Dia tau betul ada sesuatu hal yang tengah membebani pikiran istrinya mulai mengulurkan tangan menyampirkan rambut basah istrinya yang menutupi punggung mulus nan lembut itu ke samping.
Satu kecupan mendarat di punggung telanjang Cathy sedikit membuat tubuh kecil itu bergetar. Selalu saja seperti ini reaksinya.
"Aiden, aku ingin bertemu keluargaku." aku Cathy akhirnya membuka suara.
Ciuman Poseidon terhenti, "Untuk apa lagi kamu bertemu dengan mereka?" tanyanya terdengar tidak suka. Poseidon sudah menyelidik dalang dibalik kasus Cathy kemarin dan temuan yang cukup mengejutkan Poseidon bahwa keluarga Cathy ikut terlibat dalam rencana Hera. Beruntung dia masih mengingat istrinya, jika tidak mungkin Troya akan hancur lebih dulu sebelum bisa menghadapi Sparta.
Cathy memutar tubuhnya sedikit menghadap Poseidon, "Aku merindukan mereka. Siapa tau mereka khawatir selama aku pergi."
Poseidon menggeleng cepat. Tangan kanannya terangkat mengambil kelopak bunga dari anak rambut istrinya sedang Cathy masih menatap menunggu jawaban suaminya.
"Mereka tidak akan khawatir padamu, percayalah."
Cathy tertawa kecil. Bukan itu jawaban yang ingin dia dengar, "Kau berkata seperti itu seolah aku dibuang keluarga ku sendiri."
Ya, seperti itu memang. Cathy tidak pernah tau cerita dibalik hidupnya yang terancam kemarin dan malah berpikir bahwa keluarga serakah nya akan mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku tidak akan pernah mau melihatmu sedih. Maka dari itu berhentilah membahas keluargamu."
Mendengar jawaban Poseidon yang berbeda, tidak seperti biasanya membuat rasa penasaran Cathy muncul. Ia mengulurkan tangan menyentuh otot perut Poseidon, berniat menggoda suaminya itu agar mengatakan lebih banyak lagi.
"Sebagai suami, kau harusnya memberitahukan banyak hal padaku, kan? Apa peraturan Olympus berbeda? Di tempatku segala informasi yang ada di kepala suami biasanya suka dibagikan ke istri. Itu baru bisa disebut suami-istri."
Poseidon menyunggingkan senyum tipis melirik tangan Cathy yang membuat gerakan memutar pada dadanya kemudian turun ke bawah, "Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui, istriku?"
"Semuanya."
"Kalau begitu bagaimana kalau sambil melakukan aktivitas lain?"
Cathy terbelalak. Otaknya bekerja dengan cepat untuk yang satu ini. Oh sial, sekarang dia malah menjatuhkan diri sendiri ke dalam jebakan yang dia buat untuk suaminya akan tetapi pesona dan rasa ingin tau terlalu sayang untuk di lewatkan begitu saja. Mungkin dengan begini Cathy bisa menggali informasi yang ingin dia ketahui kan? Siapa tau.
"Naik kesini!" titah Poseidon menurunkan tangan menuntun pinggul Cathy agar menaikinya.
Oh come on! Mereka akan bercinta disini? Didalam kolam? Ini akan menjadi pengalaman paling liar yang di alami oleh Cathy.
Sekali lagi, Cathy merasa sudah gila karena tak dapat menolak pesona suaminya. Sekarang dia paham alasan mengapa Cathy yang dulu begitu bodoh karena sekarang dia pun sama bodohnya.
Desahan terdengar keluar dari mulut Poseidon yang kembali terpuaskan malam ini. Rasanya sungguh luar biasa. Cathy pun meraskan hal serupa. Wajah cantik itu sesekali mengerut, bersandar di pundak Poseidon dengan kedua tangan bertumpu di pundak suaminya menikmati setiap desakan yang ia terima di bawah sana.
Ini saat yang tepat..
"Ah aiden, mengapa?"
Segala informasi yang ingin diketahui oleh Cathy mulai diungkap ditengah percintaan panas mereka membuat Cathy terjebak. Terkejut dan kewalahan di saat bersamaan.
"Hmm.." Poseidon menggeram ketika meledakkan pelepasan ke dalam tubuh wanitanya.
Sekali saja tidak akan cukup untuk sang dewa laut yang terkenal paling kuat diantara para saudaranya. Nyatanya kegiatan panas mereka terus berlanjut sampai peraduan dengan tubuh sama-sama basah oleh air bercampur keringat.
Tubuh Cathy bergetar membelakangi suaminya. Dia benar-benar dibuat tak berdaya dibawah kekuasaan Poseidon yang terus melesakkan pusat tubuhnya dengan posisi lutut dan siku bertumpu pada ranjang sibuk mencari pegangan lain.
"Mereka ingin membunuhku?" desah Cathy tak menyembunyikan kekecewaan dan kemarahan dalam nada bicaranya.
"Yah, begitulah!" Poseidon mengerang, menarik Cathy, menelusupkan wajah diantara perpotongan bahu istrinya lalu melingkari perut Cathy, menahan tubuh wanitanya sementara dia terus bergerak.
Percintaan mereka luar biasa. Kata puas seakan tak ada dalam kasus sang dewa penguasa lautan jika sudah menyangkut Cathy. Dengan begini juga, ia menjadi tau segalanya. Ia tidak menyangka bahwa keluarganya sendiri ikut andil dalam rencana untuk membunuhnya.
"Hah.." geraman terakhir keluar dari bibir Poseidon sebelum menjatuhkan diri bersama Cathy yang juga luar biasa lelah.
Kedua mata Cathy terpejam ketika dirasanya tangan Poseidon menariknya kembali ke dalam pelukan.
"Tidak perlu memikirkan mereka. Tak lama lagi mereka akan mendapatkan hukuman akibat kesombongan dan keserakahan mereka." ucap Poseidon tak lantas membuat kekhawatiran Cathy menghilang. Itu dia yang jadi masalahnya.
----
Apollo sudah sangat yakin kalau Artemis akan menyetujui perihal reinkarnasi sebagai manusia untuk mengenapi takdir atas gelarnya sebagai Moon Goddes. Itu semua dilakukan agar Artemis sekiranya tak perlu melanggar janji yang dia buat sendiri beberapa puluh tahun lalu saat duduk dipangkuan ayah mereka.
Meski pada dasarnya Apollo masih menyimpan ketidakrelaan jika harus hidup jauh dari Artemis tapi untuk kebahagiaan Artemis, Apollo merasa dirinya harus mengalah karena kesedihan saudari kembarnya adalah hal terakhir yang ingin dia lihat.
"Jadi kau sudah menyetujuinya?" tanya Apollo ketika Artemis menyusulnya di kuil pemujaan milik sang dewa Matahari.
Saat ini keduanya tengah dalam wujud penyamaran sebagai manusia biasa. Artemis dengan gaun coklat terang berikat pinggang hiasan daun salam emas nampak cantik sedang Apollo memakai jubah hitam bercorak perak yang membuatnya nampak gagah untuk ukuran bangsawan biasa.
"Iya tapi aku binggung harus mengatakannya bagaimana kepada ibu?"
Apollo menyudahi kegiatannya didalam kuil Delphi lalu mengajak Artemis berjalan keluar bersama dengannya menyusuri kota terdekat.
"Ibu pasti akan setuju."
"Aku tidak yakin lagipula Rhea juga masih membutuhkan pengawasan kita kan?"
Artemis mengangguk setuju. Ia pikir cuma dia saja yang merasakannya, tak bisa dipungkiri juga gadis yang mereka panggil dengan nama Rhea itu membawa banyak perubahan. Garis takdir yang semula suram menjadi lebih terbuka lebar.
"Jujur saja aku lebih menyukai Rhea yang sekarang, lebih berani dan tidak takut apapun meski sedikit ceroboh tapi dia dapat menegaskan apa yang dia mau, hal yang tidak ku percaya bisa ada pada Rhea dan satu lagi, dia mampu membuat keadaan berbalik dengan Poseidon. Kita jadi tidak harus berbuat banyak, nyatanya mereka sekarang menikah kan?"
"Kau benar, Art, lalu setelah semua ini mengapa kau masih menunda. Bukankah semakin cepat semakin baik atau mungkin kau masih takut?"
Artemis memberhentikan langkah, berbalik menatap Apollo. Tanpa mengatakannya terlebih dahulu Apollo memang paling bisa memahami dirinya, "Begitulah. Rasanya ini keputusan besar, Al. Sama seperti memilih mati terkena panah atau diracuni. Keduanya sama-sama buruk."
Apollo menatap Artemis. Jelas sekali keraguan dimata saudari cantiknya itu membuatnya meletakkan kedua tangannya dipundak Artemis, "Dengarkan aku! Sekarang biarlah takdirmu sendiri yang bertindak. Ayah dan aku sudah bersumpah tak akan campur tangan, jadi jalani saja tanpa rasa takut." ucap Apollo beralih menangkup kedua pipi Artemis. Tersenyum hangat menatap saudarinya.
"Al, kau tau betapa aku menyayangimu." bisik Artemis merasa terharu mendengar ucapan Apollo.
"Aku lebih menyayangimu. Kau dan ibu adalah wanita paling berharga dalam hidupku. Apapun akan ku lakukan untuk melindungi kalian." balas Apollo menarik Artemis ke dalam pelukannya yang disambut bahagia oleh sang Dewi bulan.
"Apa dia bisa mengenaliku?" tanya Artemis dalam dekapan sang dewa matahari.
"Itu tugasmu meyakinkannya."
----
Zeus telah diberitahu kebenaran tentang Cathy namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa dia memiliki Putri lain yang tak ia ketahui. Jika harus mengakui perbuatan dulu. Delos adalah bentukan seorang titan yang menolak cintanya dan memilih mengubah diri menjadi pulau tapi yang tidak dia ketahui sebelum itu Delos menitipkan janinnya ke rahim Putri Troy bernama Putri Hesione.
"Apa kau akan diam saja melihat adikmu membawa masuk manusia hina seperti itu ke dalam Olympus hah! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Zeus?"
"Dia bukan manusia biasa! Berhentilah cemburu pada sesuatu yang tak berdasar, Hera!"
"Tidak berdasar katamu? Harus berapa kali aku mengalah melihatmu membawa anak lain ke Olympus. Athena, Apollo, Artemis, Dionysus, Hermes, mereka kumpulan anakmu yang kau beri dudukan di Olympus, kau juga sering sekali membanggakan mereka, sedang Ares, anak kita, apa yang kau lakukan terhadapnya? Sedikit saja kau tak pernah menghargai usahanya."
"Usaha apa? Merebut istri dari saudaranya sendiri Hephaestus? Jangan pernah mengajariku tentang ketidakadilan sebelum kau memperlakukan dewa api dengan benar. Hephaestus juga anakmu tapi pernahkah kau menerimanya? Tidak Hera! Apa karna dia berbeda dengan Ares?"
"Aku tidak seperti itu."
"Kau terlalu memanjakan putramu Ares. Lihatlah akibat didikanmu padanya? Dia menjadi dewa temperamen yang haus akan darah, sebagai dewa perang mengapa dia tidak bisa seperti Athena yang lebih sering memenangkan perang? Mengapa juga dia tidak seperti Apollo yang mempunyai pengikut bahkan kuil utama Delphi, pusat dunia berada dibawah kekuasaan Apollo.
"Teruslah membanggakan kedua anakmu itu!" teriak Hera. Ia benci jika harus mendengar dua nama itu lagi dan lagi dibedakan dengan anak lelakinya, Ares.
"Athena memiliki gelar sebagai Dewi kebijaksana mengantikan Thetis ibunya tapi dunia telah mulai mengenalnya sebagai Dewi perang sama seperti Apollo, ketampanan yang dimiliki bukan satu-satu yang dapat dibanggakan untuk menaklukkan suatu daerah. Ares harus belajar kedua hal itu dari Apollo dan Athena!"
Setelah mengatakan hal tersebut. Zeus memilih pergi meninggalkan Olympus. Berada lama-lama disana hanya akan membuatnya terus di ajak berdebat oleh Hera dan dia benci jika harus terus menerus melawan Hera.
Sementara itu,
Didalam kamar milik sang penguasa lautan. Cathy tengah terlelap dalam tidurnya nampak gelisah.
Mimpi buruk itu datang kembali. Kali ini lebih sering mendatangi Cathy baik siang maupun malam setiap ia terlelap. Sebuah mimpi yang sama, berulang kali mengganggu alam bawah sadar Cathy seakan ingin menegaskan sesuatu.
Sesuatu yang cukup menampar Cathy.
"Kau telah menipu banyak orang. Kebahagiaanmu sekarang bukan milikmu, kau tidak berhak atas takdir ini. Kembalilah ke tempat dimana seharusnya kau berada!"
"Siapa kamu!"
"Aku adalah orang yang kau ambil kehidupannya. Karena kau, aku terjebak dalam kegelapan."
Cathy menggeleng, menolak kata-kata itu dalam kepalanya. Wajahnya telah dibasahi keringat hingga membuat Poseidon masih terjaga mendekat untuk membangunkan Cathy dari mimpi buruknya.
"Asthrea!" panggil Poseidon menepuk pelan pipi Cathy yang nampak gelisah dalam tidur.
"Tidak!" pekik Cathy membuka kedua matanya dengan tubuh bergetar ketakutan memandang sekeliling kamar memastikan dia masih ada disana.
"Ada apa? Mimpi buruk itu lagi?"
Cathy menganggukkan kepala menutup wajah sambil menangis. Oh astaga dia benar-benar ketakutan sekarang hingga tak dapat mengontrol emosinya sendiri.
Poseidon menarik jubah kebesaran putih bercorak keemasan yang membungkus punggungnya lalu mengantungnya asal sebelum menaiki ranjang menyusul istrinya.
Melihat itu, Cathy merangkak masuk ke dalam rengkuhan Poseidon. Cathy memejamkan kedua mata dalam hati memohon agar tidak terlelap lagi agar tak terjebak dalam mimpi yang sama.
"Maukah kau menceritakan mimpi apa yang membuatmu sampai ketakutan seperti ini?"
Cathy menggeleng. Apakah dia harus menceritakan mimpinya? Yang juga mengakui kebenaran tentang dirinya. Apa Poseidon akan percaya padanya? Atau menertawai. Pertanyaan itu berputar-putar terus dikepala Cathy tanpa bisa ia tebak kelanjutan yang akan dia terima jika melakukan pengakuan.
"Dalam mimpiku aku kehilangan segalanya, Al, Art, kamu. Semua menghilang." Cathy tidak berbohong sepenuhnya. Dia menjelaskan hal paling buruk yang dia rasakan dalam mimpinya.
Poseidon tersenyum semakin mengeratkan pelukan hangatnya ia mendekat mencium Puncak kepala istrinya, "Tidak perlu memikirkan bunga tidur yang tak jelas seperti itu." ucapnya. Cathy mengangguk, memilih tak membalas perkataan Poseidon lagi.
Beberapa jam berlalu, Poseidon telah terlelap tapi tidak dengan Cathy yang terlalu takut bertemu dengan seseorang dalam mimpinya perlahan beranjak bangun, meraih jubah tidurnya yang terbuat dari sutra lalu berjalan keluar kamar.
Tepat saat Cathy keluar. Ia berpapasan dengan Apollo yang juga ingin menemuinya. Suatu kebetulan saat Cathy membutuhkan pria itu.
"Al."
"Rhea, aku baru ingin menemuimu."
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."
"Bicara apa?"
Cathy memandang pintu dibelakangnya lalu kembali menatap Apollo, "Bisakah kita mencari tempat lain?"
"Tentu." angguk Apollo mengajak Cathy pergi menuju istananya juga Artemis. Mungkin Cathy akan lebih nyaman bercerita disana.
----
Tbc