
Dengan langkah anggun yang baru pertama kali dilihat olehnya, Apollo mengulum senyum melihat Cathyrene berjalan menghampirinya sambil menarik gaun panjang yang dikenakan olehnya membuat gadis itu nampak menakjubkan malam ini.
Dalam hati pria itu berpikir, kemungkinan banyak pria diluar sana akan berbondong-bondong melamar Cathyrene jikalau saja pesona gadis itu dibiarkan terlihat seperti saat ini. Baginya, Cathyrene sangat cantik juga mempesona, hanya saja gadis itu tidak pandai memperlihatkannya.
Ya, setidaknya itu dulu..
"Rhea, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada temanmu ini?" tanya Apollo mengintrogasi Cathyrene begitu gadis yang di selalu dipanggil Rhea berdiri tepat di depannya.
"Apa?" binggung Cathyrene. Ia menarik gaun yang dikenakan, bersandar pada pilar pembatas.
Apollo mengelus dagu, masih menatap Cathyrene dengan tatapan curiga, "Tadi bertemu siapa saja?"
Melihat wajah Cathyrene yang nampak binggung semakin membuat kejahilan sang dewa matahari bertambah untuk menggoda Cathyrene.
"Oh sudah mulai rahasia-rahasia yaa?" cemberut Apollo pura-pura merajuk.
Untuk pertama kalinya Apollo tak melihat wajah berbinar bahagia Cathyrene ketika menceritakan tentang Poseidon, dewa yang dia kagumi bahkan Apollo cukup yakin sejak Cathy bangun dari tidurnya pasca selamat dari maut, dia tidak lagi menunjukkan kegilaan terhadap Poseidon.
Benar-benar menakjubkan..
"Kau bicara apa?"
"Tadi Aiden ke kamarmu kan?"
"Oh."
"Kau lupa atau sengaja tidak mau mengatakannya padaku agar aku tidak menggodamu hm?"
"Tidak penting juga, lagian kenapa aku harus mengingat sesuatu yang tidak penting, buang waktu saja."
"Kau akan melukai hati Aiden kalau dia sampai mendengar hal ini, Rhea." kekeh Apollo membuat Cathyrene terdiam cukup lama.
----
Persephone telah kembali pada kehidupan lamanya yang tenang dan bahagia. Kesehariannya kini dihabiskan dengan senyuman. Bunga-bunga cantik kembali bermekaran, aroma Wangi bunga Melati menyeruak memenuhi taman, tempat sang dewi musim semi banyak menghabiskan waktu.

Senyuman manis serta aroma yang dikeluarkan oleh Persephone mampu membuat sekitarnya merasakan kesejukan.
"Persephone." panggil Demeter duduk diatas rumput hijau, tepat dibawah pohon berdaun lebat.
Persephone menoleh, memandang ibunya dengan senyum manis sebelum berjalan mendekati sang ibu sambil bersenandung kecil.
"Ibu, aku baru saja menumbuhkan tanaman baru disana." tunjuk Persephone ke arah tumbuhan baru dibelakangnya.
"Sangat Indah, sayang."
"Itu untuk ibu." balas Persephone berhamburan memeluk ibunya yang masih sangat ia rindukan, "aku tidak mau berpisah dengan ibu lagi." curhat Persephone menganti posisi dengan berbaring dipangkuan Demeter yang kini mengelus rambut Indah sang dewo musim demi lembut.
"Ibu juga, sayang." balas Demeter membuat Persephone tersenyum senang.
Sementara itu, diwaktu yang sama namun ditempat berbeda, tepatnya di dunia bawah. Hades nampak duduk berdiam diri di singgasananya. Tatapan mata tajam, tak tersentuh memandang lurus ke depan. Sudah cukup lama sejak kepergian sang dewi musim semi. Hades kembali dari dunia atas dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk memerintah kerajaannya dari singgasana.
Dalam keadaan sang dewa penguasa dunia bawah yang seperti ini, tentu membuat siapapun tidak berani menganggu sang dewa, meski sebenarnya ada beberapa hal yang harus mereka sampaikan kepada Hades mengenai kabar yang terjadi di dunia bawah selama beberapa hari ini.

"Sampai kapan dia akan seperti ini?" bisik Minos kepada kedua saudaranya. Tidak biasanya mereka bertiga ragu untuk bertanya kepada Hades karena selama ini Hades selalu menerima laporan mereka dibalik wajah dinginnya dengan tenang akan tetapi saat ini keadaan tak sama seperti sebelumnya.
"Mungkin kita harus memanggil Thanatos untuk mengajak Hades bicara." balas Rhadamanthu.
"Itu ide bagus tapi bagaimana kalau Thanatos tidak berhasil membujuknya?" angguk Aiakos.
"Maka kita akan terus seperti ini."
----
Gulungan kertas berisi sebuah pesan khusus dibawakan oleh seorang prajurit Athena didepan kepala pendeta Agung yang usianya sudah rentan dan sudah semestinya mendapatkan penerus yang bisa mengantikan posisi sucinya tersebut.
Salah satu dari penjaga kuil wanita terlihat berjalan menghampiri prajurit pembawa pesan, mengambil gulungan yang ditujukan kepada mereka kemudian membawa benda tersebut dihadapan sang pendeta Agung.
"Utusan telah datang membawa surat dewi Athena dari Olympus." seru wanita itu menunjukkan surat yang dimaksud.
"Kalau begitu kumpulkan semua peserta. Ini adalah langkah awal mereka menghadapi tantangan."
Tak menunggu lebih lama lagi. Perintah pendeta Agung langsung dilaksanakan. Semakin cepat, maka semakin baik untuk melihat siapa yang akan menduduki posisi suci kuil Parthenon milik dewi Athena.
Beberapa saat kemudian. Keenam calon pendeta Agung telah berkumpul di ruang utama kuil. Masing-masing dari mereka berdiri dengan antusias dan rasa penasaran tinggi tentang tugas pertama yang akan mereka jalani.
Sangat jauh berbeda dengan Cathyrene. Sejak berdiri disana, ia tidak dapat memfokuskan diri. Entah apa yang dipikirkan olehnya saat ini.
"Bakti sosial calon pendeta Agung." ungkap pendeta Agung dihadapan ke enam calon penganti dirinya, "kalian harus mendedikasikan diri untuk membantu rakyat sebisa mungkin."
Kelima pasang mata dikedua sisi Cathyrene membulat sempurna. Terkejut, ya tentu saja. Mereka para peserta terdiri dari keluarga bangsawan dan kerja sosial seperti ini sungguh bukan gaya mereka, apalagi harus berbaur dengan rakyat diluar sana.
Benar-benar misi yang akan menurunkan derajat mereka sebagai Putri bangsawan.
"Kalian mempunyai waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan diri dan mengambil nomor undian." titah Elish, wanita paruh baya yang bertanggung jawab pada misi pertama para calon pendeta Agung.
----
Artemis berlari menyusuri kedalaman hutan, mengejar seekor singa yang menjadi target buruannya kali ini namun di sisi lain, terdengar suara kuda berlari pada satu arah serupa, mengejar buruan yang sama dengannya.
Kletakk... Kletakk
Bayangan seorang pria menunggang kuda putih terlintas didepan mata Artemis. Dari sorot mata tajamnya terlihat bahwa sang dewi tidak senang dengan apa yang ia lihat.
Srakkk
Dalam sekali bidik. Buruan yang tadi diincar oleh Artemis tumbang ditangan pria itu. Hal tersebut tentu saja membuat Artemis cemburu dan merasa kalah, untuk itu ia memilih pergi mencari tempat buruan lain.
"Tunggu!" teriak Orion menyadari Artemis akan pergi dari sana. Pria itu melompat turun dari kudanya lalu berlari mendekati Artemis yang tidak mau berhenti melangkah meninggalkan tempat itu.
"Bisakah kau berhenti mengikutiku!" desis Artemis memberhentikan langkah, berbalik memandang Orion kesal.
Orion ikut memberhentikan langkahnya, menatap Artemis serius, "Maaf, dewi, aku tidak bermaksud mengambil buruanmu." jelas Orion.
"Tapi kau baru saja melakukannya tadi."
"Aku menangkap buruan ini untukmu."
Artemis menggeleng, "Aku tidak butuh bantuan apapun darimu. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Sekali lagi maafkan aku."
"Aku tidak menerima maaf dari orang lancang sepertimu." balas Artemis dingin. Ia kemudian menghilang dari pandangan Orion yang menyesal.
Keputusan Orion yang ingin membantu nyatanya disalahartikan oleh Artemis. Siapa sangka bahwa Artemis tidak suka diganggu ketika sedang berburu dan Orion merasa ia telah melakukan kesalahan.
----
Para peserta yang telah mendapat giliran diberikan waktu mempersiapkan diri tanpa memberitahu situasi dan kondisi tempat yang akan dilaksanakan kerja sosial.
"Jadi tempatnya tergantung pada keberuntungan masing-masing?" angguk Apollo, "sudah ku duga, Athena memang tidak pernah mengecewakan."
Cathyrene memangku tangan didepan dada, berpikir keras tentang misi pertama. Ya memang sebenarnya dia tidak terlalu berambisi untuk menang tapi tidak ada salahnya kan jika dia berusaha, lagipula pertandingan ini tidak buruk dan pada kehidupan sebelumnya dia paling suka dengan tantangan.
"Masalahnya aku tidak tau apapun tentang wilayah kota ini, bagaimana struktur pemerintahannya, rakyat dan lain-lain, aku tidak kenal tempat ini."
Apollo mengernyit. Yang ia tau sebelumnya Rhea telah mempelajari kota Athena sebagai bentuk kesiapannya tapi mengapa sekarang gadis itu berkata seolah dia tidak pernah melakukan usaha apapun.
"Bukankah sebelum mencoba melakukan tindakan bunuh diri kau sudah mempersiapkan diri, Rhea? Apa satupun tidak masuk dalam kepalamu?"
"Hah?" Cathyrene cengo. Ia terdiam cukup lama sembari mengali ingatan Cathyrene lebih dalam lagi sebelum menyadari kebodohan yang sudah ia lakukan.
Sial!!
Mengapa dia tidak membongkar arsip dikepala Cathyrene dulu sebelum melakukan protes. Huh, jika begini dia hanya akan menambah daftar orang yang berpikir kalau dirinya itu gadis aneh.
"Aku belum menguasainya." bohong Cathyrene mengalihkan pandangan.
Apollo menyunggingkan senyum tipis, "Kau bisa melakukannya, Rhea. Kau hanya perlu berusaha."
"Yeah, aku bisa," angguk Cathyrene mengepalkan tangan ke udara, "fighting." lanjutnya menyemangati diri sendiri tapi hal tersebut justru membingungkan sang dewa matahari.
"Fighting? Apa itu." tanya Apollo.
"Oh, ini semacam kata kunci di kerajaanku untuk memberi semangat pada diri sendiri, apalagi dalam peperangan, berguna sekali. Yoo, fighting." Untuk kedua kalinya Cathyrene berbohong. Ia hanya tidak bisa menghilangkan kebiasaannya di kehidupan yang dulu.
"Kenapa aku tidak pernah mendengarnya padahal kita sudah lama berteman?"
"Mungkin kau tidak menyadarinya." Cathyrene tertawa menghilangkan kegugupan karena sudah berbohong kedua kalinya.
Ah sial, kenapa selalu keceplosan..
"Oh ya, apa kau tau dimana aku bisa menemukan informasi lebih detail tentang wilayah dekat perbatasan?" tanya Cathyrene mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau meminta informasi tentang wilayah perbatasan?" tanya Apollo.
"Aku hanya mempunyai firasat."
"Firasat buruk,?"
Raut wajah Cathyrene berubah drastis. Haruskah diperjelas seperti ini, "hanya berjaga-jaga saja. Apa kelihatan ya?"
"Hanya menebak saja. Sekedar informasi, wilayah yang kau maksud itu adalah mimpi buruk."
Cathyrene melotot, ia cukup terkejut mendengar hal itu, "Oke, kau membuatku takut sekarang, Al." desah Cathyrene.
----
Demeter mengusap lembut rambut Persephone yang tergerai Indah dibelakangnya. Musim semi telah kembali memberi keindahan pada bumi yang mungkin tidak berlangsung lama.
"Persephone, sudah saatnya kau kembali kepada suamimu, Nak." dengan lembut Demeter bicara dengan putrinya memberitahu bahwa sudah saatnya anak gadisnya itu kembali pada Hades.
Persephone menggeleng, "tidak, ibu. Dia bukan suamiku. Dia menjauhkanku dari ibu selama ini."
"Tapi kalian telah tinggal bersama, sayang."
"Apa tinggal bersama di satu istana berarti telah menjadi suami-istri?" tanya Persephone polos.
"Tentu saja, sayangku." jawab Demeter, tiba-tiba menyadari sesuatu, "apa selama ini Hades tidak pernah menyentuhmu?"
Persephone menggeleng, "dia menyentuhku setiap kesempatan. Hal yang paling sering dia lakukan yaitu menggendongku untuk pergi makan jika aku sedang merajuk."
Demeter menahan senyum. Tentu saja, Persephone kembali dari dunia bawah tapi dia tidak membawa khas penghuni dunia kegelapan padahal dia telah menjadi bagian kerajaan Hades, ternyata selama ini Hades masih mempertahankan kesucian yang dimiliki oleh anak gadisnya.
"Ibu, kenapa diam saja?" Persephone bertanya, memperhatikan ibunya yang terus terdiam sejak tadi.
"Dengarkan ibu, sayang. Saat ini kau bukan milik ibu sepenuhnya. Seperti halnya dengan dunia atas yang membutuhkan musim semi, dunia bawah sekarang juga membutuhkanmu sebagai Ratu mereka."
"Tapi aku tidak bisa, ibu."
"Kau bisa, sayangku. Kau juga milik suamimu, ibu telah bersedia membagi waktu merelakanmu didunia bawah. Maka bersumpahlah demi ibu kau akan mencoba hidup bahagia saat bersama Hades."
"Ibu." lirih Persephone berkaca-kaca.
Melihat air mata dipelupuk mata Persephone membuat Demeter terluka. Ia mengangkat tangan menyentuh kedua pipi putrinya, "Sudah seharusnya kau memberikan apa yang menjadi kebutuhan suamimu agar kau benar-benar bisa disebut sebagai ratunya, sayang."
"Memangnya apa yang harus ku berikan padanya, ibu?"
"Dirimu seutuhnya, anakku."
----
Sebelum menjalani bakti sosial yang nantinya akan menyita banyak waktunya. Seperti biasa, Cathyrene melakukan kebiasaannya yaitu bermain ditaman belakang. Kali ini ia membuat sebuah mahkota yang terbuat dari rerumputan dan bunga yang tumbuh disekeliling tempat ia duduk.
Cathyrene yang terlalu asik dengan apa yang tengah ia kerjakan tidak memperdulikan kehadiran Poseidon yang jelas ia rasakan sejak tadi bersandar dipohon dekat tempatnya duduk. Cathyrene hanya tidak mau dianggap terlalu percaya diri jika dia menuduh pria itu sengaja datang untuknya, kan malu jika si dewa laut itu ternyata datang untuk pacar barunya bernama Valerie yang juga adalah teman seperjuangannya di kuil.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Suara itu mengagetkan Cathyrene. Ia menoleh sekilas lalu kembali menyibukkan diri seakan tidak mempedulikan pria itu.
"Yang jelas tidak menganggu ketentraman orang lain." balas Cathyrene ala kadarnya.
Poseidon mendengus sebal. Gadis ini selalu menguji kesabarannya dengan sifat keras kepala yang dia miliki. Poseidon berjongkok, menyamai posisinya dengan Cathyrene.
"Kau suka sekali ya menyindirku?"
Pernyataan sang dewa berhasil menarik perhatian Cathyrene. Dengan wajah pura-pura tak mengerti Cathyrene menggeleng polos, "Oh maaf dewa, aku bukan siapa-siapa hingga bisa bersikap seberani itu." balasnya.
Poseidon membalas senyum Cathyrene, "kau bukan pembohong yang baik. Berhentilah berusaha."
Kali ini gantian Cathyrene yang mendengus sebal mendengar balasan sang dewa tapi dia berusaha mengendalikan dirinya sendiri didepan Poseidon, "Aku cukup terharu karena dewa ternyata mengenal diriku dengan cukup baik."
"Tentu saja, aku mengenal dengan baik-baik para pemujaku." bangga Poseidon.
Cathyrene mendelik, bahkan tanpa sadar telah merusak mahkota daun buatannya sebagai bentuk kekesalannya kepada Poseidon, "Tunggu! Mungkin maksudnya mantan pemuja kali yaa karena dulu aku pernah bodoh tapi sekarang tidak lagi."
"Hm, permisi! Apa aku datang disaat tidak tepat?" seru Valerie entah sejak kapan muncul diantara Cathyrene dan Poseidon yang tengah berdebat.
----
Tbc...