
Dihari pertama Cathy berkeliling. Baron Deracles menawarkan diri untuk mengantar Cathy sambil menjelaskan beberapa hal dalam perjalanan meninjau lokasi.
"Tempat ini memiliki tanah yang subur. Dahulu kami berpenghasilan berupa hasil laut dan padi, hanya saja cuaca buruk yang terjadi membuat padi gagal panen dan untuk mendapatkan bibit padi dari desa tetangga sulit, ditambah nelayan yang tidak banyak karena perahu yang sedikit membuat jumlah pengangguran kian meningkat tiap tahun." jelas Baron Deracles.
"Lalu bagaimana dengan administrasi tempat ini? Apa tidak ada yang mengaturnya?" tanya Cathy.
Pandangan matanya tertuju pada lahan kosong bekas lahan pertanian. Cathy merasa miris melihat wilayah barat tidak berkembang karena kurangnya bantuan yang diterima.
"Itu dia masalahnya. Kami mendapatkan bantuan dari pihak istana tapi bantuan tersebut tidaklah banyak, aku sudah mengusahakan mencari jalan keluar tapi sulit rasanya karena rakyat disini seakan sudah menyerah. Mereka lebih memilih menjadi pengemis dari pada bekerja."
"Kenapa begitu? Mengemis bukanlah pilihan." balas Cathy tak terima.
"Memang gampang mengatakan hal tersebut, Nona tapi untuk mereka yang mengalaminya sendiri jauh lebih sulit. Mereka akan berpikir bahwa kita para bangsawan memang tau apa tentang penderitaan mereka. Kepedulian kita tidak akan dianggap."
Cathy mengingat, mengumpulkan semua informasi penting yang dia terima hari ini dari Baron Deracles. Cathy merasa harus melakukan sesuatu untuk membantu wilayah barat.
Berbekal pengetahuan dari kehidupan sebelumnya dimana dia tinggal dijaman modern, tepatnya di negara yang memiliki kemajuan perekonomian. Cathy merasa tidak ada salahnya mencuri ilmu dari negara asalnya. Dan untuk mendukung rencananya itu maka ia merasa tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menemui pemimpin tempat ini.
"Hm, untuk mengatasi masalah ini apa bisa aku menemui baginda Raja?"
Baron Deracles membelalakan mata, terkejut mendengar permintaan Cathy, "Apa Nona serius?"
"Tentu saja, tuan Baron."
"Baginda Raja saat ini sedang sakit tapi aku bisa mengatur waktu agar Nona dapat menemui calon pewaris tahtanya tapi,"
"Tapi apa?" tanya Cathy.
"Putra mahkota bukanlah orang yang gampang diajak bicara apalagi masalah wilayah barat. Putra mahkota dikenal sebagai tiran yang kejam ketika peperangan. Kekejamannya tersebut berlaku juga dalam pemerintahan ketika mengantikan posisi baginda Raja."
Cathy menelan ludah. Kalau begini akan susah baginya untuk bernegosiasi, "Akan ku cari cara agar Putra mahkota mau mempertimbangkan tentang wilayah barat." seru Cathy penuh keyakinan.
"Aku akan membantu sebisaku, Nona." balas Baron Deracles.
Setelah mengatakan hal tersebut. Baron Deracles berpamitan kepada Cathy untuk ke istana Raja. Ia sempat menawarkan untuk mengantar Cathy pulang tapi Cathy menolaknya karena masih ingin keliling, untuk itu Baron Deracles meninggalkan salah satu kereta kudanya untuk menunggu Cathy selama gadis itu berkeliling.
Brukkk
Asik melihat sekeliling membuat Cathy tidak terlalu memperhatikan jalan dihadapannya hingga menabrak tubuh seorang pria. Cathy menunduk, meminta maaf karena sudah menabrak pria itu.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Cathy mendongak menatap pria menjulang tinggi di hadapannya.
Pria tampan, bersurai coklat sama dengan Cathy tertutup oleh tudung itu menundukkan kepala menatap Cathy yang memiliki tubuh lebih kecil darinya. Sama halnya ketika ia berdiri dihadapan Apollo maupun Poseidon. Tubuhnya tidak ada apa-apanya.
"Disini ramai jadi tolong gunakan mata anda kalau sedang jalan." ucap pria itu dingin lalu melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
Cathy melongo, selama beberapa saat ia terdiam sebelum membalikkan badan. Memandang tubuh pria yang tadi ia tabrak dengan kesal.
"Ck! Sombong sekali." decak Cathy berbalik, hendak berjalan tapi terhalang tubuh seseorang.
"Al, kau ini kenapa sih! Akhir-akhir ini selalu muncul mendadak dihadapanku." omel Cathy mendapati Apollo menghadang jalannya.
Apollo diam saja, ia justru memusatkan perhatian ke arah pria yang ditabrak oleh Cathy yang semakin menjauh dari pandangan, mengabaikan pertanyaan Cathy.
"Astaga, di tanyain malah dicuekin." rajuk Cathy menarik lengan Apollo, "Sekarang tidak mau tau, temani aku keliling."
"Itu memang tujuanku datang." balas Apollo tersenyum.
"Benarkah?" girang Cathy tertawa lepas sembari menggeratkan pegangannya pada lengan Apollo.
Entah mengapa dia merasa nyaman bersama pria itu padahal ia cukup yakin bahwa sebelumya rasa nyaman terhadap Apollo tidak lebih dari perasaan kakak beradik namun sekarang, perasaan asing membuncah ditengah perubahan sikap Apollo.
Cathy hanya merasa pria itu berbeda akhir-akhir ini namun herannya dia tidak keberatan akan hal itu..
"Kalau begitu tujuanmu hari ini kemana?" tanya Apollo membuyarkan lamunan Cathy.
"Hm, aku mau mengumpulkan beberapa buku, mencari informasi sebanyak mungkin tentang wilayah sekitar."
"Apa kau sudah punya rencana?"
Cathy mengangguk, "Iya, aku ingin membangun wilayah barat dengan memanfaatkan fasilitas yang pernah ada ditempat ini yaitu mendapatkan bantuan dana untuk membeli biji-bijian dan menambah perahu untuk para nelayan agar bisa mendapatkan hasil laut lebih banyak. Bagaimana menurutmu?"
Apollo mengulum senyum, ia benar-benar takjub dengan pemikiran Cathy, "Ide Bagus." ucapnya.
"Semoga saja hasilnya memuaskan, aku berencana ingin memulai dari para nelayan." ujar Cathy lagi memikirkan kemungkinan lain yang akan ia hadapi.
"Jika kau berpikir tentang hasil laut. Mereka tidak pernah kesulitan tentang hal itu dan untuk tanaman padi kurasa masalah bencana alam kemarin sudah terselesaikan. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu."
"Apa kau yakin?"
"Sangat yakin."
----
Poseidon melangkah memasuki Olympus. Setiap langkah yang ia ambil tak lepas dari tatapan para dewa dewi yang telah lebih dulu berada disana. Mereka seolah mengatakan dengan tatapan mata bahwa mereka sudah cukup lama menunggu kedatangan sang dewa laut.
"Dari mana saja kau?"
"Apa pedulimu?"
"Sudah ku peringatkan untuk tidak mendatangi kuilku lagi, Aiden! Mengapa kau tidak mendengarku hah!" marah Athena berdiri dari tempat duduknya. Selain Ares, Poseidon adalah dewa lain yang tidak bisa akur dengan sang dewi kebijaksanaan. Pada setiap kesempatan Athena selalu berdebat dengan Poseidon karena serpak terjang pria itu yang kerap kali mengacau di daerah kekuasannya.
"Sudahlah, Athena. Aku sedang tidak mau ribut denganmu." balas Poseidon dingin.
"Bisakah kalian berhenti berdebat!" seru Zeus lantang, "Aku memanggil kalian bukan untuk memulai perdebatan." lanjutnya.
"Aku sudah dengar semuanya sebelum datang, Zeus. Apa kau sudah gila?" amuk Poseidon.
Zeus mengalihkan pandangannya pada Poseidon, "Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita ambil saat ini." balas Zeus tak mau kalah.
"Masih ada cara lain. Bencana alam waktu lalu tanpa direncanakan pun telah memakan korban dan sekarang kau merencanakan sesuatu dengan hanya memanggil beberapa diantara kita saja." lanjut Poseidon melirik para dewa dewi yang hadir pada malam itu terkecuali Aphrodite, Hermes, Eros, Hera dan Ares.
"Iya, karena rencana kali ini tidak akan melibatkan mereka yang tidak hadir pada saat ini."
"Ck! Terserah padamu tapi apapun yang terjadi aku akan tetap berpihak di tempat berlawanan."
"Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut."
Merasa tidak ada hal penting lagi disana. Poseidon berdiri, melangkahkan kaki keluar dari ruang utama Olympus yang kemudian disusul oleh Dionysus.
"Ada apa?"
"Kau tau kalau aku juga sebenarnya kurang setuju dengan rencana ini tapi mau bagaimana lagi, kita kalah jumlah jika mau menentang perintah." jelas Dionysus.
Poseidon mendengus, "kau benar." angguk sang dewa laut. Dionysus satu-satunya dewa yang menjadi teman sekaligus dewa yang masukannya selalu diterima dengan kepala dingin oleh Poseidon.
"Ku harap kau tidak melupakan kasus mu dan Apollo beberapa waktu silam. Kalian berdua dihukum tanpa bisa melakukan pembelaan kan?"
"Tentu, bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu begitu saja."
"Dan apa kau tau kalau ada rahasia besar yang sedang diselidiki oleh Artemis dan Apollo?"
"Rahasia apa?" tanya Poseidon kemudian. Dia merasa telah banyak hal-hal di Olympus yang telah ia lewati.
"Aku kurang paham tapi kurasa ada kaitannya dengan Dewi Leto."
"Siapa saja yang mengetahui hal ini selain Artemis dan Apollo?"
"Athena."
----
Gaun cantik bewarnah putih yang dikenakan oleh Persephone mulai mengeluarkan api pada bagian belakang seiring dengan langkah kaki wanita itu berjalan menuju singgasana milik suaminya.
Tadi, Hades terlihat tidak ingin meninggalkan kamar mereka selepas memadu kasih bersama sang istri akan tetapi tugas dan tanggung jawabnya sudah cukup lama terabaikan membuat Hades mau tidak mau harus meninggalkan Persephone yang masih terlelap didalam kamar.
Hal pertama yang dilihat oleh Persephone ketika sampai di ruang utama adalah Thanatos dalam wujud mahkluk hitam bersayap yang sempat membuat dirinya takut. Mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu yang tidak ia pahami.
Persephone menghela nafas, merasa dirinya telah datang diwaktu yang salah pun hendak berbalik untuk kembali ke kamar tapi suara Hades kembali menghentikan langkah kakinya.
"Persephone." panggil Hades. Persephone berbalik, ia melihat Thanatos menunduk hormat kearahnya yang dibalas senyum oleh Persephone.
Sepeninggalnya Thanatos. Persephone berjalan menghampiri Hades yang mengulurkan tangan memanggil Persephone agar mendekat.
"Maaf, aku tidak bermaksud menganggumu," ucap Persephone begitu berdiri dihadapan Hades.
Hades menggeleng. Ia menarik Persephone duduk diatas pangkuannya, "Tidak, ratuku tidak pernah mengangguku." balas Hades lembut, "Sekarang katakan, apa yang membuat istriku bersedia menghampiriku lebih dulu?"
Persephone menunduk. Ia terlihat ragu untuk menyampaikan keinginannya padahal tadi sebelum memutuskan menyusul Hades, Persephone telah mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin tapi sekarang keberanian itu hilang entah kemana.
"Aku.." gumam Persephone.
Hades menatap Persephone intens, menunggu sang Ratu melanjutkan ucapannya.
"Aku.." lirihnya lagi.
"Aku,?" ulang Hades gemas akan sikap istrinya, "Katakan saja, sayang!" lanjut Hades mengelus rambut panjang Persephone yang tergerai.
"Apa boleh aku menghiasi kamar kita dengan bunga-bunga buatanku." pinta Persephone membuang nafas dengan kedua mata terpejam, takut melihat ekspresi Hades.
Persephone merasa permintaannya kali ini sudah melewati batas. Bagaimana bisa kamar Hades yang sudah lama sekali berdindingkan tulang belulang dan akar hitam yang membuat Persephone kadang tidak bisa tidur dengan nyenyak karena decoration kamar gelap dan mengerikan itu, ditumbuhi bunga.
Kira-kira akan semarah apa pria penguasa dunia bawah sadar ketika mendengar suara isi hatinya?
"Tentu, lakukan apapun yang kau mau." balas Hades tanpa berpikir panjang, sungguh diluar dugaan.
Persephone mendongak, tak menyembunyikan keterkejutannya tapi detik berikutnya wajah cantik itu tersenyum manis, "Terima kasih, maaf jika aku terlalu banyak meminta." ucap Persephone.
Hades mengangguk. Ia bersedia memberikan segala keinginan Persephone agar wanitanya itu betah tinggal bersamanya, "Aku bersedia memberi seluruh dunia dibawah kakimu tapi itu adalah hal yang tidak mungkin, maka dari itu aku akan memberi bagian dari hidup aku yaitu duniaku."
"Kau memberi duniamu untukku lalu apa yang harus ku berikan sebagai balasan?" Persephone bertanya.
"Tetaplah disisiku." jawab Hades mutlak.
----
Cathy berpikir keras memutar otak menyusun satu persatu informasi. Ia telah mengambil beberapa buku sebelum pulang tadi mengenai kekaisaran dan wilayah lain disekitar. Cathy harus menghitung dengan cermat laba rugi jika dia mau menggunakan hasil bumi dari wilayah barat tapi masalahnya.....
"Aku butuh kalkulator," keluh Cathy frustasi melihat angka-angka yang ia tulis.
Ditengah kesibukan Cathy. Angin berhembus kencang diluar jendela diikuti sebuah cahaya memasuki kamar Cathy. Cahaya tersebut lalu berubah menjasi seorang pria tampan.
"Rheaaaaa..." teriak Apollo memanggil nama gadis yang tengah disibukkan dengan berkas berserakan diatas mejanya.
"Aduh berisik, Al." omel Cathy tak mengubris kedatangan Apollo, "biasanya juga datang diam saja, ini malah ribut sendiri."
Apollo cemberut. Betapa terluka hatinya ketika mendengar ucapan Cathy barusan, "Rhea, aku merindukanmu. Sangat rindu hingga hati ini rasanya sesak nafas setiap kali mengingatmu." keluh Apollo memegang dadanya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Cathy memutar bola matany, "Al, bukankah tadi siang kan kita pergi bersama. Kau bahkan membantuku mencari buku, jadi tidak perlu bercanda begitu ah."
Apollo mengernyitkan dahi binggung. Bagaimana bisa dirinya bersama Cathy padahal dia baru saja kembali dari tugas yang diberi oleh Zeus di pulau Delos, dan karena terburu-buru, Apollo tidak sempat berpamitan pada Cathy.
Alasan kedatangannya saat ini pun karena ingin meminta maaf pada Cathy karena mengingkari janji untuk membantu gadis itu. Apollo merasa bersalah karena tidak dapat mengantar Cathy menuju wilayah barat.
"Aku datang untuk minta maaf, Rhea karena menghilang selama beberapa hari belakangan ini, bahkan dihari kepergianmu untuk bakti sosial aku tidak sempat menemuimu karena buru-buru."
"Al, jangan bercanda!"
"Rhea sayang, aku bersumpah, aku baru kali ini datang ke sini. Itu pun karena terpaksa, aku tidak suka berada di wilayah kekuasaan Poseidon."
Jika yang dikatakan oleh Apollo benar lalu siapa yang bersamanya beberapa hari belakangan ini??
----
Tbc
Oh ya kemarin lupa ngasih tau..
Minotaur
Dalam mitologi Yunani, Minotaur adalah monster berbentuk manusia yang berkepala banteng. Wujudnya ini adalah akibat dari kutukan atas Minos, Raja Kreta. Karena banteng yang harus dia berikan kepada Dewa Poseidon, ia sembunyikan sehingga Poseidon menjatuhkan kutukan kepada istri Minos
Baron
Nama bangsawan kekaisaran, Baron biasanya menempati posisi lima sesuai urutan bangsawan kerajaan dari yang tertinggi ditempati oleh Duke dan lain-lain..
Oke segitu saja, mohon maaf untuk segala bentukan typo diatas dan kalau ada yang mau ditanyakan silahkan yaa jangan pernah ragu soalnya aku gak gigit kok..