
Sejak awal Poseidon telah mencurigai bahwa Cathy bukan orang yang sama. Begitu banyak perubahan yang ditunjukkan oleh perempuan itu, di mulai sifat menantang serta pemberontakan secara langsung. Poseidon tak akan menemukan Cathy yang secara terang-terangan menatapnya seolah ingin mengajak perang jika itu Cathy yang sama karena wanita itu tidak pernah berani menatap matanya lebih dari satu detik.
Sangat berbeda dengan Asthrea. Sejak pertemuan mereka setelah insiden percobaan bunuh diri dimana Poseidon turun tangan menyelamatkan Cathy segalanya mulai berubah. Ia dengan jelas merasakan bahwa Cathy tidak lagi memohon atau bahkan mengemis cintanya, justru sebaliknya setiap ada kesempatan Poseidon merasa terintimidasi oleh sikap acuh tak acuh Cathy. Hal yang membuat dirinya penasaran, ingin mencari tau namun malah berujung jatuh hati.
Poseidon kala itu diam dan hanya bisa menebak namum saat Cathy melakukan pengakuan akan nama aslinya tentu tak mengejutkannya lagi. Poseidon sudah dapat menyimpulkannya sejak awal jadi sungguh pertanyaan bodoh jika Asthera nya berpikir yang selama ini dia cintai adalah Cathy.
Setelah perdebatan cukup lama yang membuang tenaga akhirnya Yerim mengalah dan kini tertidur di atas ranjangnya dengan Poseidon yang tak pernah beranjak pergi dari sana hingga pagi datang.
Sang dewa tidur menyamping, menopang kepala menatap istrinya yang mulai menggerakkan bola matanya sebelum terbuka perlahan. Poseidon tersenyum ketika sepasang mata itu menatapnya.
Yerim ah tidak. Asthrea memandang sekeliling dengan polos. Jiwanya belum sadar sepenuhnya, masih mencoba mengumpulkan ingatan.
"Selamat pagi." sapa Poseidon mengulurkan tangan merapikan rambut Asthrea.
"Apa kau terjaga sepanjang malam?" tanya Asthrea.
"Hem," angguk Poseidon, "Aku harus memastikan sendiri kedatanganmu bukanlah ilusi buatan untuk menghiburku sesaat sebelum menjatuhkanku lagi."
"Aku disini semalaman. Apa masih menganggapku ilusi?" tanya Asthrea.
Tawa kecil terdengar keluar dari bibir Poseidon yang menggeleng, "Tidak." jawabnya meninggalkan kecupan di bibir istrinya.
"Semalam adalah pernikahanmu bersama wanita lain dan kau disini bersamaku. Aku pikir istrimu-" ucapan Asthrea terpotong karena Poseidon menutup mulutnya.
"Sst! Jangan bicara tentang wanita lain di saat kita berdua di atas ranjang." larang Poseidon dengan garis wajah tegas.
Semalam, Poseidon telah menghabiskan banyak waktu berdua menceritakan segalanya tanpa ada yang di tutupi lagi kepada Ashtrea. Penjelasan itu membuat Asthrea menyesali tindakan gegabahnya yang telah menyebabkan banyak orang merasa kehilangan dan bersalah atas kepergiannya.
"Wanita lain yang kau sebut itu istrimu, Aiden!"
"Aku tidak peduli. Bukankah aku sudah mengatakan semuanya tadi malam? Sekarang berjanjilah mulai hari ini kau tidak akan pergi kemanapun tanpa ijin dariku?"
Asthrea mengangguk lalu beranjak mendorong Aiden, memposisikan diri tidur dengan bersandar pada dada bidang suaminya. Poseidon tersenyum memeluk tubuh Asthrea.
"Kemarin aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Ku pikir segalanya bisa berjalan sesuai dengan yang ku mau tapi nyatanya, aku malah membuat segalanya berantakan," cerita Poseidon, "Asthrea, aku tidak tau apa saja yang suda kau tinggalkan di duniamu untuk kembali ke sini tapi aku tidak akan sanggup jika harus hidup tanpamu."
Asthrea mendongak, menatap Poseidon yang menundukkan kepala membalas Asthrea, "Jangan pikirkan hal lain. Sekarang aku sudah di sini kan? Aku tidak akan pergi kemanapun kecuali dua hal. Kematian dan kau memintaku untuk pergi."
"Akan ku pastikan kedua pilihan itu tak akan terjadi selama aku masih bernafas."
----
Kabar tentang kembalinya Ratu terdahulu cukup menggemparkan. Para pelayan yang dulunya mengabdikan diri untuk melayani sang Putri kembali ke istana dewa laut untuk memastikan kabar tersebut.
"Tidak bisa di percaya. Wanita yang di gudang bersama kita?" tanya pelayan memulai gosip diantara pelayan lain dan tak menyadari kehadiran Amprifit di belakang mereka.
"Bukankah wanita itu sangat kotor dan jelek, bagaimana bisa dewa kita bersama dengannya?"
"Kau belum melihat aslinya. Ratu pertama sangat cantik, percayalah, aku tadi membawakan sarapan ke kamar Ratu pertama tidak bisa mengalihkan pandangan ku. Aku sangat suka ketika Ratu tertawa lepas, itu adalah pemandangan Indah dan kurasa dewa kita juga merasakannya karena tatapan matanya tak pernah lepas dari istri pertamanya itu."
"Ku dengar pelayan Ratu pertama datang dari istana Dewi Athena dan Artemis untuk melayani sang Ratu kembali. Itu tandanya Ratu adalah wanita bijaksana. Tidak heran, kabarnya Dewi Athena dan juga Dewi Artemis berteman dekat dengan Ratu pertama."
"Ah, mendengar perkataan kalian membuatku sangat penasaran ingin melihat Ratu pertama."
"Gosip lain yang tersebar dewa kita sangat mencintai Ratu pertama, saking cintanya dewa Poseidon berani menantang dewa Zeus."
"Benarkah? Seandainya para pelayan lama masih di sini kita tidak akan mengetahui detail ceritanya tanpa harus berlandaskan gosip yang tersebar."
Amprifit mengepalkan tangan mendengar semua pujian tertuju pada Asthrea. Tadi malam adalah malam pernikahannya tapi suaminya justru tidur bersama wanita lain. Ia sangat marah, tidak terima diperlakukan seperti ini.
Entah dari mana wanita itu tiba-tiba bisa bangkit dari kuburannya dan merusak rumah tangganya yang baru di bangun. Ia telah mencintai Poseidon sejak pertemuan pertama mereka dan dengan bantuan Hera akhirnya dia berhasil menikah dengan Poseidon meski pria itu tak pernah memandangnya lebih namun sekarang ia malah mendengar ada wanita lain yang mendapatkan seluruh perhatian suaminya. Hati wanita mana yang akan terima?
Tidak tahan mendengar segala pujian yang tertuju untuk Ashtrea membuat Amprifit berbalik pergi dari sana. Ia samgat membenci Asthrea, wanita yang telah merenggut miliknya dalam semalam.
Dalam perjalanan menuju kamar nya. Amprifit berpapasan dengan Poseidon yang terlihat baru keluar dari sebuah kamar. Kamar yang dulu ingin dia tempati jika menikah dengan Poseidon karena selain Indah dan penuh kemegahan seorang Ratu kesayangan, katanya di sana terletak salah satu mata air suci Olympus.
Amprifit sudah sangat berharap lebih akan tetapi setelah pernikahan Poseidon tak pernah sekalipun menyinggung soal kamar itu dan malah menyuruh para demigod membersihkan kamar lain.
"Tuanku, bisakah kau mengatakan siapa wanita itu?" tanya Amprifit tanpa basa-basi.
Poseidon menoleh. Tanpa keraguan sedikit pun ia menjawab, "Dia istriku."
Rasa sakit mendengar jawaban yang tak diinginkan membuat emosi Amprifit meledak, "Lalu bagaimana denganku? Aku adalah istrimu dan Ratu istana ini. Semua Dewa Dewi dan penghuni Olympus bahkan para pendeta Agung mengetahui hal itu." ucapnya.
"Lalu?" diluar dugaan Poseidon terlihat santai menanggapi kecemburuan yang jelas tergambar dalam sorot mata Amprifit.
"Aku harap Tuan memberikan keadilan untukku dengan mengusir wanita itu dari istana ini karena tak mungkin ada dua Ratu dalam satu istana."
"Amprifit! Jaga ucapanmu!" marah Poseidon.
Dari balik pintu kamar. Asthrea bersandar pada pintu mendengar ucapan Amprifit. Ia merosot membelakangi pintu dengan mata terpejam.
Sebagai seorang wanita ia dapat mengerti perasaan Amprifit dan fakta bahwa nama wanita itulah yang terukir dalam sejarah sebagai istri Poseidon cukup menamparnya tapi apa mau di kata, dia terlanjur kembali dan tak mudah melangkah mundur di saat hatinya menginginkan Poseidon.
----
Asthrea melangkah keluar dari kamarnya setelah sekian lama menghabiskan waktu mengurung diri di sana. Ia sangat merindukan si kembar dan ingin menemui kedua sahabatnya tersebut di istana mereka akan tetapi dalam perjalanannya menuju istana si kembar. Amprifit berpapasan dengannya ditengah jalan.
"Tunggu!" seru Amprifit menghentikan langkah kaki Asthrea.
"Ya?"
Amprifit membalikkan badan, berjalan menghampiri Asthrea dan tanpa di duga langsung melayangkan tamparan di pipi Asthrea dengan keras.
"Aku menyesal tak melakukan hal ini dari kemarin malam saat kau merusak malam pengantinku dengan merebut perhatian suamiku."
Asthrea mengepalkan tangan menahan emosi. Sebenarnya siapa yang salah disini?
"Apa yang kau katakan barusan?"
"Rhea." panggil Apollo datang dari kejauhan setelah mendengar keributan.
Amprifit beralih menatap Asthrea. Benar kata Hera, wanita itu tidak bisa di remehkan karena dia punya pendukung yang kuat.
Bisa melihat kehadiran Asthrea kembali adalah sebuah kebahagiaan bagi Apollo. Tanpa peduli lingkungan sekitar, sang dewa menarik, membawa sahabat tersayangnya ke dalam pelukan hangatnya.
"Ku pikir saat itu kehadiranmu hanyalah ilusi."
Asthrea menggeleng dalam dekapan Apollo, "Tidak, Al. Aku benar-benar kembali."
Amprifit memperhatikan Apollo dan Asthrea sebelum memilih pergi dari sana. Dalam hati berpikir bagaimana bisa seorang seperti Asthrea mendapatkan banyak perhatian sampai sedemikian rupa. Apa yang spesial darinya? Dan lagi, seorang wanita yang telah bersuami harusnya tidak bersikap murah seperti tadi bukan?
Sepeninggalnya Amprifit Apollo melepas pelukan, "Aku tidak akan memaafkanmu jika mau bertidak ceroboh lagi." ancam Apollo dibalas tawa kecil Asthrea.
Asthrea mengedarkan pandangan seolah tengah mencari sesuatu yang biasa dilihatnya berda di sekitar tempat itu, "Al, dimana Art? Sejak kemarin aku tidak melihatnya di mana pun, apa Art tengah menjalankan tugas?"
Apollo membisu tak dapat menjelaskan apapun. Mungkin akan lebih baik jika dia membawa wanita itu langsung dan melihatnya.
"Ikut aku." ajak Apollo menggenggam tangan Asthrea dengan erat dan membawanya pergi menemui Artemis yang tengah menjalani kehidupannya sebagai manusia biasa.
"Kau membawaku ke mana?" tanya Asthrea binggung karena Apollo mengajaknya ke sebuah tempat yang sama sekali tidak ia ketahui.
Apollo memberhentikan langkah di ikuti Asthrea. Ia kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke depan lalu bertanya, "Apa kau lihat gadis disana, Rhea?"
Asthrea mengikuti arah tunjuk Apollo kemudian mengangguk melihat seorang gadis tengah berlutut dengan wajah berkeringat dingin karena ketakutan di hadapan seorang pria tampan, "Iya, siapa dia?" tanyanya belum bisa menebak keadaan membuat Apollo menyunggingkan senyum tipis.
"Dia Artemis."
"Astaga." kaget Asthrea menutup mulutnya sendiri. Apollo memang pernah menceritakan tentang rencananya untuk Artemis tapi Asthrea sungguh tak menyangka jika Dewi cantik itu akan dilahirkan buruk rupa seperti itu. Jika begini, Asthrea dapat menebak otak dibalik semua ini.
"Hera?" tanyanya dibalas anggukan oleh sang dewa matahari. Memang sudah bukan rahasia umum lagi kalau Dewi Hera adalah Dewi pendendam dan cemburu, tak sedikit Dewi bahkan para wanita biasa menjadi korban kecemburuan Hera.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Jika begini sama saja kita membuat Art menderita."
"Aku telah melihat banyak penderitaan Art sebelum kau kembali, Rhea dan aku merasa tak berguna sebagai saudara karena tidak dapat melakukan apapun." cerita Apollo.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Kalau saja aku bisa memperbaiki keadaan Artemis, aku tidak akan seperti ini, Rhea."
Cukup lama wanita yang memiliki nama panggilan khusus dari Apollo itu terdiam sebelum senyum manis terukir di bibir tipisnya tatkala sebuah ide cemerlang melintasi kepalanya.
"Sepertinya aku punya ide."
"Hm?" binggung Apollo.
-----
Ariadne mengernyit melihat tamunya. Setelah sekian lama akhirnya Poseidon datang kembali mengunjungi kediaman Dionysus padahal setahu Ariadne pria itu sempat berdebat dengan Dionysus karena suami Ariadne itu menentang keputusan Poseidon yang ingin menikahi Amprifit, cucu Oceanus. Untuk alasan itulah Dio dan Ria tidak mendatangi acara pernikahan sang dewa laut.
"Dio akan segera turun." ucap Ariadne kepada Poseidon yang menunggu.
Setelah beberapa saat menunggu. Yang ditunggu oleh Poseidon terlihat muncul, berjalan mendekati Ariadne lalu meninggalkan kecupan di pipi Ariadne yang kemudian pergi menuju dapur untuk memerintah pelayan agar menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Aiden,?" sapa Dionysus menyambut kedatangan Poseidon, "Ada hal apa hingga kau datang ke sini?'
"Aku butuh bantuanmu." balas Poseidon.
"Bantuan seperti apa? Jika itu menyangkut isteri barumu mungkin kau salah tempat dengan datang ke sini."
Poseidon mendengus, "Bukan itu. Ini mengenai Rhea. Dia kembali."
"Rhea kembali?" sahut Ariadne muncul dari dapur bersama beberapa pelayan yang bergerak cekatan menyiapkan hidangan.
Dionysus menoleh menatap istrinya. Dia juga tak kalah terkejut mendengar kabar tersebut.
"Bagaimana bisa?" tanya Ariadne kali ini.
"Ceritanya cukup rumit tapi yang jelas aku ingin meminta bantuan kalian untuk masalah Amprifit."
Ariadne dan Dionysus tertawa. Sang dewa anggur menarik tangan istrinya, membawanya duduk di atas pangkuan, "Ku pikir kau sudah tau apa yang harus kau lakukan, Aiden." ucap Ariadne duduk di pangkuan suaminya.
"Semua berantakan."
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu bahwa menikahi Amprifit tidak akan memperbaiki keadaan justru sebaliknya."
"Aku tau, Dio. Sekarang bagaimana?"
Cukup lama kedua dewa itu terdiam sebelum salah satu diantara nya menemukan ide setelah melihat Ariadne. Poseidon tersenyum menatap Dionysus dan Ariadne bergantian, "Aku tau bahwa kedatangan ku ke sini tidak akan sia-sia."
"Apa maksudmu, Aiden."
Poseidon mulai menceritakan ide yang melintasi kepalanya tadi saat memperhatikan sepasang suami istri tersebut. Ariadne dan Dionysus saling melempar pandangan dengan Ariadne yang langsung tersenyum senang seolah sangat setuju dengan ide tersebut.
"Harusnya kau melakukan itu sejak dulu, Aiden." ucap Ariadne.
"Dan kami akan dengan senang hati membantu untuk masalah ini. Kau tenang saja. Rhea akan sangat menyukainya."
"Aku mengandalkan kalian."
-----
Tbc