The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Don't Leave Me Again



Cleito..


Entah dari mana ide nama tersebut melintasi kepala Yerim saat para pelayan bertanya mengenai nama. Ia hanya mengarangnya dari nama ibu Apollo dan Artemis yaitu Dewi Leto. Yerim hanya tak mau dianggap gila karena mengakui nama Cathyrene.


Yerim keluar dari gudang makanan dengan wajah belepotan, tak ada niatan untuk membersihkannya. Ia justru semakin mengotori wajah cantiknya agar tak mudah di kenali. Yerim bersyukur, rambutnya saat ini berwarna hitam, jadi mereka tidak akan mudah mengenalinya.


Langkah kaki kecilnya menuntun Yerim ke kamar miliknya dulu. Siapa sangka bahwa kamar tersebut dibiarkan kosong, bahkan tidak ada lagi penjaga berdiri di depan kamar tersebut. Ruangan besar itu seolah ditinggalkan begitu saja. Dalam hati Yerim bertanya, lalu di mana sang Ratu akan menetap jika kamar ini dibiarkan kosong oleh sang pemilik?


Yerim membuka pintu kamar lalu melenggang masuk. Mungkin tidak apa jika ia masuk tanpa meminta ijin, toh ini juga kamarnya kan?


Segala hal yang ada dalam kamar itu masih sama seperti dulu. Sama sekali tak berubah sedikit pun. Salahkah jika dia berpikir bahwa tempat tersebut di keramatkan untuknya? Tapi tunggu? Sepertinya ia melewatkan sesuatu?


Dimana Cathy? Apa gadis itu tidak kembali? Apa dia juga menyerah? Mungkin begitu karena jika Cathy mengambil alih tubuhnya, kamar ini tentu tidak akan dibiarkan kosong.


Pusing memikirkan itu semua membuat kepala Yerim berdenyut. Ia memandang ke dalam cermin dalan kamarnya dan terkejut mendapati betapa kacaunya dia saat ini.


Yerim memutuskan melepas seluruh pakaiannya kemudian berendam pada kolam yang terletak di dalam kamarnya. Airnya yang begitu jernih karena terhubung langsung dengan sungai suci Olympus. Yerim sangat menyukai waktu berendam sewaktu masih mendiami tubuh Cathy karena air kolamnya membuat Yerim lebih rileks.


"Aku seperti merasa hidup kembali." desah Yerim tertawa kecil sembari bermain air, membasuh wajahnya yang kotor.


Ia kemudian menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air kolam selama beberapa detik lalu keluar menimbulkan suara cipratan air seiring dengan rambutnya yang berubah warna menjadi coklat.


Takdir telah membawanya kembali dan keajaiban dari kesucian air telah mengembalikan wujudnya seperti semula.


Clekk


Yerim terlonjak kaget mendengar suara pintu yang terbuka di susul langkah kaki seseorang memasuki kamarnya. Dengan cepat Yerim beranjak, menarik jubah untuk menutupi tubuh polosnya.


----


Banyak perubahan yang terjadi sejak kepergian Cathy. Poseidon menjadi dewa tempramen, tak jarang keadaan di Olympus sering kacau hanya karena Poseidon yang seakan mencari kesempatan untuk menjatuhkan Hera. Hal serupa juga terjadi pada Apollo, sang dewa matahari itu ikut berubah menjadi dewa dingin, tak tersentuh dan tak lagi suka bersikap ramah pada siapapun kecuali ibunya.


"Apollo, dari mana saja kau?"


"Bukan urusanmu, Athena!"


Athena menahan kesal mendengar balasan Apollo. Harusnya dia tidak terkejut mengenai perubahan sikap Apollo tapi tetap saja, dia belum terbiasa menghadapi Apollo yang kehilangan kehangatan.


Poseidon berpapasan dengan Apollo yang hendak ke bagian belakang istana, "Bukankah kita sudah sepakat untuk menghancurkan Hera! Pernikahan dengan Amprifit kurasa tidak masuk dalam rencana awal." seru Apollo.


Sejak kejadian kuil Apollo dihancurkan Poseidon. Apollo pada awalnya tak terima tapi ia juga tak mampu menahan Poseidon karena pada dasarnya ia juga merasa bersalah atas perginya Cathy.


"Aku akan mengurusnya. Kau tenang saja."


"Ck." decak Apollo melanjutkan langkah yang sempat terhenti karena Poseidon.


Poseidon melirik kepergian Apollo dengan ekor matanya hingga tak menyadari bahwa saat ini dia telah berdiri di depan kamar Cathy yang juga adalah kamarnya, setidaknya itu dulu sebelum keadaan menjadi berantakan.


Tempat dimana mereka menghabiskan waktu berdua itu sengaja dibiarkan kosong.


Bau Wangi bunga-bunga campuran menyambut penciuman Poseidon ketika ia memutuskan untuk masuk ke sana. Kepergian Cathy tidak membuat ia melupakan kamar itu. Ia bahkan memerintahkan para pelayan untuk membersihkan kamar tersebut setiap hari seakan pemiliknya hanya pergi sebentar saja.


Poseidon mendudukkan diri di atas ranjang seraya memandang sekeliling, ia merasa hilang akal karena dapat merasakan kehadiran Cathy berada begitu dekat dengannya saat ini, selalu seperti itu.


"Kau disini rupanya, suamiku." Amprifit memasuki kamar dimana Poseidon berada. Wanita itu terlihat senang menghampiri Poseidon, tapi tidak dengan sang dewa.


Tanpa sepengetahuan keduanya. Yerim diam-diam bersembunyi dibalik tembok pembatas ruang ganti sembari membekap mulutnya sendiri. Hatinya sakit hanya dengan mendengar wanita lain memanggil Poseidon suaminya.


"Kita harus keluar. Masih banyak tamu diluar sana." ajak Amprifit menarik lengan Poseidon keluar.


Sepeninggalnya Poseidon dan Amprifit. Yerim melampiaskan kesedihannya dengan menangis. Tubuhnya merosot jatuh ketika ia menarik keluar gelang pemberian si kembar berharap agar dirinya bisa segera kembali tapi sayangnya tidak ada reaksi berarti saat ia melakukannya lantas membuat Yerim berteriak emosi.


"Aku mau pulang! Bawa aku pulang!"


----


"Aku mendengar suara tangisan tadi saat melewati kamar milik mendiang Ratu Cathyrene." heboh salah satu pelayan menghadang temannya.


"Itu hanya halusinasi saja." balas temannya sedikit kesal karena jalannya terhalang padahal dia harus menghidangkan jamuan makanan untuk para tamu yang terdiri dari beberapa dewa.


"Tidak. Aku sangat yakin. Apa itu arwah yang mulia Ratu, kabar yang ku dengar jiwa nya tak pernah pergi menuju dunia Hades."


Yerim terlihat berjalan dari kejauhan dengan Wajah sangat kusut. Kali ini dress bewarna grey telah diganti dengan salah satu gaun yang ditemukan di dalam lemarinya. Gaun manis bewarna jingga yang juga dipakai oleh Cathy saat pertama kali dibawa ke istana ini. Ia bahkan memakai penutup kepala lalu merobek dan menodainya sedikit gaunnya untuk melengkapi penampilan nya sebagai seorang budak.


"Dari mana saja kau! Kita kerepotan disini sedang kau asik jalan-jalan. Mau mencari perhatian ya?"


"Aku bukan budak disini!" kesal Yerim mendongak, menatap marah para pelayan asing yang baru pertama kali dia lihat, "Dan aku akan segera pergi."


"Kau pikir mudah masuk keluar di sini huh? Lupakan mimpi untuk kabur dan bawa ini ke ruang pesta."


"Kenapa harus aku?"


"Lihatlah dirimu! Kau budak paling jelek yang pernah datang disini. Rambutmu Indah tapi sayang paras mu tak selaras." ungkap si wanita di depan Yerim.


Setelah mengejek Yerim. Wanita itu langsung saja berjalan meninggalkannya.


Yerim menatap nampan yang terbuat dari perak kemudian menghela nafas panjang membalikkan badan menuju tempat yang di maksud. Sekarang bagaimana dia harus menghadapi mereka?


Brukk


Entah harus berapa kali Yerim mengalami kesialan yang membuatnya menderita hari ini dan sekarang dia menabrak seseorang menyebabkan nampan dan isinya jatuh berserakan di lantai.


"Dasar bodoh! Kau tidak lihat hah!?"


Yerim mengenali suara itu. Dia adalah alasan dari kesalahpahaman yang terjadi, siapa lagi kalau bukan Hera. Wanita jahat itu seolah tak pernah puas menyakiti para wanita Yang di anggap menganggu ketentraman sang dewi.


"Mau kemana kau?" hardiknya ketika melihat Yerim berdiri, hendak melarikan diri.


Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Hera terkenal sebagai Dewi egois yang mau menang sendiri. Hera tak pernah ragu menghukum para wanita yang terlibat dengan suaminya terkecuali para dewi seperti ibu si kembar, Demeter dan lainnya.


Secara mengejutkan Hera menarik tangan Cathy lalu menyeretnya memasuki perkumpulan para dewa lalu melemparkan tubuh Yerim hingga tersungkur tepat di bawah kaki Poseidon.


"Apa-apaan ini!?"


Yerim meringis kesakitan mengepalkan tangan. Ia tertunduk dalam kebimbangan. Tidak! Yerim menggeleng tegas. Kedatangannya kembali jelas sebuah kesalahan dan sialnya kebodohan akan cintanya terhadap Poseidon telah menutupi logika. Sejarah tentang dirinya tak pernah ada.


"Berdiri!" titah Poseidon tak diindahkan oleh Yerim yang tak bisa menahan keterkejutannya tatkala bisa kembali mendengar suara tersebut.


"Apa kau tidak mendengarku!" Poseidon berlutut dengan tak sabaran mengeluarkan trisulanya berhasil membuat beberapa Dewa Dewi lainnya terkejut karena berpikir budak dibawah kaki sang dewa pasti akan segera menemui ajalnya.


Yerim terpejam erat merasakan dinginnya senjata milik Poseidon menyentuh permukaan kulitnya. Dagunya diangkat menggunakan trisula memaksa Yerim membuka kedua matanya dan menatap ke dalam mata Poseidon.


Mata bewarna biru laut dan coklat itu bertemu pandang lagi setelah sekian lama.


"Siapa kau!?"


"Ada apa ini? Mengapa bisa seorang budak ada disini?" sahut Amprifit keheranan mendapati seisi ruangan seolah ikut terdiam.


Tiba-tiba saja, entah dari mana angin berhembus kencang menerpa wajah Yerim, membuat kain sutra yang menutupi kepalanya terbang hingga rambut coklat bergelombangnya tergerai ke belakang. Poseidon terdiam, detik berikutnya dia terlihat seperti ingin meledakkan amarah yang membuat Yerim waspada.


"Oh tidak! Mata itu, bagaimana bisa?" gumam Hera.


Apollo melenggang memasuki ruang utama dimana pesta di adakan tak kalah terkejut melihat seorang gadis yang memiliki bentuk dan garis wajah mirip seperti Cathyrene, sahabatnya yang telah pergi.


"Rhea, kaukah itu?" Apollo mendekat.


Yerim tersenyum haru mengetahui fakta bahwa Apollo mengenalnya bahkan ketika Poseidon masih berdiam diri. Yerim bergerak untuk menghampiri Apollo namun tubuhnya tiba-tiba saja di angkat oleh Poseidon yang menghadang jalannya.


"Tunggu dulu! Apa yang kau lakukan? Aku bukan orang yang kau maksud. Lepaskan!" panik Yerim memberontak tapi malah mendapatkan tatapan mata tajam sang dewa laut.


"Memang apa yang ku maksud?"


Hah!  Yerim melongo menyadari kebodohannya karena keceplosan dan sekarang dia harus memutar otak lagi.


"Aku budak kotor, ini tidak pantas."


"Diam!" desis Poseidon memberhentikan langkah, menundukkan kepala melemparkan tatapan tajam kepada Yerim yang langsung menciut nyalinya untuk melakukan pemberontakan.


Hanya satu kata itu saja sudah mampu membuat Yerim membungkam mulutnya sendiri.


Yerim memperhatikan Poseidon yang entah akan membawanya kemana. Pria itu hanya diam selama mengambil langkah. Garis wajah tegas Poseidon benar-benar terbentuk sempurna, sangat berbeda dengan Poseidon yang dia kenal dulu. Sekarang suaminya jauh lebih gagah dan mempesona.


Mungkinkah ini maksudnya. Salah satu dampak keputusannya waktu itu telah membentuk Poseidon menjadi seperti ini.


Asik mengagumi ketampanan sang dewa laut. Yerim tak menyadari bahwa saat ini dia telah berada di kamarnya lagi tepatnya telah di gendong masuk ke dalam kolam hingga pada akhirnya panik sendiri ketika tubuhnya dibenamkan ke dalam air.


Oh astaga apakah dia akan di bunuh dengan cara ditenggelamkan? Siapapun, tolong!!



Tubuh Yerim kemudian di angkat keluar dari dalam air oleh Poseidon. Wajah kotor yang tadi telah bersih sempurna, menunjukkan wajah asli dari perempuan itu. Yerim menarik nafas panjang setelahnya.


Poseidon tersenyum untuk pertama kali sejak kejadian itu. Ia menurunkan tubuh Yerim lalu melingkarkan kedua tangan di pinggang Yerim, mencegah sewaktu-waktu Yerim pergi maka dia akan langsung menahannya dengan sigap.


"Katakan bahwa ini bukan ilusi semata. Kau datang, benar-benar kembali." tanya Poseidon menyentuh permukaan wajah Yerim yang basah.


"Aku di sini." balasnya singkat.


Poseidon mencium pelipis, kedua pipi Yerim, lalu beralih menciumi seluruh wajah wanitanya, "Jangan pergi dariku lagi, sayangku!"


Tidak bisa dipungkiri bahwa Yerim juga merindukan suaminya. Kata-kata yang diucapkan oleh Poseidon membuatnya bahagia akan tetapi sesuatu mulai menyadarkan Yerim. Ia kemudian mendorong tubuh Poseidon menjauh..


Yerim menggeleng, "Tidak! Ini salah, kedatanganku sama sekali tak di harapkan."


Poseidon menarik lengan Yerim, memaksa wanita itu agar menatapnya, "Apa yang kau katakan? Aku sanggup menghancurkan dunia agar kau dapat kembali lagi bersamaku."


"Pembohong!" hardik Yerim, "Lalu kenapa kau menikahi wanita lain, menjadikannya Ratu? Itu membuktikan bahwa aku bukan apa-apa lagi."


"Ratu hanyalah sebuah gelar. Sudah ku katakan bukan bahwa aku bersedia memberikan seluruh dunia ku dibawah kakimu asalkan kau tetap berada di sisi ku."


Yerim menghela nafas, menggeleng lemah, "Tidak perlu, Aiden. Kau bisa memberikannya kepada Ratu baru. Dia lebih berhak. Tempat ku bukan disini, aku kembali hanya untuk mengucapkan perpisahan karena waktu itu tak sempat."


Secara perlahan Yerim menarik diri dari Poseidon lalu melangkah mundur. Ia sudah bersiap pergi tapi Poseidon mengejutkannya dengan menarik gelang ditangan Yerim.


"Kau adalah istriku. Jadi aku yang akan menentukan apakah kau harus pergi atau tinggal, Asthrea!"


"Kau salah orang. Aku bukan Cathyrene." teriak Yerim emosi. Mungkin hanya dia satu-satunya wanita yang bebas meneriaki sang dewa laut tanpa harus takut di hukum.


"Memang siapa Cathyrene? Istriku adalah Asthrea."


----


Tbc