
Cathy mengerutkan dahi dalam tidur panjangnya, merasa terganggu dengan cahaya yang masuk melewati jendela kamar. Perlahan kedua bola mata cantik itu terbuka, menyesuaikan diri dengan sekitar.
Cukup lama Cathy berdiam diri memegangi kepalanya yang terasa berdengung sebelum menyadari bahwa dirinya tengah berada dikamarnya padahal semalam ia berada di sebuah tempat yang gelap. Atau mungkin saja semua itu hanya mimpi?
Perjalanan memacu adrenalin yang ia lakukan bersama Poseidon, pertemuannya dengan penguasa dunia bawah, perkataan ayahnya. Apa itu tidak nyata?
"Rhea." panggil suara yang sangat Cathy kenal.
Cathy menyipitkan mata memandang pria tampan duduk disampingnya, "Al, kenapa pagi-pagi sudah datang?" tanyanya.
"Aku mendengar kabar tentangmu yang jatuh pingsan didepan gerbang istana Hades, langsung menuju ke sini. Bagaimana, apa kau baik-baik saja?"
"Hm." angguk Cathy, sedetik kemudian tersadar akan perkataan Apollo bertanya, "Al, kau bilang apa tadi? Gerbang istana Hades? Jadi aku tidak bermimpi?"
"Apa maksudmu, Rhea. Tentu saja kau tidak bermimpi. Poseidon membawamu bersamanya." jelas Apollo.
"Dimana dia?"
"Mengerjakan tugasnya. Dia sudah terlalu lama menganggur ditempatmu." Apollo tersenyum menggoda Cathy.
Ya. Akhir-akhir ini sang dewa laut memang lebih banyak mangkir dari tugasnya sebagai dewa karena terus mendatangi Cathy. Entah apa yang dikatakan oleh ibunya pada pria itu, yang jelas Apollo menyadari perubahan Poseidon sejak saat itu.
Cathy menghela nafas dengan mata terpejam namun pikirannya sibuk berkelana mempertimbangkan permintaan ayahnya.
"Tidak perlu dipikirkan, dia akan kembali begitu urusannya selesai."
"Apa?" binggung Cathy.
Apollo mengerutkan bibir seolah tengah mencibir Cathy, "Tidak perlu malu, kita ini teman, kalau kau belum bisa melupakannya tidak apa. Itu alami."
Shit!
Melihat cara sang dewa matahari memandang dirinya sudah cukup membuat Cathy mengerti isi pikiran pria itu. Dasar! Yang benar saja.
"Sembarangan. Aku sudah move on ya." omel Cathy.
"Move on?" ulang Apollo kali ini nampak binggung.
"Aku sedang tidak ingin memikirkan perasaan tidak jelas bernama cinta, buang waktu saja." ralat Cathy cepat menyadari tindakannya.
Apollo tersenyum, bahkan semua yang telah mereka alami Cathy masih bersikap cuek, "Wow, kau akan melukai hatinya jika sampai dia mendengarnya, Rhea."
Cathy memutar bola matanya. Tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang disana. Cathy menoleh dan menemukan pria itu.
"Aiden." lirih Cathy.
Wajah dingin Poseidon menyambut penglihatan Cathy. Jujur saja pemandangan itu berhasil membuatnya gugup setengah mati seolah baru saja melakukan sebuah kejahatan besar. Gawat!
"Sejak kapan kau disana?"
Terdengar suara kekehan Apollo. Sepertinya sang dewa matahari tidak bisa menahan tawanya ditengah situasi mencengkeram yang di alami oleh Cathy. Benar-benar tidak bisa diandalkan, batin Cathy cemberut.
"Bagaimana keadaanmu?" Poseidon mendekat. Memposisikan dirinya di sisi lain ranjang Cathy.
"Hah?"
Poseidon mengulurkan tangan mengusap kepala Cathy dengan lembut, "Sepertinya sudah baikan. Buktinya kau sempat-sempatnya marah tadi."
"Aku,"
Alis Poseidon menyatu, "Hem?" tanyanya.
"Perhatian! Masih ada Dewa lain disini." sahut Apollo membuang nafas setengah merajuk. Miris sekali nasibnya hingga harus menyaksikan dua orang ini bermesraan didepannya, pemegang predikat dewa tertampan di gunung Olympus.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Kedatanganku hanya untuk memastikan keadaanmu." pamit Poseidon.
Cathy mengangguk. Mencoba tersenyum membalas perkataan Poseidon. Dalam hati merutuki kedatangan Poseidon yang sangat sangat sebentar seperti hanya berupa iklan lewat saja.
Poseidon berdiri. Perlahan berjalan menuju balkon kamar sebelum menghilang tanpa bekas.
Apollo terlihat puas menikmati raut wajah Cathy tanpa disadari oleh Cathy berpangku tangan, "Benar kan kataku?"
Cathy menoleh. Mengangkat bahu tidak peduli akan segala asumsi Apollo.
"Jadi kapan rencananya kau akan kembali ke kuil Parthenon? Bukankah waktu ijinmu sudah hampir habis?"
Apollo tau hal apa yang kini membebani Cathy karena ia dapat merasakannya dari tatapan mata gadis itu tapi segala sesuatu harus terus berjalan dan yang memang ditakdirkan terjadi pasti akan terjadi. Fakta tersebut membuat Apollo gusar.
"Entahlah, Al. Aku belum bisa memutuskan."
"Yang ku dengar mendiang ayahmu memintamu kembali ke kuil secepatnya dan melupakan tempat ini. Apa itu benar,?" tanya Apollo. Cathy mengangguk kecil. Ia memang tidak berniat menyembunyikan apapun dari sahabatnya itu.
"Kalau begitu ayahmu mengambil keputusan yang benar. Kau harus segera keluar dari sini."
"Tidak, aku tidak bisa." Cathy menggeleng dengan mata terpejam.
----
Upacara penobatan Raja Troy yang baru saja selesai digelar. Kini istana utama tengah mengadakan pesta besar perayaan kepemimpinan Raja baru dengan tawa bahagia hampir tak ada sisa kesedihan disana padahal jasad ayahnya mungkin masih utuh di dalam kubur.
Semua orang yang ada disana bersenang-senang. Kakak-kakaknya berkumpul. Suasana tampak canggung. Yang dia tau dalam ingatan kehidupan Cathy sebelumnya, tidak ada satupun saudara laki-lakinya yang cukup dekat dengannya kecuali kakak lelaki yang baru saja diangkat menjadi Raja hari ini. Pria berbadan besar dengan jenggot tipis itulah yang terlihat menyayangi Cathy.
"Cathyrene."
Cathy menoleh mendengar namanya dipanggil oleh orang nomor satu di kerajaan Troya, "Ya, Yang mulia?"
Sesuai tata krama dan aturan kerajaan, sekalipun Cathy adalah anggota keluarga kerajaan tapi dia tidak bisa memanggil kakaknya seperti biasa didepan banyak orang. Cathy bisa saja dianggap melanggar hukum meski dia seorang putri kerajaan tersebut.
"Kenapa, apa kau punya masalah adikku? Sejak tadi kau terlihat murung."
Cathy menggeleng, "Tidak ada, Yang mulia. Aku hanya tiba-tiba merindukan ayahanda."
"Ayahanda sudah tenang disana. Maafkan kakak juga karena tidak bisa menunda penobatan ini sampai waktu yang cukup tenang setelah kepergian ayahanda. Kau tau? Para anggota parlemen istana menuntut agar upacara penobatan cepat di lakukan."
"Tidak apa, Yang mulia. Ayahanda pasti mengerti." balas Cathy membuatnya ditatap sendu oleh sang Raja karena merasa Cathy telah membangun tembok besar untuk hubungan mereka.
Selama ini Cathy memang lebih banyak menghabiskan waktu bahkan terkesan sengaja di sembunyikan di paviliunnya, terkecuali jika ada acara penting barulah gadis itu akan keluar dari tempatnya.
Tak bisa dipungkiri juga, beberapa saudaranya yang lain kadang dengan jelas tidak mau menerima Cathy. Bagi mereka yang mengetahui rahasia kelahiran tak jelas Cathy menolak gadis manis itu menjadi bagian daei keluarga kerajaan Troya.
"Disini sangat berisik, kakak ingin bicara berdua denganmu." ungkap sang Raja dibalas anggukan kepala Cathy tanpa keraguan sedikitpun.
Tanpa pengawalan sang Raja berangsur meninggalkan ruang pesta bersama Cathy yang mengekor dibelakang pria itu. Mereka berjalan melewati koridor istana menuju taman belakang yang dekat dengan paviliun milik sang Putri Cathyrene.
"Kakak tidak percaya saat mendengar kepulanganmu untuk menemui ayahanda dan mengabaikan seleksi tahap penilaian akhir di kuil milik Athena."
"Aku akan menjadi anak durhaka jika lebih mementingkan hal lain dibanding kesehatan ayahanda."
Cathy balas tersenyum.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu adikku."
"Apa itu?"
"Apa kau sudah yakin ingin menjadi pengabdi Dewi Athena untuk selama-lamanya dan menghabiskan setiap waktumu untuk menjadi pengikutinya?"
"Entahlah."
"Apapun keputusanmu yakinlah! Karena kakak akan selalu mendukung keputusanmu. Jika kau ingin disini, posisi mu akan sangat penting, tapi jika kalau ingin kembali ke Parthenon maka kakak akan menghargai keputusanmu."
Cathy tidak membalas. Dalam pikirannya ia terus mempertimbangkan keputusan yang akan dia ambil. Di satu sisi ia ingin menuruti kemauan ayahnya tapi di satu sisi dia mau tetap di kerajaan Troya saja, menjalani hidup dengan tenang tanpa perlu memikirkan persaingan di kuil.
Sang Raja telah kembali bergabung dalam pesta sedang Cathy meminta ijin untuk kembali ke kamarnya. Perkataannya kakak tertuanya itu kembali menganggu pikirannya dan suasana pesta didalam sana sama sekali tidak diminati oleh Cathy. Ia berada disana hanya untuk kewajiban dan menghargai penobatan kakaknya.
Mungkin lebih baik dia tetap tinggal saja di Troy dan melupakan permasalahan di kuil Parthenon?
Lagipula alasan utama Cathy sudah terpenuhi bukan? Kesalahanpahaman antara Cathy dan Poseidon telah berakhir namun sayang pemeran utama yang harus merasakan kelegaan tersebut bukanlah jiwa Cathy sendiri.
Bicara tentang sang dewa laut. Pria itu dua dua pekan tidak mengunjungi Cathy padahal dulu hampir setiap hari Cathy melihatnya. Sekarang Apollo juga hanya akan datang sesekali. Para dewa itu sibuk disaat Cathy membutuhkan tempat bercerita.
"Kau melamun lagi?" tanya sebuah suara dibelakang membuat Cathy membalikkan badan dan menemukan pria yang tadi mengisi pikirannya.
"Aiden, kapan kau sampai?"
"Baru saja. Kenapa, tidak suka ya aku datang?"
Cathy mendengus, menggeleng cepat, "Bukan begitu. Kau sendiri yang suka datang diam-diam."
"Jadi bagaimana, kapan kau akan kembali ke kuil?"
"Aku akan tetap disini."
Poseidon tidak terkejut lagi mendengar keputusan Cathy yang sudah dapat ia tebak sebelumnya.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu."
"Iya. Apa tidak masalah jika aku mundur sekarang?" Cathy balik bertanya. Pengetahuannya tentang peraturan di kuip Parthenon benar-benar minim.
"Apa yang membuatmu ingin mundur padahal kau sudah sejauh ini, Ash?"
"Aku tidak punya alasan lagi bertahan disana?"
"Alasan?" ulang Poseidon mengerutkan dahi, "Jadi dulu kau punya alasan dan sekarang tidak lagi?"
Cathy menganggukkan kepala dengan malas. Pasti Poseidon akan langsung bisa menebak alasan yang dia maksud dengan sangat tepat.
"Aku?" sambung Poseidon.
Benar kan!
"Hem." jawab Cathy setengah cemberut.
Poseidon tertawa kecil. Hal tersebut berhasil membuat Cathy kesal karena berpikir bahwa Poseidon sangat senang saat ini dan sebentar lagi akan menggodanga habis-habisan. Awas saja jika itu terjadi, ia bersumpah akan menendang dewa laut itu kembali ke habitatnya dengan kekuatan penuh.
"Maaf." senyum yang tadi menghiasi wajah Poseidon menghilang.
"Untuk apa?" tanya Cathy.
"Telah salah memperlakukanmu selama ini."
"Semua sudah berlalu, tidak baik mengingat masa lalu dimasa sekarang." Cathy mengalihkan pandangan. Sungguh ia tak kuat jika harus melihat wajah Poseidon disaat seperti ini.
"Baiklah, kita tidak akan membahasnya lagi." senyum Poseidon.
----
Cathy datang menghadap ruang utama istana dimana Raja duduk memerintah di istananya. Kepalanya tertunduk begitu menghadap sang Raja.
"Aku sudah mengambil keputusan bahwa aku akan tetap tinggal disini."
Tarikan nafas penuh kelegaan terdengar seolah dia telah melakukan sesuatu yang benar.
"Kalau begitu kakak akan mengutus orang untuk memberitahu kabar ini ke kuil Parthenon siang ini juga agar mereka bisa memproses penghapusanmu dari daftar pengikut Athena." ungkap sang Raja bahagia mendengar keputusan si bungsu.
Cathy mengangguk. Setelahnya ia berpamitan untuk kembali ke paviliun miliknya karena merasa tidak ada lagi yang ingin dibicarakan.
Sepanjang perjalanan menuju paviliun. Cathy yang ditemani beberapa pelayan dibelakang melewati beberapa orang diantaranya beberapa pejabat istana yang sekilas menunduk hormat kepadanya namun Cathy tau dalam hati meremehkan dirinya.
Sungguh Cathy tidak buta akan hal tersebut. Jika ditambah dengan menggali ingatan Cathy. Kehadiran Cathy yang dianggap sebagai Putri tak berguna kerap menjadikannya sebagai bahan ejekan bahkan sebelumnya Cathy pernah mendengarnya secara langsung.
"Tuan Putri." sapa seorang pria berumur menghadap yang dibalas anggukan kepala Cathy.
"Benarkah kabar yang ku dengar itu bahwa tuan Putri memilih tetap tinggal di istana dan tidak akan kembali ke kuil? Maaf kalau saya lancang menanyakan hal ini."
Kabar dengan cepat menyebar bahkan baru saja Cathy membuat keputusan. Ck! Orang-orang ini masih saja meremehkannya secara nyata didepan mata. Mereka berpikir dengan atau tidak adanya Cathytene sama sekali tidak berpengaruh apapun bagi kepentingan kerajaan, justru sang Putri dianggap menjadi benalu, karena tidak memiliki pengaruh apapun.
"Kurasa aku tidak perlu memberi tau kepala menteri untuk urusan pribadiku. Silahkan bertanya sendiri pada baginda Raja. Saya pamit." balas Cathy dingin kemudian berjalan melewati pria tua tersebut dengn kepala terangkat.
----
Penyesalan memang selalu datang di waktu yang salah. Selama ini Artemis cukup yakin bahwa dia akan terbebas dari hal-hal berkaitan dengan romansa jika dia mau menjauhi segala yang terlibat dengan hal tersebut namun nyatanya dia salah. Tanpa sadar dia telah jatuh terlalu dalam.
Dia benar-benar tidak mengira perasaan tersebut bisa muncul pada dirinya yang telah diberkati sebagai wanita perawan tanpa hawa nafsu seperti kakaknya. Artemis tak mampu mempercayai bahwa perasaan Cinta murni tanpa hawa nafsu bisa merusak akal dan logikanya sebagai seorang Dewi.
"Art, ada apa denganmu." tanya Apollo tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran ketika melihat sajah Artemis bersedih. Apollo telah bersumpah akan menghukum siapapun yang berniat menyakiti ibu bahkan saudarinya.
"Aku baik-baik saja." balas Artemis mencoba tersenyum meski dia rasa itu sulit dilakukan karena Apollo akan dengan cepat menyadarinya. Dewa matahati bukan type yang bisa dengan udah dibodohi.
"Tidak! Kau terlihat tidak baik dan sepertinya aku tau siapa penyebabnya."
Pernyataan mutlak yang keluar dari bibir Apollo membuat Artemis gelagapan.
"Al, apa yang mau kau lakukan?" panik Artemis.
Apollo mundur, melangkah meninggalkan ruang istana keluarga berlambangkan matahari dan bulan sebagai simbol keduanya dengan langkah cepat.
"Al." pekik Artemis.
----
Tbc...