
Hari ini kerajaan kecil yang terletak di pinggiran Yunani yang sering disebut Arcadian tengah bersedih karna salah satu dari pangeran kebanggaan kerajaan tengah sakit keras.
Para tabib yang berdatangan telah memeriksa Orion tapi tidak ada salah satu dari mereka yang dapat menjabarkan penyakit apa yang tengah dialami oleh pangeran kelima tersebut. Seluruh tubuhnya dipenuhi bintik-bintik merah mengelupas.
Artemis memperhatikan istana Arcadian dari jauh. Tanpa perlu mencari tau ia sudah tau siapa dalang dari semua hal buruk yang menimpa Orion.
Saudara kembanya, Apollo dengan jelas menentang hubungan mereka berdua dengan alasan yang tidak jelas padahal alasan dari kesedihan Artemis selama ini adalah karena janji yang pernah ia buat membelenggu dirinya sendiri hingga tak bisa menerima cinta Orion.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Al?" tanya Artemis merasakan kehadiran saudara kembarnya.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sejak kecil keduanya saling melindungi satu sama lain. Terkadang, cara mereka saling menyayangi terlampau egois, Apollo kadang akan berubah menjadi pria posesif jika ada yang lebih dekat dengan saudaranya.
"Untuk kebaikanmu, Art. Kehadirannya hanya akan menghancurkan janji yang kau buat." bela Apollo.
"Tapi haruskah kau membuatnya menderita?"
"Karena kau mencintainya."
"Al."
"Aku tetap pada keputusanku, Art."
----
Hari demi hari dilewati Cathy di paviliun dengan membaca buku tentang sastra dan politik. Sesekali Poseidon akan datang mengunjungi, menghabiskan waktu bersamanya diruangan tersebut.
Surat balasan untuk pengunduran diri Cathy belum juga sampai membuat gadis itu khawatir permintaan untuk mengundurkan diri secara terhormat ditolak oleh pihak kuil, ditambah perkataan Poseidon sama sekali tak membantu beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa akan sulit bagi Cathy untuk mundur karena sudah berada di penghujung kompetensi semakin membuatnya di liputi kekhawatiran.
Come on! Ia tidak mau menghabiskan waktu di kuil dan menjadi perawan tua. Itu adalah neraka terburuk yang pernah ada.
Tak terasa, sudah cukup lama hingga tak terhitung Cathy terjebak dalam dunia yang ia sendiri tak tau. Kehidupannya dulu sebagai Yerim seakan lenyap begitu saja. Terkadang ia merindukan saat-saat dimana namanya di sebut.
Kim Yerim..
Ia merindukan nama itu. Hidup sebagai Cathyrene menenggelamkan seluruh hidupnya sebagai Kim Yerim. Nama pemberian kedua orangtuanya.
"Apa kau sudah mendengar gosip? Katanya Raja kita memiliki anak diluar sana."
"Apa itu anak haram?"
"Tidak tau, tapi itu bisa saja."
Samar-samar terdengar gosip para dayang yang tengah berada diluar ruangan yang ditempati oleh Cathy. Suasana yang sepi membuat pembicaraan keduanya terdengar sangat jelas dalam pendengaran.
Kakaknya memiliki anak lain?
Memang bukan hal yang mengejutkan bagi seorang Raja memiliki anak bukan dari Ratu, entah itu dari selir atau wanita dari kerajaan tetangga yang di jual untuk di jadikan budak tapi dari pandangannya, sang Raja terlihat bukan orang seperti itu dan dari ingatan Cathy pun demikian.
Huh! Memikirkan semua masalah ini membuat kepalanya terasa sakit. Ia harus mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk menghadapi hari esok.
Sementara itu...,
Persephone membuka kedua matanya saat suara mengerikan terdengar menggema memenuhi telinga. Tangannya terulur mencari Hades namun suaminya itu tidak lagi berada disampingnya.
Tanpa membuang waktu. Persephone beranjak dari tempat tidur. Meraih jubah hitam kebesarannya lalu memakainya, menutupi gaun tidur bewarna gelap yang sedang ia kenakan.
"Thanatos!" teriak Persephone memanggil sang dewa kematian.
Dalam sekejab. Makhluk bersayap hitam muncul di depan Persephone yang tidak terlihat waspada lagi. Ia sudah mulai terbiasa dengan makhluk yang ada di dunia bawah.
"Dimana suamiku?"
"Yang mulia sedang mengunjungi Tartarus. Para monster yang terkurung disana memberontak."
"Apa teriakan yang ku dengar berasal dari mereka?"
"Benar, akhir-akhir ini segel Tartarus sedikit melemah. Hades harus turun untuk memeriksanya pada waktu tertentu." jelas Thanatos membuat Persephone terdiam.
Tak lama kemudian. Terdengar suara derap langkah seseorang berjalan menghampiri Persephone diatas singgasana dimana dibawahnya terdapat Thanatos yang kini memalingkan kepala menatap sang tamu.
"Hecate."
Hecate adalah dewi malam dan dikenal sebagai dewi tak terlihat, yang ditemani oleh anjing-anjing neraka. Ketika Persephone diculik, Hecate mencoba menghibur Demeter. Hecate memberitahu Demeter bahwa dia mendengar tangisan Persephone namun tidak mengenali penculiknya.
Ia yang menyarankan supaya Demeter bertanya pada Helios yang melihat segalanya sampai suatu ketika keputusan Zeus tentang Persefone tinggal bersama Hades selama setengah tahun setiap tahun di dunia bawah, Hecate menjadi teman Persephone agar sang Dewi tidak merasa kesepian atas permintaan Hades.
"Ada apa, mengapa wajahmu terlihat pucat, Ratu?" tanya Hecate.
----
Gelap. Tempat yang kini dipijaki oleh kakinya terasa begitu dingin hingga membuat Cathy sedikit ragu melanjutkan langkah kakinya namun setitik cahaya yang terlihat nan jauh dari jangkauannya cukup membuatnya penasaran.
"Tolong." bisik seseorang terdengar.
Pada akhirnya rasa ingin tau yang lebih kuat dibanding ketakutan secara alamiah menuntun kaki Cathy yang tak beralaskan apapun. Semakin ia dekat, maka suara itu lebih terdengar jelas.
Cathy mengernyit, entah mengapa suara itu berubah menghilang dan dalam sekejab mata dia telah berada disebuah tempat bebatuan hitam dan dikelilingi aura panas.
Sekujur tubuhnya menggigil ketakutan ketika ia memandang sekeliling dan menemukan dirinya berada disebuah tebing. Cathy menggeleng tidak terima. Mengapa dia bisa disana?
Perlahan dengan melawan rasa takutnya Cathy berusaha mundur namun sayang dia tempat yang dipijak olehnya terasa rapuh menimbulkan suara gesekan sebelum pada akhirnya tubuhnya serasa ambruk ke bawah.
Blushh...
"Tidak!" pekik Cathy dengan tubuh secara reflek terangkat memeluk tubuh seorang pria.
Keringat membasahi pelipis Cathy yang baru saja berhasil keluar dari mimpi buruk yang membelenggu dan terasa begitu nyata. Nafasnya memburu namun ia masih mengenali aroma pria yang tengah ia peluk erat seolah tempat itulah yang paling aman saat ini untuk berlindung.
"Aiden." gumam Cathy memanggil.
"Aku disini. Kau bermimpi buruk?" tanya Poseidon mengusap punggung Cathy menenangkan gadis itu.
Cathy mengangguk, "Ya." jawabnya masih mengatur nafas, hampir menangis. Seumur hidup baru kali ini ia mendapatkan mimpi seburuk itu, "mimpinya sangat menakutkan dan nyata." cerita Cathy menarik diri.
Sungguh memalukan terlihat berantakan didepan sang dewa laut seperti ini. Jika menuruti tata krama, tidak sepantasnya seorang Putri memperlihatkan dirinya tanpa hiasan atau hanya menggunakan pakaian tidur tipis seperti saat ini didepan pria, bahkan untuk saudara laki-lakinya. Itu adalah bentuk wanita bangsawan tidak ber'etika dan sudah pasti akan dihukum.
Namun bagi para dewa ini bukan masalah. Apollo dan Poseidon telah terbiasa melakukan semua itu. Siapa memang manusia yang berani melawan mereka?
"Semua itu hanya mimpi. Dewa yang bertanggung jawab atas mimpimu akan mendapat teguran nyata atas perbuatannya malam ini." ucap Poseidon. Salah satu tangannya terulur mengusap dahi Cathy yang berkeringat.
"Apa maksudnya?" binggung Cathy.
Cathy menggekengy, menolak ide tersebut, "tidak mau. Sekarang aku mau bertanya, ada apa kau ke sini malam-malam?" tanyanya menyelidik.
"Tadinya aku ingin bicara denganmu tapi ku lihat kau sudah tidur. Awalnya aku akan kembali ke Olympus tapi aku mendengar kau bicara dalam tidur."
"Tidak sopan masuk ke dalam kamar seorang gadis seenaknya, Ai." tegur Cathy. Disaat mereka hanya berdua seperti ini Cathy memang lebih suka mempersingkat panggilan untuk sang dewa laut seperti yang ia lakukan pada Apollo.
"Apollo melakukannya juga." bantah Poseidon mengernyitkan dahi.
"Tapi dia tidak pernah menyelinap masuk disaat jam tidur tengah malam." Cathy mencoba bersikap sabar.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang." Poseidon berdiri, hendak melangkah menuju balkon. Cathy menatap punggung pria itu lalu bertanya,
"Apa aku perlu mengantar seperti biasa?" tanya Cathy polos.
"Tidak perlu! Diam saja disini. Pastikan aku pulang dari atas ranjangmu saja agar kau bisa tenang tidur lagi." balas Poseidon sarkas. Cathy mengernyitkan dahi mendengar nada suara Poseidon.
"Aiden, kau kenapa jadi marah?"
"Tidak." balas Poseidon sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Dasar aneh." gumam Cathy.
----
Seorang dewa tampan nan gagah memasuki Olympus setelah cukup lama berkelana dengan busur dan anak panah cinta miliknya. Eros, sang dewa Cinta, putra Aphrodite dengan Ares tidak menempati posisi salah satu dari dua belas dewa tertinggi Olympus seperti Apollo dan lainnya. Ia sangat menyukai petualangan panjang yang memakan waktu cukup lama.
"Eh gembala para budak cinta sudah kembali." sapa Apollo muncul entah dari mana merangkul bahu Eros yang langsung menolehkan kepala memandangnya.
"Bagaimana kabarmu, paman?"
Raut wajah Apollo langsung berubah masam, "Jangan memanggilku seperti itu. Aku terlalu tampan dan gagah untuk panggilan itu, anak kecil."
"Anak kecil katamu?"
"Ouh, aku salah bicara tapi itulah yang digambarkan para manusia bumi. Kau tidak lebih dari anak kecil yang suka bermain dengan panah emas." tawa Apollo.
"Mereka salah dengan hal itu tapi haruskah kau juga berpikir demikian padahal kau melihatnya secara langsung. Aku tampan dan perkasa dan terakhir aku bukan pria kesepian sepertimu."
"Eh, apa katamu."
"Jangan mengganggunya, Apollo." tegur Athena datang dari kejauhan melerai perdebatan panjang antara Apollo dan Eros yang tidak akan berhenti jika tidak ada yang menegur.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu anak kecil lagi." Apollo mengangkat tangan di udara dengan senyum geli terpeta jelas diwajah tampannya semakin membuat sang dewa cinta kesal.
"Oh astaga." desah Athena jengah menghadapi sifat jahil Apollo yang tidak pernah berhenti berulah.
"Kau benar-benar perlu diberi sedikit pelajaran." ucap Eros hanya dibalas tawa oleh Apollo.
"Dimana Artemis, mengapa dia tidak bersamamu?" tanya Athena lagi menatap Apollo.
Pertanyaan dari Athena membuat raut wajah Apollo berubah. Artemis sedang marah padanya. Gadis itu memilih tetap di bumi dan mengabaikan larangan Apollo meski sang dewa matahari telah memaksa agar Artemis ikut pulang bersamanya.
"Di Arcadian." jawabnya asal.
"Kau benar-benar tega melakukannya." Athena menghela nafas.
"Tega?" ulang Apollo. Entah dimana tatapan jahil yang diperlihatkan barusan. Pria didepan Athena dan Eros saat ini lebih mirip seperti dewa penghancur, "Aku hanya mencoba melindungi apa yang sepantasnya aku lindungi sebagai anak laki-laki."
"Artemis berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku yakin dia tau konsekuensinya, Apollo. Kau hanya perlu memberinya waktu."
"Tidak!" tegas Apollo menolak.
Eros terdiam memperhatikan perseteruan yang tengah terjadi tanpa niatan sedikitpun untuk masuk ke dalam. Biarkan saja Apollo dengan sifat keras kepalanya dan Athena yang super bijaksana kali ini bahkan terlihat tak berdaya diperhadapkan dengan Apollo.
"Suatu saat ku harap kau akan merasakan bagaimana rasanya berada dalam posisi saudarimu. Mudah untuk mengatakan tapi kau tidak pernah tau kesulitan menghadapinya secara langsung." nasihat Athena berbalik pergi. Percuma berdebat dengan pria keras kepala seperti Apollo.
----
Gosip semakin berhembus sampai di telinga Cathy tentang kakaknya yang memiliki anak diluar istana. Memang bukan suatu hal mengejutkan jika seorang Raja memiliki anak bersama selir tapi benarkah itu? Setahu nya kakaknya belum memutuskan untuk memiliki selir selama ini.
Mungkin ada yang terlewatkan atau ada hal keliru disini. Cathy tidak tau dengan pasti tapi nanti dia harus menanyakannya secara langsung itu pun kalau kakaknya bersedia menjawab.
"Hari ini kita kedatangan seorang penting di istana."
"Siapa?"
"Putra Raja yang selama ini hidup di pembuangan."
Dahi Cathy berkerut. Pengetahuannya tentang sejarah Yunani sangat minim. Ia hanya mengenal para dewa saja selebihnya dia tidak tau.
"Siapa?"
"Pangeran Paris."
Paris hilton?
Oke, Cathy, this is not funny , tempat kau terjebak saat ini adalah Yunani kuno, bukan dunia Modern.
Seorang pelayan memasuki kamar Cathy membuat sang Putri Troya membalikkan badan.
"Salam, Yang mulia. Kami membawa surat dari istana utama untuk diserahkan pada anda." ucap salah satu dari beberapa pelayan yang memasuki kamar Cathy.
"Letakkan disana." perintah Cathy langsung dituruti oleh pelayan tersebut yang kemudian berjalan keluar dari kamar Cathy bersama rombongan.
Cathy mendekati meja kecil dimana surat itu diletakkan kemudian membukanya.
Surat balasan dari kuil Parthenon Athena sebagai pemberitahuan bahwa permintaan Cathy di tolak.
Perasaan buruknya selama beberapa hari ini terjawab sudah. Permintaan pengunduran diri secara terhormat di tolak. Cathy sudah dipastikan harus kembali secepat mungkin namun bukankah dirinya memiliki hak sendiri. Biarkan saja dia, dia masih mau berada di istananya dari pada harus memikirkan persaingan di kuil Parthenon.
Sekarang Cathy juga menyadari sesuatu. Apollo dan Poseidon secara kompak menginginkan dirinya kembali ke Parthenon tanpa alasan yang pasti. Dua pria itu seakan bekerja sama dalam hal ini.
Tak hanya itu, akhir-akhir ini kedua orang itu semakin aneh bertingkah yah meski Apollo jadi jarang datang mengunjunginya seperti biasa.
Sebenarnya apa yang tidak diketahui dirinya? Dan apa yang sekiranya coba disembunyikan?
----
Tbc