
Anak panah emas menghunus tepat ke arah jantung Ariadne yang tengah berdiri seorang iri ditepi pantai. Darah segar mengalir membasahi gaun yang dikenakan oleh Ariadne ketika gadis cantik itu jatuh membentur tanah.
Ariadne mendongak disela-sela nafas terakhir, memandang seorang gadis bergaun putih cantik dengan aksesoris perak melekat pada tubuhnya ditambah ikat pingkang berwarna emas mampu membuat Ariadne mengenali gadis itu.
"Dewi Artemis, saudara kembar Dewa Apollo." Lirih Ariadne memegangi bagian dadanya yang terkena panah beracun Artemis, "Kenapa, Dewi?" tanyanya.
"Seorang pengkhianat tidak pantas untuk hidup."
Setelah perkataan Artemis. Ariadne menghela nafas terakhirnya didepan mata sang dewi yang tersenyum puas penuh kemenangan.
"Artemis!!!" teriak Dionysus mengejutkan Artemis. Sang dewi membalikkan tubuh, menatap dewa anggur yang terlihat murka.
Dionysus menunduk, meraih tubuh tak bernyawa Ariadne dan membawanya ke dalam rengkuhan hangatnya yang mungkin sudah tidak akan dirasakan oleh Ariadne lagi.
"Apa yang kau lakukan?" gumam Dionysus sedih melihat wanita yang ia cintai kini telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi senyum, omelan bahkan wajah cemberut Ariadne. Dionysus hanya bisa mengenang semua itu dalam ingatannya saja.
"Menghukum wanita yang sudah berani mengkhianati saudaraku. Dio, apa yang kau harapkan dari wanita yang menipu keluarganya hanya untuk bersama seorang lelaki yang baru ia temui, tidak menutup kemungkinan kan dia akan melakukan hal yang sama terhadapmu jika Perseus datang kembali?"
"Aku tau tapi haruskah kau membunuhnya."
"Sudah ku katakan, hukuman ringan bagi seorang pengkhianat adalah kematian." desis Artemis kemudian menghilang ditelan kabut yang ia buat.
----
Sebagai Ratu dunia bawah Persephone mendapatkan beberapa kewajaiban dan hak untuk mengatur dunia kegelapan dari suaminya. Kecantikan serta kelembutan yang dimiliki oleh sang Dewi membawa suasana baru, seakan melengkapi karakter suaminya yang dingin, tak tersentuh dan kadang dipenuhi amarah. Dunia kegelapan seolah memiliki secerca cahaya kehidupan diantara orang mati.
Minor, salah satu dari ketiga hakim yang bertugas didepan pintu masuk istana Hades datang menghadap dihadapan sang ratu yang tengah terdiam menatap tempat yang telah disediakan oleh Hades, tepat disampingnya, sebuah singgasana serupa dengan kepunyaan sang penguasa kegelapan.
Persephone mungkin satu-satunya Ratu yang memandang binggung tempat kebanggaannya disamping suaminya. Selama ini sang dewi musim semi memang tidak pernah memimpikan akan menduduki tahta seorang Ratu, terlebih Ratu dunia bawah, dunia tempat orang mati.
"Yang mulia Ratu,"
Panggilan Minor mengejutkan Persephone. Ia membalikkan badan menatap makhluk penghuni dunia bawah berwajah aneh, sangat berbeda dengan orang-orang didunia atas,
"Ada apa, Minor?" lembut Persephone bertanya. Sungguh, sejak ditugaskan menjadi hakim Hades, Tak pernah ada yang memanggil seperti Persephone. Hal tersebut membuat Minor tergunggah, ia bahkan sangat senang jika ditugaskan menghadap sang Ratu.
"Yang mulia, kita kedatangan seorang gadis, dia baru saja meninggal dan semasa hidupnya gadis itu memiliki kelakuan buruk. Katakan apa yang harus kami lakukan untuk dosa yang ia lakukan." tanya Minor menunggu keputusan Persephone mengingat Hades tidak sedang berada di kerajaannya hingga membuat segala keputusan mengenai dunia bawah dipercayakan kepada Persephone sebagai Ratu dunia bawah.
"Bawa gadis itu ke sini!" titah Persephone.
Minor menundukkan kepala. Dengan hati-hati menyuarakan hal yang mungkin tidak diketahui oleh Persephone mengenai peraturan di dunia bawah, "Yang mulia, mohon maaf sebelumnya tapi orang mati yang akan di adili tidak boleh memasuki istana, apalagi sampai bertemu Yang mulia, itu dilarang." Minor memberitahu.
"Kenapa begitu?"
"Itu adalah peraturan dari Dewa Hades."
"Jika ada peraturan seperti itu, lalu mengapa meminta keputusan dariku? Aku bahkan tidak melihat wajah orang yang akan ku adili, bagaimana bisa aku menjatuhi hukuman atasnya?"
"Maafkan kami, Yang mulia. Peraturan tersebut tidak dapat dilanggar. Jika tidak, Hades akan menghukum kami semua."
Persephone menghela nafas berat, "Baiklah, kalau begitu aku akan melihatnya sendiri." putus Persephone melangkah menuruni tangga menuju singgasana lalu berjalan keluar.
Oh tidak! Suatu kesalahan besar meminta keputusan kepada sang ratu yang masih awam akan peraturan istana dunia bawah. Hades paling tidak suka ketika peraturan yang ia buat dilanggar dan ia tidak akan segan-segan menghukum siapapun yang berani melanggarnya.
"Yang mulia, anda tidak boleh melakukan ini." larang Minor sudah terlambat karena Persephone telah melangkah keluar.
----
Keadaan wilayah Barat mulai menunjukkan perubahan setelah Cathy mendapatkan bantuan dari pihak kerajaan. Semua mulai berjalan sesuai rencana, para nelayan bertambah begitu lapangan pekerjaan dibukakan untuk mereka. Panen padi sukses besar, segalanya nampak mudah jika dikerjakan secara gotong royong.
Cathy membuka jurnalnya, merinci lalu membedaan keuntungan dan kerugian yang mereka dapatkan tahap pertama. Pengetahuan matematikanya ternyata sangat berguna disini.
Hampir tidak ada kerugian untuk wilayah barat. Cathy telah memperhitungkan ketika dirinya memutuskan kerja sama dengan pihak tertentu yang berguna untuk saling mengambil keuntungan satu sama lain, seperti contoh desa tetangga yang merasa kelebihan pangan mereka bisa berguna bagi wilayah lain. Jika begini, Cathy telah membuat terobosan baru dengan menjayakan wilayah Barat yang selama ini terbengkalai.
"Aku senang dengan idemu, Nona."
Cathy terlonjak kaget dari tempatnya berdiri saat ini menutup jurnalnya ketika mendengar suara Putra mahkota yang berdiri begitu dekat dengannya.
"Yang mulia."
"Maaf sudah membuatmu terkejut."
Cathy menggeleng, ia kemudian menunduk hormat menyambut kedatangan sang pewaris tahta dilapangan kerja, "Salam hormat saya, Yang mulia."
Pandangan Cathy tertuju pada bagian belakang Putra mahkota dimana beberapa pengawal pribadinya berdiri cukup jauh dari tempat mereka saat ini. Cathy mengernyit, bukankah hal ini sedikit aneh.
"Tidak perlu formal seperti itu saat kita bertemu." seru Putra mahkota menarik perhatian Cathy kembali padanya.
"Tapi aku bisa dihukum karena dianggap tidak sopan, Yang Mulia." Balas Cathy menunduk.
"Tidak akan ada yang berani menghukummu tanpa ijinku." senyum Putra mahkota membuat Cathy tak dapat membantah ucapan sang pewaris tahta. Hatinya terus dipenuhi berbagai macam pertanyaan terkait sikap Putra mahkota.
Pantaskah seorang calon Pendeta Agung diperlakukan spesial seperti ini?
Tiba-tiba saja, Cathy menoleh memandang sekeliling sembari memegangi tengkuknya. Entah mengapa ia merasakan sebuah tarikan kuat, perasaan aneh seperti tengah diperhatikan namun sayang ia tidak menemukan apapun di sekelilingnya.
"Ada apa, Nona?" tanya sang Putra mahkota tatkala melihat Cathy seperti orang kebinggungan memandang sekeliling.
Cathy menghela nafas, mungkin hanya perasaannya saja. Pikirnya
Perasaan yang dirasakan oleh Cathy tidak salah. Seorang pria lengkap dengan jubah kebesarannya bercorak emas, mengkehendaki dirinya untuk tak terlihat itu tengah memperhatikan setiap gerak gerik mereka dengan seksama dibalik pohon. Tatapan mata tajam, bak pedang tajam yang siap menghunus jantung tertuju untuk pria yang tengah berbincang dengan Cathy.
"Ekhm, mau menyamar lagi? ah sepertinya aku tidak perlu membuang panah cintaku lagi." celetuk seorang pria tampan yang selalu membawa busur dan panah cintanya kemanapun ia pergi. Putra sang dewa perang dan dewi cinta. Eros.
"Sedang apa kau disini anak kecil?" sahut seseorang lagi ikut muncul, sang penguasa siang, siapa lagi kalau bukan Apollo, Dewa matahari.
"Siapa yang kau sebut anak kecil disini, Apollo?" kesal Eros tersinggung.
"Kau belum merasakan kekuatan dari panahku."
"Uhuy, aku takut." Apollo pura-pura ketakutan sebelum meledakkan tawa, "Tapi bohong, tidak ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta justru sebaliknya, para wanita akan tergila-gila padaku." sombong Apollo membuat Eros muak.
"Ouh, baiklah." angguk Eros dengan senyum mencurigakan.
"Aku sudah cukup yakin kita tidak sedang dalam reuni keluarga." decak Poseidon memotong perdebatan Apollo dan Eros. Ia memandang dua pria itu kesal. Sial, bagaimana caranya mereka menyusulnya sampai ke tempat itu.
"Ah, sampai lupa kan." kekeh Apollo. Perdebatan bersama Eros tadi membuatnya melupakan tujuannya datang ke sana.
"Sudahlah." kesal Poseidon memilih pergi dari sana. Mood-nya sudah hancur sejak tadi, ditambah kedatangan kedua dewa perusuh tersebut semakin merusak segalanya. Poseidon merasa lebih baik ia pergi menjauh sebelum kemarahan menguasainya hingga berakibat mengirimkan monster laut, bahkan lebih parah melempar kedua mahkluk menyebalkan itu untuk digulung ombak.
----
Kabar mengenai kematian Ariadne telah berhembus di Olympus dengan cepat padahal belum ada beberapa jam Ariadne meninggal ditangan Artemis sang dewi bulan. Zeus yang mendengar kematian cucunya cukup kecewa terhadap Artemis akan tetapi setelah mengetahui alasan sebenarnya dibalik tindakan putri kesayangannya membuat amarah Zeus mereda tapi tidak dengan ibu Artemis, Leto sangat tidak menyukai perbuatan putrinya.
"Art, jawab ibu!? Atas dasar apa kau membunuh Ariadne. Tidak taukah kau bahwa dia adalah cucu Zeus, itu tandanya dia juga keponakanmu." omel Dewi Leto kepada Artemis yang baru saja pulang.
"Dia pengkhianat wanita, ibu." bela Artemis.
"Lalu apa pantas kau membunuhnya?"
"Menurutku sudah pantas sekali, ibu."
"Art." marah Leto.
"Aku melakukan ini untuk Dio. Dia adalah saudaraku."
"Apa kau tau apa yang baru saja kau lakukan? Kau membunuh wanita yang dicintai saudaramu, Art. Bagaimana bisa kau mengatakan hal tersebut sebagai pembelaan."
"Itu dia, ibu. Aku hanya membantu Dio mendapatkan cintanya." Artemis mendekati ibunya, "Tolong percaya padaku seperti ayah dan Al mempercayaiku."
Leto menatap Artemis, "Apa yang kau rencanakan, Nak."
"ibu akan tau tidak akan lama lagi."
----
Poseidon kembali turun ke bumi setelah memastikan Apollo dan Eros tidak akan lagi menganggunya. Tujuannya kali ini adalah kediaman Baron Deracles untuk menyamar sama seperti hari-hari sebelumnya. Poseidon tersenyum, ia hendak merubah wujudnya akan tetapi sebuah suara langsung menahan gerakannya yang ingin berubah wujud menjadi Apollo.
"Aha, tertangkap basah kamu." celetuk Apollo mengagetkan Poseidon ditempatnya berdiri.
Tingkah Apollo barusan berhasil membuat Poseidon mendengus kesal. Ia menoleh, menatap tampang sang dewa matahari yang seperti belum puas menertawai dirinya sejak tadi.
"Hey, apa yang mau kau lakukan. Tidak bosan apa tiap hari menyamar atau wajahku terlalu tampan hingga kau lebih suka menggunakan pesonaku hm?"
"Diamlah." decak Poseidon membalikkan badan, berniat untuk kabur lagi tapi sebuah suara menginterupsi, membuat Poseidon menghentikan langkah kakinya.
Sementara itu,
Hari sudah sore ketika Cathy membawa Bella jalan-jalan keluar rumah. Kedua gadis beda generasi itu saling bergandengan tangan mengunjungi taman yang terletak dihalaman depan kediaman Baron Deracles.
Sudah hampir dua bulan Cathy menghabiskan waktunya tinggal di kediaman Baron Deracles dan banyak bermain bersama Bella. Gadis kecil itu menngingatkannya pada ketiga adiknya yang masih kecil di Seoul. Sungguh, ia sangat merindukan adik-adiknya yang mungkin tidak akan pernah ia temui lagi seumur hidupnya.
"Bibi, mau tidak tinggal bersama Bella selamanya?"
Cathy tersenyum, "Bibi sangat ingin tinggal dengan Bella tapi sayang, Bibi tidak bisa tinggal lebih lama disini karena harus menyelesaikan tugas dulu."
"Kalau nanti tugasnya sudah selesai mau kan tinggal bersama Bella?" polos Bella memandang Cathy penuh harap.
Huh, lihatlah betapa lucunya gadis kecil seperti Bella hingga membuat Cathy mungkin akan luluh dengan permintaan manisnya.
"Kita lihat nanti ya, sayang." balas Cathy tesenyum dibalas anggukan penuh semangat oleh Bella. Pandangan gadis itu lalu tertuju pada satu objek yang menarik perhatiannya.
"Paman tampan." Teriak Bella berlari menghampiri salah satu dari dua pria yang terlibat pembicaraan dalam jarak tidak cukup jauh dari tempat keduanya berjalan menyusuri taman bunga.
Kedua pria tersebut yang adalah Apollo dan Poseidon menoleh bersamaan. Diluar dugaan Bella justru berlari memeluk Poseidon yang langsung menyambut pelukan Bella, membawa tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongan hingga membuat Cathy mengernyit binggung melihatnya.
"Paman kenapa baru datang, Bella rindu." Bella mengerucutkan bibirnya lucu.
Poseidon adalah sosok perwujudan lelaki yang dikenal oleh Bella dikamar Cathy selama ini. Dimata Cathy Poseidon adalah Apollo namun sihir mengubah wujud sang dewa laut hanya bereaksi pada pandangan Cathy saja sementara pandangan orang lain seperti Bella yang tidak sengaja melihatnya, memandangnya tetap pada wujud asli yaitu sebagai Dewa laut.
"Astaga, siapa nama anak manis ini?" sahut Apollo bertanya. Ia ikut gemas melihat si kecil Bella, sangat berbeda dengan Cathy yang masih mencerna apa yang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi disana.
Cathy melangkah mendekati ketiganya. Ia harus segera menemukan jawaban untuk pertanyaan sulit ini, dan yang bisa menjawab semuanya adalah salah satu dari mereka bertiga.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Cathy menarik perhatian Apollo dan Poseidon.
Keduanya sama-sama terkejut, tidak menyangka akan kehadiran Cathy disana bersama Bella. Apalagi saat ini Cathy memergoki Bella dipelukan Poseidon, padahal pria yang seharusnya dikenal oleh Bella adalah Apollo, bukan Poseidon.
"Bagaimana bisa kau mengenal Bella?"
Belum sempat menjawab pertanyaan pertama. Cathy sudah melayangkan pertanyaan kedua yang sama-sama menuntut jawaban sesegera mungkin.
"Jawab!" desak Cathy.
"hm, sepertinya aku harus melakukan tugasku dulu." pamit Apollo mengarahkan pandangan ke arah sinar mentari dimana ia harus berganti tugas dengan Artemis.
Apollo tersenyum mengacak surai Cathy, "Rhea, aku pergi dulu ya, aku akan kembali." pamitnya lalu menghilang.
Pada dasarnya, pergantian waktu yang akan ia lakukan hanyalah peralihan dari masalah sebenarnya. Apollo hanya tidak mau bertanggung jawab untuk masalah Poseidon. Biarlah itu semua menjadi tanggung jawab Poseidon, toh salah pria itu kenapa tidak jujur saja dari awal.
----
To Be Continue....