The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Siap Untuk Pergi



Cathy tengah menyibukkan diri dengan rajutan bunga di taman istana Poseidon ketika Hera mendatanginya.


"Apa hanya itu kelebihanmu, manusia biasa?" sindir Hera berpangku tangan dengan tatapan mengejek.


Kepala Cathy menengadah ke atas memandang Hera, sang tamu tak di undang sekaligus tak dia harapkan kehadirannya sampai kapanpun.


Cathy diam. Memilih mengabaikan Dewi Hera yang dia tau tidak menyukai dirinya bahkan tanpa alasan memiliki niat untuk membunuh dirinya. Sungguh, Cathy sampai sekarang tak diberitahu penyebab Dewi Hera yang begitu membenci dirinya.


"Aku tak mengerti dengan jalan pikir Poseidon. Mengapa dia begitu bodoh." sambung Hera tak kunjung mendapatkan balasan dari Cathy. Sang Dewi seperti tak di anggap di sana.


"Apa kau pikir Poseidon sudah bisa kau taklukkan?"


Perkataan Hera kali ini berhasil menarik perhatian Cathy. Nada meremehkan dalam suara sang Dewi membuat Cathy muak hingga ingin rasanya ia menjambak Hera karena kesombongannya itu.


"Apa Ratu para dewa memang seperti ini?" tanya Cathy, "Suka mengusik ketentraman dengan ucapan tak pantas? Hm sang Dewi dengan mulut tak punya akhlak." lanjutnya.


"Apa katamu?" geram Hera.


"Lupakan saja! karena aku juga sedang sibuk untuk meladeni tamu seperti anda."


"Kau besar kepala ya karena suamimu adalah Poseidon."


"Bahkan jika suamiku adalah Apollo aku pun akan tetap seperti ini. Mungkin anda saja yang tidak mengenalku dengan baik, Dewi."


"Ck! Kita lihat saja apakah kau masih akan tetap sombong jika tau kebenaran tentang suamimu. Apa kau pikir dia cukup denganmu saja?"


"Jangan membohongiku."


"Ck! Sudah ku duga kau tidak akan percaya. Wajar saja tapi kau tau juga kan Hades yang bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia bawah tetap bisa berselingkuh apalagi Poseidon yang selama ini kita tau tabiatnya seperti apa."


Cathy terdiam..


"Kalau kau tidak percaya. Aku bisa membuktikan kebenaran dari ucapanku."


Cathy ingin menolak namun dia juga merasa perlu membuktikan sendiri. Jika perkataan Hera salah maka dia akan membuat sang Dewi tuk berhenti mengusik kehidupannya.


"Baiklah."


Yang terjadi selanjutnya adalah Hera membawa Cathy menuju suatu tempat asing yang baru di datangi oleh Cathy. Disana terlihat seorang pria yang sangat ia kenal tengah memperhatikan seorang wanita dari kejauhan, dan wanita itu kalau tidak salah adalah Demeter, ibu Persephone.


"Sekarang apa kau sudah percaya? Poseidon adalah dewa kuat dan tangguh, sang penguasa lautan. Apa kau pikir dengan segala yang mampu dia dapatkan di dunia, dia akan bertahan pada satu wanita? Tidak mungkin, kau saja yang terlalu naif."


----


Seluruh dunia Cathy serasa hancur, remuk seketika. Kebahagiaan yang sempat terukir seketika sirna, tenggelam oleh kekecewaan yang kini ia rasakan. Lelaki yang dia cintai ternyata mengkhianatinya. Ini jauh lebih sakit dari racun apapun.


Dan disaat seperti ini, hanya Apollo yang Cathy butuhkan karena pria itu paling mengerti dirinya. Sepanjang perjalanan menuju istana si kembar, Cathy menangis. Apollo satu-satunya yang ia butuhkan saat ini.


"Rhea." sambut Apollo berpapasan dengan Cathy didepan pintu. Sang dewa matahari terlihat panik melihat air mata membasahi wajah cantik Cathy. Tidak! Ia paling tak menyukai hal tersebut.


"Ada apa denganmu, mengapa kau menangis? Katakan padaku siapa yang menyakitimu!?"


"Dia mengkhianatiku, Al." adu Cathy.


"Apa maksudmu, Rhea?" tanya Apollo.


"Apollo! Jalankan tugasmu!" titah Zeus muncul tiba-tiba dan langsung melayangkan perintah.


Apollo memalingkan wajah menatap ayahnya. Ia tak punya pilihan lain saat itu. Tugasnya menanti. Sial! Kenapa juga peperangan Troya harus melibatkan dirinya dan Artemis padahal mereka ingin diam saja sebagai bentuk hukuman atas perlakuan Troya pada Cathy. Jika bukan karena sumpah. Apollo dan Artemis tentu akan mundur.


"Rhea, tunggu aku! Jangan kemana-mana." pesan Apollo sebelum melangkah pergi meninggalkan Cathy yang mengangguk dalam kesedihan yang tak tertahankan.


Kini, tertinggal Cathy sendiri disana. Zeus telah pergi bersama Apollo, memastikan sang putra melakukan tugasnya dengan baik.


"Arrrkhhh kenapa ini harus terjadi padaku!!" teriak Cathy frustasi.


Pilihan untuk bertahan adalah kesalahan besar yang pernah ia ambil. Mungkin benar jikalau dia sudah seharusnya mengembalikan semua seperti sedia kala. Cathy mungkin masih ada dalam dirinya, dan terjebak dalam kegelapan.


"Sayang." suara Poseidon terdengar membuat tubuh Cathy membeku.


Poseidon tiba dihadapan Cathy. Alisnya menyatu melihat istrinya menangis, "Kamu menangis lagi?"


Ck! Rasanya Cathy ingin tertawa terbahak-bahak. Pintar sekali suaminya bersikap seolah sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Tak tau kah bahwa Cathy muak melihat itu semua.


Poseidon mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Cathy namun ditepis kasar oleh Cathy berhasil membuat Poseidon kebingungan.


"Kau masih bertanya padaku hah?" marah Cathy.


"Aku tak mengerti, sayang. Kenapa kamu marah?"


"Aku tidak marah. Aku sakit, dan kau penyebab dari kesakitan ku. Satu-satunya orang yang tak pernah ku harapkan akan menyakitiku sampai seperti ini." teriak Cathy meluapkan segala emosi yang tertahan sejak tadi.


Poseidon hanya bisa terdiam. Sungguh tak paham dengan perkataan Cathy. Apa yang sudah ia lakukan sampai menyakiti istrinya.


"Kau sudah berjanji untuk tidak pernah menyakitiku, tapi yang ku lihat hari ini kau bersama wanita lain."


"Siapa yang mengatakan hal itu? Aku mencintaimu, aku bersungguh-sungguh akan pernyataanku. Tak ada wanita lain, Asthrea."


"Cukup!" amuk Cathy, "Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri bersama Hera. Jangan berbohong karena itu akan semakin membuatku muak."


"Tunggu disini! Aku akan menyeret Hera dibawah kakimu." seru Poseidon berjalan pergi.


Sepeninggalnya Poseidon. Cathy menjatuhkan diri karena tak kuat lagi menopang tubuhnya. Hari ini adalah hari paling melelahkan sepanjang hidupnya. Cathy kalut antara harus mempercayai perkataan Poseidon atau Hera namun kenyataan yang terpampang didepan mata juga fakta bahwa suaminya dapat berubah wujud apapun sangat menohok hatinya.


"Cathy, apa kau masih disana? Tolong jawab aku!" lirihnya.


Cathy menunggu namun tak ada jawaban apapun. Ia berdiri, satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah mendatangi Oracles kuil delphi. Mungkin disana ia akan mendapatkan jawaban yang ia mau.


"Ratu Cathyrene." sambut para Oracles menunduk menyambut kedatangan Cathy yang mereka kenal sebagai Ratu dari sang penguasa lautan, Poseidon.


Tanpa bertanya lebih lanjut lagi. Mereka menuntun Cathy masuk untuk menemui pendeta tertinggi kuil karena jauh sebelum kedatangan Cathy, mereka juga telah mendapat penglihatan.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusan tersebut? Langkah gegabah yang di ambil bisa saja akan membawa pada penyesalan."


"Tidak akan. Aku ingin pulang, katakan padaku apa yang harus ku lakukan?" tanya Cathy membulatkan tekat.


Oracles dihadapan Cathy tersenyum, "Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan terakhirmu."


Sementara itu,


Poseidon benar-benar tidak dapat mengontrol emosinya ketika memasuki ruang utama Olympus dimana para dewa tengah berkumpul terkecuali Apollo yang tengah menjalankan tugas.


Klekk


Tanpa bertanya atau sekedar basa basi Poseidon mencekik leher Hera, "Kali ini kejahatan apa apalagi, Hera!? Tidak cukup kah perbuatanmu selama ini."


"Ck! Jadi istrimu sudah mengatakannya padamu ya sampai kau berlaku seperti ini, Aiden."


"Jawab pertanyaanku! Atau aku tidak akan segan membunuhmu, tak peduli apapun statusmu disini."


"Apa yang terjadi?" tanya Demeter memasuki ruang Olympus langsung saja menarik perhatian yang lain.


"Bagus! Puncak masalahnya telah datang. Demeter, sekarang katakan apa yang kalian lakukan tadi?"


Wajah Demeter berubah panik. Ia memandang sekeliling dimana para Dewa Dewi lain juga tengah menatapnya serempak seakan menunggu.


"Kalian berselingkuh kan? Tidak heran. Demeter, bagaimana rasanya tidur dengan kakak beradik ini huh? Apa besok kau akan mencoba menggoda menantumu juga?"


"Hera!!" kali ini bukan  Poseidon yang meledakkan emosinya melainkan Zeus yang dari tadi hanya diam saja dari singgasananya memperhatikan tingkah Hera.


Demeter menggeleng lemah. Sepertinya ada kesalahpahaman disini dan Hera benar-benar sangat bodoh jika menuduh Poseidon lah yang tengah bersamanya dan melupakan fakta bahwa Zeus, salah satu putra kronos juga bisa berubah wujud seperti Poseidon.


"Hera, dari mana kau bisa berpikir kalau Poseidon selingkuh dengan Demeter? Karena sejak kemarin Poseidon bersama dengan kami." sahut Athena.


"Diantara para dewa hanya ayah dan Poseidon yang bisa berubah wujud, bukan?" sambung Artemis.


"Apollo juga bisa berubah wujud itu karena Zeus, ayahnya memiliki anugerah itu." celetuk Leto mengingatkan Artemis yang dibalas anggukan kepala oleh sang Dewi Bulan.


"Jadi maksudmu Apollo yang melakukannya."


"Untuk apa?" balas Apollo entah sejak kapan sudah berada disana. Dia sedikit menyerahkan nada tak terima ketika mendapati dirinya di curigai. Oh astaga, untuk apa juga dia menggoda ibu Demeter, lebih baik dia turun ke dunia bawah dan menggoda Persephone, toh yang dia dengar hubungan Hades dan ratunya sedang tak harmonis.


Demeter menatap Zeus, "Sampai kapan kau akan diam saja ditengah kesalahpahaman ini.?" tanyanya berharap Zeus akan menjelaskan bahwa yang dilihat oleh Hera adalah suaminya sendiri.


Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Zeus adalah salah satu dewa pengecut namun sangat gampang jatuh hati tapi dia tidak dapat bersikap tegas atas Hera, istrinya yang pencemburu dan telah menjadi penyebab beberapa kekacauan dan penderitaan para wanita yang terjerat cinta sang dewa petir.


"Yang kau lihat waktu itu sebagai Unicorn adalah aku. Waktu itu aku sengaja menyamar sebagai Poseidon agar bisa bicara dengan Demeter."


Bagai terserang jutaan jarum yang menusuk tepat di jantungnya, Hera terdiam tak mampu berkata apapun ketika mendengar pengakuan dari Zeus langsung.


"Sekarang sudah jelas kan! Karena ulahmu istriku salah paham. Aku minta saat ini juga kau ikut denganku dan perbaiki perbuatanmu."


"Tidak! Untuk apa aku ke sana." bantah Hera.


"Sudah terlambat, Aiden!" seru Apollo tiba-tiba membuat Poseidon mengalihkan pandangan ke arah dewa matahari, "Dia sudah pergi." lanjutnya.


Apollo mengatakan itu semua karena dia dapat merasakan sebuah perasaan kehilangan dalam dirinya. Sesuatu serasa di renggut darinya.



Disinilah Cathyrene berdiri. Di sebuah tebing tempat Cathyrene mengakhiri hidupnya. Ia tertawa miris karena pada akhirnya ia juga akan berakhir seperti Cathy, meninggalkan dunia ini karena patah hati oleh pria yang sama.


"Jika kau ingin pulang, pergilah ke tempat pertama kali menuntunmu datang ke sini."


Ia telah menuruti perkataan Oracles Delphi sampai sejauh ini. Kali ini ia telah bersumpah tidak akan mundur lagi.


"Aku mencintaimu, Aiden."


Kedua matanya terpejam. Perlahan melangkah menuju ujung tebing sebelum melompat. Semoga dengan begini ia akan mengembalikan semuanya karena tidak ada alasan lagi untuknya bertahan.


"Astrhea!!"


Suara petir membludak bersamaan dengan kedatangan Poseidon dan Apollo. poseidon bergerak menuju ujung tebing menyusul Cathy yang telah melompat.


----


Tbc