
Sepeninggalnya Apollo. Cathy melemparkan pandangan ke arah Poseidon dengan Bella dalam gendongan pria itu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan masih berusaha mencerna hal-hal yang mungkin ia lewatkan.
"Bella," panggil Cathy tak di gubris oleh Bella yang terlihat ingin berbicara dengan Poseidon.
"Paman Al kenapa jarang datang?" manja Bella dengan bibir mengerucut lucu.
Paman al?
Cathy sungguh binggung, tak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi akan tetapi ia pun tidak bodoh untuk sekedar menarik kesimpulan. Poseidon, sebagai dewa tentu terkenal dengan kemampuan diluar bayangan manusia biasa pada umumnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa selama ini Poseidon..
Oh tidak! Ia tidak ingin seperti Cathy yang terlalu over percaya diri akam kecintaannya terhadap Poseidon jadi sama sekali hal yang mustahil jika dugaannya adalah suatu kenyataan yang di lakukan oleh seorang dewa seperti Poseidon akan tetapi semua kemungkinan itu hanya mengarah pada Poseidon.
"Jadi selama ini kau menipuku?" amuk Cathy pada Poseidon.
"Bukan begitu." bela Poseidon sejak tadi menatap Cathy. Entah mengapa ia berubah menjadi pria bodoh yang kehabisan kata-kata didepan Cathy. Itu bukanlah dirinya yang sebenaranya.
"Terus apa?" tuntut Cathy dengan emosi yang meluap-luap, "Sini, berikan Bella kepadaku." pinta Cathy mengulurkan tangan, hendak mengambil alih Bella namun tak mendapatkan ijin dari Poseidon.
Oke, mereka saat ini terlihat lebih mirip dengan orangtua yang tengah merebut hak asuh anak.
"Tidak, Bella tetap disini, begitu pun dengan dirimu!" tegas Poseidon menahan Bella.
Gadis kecil polos sama sekali tidak memahami perilaku otang dewasa di hadapannya cuma bisa diam dengan bibir mengerucut ketika di perebutkan oleh keduanya.
"Tidak mau. Bella akan bersamaku."
"Bella tetap disini."
"Kau maunya apa sih!?"
"Aku mau kau tetap disini dan mendengarkan penjelasanku!"
"Ck! Semuanya sudah cukup jelas untukku. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi mulai sekarang."
"Cathy."
"Jangan sebut namaku!" amuk Cathy mengulurkan tangan, mengambil paksa Bella dari pelukan sang dewa laut yang tak dapat lagi berbuat apa-apa selain membiarkan Bella berpindah tangan.
"Bibi Cathy kenapa marah? Kasihan paman Al." cemberut Bella menatap Poseidon sedih. Si kecil Bella hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dihadapannya ikut menjadi korban pertengkaran yang terjadi tepat dimatanya
"Tidak, Bella. Dia bukan paman Al. Ayo sekarang kita masuk." balas Cathy melirik Poseidon sekilas sebelum melenggang masuk ke dalam rumah.
Sial! Runtuk Cathy dalam hati begitu marah mengetahui bahwa selama beberapa hari lalu dirinya di tipu oleh Poseidon. Pria itu telah dengan berani membohongi dirinya dengan berpura-pura menjadi Apollo, membuat perasaannya sering campuk aduk hingga dirinya sendiri pun tak mengerti akan perasaan yang ia rasakan.
Sekarang, pertanyaan lain muncul. Tentang siapa yang membuatnya nyaman beberapa hari lalu??
Sekuat tenaga Cathy telah bersumpah tidak akan menjadikan kebodohan Cathy yang dulu sebagai acuan masa kini namun semua diluar kendali.
----
Cahaya bulan pada malam hari ini sangatlah Indah ditemani taburan bintang di angkasa ketika Artemis mendudukkan dirinya dibawah pohon selepas melakukan tugasnya.
Kesedihan terpeta jelas diwajah cantik Artemis kala mengingat kembali perkataan ibunya yang marah karena tindakan gegabah yang dilakukan olehnya hingga merugikan saudaranya, Dionysus.
Tidak ada rasa bersalah sedikitpun dihati Artemus tentang apa yang ia lakukan untuk Dionysus. Dia memiliki tujuan mengapa sampai berbuat hal tersebut akan tetapi ibu dan saudaranya sama sekali tidak mau mendengarkan dirinya dan malah ikut menyalahkan dirinya. Sungguh, Artemis seperti tidak mengenal keluarganya sendiri.
"Lana." panggil Orion tiba-tiba, mengejutkan Artemis yang sama sekali tidak menyadari kedatangan pria itu padahal dia paling waspada dibanding Apollo
"Harus berapa kali ku katakan, namaku Artemis bukan Lana, kenapa kau selalu memanggilku Lana, Lycan.?" protes Artemis.
"Harua berapa kali juga ku bilang, kalau Lana itu adalah cahaya bulan. Kau adalah bulan itu sendiri, mengapa kau keberatan aku memanggilmu Lana?"
"Lycan." tekan Artemis.
"Lana." panggil Orion lembut.
Artemis mendengus. Dirasa percuma memprotes Orion, toh pria itu tidak akan mau mendengarnya. Orion tetaplah Orion dengan segala sifat keras kepala yang tertanam di kepala pria itu.
"Ada apa? Sepertinya Lana ku sedang bersedih?" tanya Orion.
Artemis menoleh sekilas ke arah Orion namun ia tetap enggan membuka suara meski sekedar menjelaskan kenapa ia bersedih malam ini pada Orion.
"Tidak ada hal yang bisa membuat seorang Dewi sepertiku bersedih." balas Artemis dengan gaya angkuh yang dibuat-buat.
Orion terbahak, "Benarkah? Lalu siapa yang hampir menangis karena aku terluka kemarin?"
Kedua mata Artemis terbelalak. Tidak menyangka bahwa Orion akan mengungkit kejadian beberapa waktu lalu dimana ia begitu panik ketika melihat keadaan Orion yang terluka parah karena dirinya.
"Lycan." protes Artemis hendak memukul punggung Orion tapi buru-buru ditahan oleh pria itu.
"Jangan bersedih lagi, Lana. Tetaplah tersenyum karena aku menyukai saat melihatmu bahagia."
Artemis mengulum senyum. Orion memang paling tau bagaimana menghibur dirinya dari masalah yang tengah ia alami ketika tidak ada satu pun yang dapat mengerti dirinya.
"Terima kasih, Lycan."
Orion mengulurkan tangan, menyapu pipi Artemis penuh kasih sayang, "Sama-sama, Lana."
Sementara itu diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda. Apollo mendatangi Dewi leto setelah mendapatkan panggilan dari ibunya tersebut.
Semua kebenaran telah terungkap membuat Leto sangat bahagia. Segala kecurigaan membuktikan bahwa apa yang ia pikirkan selama ini benar. Dan sekarang, masalah baru lahir hingga membuatnya harus mencari jalan keluar terbaik.
"Ibu dengar Poseidon sedang mendekati Rhea. Apa itu benar, Al?" tanya Dewi Leto memastikan.
"Dari mana ibu tau?"
"Ibu tau semuanya, Al. Bahkan ketika Poseidon harus menyamar menjadi dirimu agar Rhea bisa menerima kedatangannya pun ibu tau." jelas Sang Dewi membuat kedua mata Apollo membulat sempurna.
Apollo mengangguk, "Itu benar, Ibu. Tapi sekarang keadaan menjadi rumit karena Rhea marah besar. Ia merasa dibohongi oleh Poseidon." cerita Apollo.
Dewi Leto membalikkan badan, menghadap ke arah Putranya yang sangat tampan dan mempesona.
"Hal itu wajar, Al. Semua wanita akan marah jika bodohi oleh orang yang ia sayangi."
"Maksud ibu?"
"Mungkin jika Rhea bersama Poseidon, maka dia akan selamat dari amukan Hera."
Perkataan Dewi Leto sama sekali tidak menjawab pertanyaan Apollo. Pria itu merasa ibunya tengah berbicara hal yang tidak dapat ia pahami.
"Itu bukan ide yang Bagus, ibu." protes Apollo.
Selama ini ia tidak melarang ketika Poseidon menyamar sebagai dirinya meski dia tau tapi itu juga tidak berarti ia memberikan persetujuan untuk Poseidon menyakiti hati Cathy lagi. Segalanya yang ada di masa lalu sudah cukup meyakinkan Apollo bahwa Poseidon tidak layak mendapatkan Cathy.
"Apa kau lupa penderitaan yang di alami oleh ibu karena ulah Hera?"
Apollo terpejam. Ia tentu saja tidak akan melupakan kejadian tersebut. Bahkan sampai saat ini dirinya masih menyimpan amarah untuk Hera yang telah menyebabkan ibunya menderita dan kesulitan mencari tempat untuk melahirkan. Hera yang cemburu membuat semua tanah menjauhi Leto. Tetapi, Leto akhirnya bisa menemukan tempat untuk melahirkan Apollo dan Artemis, yaitu di pulau Delos.
Apollo dan Artemis merupakan dewa yang kuat dan selalu melindungi ibunya. Apollo bahkan mampu membunuh makhluk yang dikirim Hera di usia masih sangat muda, dan ketika raksasa Titios mencoba memperkosa Leto, Titios dibunuh oleh Apollo dan Artemis. Menjadi ibu dari dua dewa yang kuat, membuat Leto bisa kembali bersama para dewa di Olympus setelah pengasingan akibat ulah Hera.
"Tidak, ibu." gumam Apollo.
"Itulah yang ibu takutkan terjadi pada Rhea."
----
Dionysus telah melanggar segala aturan sejak memutuskan menyusul Ariadne ke dunia bawah. Dia begitu mencintai gadis itu hingga rasanya tidak sanggup dipisahkan dengan Ariadne.
"Dio." lirih Ariadne melihat Dionysus.
"Tolong hentikan penghakiman terhadapnya dan biarkan dia kembali ke sisiku."
Persephone menoleh ke asal suara, ia menemukan salah satu saudara seayahnya berdiri disana hendak menarik seorang gadis cantik yang akan di adili di pengadilan Hades.
"Tapi dia telah mati dan bagi orang-orang yang sudah mati, tempatnya adalah disini." balas Aikos, salah satu dari tiga hakim Hades.
"Aikos." tegur Persephone membuat Aikos langsung menundukkan kepala, menghormati sang Ratu.
"Apa yang terjadi?"
Sebuah suara berat menginterupsi perdebatan yang terjadi didepan istana. Hades muncul disana usai menyelesaikan tugas di Tartaros.
"Yang mulia." tunduk para hakim dan para penjaga disana kecuali Persephone dan Dionysus.
"Mohon bantuan, Yang mulia untuk memutuskan hukuman bagi wanita ini, karena Ratu tidak mengijinkan kami melanjutkan penghakiman."
"Lakukan! Mulai penghakimannya sekarang." putus Hades mutlak.
Sang penguasa kegelapan dunia bawah itu lalu berjalan menuju meja hakim, berdiri dengan gagah menunjukkan kekuasaan yang ia miliki di atas ketiga hakim yang bertekuk lutut di bawah kakinya.
Minor tersenyum puas. Ia mulai menarik salah satu gulungan kehidupan Ariadne sebelumnya dan mulai membacakan dosa yang dilakukan gadis itu.
Persephone secara diam-diam menghampiri Dionysus. Mereka adalah saudara, meski tidak cukup dekat, tapi Ariadne sempat beberapa kali bertemu, bertegur sapa dengan sang dewa anggur yang selalu bersikap ramah kala berbicara bersama, setidaknya tidak seperti Apollo dan Hermes yang kerap kali menggodanya tiap kesempatan.
"Dio, sepertinya kita harus mencari jalan lain jika mau membantu gadis itu." bisik Persephone.
"Cara apa, Persephone?" tanya Dionysus frustasi. Ia sendiri binggung harus melakukan apa.
"..... Membunuh, mengkhianati saudara dan menjadi penyebab kematian saudaranya sendiri." suara Minor terdengar membacakan kesalahan Ariadne semasa hidup.
"Kesalahan yang tak dapat ditoleransi." Hades berkomentar.
"Tidak bisa begitu." protes Persephone.
Hades menolehkan kepala mencari asal suara yang terdengar begitu jauh dari jangkauannya.
"Persephone, sedang apa kau disana, sayang. Kemarilah!" titah Hades mengulurkan tangan dengan tatapan tak bersahabat tertuju pada Dionysus.
Persephone mendekat, menuruti perkataan Hades untuk berdiri disisinya, "Apa kau tidak bisa melihat kesungguhan Cintanya. Dio sangat mencintai wanita itu dan itu membuatku ingin menangis." bela sang Ratu.
"Oh tidak, sayang. Pengambilan keputusan di pengadilan hukum dunia bawah tidak sepatutnya menggunakan perasaan. Yang bersalah tetaplah harus di hukum sesuai dosa yang dilakukan."
"Kau tega memisahkan mereka." lirih Persephone menangis.
Inilah saat yang tepat!
Persephone memandang Dionysus seakan memerintahkan pria itu untuk menggunakan senjata terakhir mereka.
Dionysus mendengus sebal. Terkutuklah Artemis jika sampai rencana mereka gagal. Persephone yang polos dan lugu bahkan telah masuk dalam jebakan mereka.
"Sebagaimana kau yang tidak ingin dipisahkan dengan Persephone. Begitu pun denganku, Hades. Aku tidak akan dapat lagi memikirkan tugasku jika sampai kau melempar Ariadne ke Tartarus." ucap Dionysus. Sial! Dirinya tidak cukup berlatih sebelum menghadapi hari ini.
Hades terdiam cukup lama. Hal tersebut membuat Persephone dan Dionysus menunggu dengan gelisah tentang keputusan terakhir yang akan diambil oleh Hades.
"Artemis yang melakukan ini semua, bukan?" tanya Hades kemudian. Dilihatnya Dionysus mengangguk sebagai jawaban. Hades menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar,
"Aku akan melepaskan Ariadne tapi selanjutnya kau akan berurusan dengan Zeus." putus Hades sukses besar membuat ketiga hakim dan para penjaga terkecuali Thanatos terkejut. Thanatos sudah tau bahwa sang Raja kegelapan tidak akan pernah bisa menolak keinginan sang Ratu.
Hades melakukan semua ini bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin membalaskan jasa titan atau dewi Leto terdahulu yang pernah menyelamatkan hidupnya dari serangan kronos saat peperangan terjadi. Jika dia tetap menghukum Ariadne, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perselisihan antara anak titan Leto dan Dionysus. Dan Hades tidak punya banyak waktu untuk menerima dampak kejadian itu nantinya.
"Terima kasih, Hades."
----
"Jadi sekarang kau membelanya setelah apa yang ia lakukan terhadapku, Al?"
"Aku tidak bermaksud membelanya, Rhea. Sebagai keponakan yang baik aku hanya mencoba untuk membantu masalah pamanku."
Perdebatan diantara Apollo dan Cathy benar-benar tak terhindarkan. Untuk pertama kalinya mereka berdua bertengkar hanya karena Apollo meminta Cathy untuk mendengar penjelasan Poseidon sekali saja jika mereka bertemu.
"Masalahnya bukan masalahku, Al. Dan aku tidak mau direpotkan karena berhubungan dengannya."
"Rhea, tolong dengarkan aku kali ini."
Cathy menggeleng keras, "Tidak, Al. Kaulah yang harus mendengarkanku kali ini."
"Setiap perbuatan pasti ada alasannya, Rhea. Aku hanya memintamu mendengar alasan yang akan ia katakan. Selepas kau mau menerima atau tidak, itu terserah padamu dari pada nanti ujungnya kau marah tanpa sebab, dan mengacaukan tugasmu selama berada disini." nasihat Apollo.
Cathy pada akhirnya terdiam, kehabisan kata untuk membalas Apollo membuat sang dewa matahari merasa menang dalam perdebatan kali ini karena telah berhasil membuat lawannya tak berkutik. Sekarang tinggal menembakkan serangan terakhir.
"Coba dengarkan dulu. Kau boleh marah, mencakar bahkan membunuhnya setelah itu. Semua terserah padamu."
"Apa boleh?" tanya Cathy tertarik mendengar usulan Apollo barusan.
"Boleh apa?" binggung Apollo gagal paham.
"Membunuhnya?"
Apollo terkekeh, "Coba saja! Tapi Poseidon akan menjadi dewa pertama yang mati ditangan wanita jika itu sampai terjadi." jawabnya sembari membayangkan kejadian tersebut dalam kepalanya.
----
Tbc