
Apollo kembali ke gunung Olympus untuk menemui Persephone yang lebih sering menghabiskan waktu bersama Athena dan Artemis. Ide Poseidon membawa Cathy ke dunia bawah bukan ide yang bagus walau sebenarnya tujuan Poseidon mulia.
Sesampainya di ruang utama Olympus. Apollo melihat ketiga wanita cantik tengah berdiri melingkari sebuah cahaya yang dihasilkan oleh kekuatan Athena. Apollo mendekat membuat perhatian ketiganya teralihkan.
"Al, bukankah aku menyuruhmu menemui Rhea?" ucap Artemis.
Apollo tidak menjawab, perhatiannya tertuju pada Peesephone. Ketidakhadiran wanita itu di dunia bawah hanya akan mempersulit Poseidon mendapat apa yang dia mau karena pasti suasana hati Hades saat ini sedang tidak dalam mode bisa di ajak kerja sama meskipun Poseidon saudaranya.
"Persephone, apa kau tidak pulang kepada suamimu? Ini sudah waktumu untuk kembali. Ibumu bahkan telah pergi menuju kerajaan Attika."
Persephone mengangkat bahu. Terlihat tak peduli, "Untuk apa? Dia tidak mempercayaiku." balasnya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Athena mendekati Apollo. Melihat wajah Apollo yang tak tenang membuat Athena yakin bahwa ada yang terjadi.
"Poseidon membawa Rhea menuju istana Hades untuk meminta ijin agar bisa menemui Laomedon."
"Apa dia sudah gila?" komentar Athena. Dia tau kalau sang dewa laut suka mengambil tindakan cepat tapi penuh perhitungan namun ini terdengar seperti bukan Poseidon.
"Maka dari itu aku buru-buru datang setidaknya ada yang masih ada yang bisa kita lakukan untuk ikut membantu." balas Apollo melirik Persephone.
Tidak hanya Apollo. Secara serempak, Athena dan Artemis juga mengalihkan pandangan mereka menatap sang Ratu dunia bawah.
"Mungkin sudah saatnya sang Ratu pulang." senyum Athena di angguki oleh Apollo dan Artemis.
"Jadi kalian mau menyuruhku pulang agar Hades menyetujui permintaan Poseidon?" balas Persephone. Ia sudah cukup terlatih untuk mengerti situasi sekitar. Kali ini pembodohan apalagi yang digunakan hingga harus melibatkan dirinya lagi.
"Hades akan selalu menuruti apapun permintaanmu." kata Artemis.
"Mungkin kali ini tidak sejak dia menuduhku terlibat dalam hal membohonginya untuk kasus Dio."
Sementara itu..
"Untuk apa kau ingin menemui Raja angkuh itu?" tanya Hades sesekali melirik perempuan yang turut dibawa serta oleh saudaranya ke dunia bawah yang harusnya tidak bisa di masuki sembarangan bahkan dewa sekalipun tidak semua bisa keluar masuk dengan mudah di daerah kekuasaan sang Raja kegelapan.
"Aku masih punya urusan dengannya." Poseidon membalas.
"Urusan untuk meminta putrinya didepan ayahnya sendiri, begitu maksudmu?" sindir Hades.
"Kau mau memberi ijin atau tidak?" kesal Poseidon.
"Tidak. Itu melanggar aturan."
Cathy dan beberapa makhluk lain disana hanya bisa menjadi penonton perdebatan kedua putra kronos itu. Tidak ada satu pun diantara mereka yang bersedia mendinginkan suasana panas yang terjadi disana. Cathy sendiri terlalu takut melihat sekeliling, meski dalam keadaan gelap tapi Cathy dapat melihat bayangan mengerikan di ruangan tersebut.
Sial! Ini istana Raja atau tempat ajang uji nyali?
Ah ini neraka, batin Cathy tersadar.
"Hanya sebentar saja, Hades." pinta Poseidon. Memohon bukanlah sifatnya tapi hari ini entah mengapa dia melakukannya.
"Apa ini untuk wanita itu?" Hades menatap Cathy tajam membuat Cathy terintimidasi. Ia semakin menyembunyikan dirinya di balik punggung Poseidon.
Menyadari ketakutan gadis dalam genggamannya. Poseidon mendorong, menyembunyikan Cathy dibalik punggung kokohnya.
"Jika aku menjawab apa kau akan berubah pikiran."
"Tergantung."
Bang!
Pintu utama istana terbuka lebar. Wanita cantik lengkap dengan gaun kebesaran yang ujungnya mengeluarkan kobaran api kecil melangkah masuk berhasil menarik perhatian seisi ruangan.
Senyum manis nan cantiknya merekah saat melihat bayangan Cathy dibalik punggung Poseidon. Gaun bewarna silver itu sangat kontras dengan rambut coklat yang tergerai Indah menutupi punggungnya.
Tepat seperti yang dikatakan oleh Apollo sebelum dia memutuskan untuk datang.
Tidak salah lagi, itu adalah Rhea. Gadis kesayangan ketiga saudara-saudarinya.
Rasa penasaran Persephone mengenai gadis bernama Rhea itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk pulang setelah mendapat penglihatan dari Athena mengenai sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh ibu Leto, si kembar dan Athena. Persephone menjadi orang kesekian yang di ajak terlibat didalam rencana besar mereka. Selain Persephone adalah dewi yang bisa diberi kepercayaan, dia juga Ratu dunia bawah, tempat Hades berkuasa.
"Rhea, sedang apa kau disini?" sapanya mendekati Cathy, menarik lengan gadis yang merasa cukup aman berada dalam persembunyian dipunggung Poseidon sampai kedatangan Persephone yang mendadak membuat dirinya ketakutan.
Astaga, apa lagi ini.
Cathy masih terdiam ditempatnya menatap gadis cantik yang wajahnya familiar dalam kegelapan. Kedua mata Cathy semakin menyipit, mencoba mengenali wanita didepannya.
"Aku menyesal tentang kematian ayahmu. Andai saja ada yang bisa ku lakukan." ucap Persephone pura-pura bersedih layaknya seorang teman.
"Tidak apa." balas Cathy. Ia sendiri juga binggung akan jawaban yang dia berikan untuk wanita didepannya.
Persephone mengigit bibir bawahnya dengan perasaan campur aduk. Ia jelas merasakan bahwa kini tatapan suaminya tertuju padanya, seperti ingin menelannya hidup-hidup. Hades pasti marah karena dia menunda kepulangannya.
Tapi, Persephone tidak peduli. Ia masih marah dengan tuduhan suaminya beberapa waktu lalu. Biarkan saja pria itu marah. Dia tidak akan peduli. Persephone hanya harus fokus pada rencana dan semoga saja dia bisa kembali ke gunung Olympus dan membuktikan pada Apollo bahwa perkataannya omong kosong belaka.
"Sepertinya ada. Aku punya kenalan dewa tampan lain yang bisa membantu. Ayo ikut, disini kau tidak akan mendapatkan apapun." ajak Persephone mengenggam tangan Cathy, hendak mengajaknya keluar dari istana.
"Persephone!!" panggil sang Raja kegelapan yang kini di kuasai amarah membuat langkah keduanya terhenti di ambang pintu masuk.
Pegangan pada tangan Cathy terasa semakin kuat. Cathy dapat merasakan bahwa wanita itu juga sama sepertinya, merasa telah melakukan kesalahan tapi bedanya adalah kesalahan Cathy mengiyakan ajakan Poseidon tapi Persephone sepertinya menyesali perbuatannya yang mencoba mengusik Hades.
"Thanatos. Bawa mereka keluar untuk menemui Laomedon." Hades memberi perintah.
Persephone terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa perkataan Apollo dan Artemis menjadi kenyataan. Ide yang dia setujui dan jalankan dengan ketidakyakinan akan keberhasilan itu nyatanya berjalan mulus sesuai rencana Athena.
"Percayalah, Hades akan langsung memberi perintah sebelum kau membawa Rhea keluar dari pintu."
Ucapan Apollo tidak diragukan lagi. Ya, dia adalah dewa ramalan tentu bisa melakukannya dengan baik. Lagi, Persephone terlibat dalam rencana kebohongan. Kali ini benar-benar melibatkan diri dan bukan korban seperti kasus tempo hari.
"Terima kasih." ucap Poseidon mendekat, mengambil kembali tangan Cathy yang sempat terlepas darinya.
Persephone tersenyum membalasnya. Poseidon tidak bodoh untuk menyadari kedatangan Persephone sudah direncanakan sebelumnya. Ini pasti ulah Apollo.
Kepala sang Dewi musim semi menoleh ke menatap Hades yang kini berdiri tegak di singgasananya dengan jubah hitam kebesarannya yang selalu membuatnya nampak gagah perkasa. Entah sejak kapan Persephone menganggumi suaminya, ia tidak tau yang jelas pesona Hades tidak bisa dia tolak.
"Persephone, kemarilah! Aku tidak akan memanggil untuk yang ketiga kalinya." seru Hades lagi membuat bahu Persephone melemas. Rasanya ingin kabur dari sana. Kemarin Artemis, sekarang Apollo. Awas saja kalau dia bertemu si kembar nanti.
"Apa tidak apa kita meninggalkan Dewi itu disana?" tanya Cathy melirik pintu yang kembali tertutup. Didepan ada Thanatos yang menuntun perjalanan mereka berdua.
Poseidon mengeratkan pegangannya sebelum memberi jawaban, "Tentu, ada apa?"
"Laki-laki disana itu sangat arogan. Aku takut wanita itu kenapa-napa."
"Istrinya." ulang Cathy. Astaga, jangan bilang kalau barusan adalah Dewi Persephone?
"Tadi itu Persephone."
Ternyata benar.
Cathy melongo membuat sang dewa laut gemas. Poseidon mengulurkan tangan mengangkat dagu Cathy agar mulut itu tertutup.
"Di sini tidak ada lalat kan?" protes Cathy.
"Tidak ada tapi jiwa kelaparan bisa saja berkeliaran. Kau mau mereka masuk lewat mulutmu karena mengira lubang hitam?"
Kedua mata Cathy membulat sempurna. Ia langsung saja menutup mulutnya rapat.
"Itu dia." tunjuk Thanatos ke arah barisan para roh yang menunggu antrian untuk di adili.
Poseidon dan Cathy mengalihkan pandangan mereka bersamaan. Wajah cantik yang semula mengerucut kini terlihat berkaca-kaca mendapati ayahnya yang begitu gagah, beribawa kali ini terlihat menggunakan jubah kusut, tak layak digunakan oleh seorang Raja.
Benar adanya. Segala yang ada didunia bersifat sementara, sebanyak apapun harta, emas yang dimiliki itu tidak akan dibawa mati. Miskin, kaya, seorang Raja bahkan rakyat, semua akan setara di alam kematian.
"Ayah." panggil Cathy menghampiri ayahnya yang terlihat terkejut akan kehadiran sang Putri disana.
"Cathyrene." panggilnya melihat ke arah belakang Cathy dan menemukan Poseidon disana. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan.
"Dewa." ia menunduk memberi hormat kepada dewa yang sempat murka hingga memporak-porandakan istananya dengan mengirim monster laut.
Poseidon mengangguk. Ia tidak berniat membalas sapaan Laomedon yang dulu pernah menipunya.
Cathy ingin memeluk ayahnya tapi tubuhnya oleng ke depan menembus bayangan. Cathy menangis, ia tidak bisa memeluk ayahnya karena saat ini ayahnya hanya roh, dan raganya berada di troya dan mungkin sebentar lagi akan dimulai proses pemakaman.
"Sedang apa kau dengan dewa laut ke sini."
"Dia membantuku agar bisa menemui ayah."
Laomedon memberikan senyum terbaik untuk Cathy dengan harapan itu bisa sedikit menghibur Putri kesayangannya setelah kematian Hesione. Kedua tangannya terulur menyentuh pipi Cathy meski hanya berbentuk gumpalan kabut.
"Jangan menangis. Lihat! Kedua tangan ayah tidak bisa menghapus air matamu lagi."
"Maaf." tunduk Cathy. Rasanya ia tidak sanggup mengutarakan hal yang ingin dia ucapkan mengenai kebenaran tentang Cathy yang sebenarnya.
"Berjanjilah kau akan menuruti permintaan Ayah untuk meninggalkan Troya." pinta Laomedon sekali lagi tak mendapatkan jawaban Cathy.
Setelah ini Cathy bahkan tidak tau lagi apa yang diinginkan. Masalah kuil Parthenon, ia tidak berambisi untuk menjadi seorang pendeta, Oracles para dewa. Tidak, ia sudah lelah.
"Bisakah aku hidup sebagai Putri ayah saja di istanaku yang dulu. Kakak pasti tidak akan keberatan."
"Tidak!" ayahnya menggeleng keras. Jelas menolak permintaan Cathy lantas beralih menatap Poseidon.
"Cathy harus meninggalkan Troya. Jika tidak, dia akan menggagalkan rencana para dewa." batin Laomedon berbicara pada Poseidon.
Poseidon menoleh. Jelas terkejut mendengar hal tersebut. Laomedon baru saja berbicara dengannya?
"Waktu kalian sudah habis." ucap Thanatos langsung saja menarik roh Laomedon dan membawanya untuk segera di hakimi.
"Tunggu dulu!" pekik Cathy tidak terima. Ia bahkan belum mengatakan semua yang ingin ia katakan.
Poseidon datang menahan lengan Cathy yang ingin menyusul roh ayahnya, "ayo kembali. Kau sudah terlalu lama berada disini."
"Aku masih mau bicara dengan ayahku, Ai-" perkataan Cathy tak dapat dia lanjutkan lagi karena tubuhnya melemas sebelum kehilangan kesadaran.
"Disini terlalu panas. Raganya tak mampu menahan aura yang dihasilkan tempat ini." ucap Thanatos memberitahu.
Poseidon mengangguk. Dengan cepat ia meraih tubuh Cathy, menggendongnya kemudian membawa tubuh ramping itu keluar dari dunia bawah.
----
Masalah yang terjadi akhir-akhir ini di Olympus sudah cukup membuat Artemis pusing dan kini seolah belum usai segala kegelisahannya Lycan ikut-ikutan membuat dirinya panik setengah mati sampai harus bergegas turun ke bumi padahal ia sedang membicarakan hal penting bersama saudara-saudarinya.
Kepanikan sebelum menuruni bumi berubah menjadi kekesalan saat tau Lycan hanya menipunya. Nyatanya pria itu nampak baik-baik dihadapannya.
Dan yang lebih mengejutkan. Lycan menyatakan cinta dan meminta agar sang dewi mau hidup bersamanya.
Lycan merasa cukup percaya diri saat melihat dengan mata kepalanga sendiei bagaimana Artemis begitu khawatir saat ia membohongi sang dewi bahwa dia sedang dalam bahaya.
"Aku tidak bisa, Lycan." tolak Artemis tanpa berpikri dua kali. Tidak, dia adalah dewi alam liar. Ayahnya telah menganugerahkan kekuatan untuk tetap suci, ia tentu tidak bisa menodai hal tersebut karena jatuh cinta pada manusia biasa.
"Kenapa,?" tanya Lycan kecewa.
"Dunia kita berbeda."
"Apa hanya itu alasannya? Aku tau perbedaan diantara kita berdua adalah kau hidup abadi sementara aku tidak tapi tidak bisakah kita melupakan sejenak perbedaan tersebut dan sama-sama menikmati waktu bersama. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Art."
"Bukan hanya itu saja."
"Lalu apa lagi?"
"Kau tidak akan mengerti."
"Bagaimana aku akan mengerti sedangkan kau tidak berniat memberi pengertian sedikit saja padaku."
"Lycan. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Jika kau menginginkanku maka buang perasaanmu jauh-jauh, kalau tidak aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi. Aku serius." ancam Artemis bergegas pergi tanpa sempat ditahan oleh Lycan.
----
Poseidon membaringkan tubuh Cathy diatas ranjang milik gadis itu di istana Troya. Sang dewa laut duduk di sisi ranjang menatap wajah Cathy sambil memikirkan maksud dari perkataan Laomedon tadi.
Sebenarnya rahasia apa yang tersembunyi dibalik semua ini?
Sebelum hari ini, Dewi Leto mendatanginya juga dan mengatakan hal- hal serupa seperti yang dikatakan Raja Troya terhadapnya.
"Kau tau kan kalau rencana Zeus tidak dapat diubah. Dia akan sangat marah besar jika sampai ramalan tentang Rhea menjadi kenyataan."
Tangan Poseidon terulur merapikan anak rambut Cathy yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu. Dia telah berjanji pada Leto bahwa ia ingin ikut terlibat dalam rencana mereka untuk melindungi Cathy. Ia sudah cukup merasa bersalah karena membuat Cathy menderita selama ini padahal gadis itu tidak sepantasnya menerima hukuman darinya atas dendam masa lalu terhadap Laomedon, ayah, Cathy.
"Asthrea." gumam Poseidon memanggil nama asli gadis itu.
----
Tbc