The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Arcadian



Seluruh penghuni istana utama Troya sama sekali tak dapat mempercayai apa yang baru saja dialami oleh mereka. Kedatangan utusan dewa Poseidon bagaikan mimpi bagi mereka terlebih sang Raja yang tahu dengan betul hubungan Troya dengan dewa penguasa laut itu tidaklah baik sejak penipuan yang dilakukan oleh mendiang Raja terdahulu.


Harus ia akui juga bahwa jumlah harta yang dibawa sangatlah banyak namun nyatanya itu tidak cukup menurut para panglima dan putra keduanya, Paris. Mereka justru menuntut lebih seakan tak merasa berkecukupan.


"Ayah, apa akan diam saja? Sungguh kita sudah jahat. Ku rasa keluarga kita bahkan tidak layak mendapatkan semua ini."


Pertanyaan Hektor berhasil menohoknya yang lagi dan lagi tak mampu menjawab.


Paviliun Cathy telah kosong setelah mereka semua pergi dan mengeceknya sendiri. Tidak ada satupun penghuni disana. Tempat itu bagai ruang kosong tak berarti semenjak ditinggal oleh penghuninya.


"Apa dia akan memaafkanku?" gumam Raja bertanya pada dirinya sendiri.


Rasa bersalah mulai menghantuinya. Dia sendiri yang meminta adiknya untuk tinggal tapi dirinya juga lah yang membuat Cathy pergi dari sana.


"Pikirkan nasib rakyatmu yang tengah berada diambang kehancuran."


"Kau harus bisa memilih salah satu diantaranya. Menyelamatkan satu nyawa atau mengorbankan banyak jiwa tak berdosa. Pilihan ditanganmu, Yang mulia."


"Tidak akan ada yang memikirkan kematian Cathy. Akan ku atur sedemikian rapi. Kau hanya perlu mematuhi perintahku."


Ingatan saat pembicaraannya dengan seorang wanita yang menyebut dirinya Dewi Hera berputar kembali dikepalanya. Sang Dewi menawarkan bantuan besar yang sungguh sayang untuk di tolak.


Benar! Tidak seharusnya dia mementingkan sesuatu dengan mengorbankan banyak hal. Ia hanya berharap semoga Cathy dapat memahami posisinya yang sedang kesulitan saat ini.


----


Hades benar-benar dikuasai amarah ketika mendapati Persephone menyembunyikan Adonis, seorang demigod di kediaman mereka. Ingin rasanya Hades melempar pria itu ke Tartarus detik itu juga tapi sayang Persephone telah mendahului dengan mengirim Adonis menggunakan batu krystal miliknya.


"Haruskah kau membalasku seperti ini, Persephone!" teriak Hades. Ia begitu murka mendapati istrinya menyimpan laki-laki lain dikamar mereka. Sungguh hal yang dilakukan Persephone jauh lebih parah dari yang dia lakukan. Dan ternyata rasanya sangat tidak bisa dijelaskan oleh sang penguasa dunia malam.


"Karena kau mengkhianatiku jadi aku melakukan hal yang sama. Impas kan."


Hades mengeram, "Tidakkah kau memikirkan perasaanku yang harus menahan rindu ketika kau harus bersama ibumu, meninggalkanku sendiri disini. Ya, aku memang melakukan kesalahan tapi itu untuk mengisi waktu saja."


Persephone tertawa mendengarnya. Alasan macam apa yang baru saja ia dengar dari suaminya. Selingkuh tetaplah selingkuh. Beribu kata maaf pun tidak akan mampu menghapus luka dihati Persephone.


"Itu bukan alasan yang dapat ku terima." balas Persephone sengit hendak membalikkan badan tapi suara Hades menghentikan langkah kakinya.


"Lalu apa yang harus ku lakukan? Sampai saat ini saja aku masih bertanya-tanya apakah pernah sedikit saja kau mencintaiku? Aku bertanya-tanya apa kau mengatakan kata yang paling ingin ku dengar kepada Demigod itu? sedangkan aku sebagai suamimu harus hidup menderita dengan pertanyaan yang tak kunjung ku temukan jawabannya."


Persephone menyentuh  dadanya. Entah mengapa dia merasakan sesuatu sayatan tak kasat mata disana. Ia hanya tidak ingin menjadi seperti ibunya yang mencintai satu pria namun tak dapat menjadi satu-satunya dihati pria yang disebut sebagai ayahnya.


Katakanlah kalau dirinya takut. Ya, tentu saja. Hades adalah saudara kandung ayahnya, yang juga adalah pamannya, tidak menutup kemungkinan kalau suaminya juga menggoda banyak wanita dengan pesona yang dimiliki oleh sebagai dewa penguasa dunia bawah.


"Aku hanya tidak ingin menjadi seperti ibuku. Maaf soal Adonis tapi aku hanya ingin menunjukan padamu kalau aku pun bisa memberikan rasa sakit yang sama terhadapmu suamiku, ingat itu!" ancam Persephone melangkah pergi meninggalkan Hades yang terpaku di singgasananya.


Ya, Persephone tidak serius tentang Adonis, demigod yang luar biasa tampan yang juga menarik hati Aphrodite. Persephone sengaja melakukan hal tersebut untuk balas dendam pada Hades, suaminya dengan cara yang sama dilakukan oleh pria itu.


----


Laporan dari demigod yang dikirimkan oleh Poseidon telah sampai ke telinga sang dewa. Athena yang juga ada disana bersama Leto tidak menyangka bahwa pihak keluarga Cathy akan dengan mudah menerima lamaran Poseidon bahkan menuntut untuk diberikan tambahan beberapa batangan emas sebagai mahar pernikahan.


Dalam tradisi mereka pihak keluarga wanita yang akan dinikahi sangat berhak menentukan berapa banyak harta yang diinginkan. Jika mereka setuju atau puas dengan jumlah harta yang dibawa oleh utusan pengantin pria maka itu sudah bisa disebut sah sebagai suami istri namun jika tidak maka pengantin pria harus bisa membuat penawaran lagi sampai keluarga pengantin wanita setuju baru bisa disebut sebagai suami-istri tanpa melakukan sebuah upacara khusus.


"Apa yang mau kau lakukan?" seru Athena ketika mendapati Poseidon mengangkat tubuh Cathy.


"Membawanya ke istana pribadiku." jawab Poseidon.


"Mana bisa seperti itu?"


"Aku bisa, Athena. Bukankah dia istriku sekarang."


"Aku tau, Aiden. Mahar pemberianmu masih kurang. Mereka belum menerima lamaranmu." larang Athena. Memang tidak ada salahnya jika Poseidon membawa Cathy tapi yang jadi masalahnya adalah istana Poseidon dan Hera berdekatan. Athena takut wanita itu semakin menjadi-jadi menjalankan aksinya.


Athena juga sangat yakin jika Artemis dan Apollo berada disini, keduanya juga akan melakukan hal serupa dengannya karena terlalu berbahaya jika Cathy berada didekat Hera. Dewi itu sudah pasti tidak akan diam begitu saja meski telah diancam sedemikian rupa oleh Poseidon.


"Aku sudah mengirim yang mereka inginkan, bahkan dua kali lipat dari yang mereka mau. Sudah pasti sekarang mereka telah setuju.


"Tapi-"


"Kau mengkhawatirkan Hera akan menyakiti Rhea? Aku jamin dia tidak akan bisa menyakiti istriku," ucap Poseidon meyakinkan, ia lalu memalingkan wajah menatap Leto, "Aku berjanji." lanjutnya.


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Artemis dan Apollo kembali dulu?"


"Biarkan saja Poseidon membawa Rhea, Athena. Kita bisa memberitahu Art dan Al sekembalinya mereka dari Arcadian."


Athena masih belum setuju tapi dia tidak punya alasan lebih untuk mempertahankan Cathy disana. Benar, saat ini Poseidon jauh lebih berhak. Bukankah ini juga rencana mereka sebelumnya tapi kenapa saat kejadian malah berlaku sebaliknya?


"Baiklah." angguk Athena setuju.


----


Kedatangan Apollo dan Artemis di wilayah Arcadian hanya membuka luka lama sang dewi alam liar yang tidak siap jika harus dipertemukan dengan Lycan. Sejak awal dia telah sala dngan memutuskan untuk ikut dengan Apollo ke tempat itu, harusnya dia menolaknya saja.


"Dia terlihat mengerikan." ucap Apollo.


Artemis mengangguk menyetujui perkataan Apollo, saudara kembarnya. Pria yang tengah berdiri tegap diatas istananya itu sangat menakutkan dengan tatapan tajam serta aura yang keluar di sekeliling tubuhnya. Setelah kutukan Zeus disematkan untuk Lycan dan kaumnya entah kenapa malah menjadikan aura pria itu semakin kuat.


"Kurasa kau harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan."


Mendengar penuturan Apollo lantas membuat Artemis menoleh memandang saudara kembarnya bingung, "Apa maksudm, Al."


"Apa yang kau bicaraka dengan ayah, Al? Bukankah kita sudah selesai denga masalah ini?" panik Artemis takut jika Apollo akan melakukan hal yang tidak dia inginkan lagi kepada Orion.


Tatapan mata Apollo berubah drastis. Tidak ada lagi sorot mata jahil yang selalu dilihat oleh Artemis selama ini. Apollo tersenyum menangkup wajah Artemis, "Maafkan aku, Art. Aku tidak memahami perasaanmu dengan baik. Aku tidak tau kalau rasa cintamu begitu besar untuknya."


"Aku tidak ingin membicarakan hal itu, Al. Kita sudah mendapatkan ramuannya kan? Ayo kembali sekarang juga." Artemis berbalik, memutuskan untuk segera pergi dari sana sebelum semua terlambat dan dia akan terjebak lagi dalam perasaan terlarangnya.


----


Cathy membuka kedua matanya karena sinar yang menganggu penglihatan. Ia memandang sekelilingnya dengan tatapan binggung.



Dimana dia berada sekarang?


Waktu berputar. Cathy beranjak dari tempatnya berbaring lalu menyusuri tempat asing yang baru pertama kali ia lihat. Sebuah pemandangan indah dimana disekelilingnya ditumbuhi tanaman hijau serta suara gemercik air dan kicauan burung yang saling bersautan.


Krikk


Suara yang muncul dari balik pohon menarik perhatiannya. Cathy memalingkan wajah mencari asal suara dengan langkah kaki secara reflek ikut menghampiri asal suara tersebut berasal sebelum menemukan sesosok mahkluk bertandung tengah menunduk meminum air di sungai.


Senyum manis merekah dibibir cantik Cathy yang kemudian melangkah mendekati mahkluk tersebut tanpa rasa takut sedikitpun. Tidak seperti mahkluk kebanyakan akan melarikan diri begitu melihat orang asing, yang satu ini justru hanya diam saja melihat Cathy.


"Hey, manis." sapa Cathy lembut mengulurkan tangan menyentuh tanduk dikepala mahkluk yang diketahui adalah sejenis pegasus tersebut.


Tak lama kemudian, makhluk tersebut tersentak oleh sesuatu kemudian berlari meninggalkan Cathy dengan tatapan kecewa namun ikut berdiri untuk mengejar Pegasus tersebut.


"Tunggu!" teriak Cathy.


Dalam sekejab mata ia telah berpindah tempat. Taman indah tadi telah benganti menjadi sebua ruangan yang sangat ia kenali yaitu kamarnya yang ada di paviliun pribadi miliknya. Cathy mengernyit binggung mendapati dirnya berada didepan kaca besar yang terletak di pojok samping ranjang tidurnya.


Cukup lama ia memandangi pantulan dirinya didalam kaca sebelum pada akhirnya sosok yang ada dibalik kaca tersebut berubah berhasil membuat Cathy terbelalak sempurna.


----


Seperti perkataan Athena. Gejala selanjutnya yang dialami oleh Cathy berkebalikan dari sebelumnya. Suhu tubuh gadis itu menjadi panas bahkan untuk disentuh pun akan membuat siapapun menjerit kepanasan dan kalau sudah begini, tidak ada satupun yang dapat menolong selain Poseidon sendiri.


Selama proses tersebut Poseidon menyuruh demigod yang bertugas dikamar Cathy keluar dan menjaga pintu masuk untuk mencegah siapapun masuk ke dalam sampai kondisi Cathy kembali memungkinkan.


"Kenapa kami tidak boleh masuk?" tanya Apollo tak terima ketika jalan masuknya dihalangi oleh seorang Demigod.


Apollo dan Artemis sama-sama terkejut mendengar Cathy telah dipindahkan ke kamar Poseidon dengan alasan yang cukup kuat untuk dilakukan. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa rencana yang telah disusun sedemikian rapi lebih terjadi begitu cepat. Saat ini mereka bagaikan diserang balik tanpa aba-aba atau lebih kasarnya senjata makan tuan.


"Maaf, Dewa Apollo. Kami hanya mematuhi perintah."


"Apa yang terjadi?" tanya Artemis kali ini.


"Pengantin wanita dewa kami sedang tidak dalam kondisi baik. Suhu tubuhnya berubah menjadi panas secara tiba-tiba hingga dewa Poseidon harus terus tangan langsung."


"Ini adalah tahapan terakhir dari racun itu." sahut Athena panik.


"Oh astaga, Aiden. Memang dia pikir apa yang sedang dia lakukan sekarang." keluh Apollo memejamkan mata tak habis pikir dengan ulah Poseidon.


"Sebentar." celetuk Artemis terpejam. Berusaha bicara dengan Poseidon menggunakan kekuatan alamnya.


Kedua mata Cathy masih terpejam erat. Tidak seperti beberapa saat lalu. Tubuh Cathy jauh lebih terkendali membuat Poseidon lega.


"Asthrea, apa kau tidak ingin membuka matamu?" lirih Poseidon. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Poseidon sangat merindukan Cathy meski gadis itu berada didepannya. Ia sangat menantikan bisa melihat tatapan mata Cathy ketika sedang bicara atau pun sedang tersenyum padanya.


Poseidon mungkin pernah melakukan kesalahan kemarin tapi dia sudah mendapat hukuman atas perbuatannya tersebut bahkan telah kemakan oleh sumpahnya sendiri.


Entah sejak kapan dan bagaimana cara gadis seperti Cathy menaklukan dirinya sampai sejauh ini. Secara keseluruhan ia merasa telah kalah telak karena sering sekali menemukan dirinya tak mampu mengontrol perasaannya sendiri.


"Aiden, kita tidak punya banyak waktu." bisik Artemis terdengar.


Poseidon tersadar. Ia buru-buru menuruni ranjang sambil menyambar jubah tidurnya ia berjalan menuju pintu besar yang ada dihadapannya.


"Kalian berhasil?" tanya Poseidon langsung begitu membuka pintu kamarnya.


"Kami tak akan kembali jika tidak berhasil." balas Apollo melenggang masuk ke dalam kamar Poseidon. Jujur saja baru kali ini dia kesal dengan Poseidon. Bisa-bisanya mencari kesempatan dalam kesunyian sebab dua penjaga Cathy sedang tak berada ditempat.


"Semoga kita belum terlambat."


Tanpa membuang banyak waktu lagi Apollo langsung saja memberikan ramuan kepada Cathy. Ramuan yang terdiri dari beberapa bahan alami yang jarang bahkan hampir punah itu mulai diteteskan ke atas permukaan bibir pucat Cathy. Dalam hati mereka hanya bisa berharap semoga usaha mereka tidak akan sia-sia.


"Rhea, ku mohon bangunlah!" ucap Apollo mulai kehilangan harapan atas kehidupan Cathy yang kini tengah dipertaruhkan. Apollo bahkan telah bersumpah jika Cathy tidak berhasil selamat maka dia akan langsung mencari Hera dan membunuhnya.


Hening...


"Apa kita gagal?" lirih Artemis.


Leto memasuki ruangan tersebut juga ikut dibuat panik tatkala melihat ekspresi yang ditunjukan kedua anaknya, tak hanya Leto saja, Poseidon juga terlebih dahulu bergerak mendekati ranjang dan mencoba membangunkan Cathy.


"Asthrea! Jangan lakukan ini! Cepat buka matamu!" perintah Poseidon.


----


Tbc