
Hari demi hari berlalu. Cathy menjalani kehidupannya sebagai Putri Troy dengan lebih banyak menghabiskan waktu di paviliun. Tak jarang ia sering dimintai datang ke istana utama hanya untuk menghadiri beberapa pertemuan yang diinginkan sang Raja untuk dihadiri olehnya, selebihnya Cathy lebih senang berdiam diri di peraduannya tanpa ada yang menganggu.
Meski waktu dihabiskan menyendiri. Cathy sekalipun tak pernah ketinggalan informasi apapun. Seperti hari ini, ia mendengar kabar dari keponakan tersayangnya yang akan melakukan perjalanan jauh, tepatnya menyanggupi tugas pertama yang diberikan oleh ayahnya.
"Mau apa dia disana?" tanya Cathy pada salah satu pelayan pribadinya.
Bukan maksud tidak senang atau menganggap enteng perjalanan bisnis yang akan dilakukan oleh Paris. Hanya saja hal tersebut bertepatan dengan ramalan yang dia dengar beberapa hari lalu dadi penafsir mimpinya yang mengatakan kepergian Paris hanya akan mendatangkan malapetaka bagi Troya di kemudian hari. Kalau mengikuti era pada jamannya itu adalah omong kosong yang sangat jarang mendapat kepercayaan tapi di era ini itu semua pasti terjadi.
"Apa dia pergi sendiri?"
"Tidak, Putri. Pangeran akan pergi bersama pangeran Hector."
Sementara itu diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda tepatnya di gunung Olympus. Para dewa utama yang menduduki ruang utama Omypus tengah berkumpul melihat perkembangan terakhir bumi.
"Sudah dimulai ternyata." suara Ares terdengar. Sang dewa perang yang haus akan darah menyunggingkan senyum puas membuat wanita disampingnya juga ikut tersenyum karenanya.
"Paris membuat pilihan yang tepat." sambung Aphrodite memandang Athena dan Hera bergantian. Menyinggung kedua wanita itu yang telah kalah sebab kecantikan yang dimiliki olehnya.
Beberapa waktu lalu saat menghadiri sebuah pesta. Dewi Eris mengirimkan hadiah untuk yang tercantik. Tentu saja terjadi perdebatan kala itu karena Hera, Athena dan Aphrodite sama-sama memperebutkan hadiah tersebut hingga membuat Zeus kewalahan dan mengutus ketiga Dewi tersebut untuk bertanya pada Paris, satu-satunya yang terkenal bijak dan tidak pernah berbohong dan kemudian di menangkan oleh Aphrodite.
"Sesuatu yang terjadi sudah seharusnya terjadi." seru Zeus.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tau kan dampak sebenarnya dari keputusan Paris? Dan kenyataan yang tidak bisa kuterima, anakmu ada diantara penghuni kerajaan Troya."
Perkataan Hera sontak saja menarik perhatian Apollo dan Artemis yang ikut hadir disana. Mereka saling memandang bertanya apakah Hera sudah mengetahui semuanya?
Tidak mungkin. Mereka sudah cukup yakin identitas Cathy yang sebenarnya tidak akan di ketahui oleh Hera. Bersembunyi sebagai Putri bangsa Troya sudah sangat tepat untuk Cathy.
"Hera!" seru Zeus menahan amarah.
"Jika begini caranya kerajaan yang ingin ku hancurkan adalah kerajaan Troya, akan ku pastikan itu terjadi dan anakmu yang hidup disana harus menderita." Hera beranjak pergi meninggalkan ruang rapat para Dewa.
"Tanpa perlu mengatakannya lagi, kurasa kalian juga sudah tau kemana aku akan berpihak." sahut Ares juga melakukan hal serupa seperti ibunya diikuti sang Dewi kecantikan.
"Selalu begini." komentar Dionysus begitu melihat ayahnya ikutang pergi meninggalkan ruang rapat tanpa berkata apapun
Rasanya perdebatan tak berujung ditengah rapat sudah menjadi hal biasa di Olympus bahkan hampir tidak pernah ada musyawarah yang terselesaikan tanpa adanya perdebatan dari kedua kubu yang sama-sama tidak mau kalah sampai yang lain harus berakhir menjadi penonton tanpa bisa berkata apapun.
Dionysus berdiri. Untuk apa juga dia berada disana. Lebih baik dia pulang karena istrinya saat ini tengah menunggu kepulangannya.
Satu persatu mulai meninggalkan ruang rapai. Artemis pun melakukan hal serupa menuju kamar pribadinya.
"Kau masih marah?" tanya Apollo ketika mereka tiba di istana mereka membuat langkah kaki Artemis terhenti namun enggan menoleh menatap Apollo.
"Tidak." Artemis menggeleng.
Apollo mendekati saudari kembarnya lalu menarik lengan Artemis yang bergelangkan perhiasan cantik berbentuk bulan yang terbuat dari perak.
"Art, ketahuilah bahwa segala yang ku lakukan adalah untuk melindungimu. Kau tau kan seberapa berartinya kau dan ibu dalam hidupku."
"Aku tau." balas Artemis.
"Tapi kenapa kau mendiamiku terus menerus?"
Diam. Artemis tidak menjawab karena untuk kembali seperti dulu rasanya ia membutuhkan banyak waktu. Artemis bukan type pemaaf juga bukan pelupa, lebih lagi penyebab dari kehancuran yang dirasakannya saat ini adalah orang yang ia sayangi juga. Apollo. Untung saja ibu mereka sedang tidak berada di Olympus, jika tidak maka Leto akab bersedih melihat keduanya.
Tanpa Artemia sadari Apollo telah berdiri tepat dihadapannya, menarik sauadarinya itu ke dalam pelukan eratnya. Apollo menyesali perbuatannya dan sifat posesif yang telah menyebabkan hati Artemis terluka tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Artemis telah berjanji untuk tidak terlibat urusan Cinta dan seorang Dewi yang telah berjanji tidak diperkenankan mengingkari janji yang telah di buat
"Kau jahat, Al tapi aku tidak bisa membencimu."
"Aku tau, maafkan aku." balas Apollo mengakui kesalahannya. Tidak biasanya sang dewa matahari yang selalu bertindak semaunya itu mengakui kesalahannya seperti ini.
Apollo melepas pelukannya, "aku ingin membicarakan sesuatu. Ku mendengarnya kan tadi? Apa Hera sudah tau tentang Cathy?"
"Kurasa belum karena kalau dia sudah tau, maka dia akan langsung bertindak."
"Benar juga."
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Poseidon selama ini memihak bangsa Yunani. Perjanjian tersebut sudah ada dari dulu, sang dewa bahkan disebut sebagai pelindung banyak kota di Yunani kecuali kota Athena.
Dan sekarang, setelah semua yang terjadi selama beberapa waktu belakangan. Poseidon ingin beralih namun ia tau kalau hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh seorang dewa. Apa jadinya jika dia tiba-tiba menarik diri untuk tidak menjadi pelindung Yunani. Sudah pasti dia akan di anggap sebagai dewa yang tidan dapat menepati perkataannya.
"Sekarang gantian kau yang melamun, kenapa?" tanya Cathy menyentuh lengan Poseidon yang terus saja berdiam diri sejak kedatangannya. Sang dewa laut juga mengabaikan perkataannya dari tadi.
"Sepertinya keputusan yang paling tepat untukmu adalah kembali ke kuil Parthenon dalam waktu dekat." ungkap Poseidon menatap Cathy.
Poseidon hanya tidak mau sampai Hera tau semuanya lebih cepat mengingat betapa liciknya istri saudaranya itu. Ancamannya beberapa waktu lalu telah berhasil mengusik pikiran Poseidon. Kini, dia diliputi rasa takut jika sampai Hera menepati perkataannya.
"Kenapa membahas hal itu lagi?" protes Cathy. Yang ia tau mereka sudah selesai dengan perihal kuil lalu kenapa sekarang Poseidon mengungkitnya lagi setelah sebelumnya pria itu terlihat mendukung keputusan Cathy untuk tetap tinggal di kerajaan Troya.
"Tiba-tiba aku kepikiran hal itu saja."
Cathy mengernyit. Merasa curiga dengan perkataan Poseidon yang kembali mengungkit tentang kuil padahal pria itu sudah tau jawabannya, "Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Bohong!"
"Whoa, apa yang ku lewatkan selama ini?" celetuk Apollo yang baru saja turun ke taman yang letaknya di tengah labirin. Tempat itu kini menjadi tempat Cathy bersantai dan berbicara dengan Poseidon.
"Apa kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan Artemis?" Poseidon melempar pertanyaan begitu Apollo mendudukkan dirinya di salah satu bangku.
"Masalah apa?" sahut Cathy penasaran. Poseidon sama sekali tidak menceritakan apapun padanya dan hal yang baru ia ketahuan itu membuatnya penasaran.
"Jangan mengalihkan pertanyaan. Sudah sejauh apa hubungan kalian hm?" tuntut Apollo lagi tak lupa dengan senyum menggoda.
"Apa maksudmu?" kompak Cathy dan Poseidon lalu kemudian saling memandang. Hal tersebut tentu saja mengundang gelak tawa Apollo.
"Diam!"
Lagi. Poseidon dan Cathy dengan kompak meneriaki Apollo yang terlihat menertawai mereka.
Helen of Sparta..
Demi apapun Cathy sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Ia berharap semua itu hanyalah kabar Palsu karena sungguh terlalu mengerikan jikalau sampai terjadi. Bagaimana tidak, Helen of Sparta diketahui telah menikah. Dia bukanlah seorang Putri yang bisa dengan bebas dibawa oleh pria asing seperti Paris pulang ke kerajaan Troya dengan santai.
Hal yang dilakukan oleh Paris sama saja melanggar hukum. Membawa istri orang tanpa suaminya adalah sebuah tindakan kriminal. Itu sama saja mencuri.
"Bagaimana bisa itu terjadi?"
"Mereka digosipkan saling jatuh Cinta. Putri Helen memutuskan untuk meninggalkan Spata saat suaminya bertugas dan tidak berada di kerajaan."
Sekarang semua makin runyam. Jika begini kerajaan Troya akan di tuduh mengambil milik kerajaan Sparta yang berharga. Cathy khawatir akan ramalan yang disebutkan tentang Paris akan menjadi kenyataan.
Dia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa diam saja menunggu ramalan itu menjadi kenyataan tapi apa yang harus ia lakukan saat ini. Kepada siapa dirinya bertanya dan meminta jalan keluar untuk masalah ini.
Apollo!
Ya. Hanya pria itu yang dapat menjawab pertanyaan yang bersarang di kepala Cathy saat ini.
"Kalian boleh keluar sekarang!" perintah Cathy kepada para pelayan yang tengah membantunya bersiap.
Beberapa pelayan dibelakang Cathy mengangguk lalu sesegera mungkin berjalan mundur meninggalkan Cathy sendiri didalam kamarnya.
"Mencariku?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang ingin kehadirannya mendatangi Cathy tanpa perlu susah payah dipanggil. Apollo seakan sudah lebih dulu mengetahui bahwa Cathy pasti akan mencarinya selepas mendengar kabar rombongan Paris akan segera memasuki kerajaan Troya.
Cathy membalikkan badan, "Kau menjadi jauh lebih sensitif akhir-akhir ini seperti Aiden."
Apollo mengernyit, "Hm, ternyata kedekatan kalian diluar dugaanku selama ini ya."
"Berhenti menggodaku, Al." omel Cathy dibalas tawa kecil Apollo namun detik berikut wajah sang dewa matahari terlihat serius.
"Itu memang benar. Semuanya yang kau dengar itu adalah kebenaran yang sudah terjadi dan akan terjadi."
"Termasuk kehancuran itu?"
"Mengenai kehancuran kita belum mengetahui bagian akhirnya. Semua bisa saja berubah didetim terakhir."
"Apa ada cara untuk mencegah hal tersebut."
"Cara?" ulang Apollo terlihat berpikir, "baiklah karena kita teman akan ku beritahu beberapa peraturannya tapi berjanjilah untuk merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk Aiden. "
"Aku berjanji."
Apollo tersenyum, "Kau tau kan kalau sebagian dewa Olympus memiliki kuil dan di puja di beberapa tempat, seperti yang ada di kuil Parthenon milik Athena," Cathy mengangguk, "itu menandakan bahwa dewa tersebut adalah pelindung tempat dimana ia di puja. Athena dan Poseidon, mereka berdua terkenal di Yunani dan sudah sejak lama dikenal sebagai dewa yang memihak bangsa Sparta,"
"Tidak hanya itu saja. Prajurit Sparta juga sangat kuat. Jumlah pasukan yang sangat banyak dan terlatih di medan perang itu mendapat dukungan penuh dari Athena. Perlu diketahui, Sparta tak terkalahkan karna memiliki dewi Athena yang ahli dalam strategi perang dibelakang mereka."
Cathy mengangguk setuju. Siapa yang tidak mengenal Athena. Dia adalah dewi cantik yang terkenal di masa depan bahkan ketika Cathy tidak mengetahui nama dewa dewi lain. Dewi Athena paling banyak dia dengar kisahnya.
"Lalu dewa yang memihak Troya?" tanya Cathy membuat Apollo tersenyum.
"Tentu saja ada aku dan Artemis. Ah, Aphrodite dan Ares juga sepertinya memihak Troya."
"Bagaimana dengan dewa lain?"
"Entahlah."
Mendengar penjelasan Apollo semakin membuat bahu Cathy melemas saja.
"Kenapa, Rhea? Apa kau begitu kecewa mendengar Poseidon tidak memihak Troya?"
Sejujurnya iya tapi sayang terlalu memalukan untuk mengakuinya didepan Apollo.
"Kata siapa? Jangan suka membual." bantah Cathy berbanding balik dengan apa yang ia rasakan.
"Itu terlihat diwajahmu."
"Hentikan, Al! Jangan bicara hal tidak masuk akal." balas Cathy sekali lagi dibalas kekehan Apollo.
"Aku harus melakukan sesuatu." batin Cathy, "Apa jika aku mengumpulkan dewa yang mau berpihak pada Troya maka itu akan membuat Troya sedikit lebih unggul?" tanya Cathy hati-hati.
"Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Belum ada yang bisa menembus tembok Troya selama ini, Rhea."
"Itu benar." celetuk Artemis memasuki kamar Cathy dengan anggun. Wajah sang Dewi bersinar cantik diterpa cahaya bulan, "tapi tidak ada salahnya juga mengumpulkan pion penting siapa tau itu bisa dijadikan senjata rahasia nantinya, iya kan."
Apollo mengangguk menanggapi perkataan Artemis. Jelas sekali pria itu senang melihat saudarinya telah kembali seperti semula seakan masalah diantara mereka tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Oh ya, dua hari ke depan akan ada pesta di kediaman Dio dan Ria. Apa kau sudah mendengarnya, Al?" tanya Artemis memandang saudara kembarnya.
"Dio sudah memberitahuku." jawab Apollo.
Artemis menoleh menatap Cathy yang juga tengah menatapnya. Seakan memberi kode sesuatu tapi tidak dapat dipahami oleh Cathy.
"Al. Ibu mencarimu. Kurasa dia ingin menemuimu sekarang juga." ucap Artemis kembali menatap Apollo.
"Ibu sudah kembali?" Artemis mengangguk. Apollo lalu memandang Cathy dan seakan mengerti gadis itu langsung mengangguk mengijinkan Apollo kembali ke Olympus. Lagipula pertanyaan yang ingin ia tanyakan sudah di jawab semuanya oleh Apollo.
"Pergilah!" ucap Cathy.
"Biar aku disini bersama Cathy." ucap Artemis menarik lengan Apollo. Mendorong pria itu agar secepatnya pergi meninggalkan mereka.
Apollo mendengus. Tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun dengan tingkah tidak biasa Artemis. Apollo mulai menghilang dari hadapan mereka.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya Cathy langsung.
Artemis membalikkan badan. Tersenyum menatap Cathy, "Ternyata kau cukup peka juga ya."
Tbc