The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Bencana



Cathyrene membuang nafas lega begitu merasa dirinya sudah cukup jauh dari sang dewa laut. Jika boleh jujur, tadi sebenarnya dia cukup merasa terintimidasi dengan cara pandang pria itu. Entah dari mana keberanian tadi muncul hingga dirinya mampu mempertahankan ekspresi menentang sang dewa laut.


*Huh, aku pasti sudah gila dengan menentang dewa laut itu. Bisa-bisa aku digulung ombak.


Jangan sampai itu terjadi*...


"Cathyrene, sedang apa kau disini?" panggil seorang wanita tua. Cathyrene membalikkan tubuh dan menemukan wanita yang pertama kali ia lihat begitu menginjakkan kaki di tempat ini.


Wanita berumur sekitar setengah abad itu bertindak sebagai wali Cathyrene selama pemilihan pendeta Agung. Didikan keras hampir setiap hari diterima oleh Cathyrene. Dirinya bahkan baru mengetahui fakta ketika seseorang menjadi pendeta Agung maka dia akan diberkahi sebuah kemampuan pelindung dari sang Dewi Athena.


"Aku sedang jalan-jalan tadi, bibi Elena."


"Jalan-jalan katamu? Kau masih berpikiran untuk santai disaat seperti ini?" omel wanita bernama Elena itu. Cathyrene memejamkan mata, sedikit dikejutkan dengan bentakan Elena.


"Maaf, bibi."


"Sebentar lagi tes pertama kalian akan dimulai. Dua hari lagi adalah acara pengenalan calon pendeta Agung. Kau harusnya fokus mempersiapkan diri!"


Cathyrene menunduk semakin dalam. Acara yang akan diadakan dua hari lagi itu sangat penting. Banyak pejabat dari berbagai kerajaan akan datang termasuk ayahnya. Cathyrene tersenyum senang, kali ini dia harus membuat ayahnya bangga.


"Baik, bibi." angguk Cathyrene penuh tekat.


----


Olympus, atau bisa disebut rumah bagi para dewa berdiri diatas Puncak gunung. Bangunan mewah, terbuat dari marmer putih dan tiang-tiang yang kokoh. Masing-masing lima singgasana terbuat dari perak berada disisi kiri dan kanan, dan dua lainnya terbuat dari emas terletak di ujung ruangan.


Hades melangkah masuk membawa aura kematian bersama dirinya. Kedatangan pria itu mencuri perhatian sebagian dewa, termasuk Apollo. Dia telah mendengar kabar bahwa Persephone. Wanita pujaan hatinya itu kini tinggal bersama Hades di dunia bawah.


Apollo dan Hermes adalah dua pria yang menyukai Persephone. Kedua dewa itu bahkan memberikan hadiah untuk sang Dewi musim semi tapi selalu mendapatkan penolakan dari Demeter, ibu dari Persephone. Karena alasan itu juga, Demeter menyembunyikan Persephone dari para dewa.


Awalnya Persephone hidup dengan tenang dan nyaman dalam persembunyian sebelum takdir mempertemukan Persephone dengan Hades.


Melihat kehadiran Hades disana membuat Demeter melangkah mendekati pria berjubah hitam dengan aura hitam yang selalu mengikuti pria itu, "Hades, kembalikan putriku." ucap Demeter langsung. Ia tau ia tidak akan mendapatkan putrinya kembali jika menggunakan kemarahannya pada Hades.


"Aku datang untuk Persephone. Dia merindukan ibunya tapi untuk mengembalikannya. Aku rasa tidak semudah itu. Persephone Ratuku, dan aku tak mengijinkan dia diambil apapun alasannya."


Demeter terbelalak begitupun dengan para Dewa lain kecuali Hermes yang sudah mengetahuinya. Apollo mendengus bahkan menyunggingkan senyum tipis seraya menggelengkan kepala.


Disamping Apollo, Artemis mendengar dengusan saudaranya memalingkan wajah. Jemari tangan cantik yang selalu memegang busur panah itu terulur menggenggam erat tangan Apollo.


"Tidak perlu bersedih. Hilang satu tumbuh seribu, itu motto percintaanmu kan?"


"Art!" desis Apollo tidak terima dipikir tengah bersedih karena kasus Persephone.


Ya, dia akui dirinya sempat mengagumi sang Dewi musim semi yang juga sangat dekat dengan saudari kembarnya Artemis, tapi itu sudah berlalu dan dia tidak lagi memikirkannya. Dan dengusan tadi murni karena ia sudah cukup lelah dengan semua drama yang selalu terjadi di Olympus.


"Apa katamu?" gumam Demeter menggelengkan kepala, tidak mau mempercayai hal tersebut, "tidak, Hades. Kau bercanda ya. Sekarang cepat bawa Persephone padaku. Diluar sana ada begitu banyak wanita, kau bisa mencari wanita lain yang cocok untuk posisi ratumu."


"Yang dikatakan oleh Demeter benar. Persephone bukanlah orang yang tepat, dia Dewi dunia atas. Aku rasa akan sulit bagi Dewi musim semi beradaptasi di dunia bawah." sahut Athena bijak.


"Kurasa aku datang disaat yang tidak tepat."


Hades berbalik menyibakkan jubah hitamnya yang mengeluarkan api pertanda dirinya tengah dikuasai amarah. Tanpa mempedulikan teriakan Zeus yang memanggilnya dan tangisan Demeter yang teramat merindukan putrinya, Hades menghilang ditelan kabut gelap.


Karena kepribadiannya yang gelap, Hades tidak disukai para dewa karena melambangkan kematian yang pasti datang dan tak terhindarkan. Namun Hades adalah dewa yang memerintah dengan adil walaupun dia kejam dan tanpa belas kasihan tapi meski begitu, Hades bukanlah dewa kematian meski dia memerintah dunia orang mati. Dewa kematian adalah Thanatos, yang memiliki tugas mengambil nyawa manusia.


"Apa kau tidak punya cara lain untuk membawa putriku. Seumur hidupku aku tidak pernah meminta apapun. Aku hanya meminta kembalikan putriku." amuk Demeter untuk kesekian kali. Ia sama sekali tidak peduli kalau kini dirinya menjadi tontonan dewa-dewi lain.


Zeus menghela nafas. Hades pun mengatakan hal demikian padanya. Pembagian wilayah yang tidak sama rata menjadi senjata utama Hades. Selama ini Hades diam saja ketika mendapatkan wilayah dunia bawah ditambah harus menyegel kronos agar tidak dapat keluar. Hades bahkan diam saja ketika tempat nya di olympus di tempati oleh Demeter kldengan alasan dia lebih banyak berdiam diri di dunia bawah. Dan sekarang, Hades hanya meminta satu hal terhadap saudaranya yaitu, Persephone.


"Beri aku waktu." ucap Zeus mendudukkan diri di singgasananya dengan wajah gusar.


Perancang terkenal dari pusat kota datang untuk mengambil ukuran tubuh para calon pendeta Agung yang akan dibuatkan gaun khusus untuk acara malam pengenalan mereka. Masing-masing calon akan diberi kebebasan menentukan gaun seperti apa yang mereka inginkan.


Ini dia..


"Ini apa, Nona?"


Perancang wanita berusia sekitar seperempat abad yang bertugas untuk mendesign gaun Cathyrene mengerutkan kening, terkejut saat menerima sketsa gambar dari Cathyrene. Kedua matanya kemudian melebar sempurna.


"Apa anda serius, Nona?"


Cathyrene mengangguk membuat sang perancang kembali memandangi hasil karya yang baru pertama kali ia lihat. Hanya dengan sekali lihat, ia sudah dapat membayangkan gaun seperti apa yang diinginkan oleh pelanggannya. Sulit dipercaya. Gadis cantik seperti Cathyrene telah merancang busana yang akan dia kenakan, diantaranya adalah bagian depan, belakang, samping secara terperinci.


"Aku serius tapi aku ingin tau kain apa saja yang kau miliki. Apa kau membawa beberapa contohnya?"


"Tentu saja, Nona. Mohon tunggu sebentar."


Berdiri dari tempat duduknya, perancang wanita dengan rambut sebahu bewarna merah tua itu mengambil beberapa contoh kain yang diinginkan Cathyrene. Kali ini dia mengambil contoh kain terbaru dengan warna fresh yang menurutnya akan cocok di kulit putih Cathyrene.


"Baiklah, ini beberapa contoh kain yang nona minta. Beberapa diantaranya adalah jenis kain terbaru. Nona bisa memilih sesuai selera."


Berbagai model kain telah terpapar dihadapan Cathyrene. Tatapan matanya tertuju pada satu warna kain yang menarik perhatian. Warna cream pudar, terlihat seperti bewarna putih mampu menarik perhatiannya.


Cathyrene tersenyum, ia telah menemukan pilihannya..


----


"Arkhhh..."


Suara teriakan Persephone menyambut kedatangan Hades di kerajaan dunia bawah. Ia mempercepat langkah kakinya mencari asal suara Persephone berasal.


Bau bunga Anyelir bercampur bau lain menyeruak memenuhi penciuman Hades ketika semakin dekat dengan pintu masuk istana dunia bawah.


Hal pertama yang dilihat oleh Hades adalah tiga hakim dunia bawah yang selalu melaksanakan tugas mereka di halaman depan istana miliknya berdiri mengerubungi satu objek yang tak dapat dilihat oleh Hades.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Hades langsung.


Mendengar intonasi suara Hades membuat tiga hakim itu berangsur mundur hingga membuat Hades bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang perempuan tengah meringkuk memeluk lutut, dan menyembunyikan wajah diantara kedua tangannya.


"Hades, kami tidak tau mengapa dia bisa keluar." ujar Minor, salah satu dari hakim dunia bawah berwajah pucat dengan rambut putih acak-acakan dan bola mata hitam yang hampir keluar.


"Kami hanya menyapanya saja, kami berusaha bersikap ramah," sambung Rhadamanthu yang wajahnya tak jauh berbeda dari Minor, yang berbeda Rhadamanthu memiliki rambut tipis.


"Tapi dia ketakutan saat melihat kami." tutup Aiakos yang tak memiliki rambut sehelai pun.


Hades menghela nafas panjang, "kembalilah ke tempat kalian!" titahnya yang langsung saja dilaksanakan oleh ketiga hakim tersebut.


Hades mendekat kemudian mengangkat tubuh Persephone yang masih menutup wajah, masuk bersamanya ke dalam istana.


Persephone mengintip melalui celah jari-jarinya ditengah ketakutan yang ia alami pasca melihat makhluk mengerikan yang baru pertama kali ia lihat seumur hidup.


"Iya sayang.."


"Aku takut, aku tidak mau disini." decit Persephone.


"Tidak! Ini rumahmu juga, kau harus terbiasa."


Blush..


Bayangan hitam terbang masuk ke dalam istana Hades lalu berubah wujud menjadi maklum bersayap hitam yang tadi disebut Thanatos oleh Hades, sang dewa kematian.


"Hades."


Hades membalikkan badan sementara Persephone kembali ketakutan. Kali ini bahu Hades menjadi tempat sang Dewi menyembunyikan wajahnya ketika kembali diperhadapkan dengan makhluk mengerikan lainnya.


"Thanatos, ada berita apa dari Tartaros?" Hades mengangkat tubuh Persephone lebih tinggi seraya memperkuat pegangannya pada tubuh sang dewi.


"Aku mendengar kabar bahwa sekarang tempat ini memiliki seorang Ratu? Kedatanganku adalah ingin memastikannya sendiri sekaligus melaporkan kondisi wilayah." jelas Thanatos melirik Persephone di gendongan Hades.


Mereka terlihat seperti pengantin baru yang tak ingin dipisahkan..


"Atau mungkin aku datang disaat yang tidak tepat." sambung Thanatos.


"Persephone, jangan seperti ini terus, sayang."


"Tidak mau." balas Persephone menggeleng, terpejam erat dan semakin mempererat pelukannya pada Hades.


----


Angin sore yang berhembus kencang. Udara malam dingin dan mencengkeram, tak dipedulikan oleh Cathyrene yang saat ini tengah berdiri menikmati pemandangan matahari terbenam.


Melihat matahari terbenam seperti ini entah membuat Cathyrene teringat akan Apollo. Pria pemilik surai blonde itu tak terlihat akhir-akhir ini padahal Cathyrene sangat membutuhkan teman bicara dan hanya pria itu yang dapat memahami dirinya dengan baik.


"Jangan bilang kalau kau sedang berpikir untuk menenggelamkan diri di laut lagi?" seru seorang pria dari balik punggung Cathyrene.


Suara berat penuh penekanan disetiap kata-kata kembali menyapa pendengaran Cathyrene. Suara yang sama dengan suara yang ia dengar ketika ia pertama kali datang.


Si bodoh ini mau apa lagi?


"Ya, aku memang berniat menenggelamkan ingatan tentang rasa yang adalah sebuah kesalahan ini."


Cathyrene melangkah mundur. Secepat mungkin ia mencoba menghindar dari sana. Kehadiran sang dewa laut telah berhasil merusak ketenangan yang ia inginkan.


"Tunggu!"


Langkah kaki Cathyrene berhenti. Ia menoleh menatap Poseidon. Pria itu berdiri berkacak pinggang dibelakangnya. Jubah putih bak kaisar jaman pertengahan romawi itu bersinar.


"Bisa kita bicara sebentar."


"Ku pikir kau tidak pernah mau bicara denganku karena kau membenciku." balas Cathyrene dingin. Hal tersebut cukup mengejutkan Poseidon.


Sikap gadis itu jauh berbeda dari sebelumnya. Suara Cathyrene yang selalu memenuhi pendengaran sang Dewa hampir setiap malam namun kini tak pernah terdengar lagi raungan permohonan gadis itu memuja dirinya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," jelas Poseidon menatap Cathyrene. Tatapan lemah yang selalu diperlihatkan oleh gadis itu sirna. Sama seperti kemarin, Cathyrene justru memandangnya kesal,


"Dan aku menghargaimu, bukan membencimu," lanjutnya. Poseidon tidak berbohong kali ini. Ia bersungguh-sungguh pada perkataannya, "hanya saja ada beberapa hal yang tidak dapat diubah."


Apapun alasannya tetap saja sudah terlambat. Pemilik tubuh ini, yang adalah korban sebenarnya sudah tidak ada lagi.


Cathyrene terdiam, sibuk dengan pikirannya membuat Poseidon menatapnya penasaran.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Ya?" Cathyrene terlonjak. Ia kemudian menggeleng, "tidak ada yang ku pikirkan." jawabnya tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh Poseidon.


Angin berhembus kencang mengirimkan hawa dingin yang makin parah kian hari membuat Cathyrene yang hanya memakai gaun tipis menggigil kedinginan.


"Ya ampun, kenapa setiap malam semakin dingin." runtuk Cathyrene mengepalkan kedua tangannya.


Poseidon melepas jubah kebesarannya ketika melihat Cathyrene memeluk tubuhnya menahan dingin.


"Pakai ini! Aku tidak mau menjadi alasan kau jatuh sakit." ujar Poseidon menyodorkan jubahnya.


Ck! Alasan macam apa itu? Kenapa banyak sekali wanita yang tergoda oleh dewa sinting ini!


"Apa aku harus tersanjung lalu berterima kasih?"


"Tenang saja, aku tidak terlalu memikirkannya."


"Oh." angguk Cathyrene.


"Ini adalah bencana alam yang akan terus berlanjut entah sampai kapan, atau mungkin tidak akan berakhir." cerita Poseidon kemudian.


Perkataan Poseidon barusan mengingatkan Cathyrene tentang cerita Apollo beberapa waktu lalu dan juga kisah yang pernah ia baca mengenai dewa penguasa dunia bawah Hades dan Dewi musim semi Persephone.


Sewaktu masih sekolah. Ia pernah membaca buku yang menceritakan kisah Cinta dewa Dewi berbeda alam itu dimana Hades yang pada akhirnya jatuh Cinta untuk pertama kalinya pada sang Dewi musim semi yang tengah memetik bunga dihutan.


Wangi bau bunga yang tercium dari tubuh sang Dewi sangat menggoda Hades untuk memilikinya. Bau harum yang berubah-ubah sesuai perasaan sang Dewi menjadikannya sebagai kebutuhan sang dewa penguasa kegelapan.


Mungkin karena sudah terlalu lama hidup didunia bawah membuat Hades merindukan keindahan dan ketika melihat Persephone. Hades merasa telah menemukan musim semi untuk jiwanya yang terlalu lama dikelilingi kegelapan.


"Musim semi untuk dunia bawah." Cathyrene tersenyum mengingat kutipan yang pernah ia baca pada buku favoritnya.


"Dari mana kau tau?"


Cathyrene menoleh, "Hey, come on! Kau bukan satu-satunya Dewa yang mengeluhkan hal ini kepadaku."


Ah Apollo..


"Kalian sedekat itu ya?"


"Hm.." angguk Cathyrene.


----


Tbc


*Minos, Rhadamantus dan Aikos adalah tiga hakim yang berjaga didepan istana Hades. Mereka bertugas mengadili orang mati sesuai dosa yang mereka perbuat.


Thanatos adalah dewa kematian yang bertugas mencabut nyawa manusia*.