The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Pembawa Pesan



Zeus mungkin satu-satunya yang terlihat bodoh disana karena tidak mengerti apapun. Ia tidak tau siapa dan apa yang tengah dibahas di ruang rapat tersebut. Sebagai Raja para dewa baru kali ini dia merasa harga diri sebagai dewa tertinggi Olympus jatuh.


"Tidak! Aku tidak setuju." amuk Hera menggeleng tegas. Apa-apaan ini, mengapa bisa gadis itu sampai mau dinikahi oleh Poseidon?


Gadis itu hanyalah seorang manusia biasa. Seorang dewa dari salah satu dewa tertinggi Olympus seperti Poseidon sama sekali tidak pantas mendapatkan gadis biasa tak berguna itu.


"Apa aku meminta pendapatmu?" tanya Poseidon, "Suatu keberuntungan karena kau istri dari saudaraku, Hera. Kalau tidak akan ku pastikan kedua tanganku sendiri yang akan melemparmu ke Tartarus."


Hera bergedik ngeri mendengar ancaman tersebut. Ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi meski ingin. Sungguh, Poseidon adalah dewa yang paling dia hindari untuk cari masalah. Selain terkuat, nyatanya Zeus saja bahkan tidak bisa membelanya jikalau sudah menyangkut dengan Poseidon.


"Ku harap ini yang terakhir, Hera. Poseidon bukan satu-satunya yang akan membuatmu menderita." sahut Apollo ikut mengancam.


Hera menatap Apollo marah. Berani sekali anak itu mengancamnya. Hera menyesal karena telah gagal membunuh Leto bersama kedua anaknya itu.


Poseidon menuruni singgasana. Langkah kakinya dipercepat melewati Apollo menuju istana milik si kembar. Dia tidak dapat berpikir apapun saat ini. Segalanya terlalu cepat terjadi.


Artemis dan Apollo ikut menyusul Poseidon yang tak lagi bisa dihentikan setelah menanyakan dimana Cathy berada. Ia langsung saja menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Asthrea." panggil Poseidon untuk kedua kalinya menyebut nama gadis itu.


"Bagaimana keadaannya, ibu?" tanya Artemis muncul bersama Apollo disusuk Athena.


"Tadi dia sempat membuka matanya tapi tak lama kemudian dia pingsan lagi." jelas Leto memandang Poseidon. Leto tersenyum melihat pria itu ikut datang, "Aiden, mungkin dia membutuhkanmu." ucapnya berdiri, mempersilahkan Poseidon untuk mendekat.


Poseidon mengangguk, menyampirkan jubahnya ke belakang lalu mengambil tempat disamping Cathy yang terpejam. Poseidon menghela nafas panjang menyentuh pipi Cathy yang terasa dingin.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tidak seharusnya dia berlarut-larut dalam amarah. Poseidon benar-benar marah terhadap dirinya sendiri yang begitu egois dan bodoh karena lagi dan lagi membuat gadis itu berada dalam bahaya untuk kedua kalinya.


Walau begitu ada sebuah perbedaan besar. Jika dulu Poseidon sama sekali tidak peduli namun kini melihat Cathy seperti ini rasanya dia ingin membunuh Hera sekarang juga.


"Kenapa tubuhnya begitu dingin?" Poseidon khawatir.


"Racunnya masih bekerja. Apa dia mengatakan sesuatu tadi saat sadar?" jawab dan tanya Athena.


"Dia tidak banyak bicara,  hanya mengeluh bahwa kepalanya sangat sakit."


"Wah, dia menggunakannya lagi." komentar Athena tertawa. Kelakuan Hera sejak dulu tidak pernah berubah, ia selalu mengambil jalan yang sama berulang kali tanpa belajar dari kesalahan.


"Kau tau sesuatu, Athena?" tanya Apollo menoleh menatap Athena.


"Ya. Racun jenis eksplonia yang sangat mematikan dan bisa membunuh dalam sekejap mata setelah merusak syaraf anggota tubuh namun karena  Apollo datang disaat yang tepat membuat racun didalam tubuhnya sedikit melambat reaksinya tapi tetap saja kita harus cepat menemukan penawarnya." jelas Athena sedikit mengetahui tentang gejala racun dari Hera.


"Berapa lama dia akan bertahan?" Artemis bertanya.


"Tergantung seberapa kuat dia bertahan. Siapapun harus tetap berada diruangan ini untuk mengontrol Rhea karena setiap saat dia bisa saja menunjukkan reaksi dari racun yang ada dalam tubuhnya. Ehm maksudku, harus ada yang membantunya melawan racun tersebut." jelas Athena dengan segala pengetahuan yang diketahui olehnya.


"Inilah mengapa Rhea seharusnya kembali ke kuil." dengus Poseidon.


"Sudah terlambat untuk mengungkit atau saling menyalahkan, Aiden. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya agar Rhea bisa sembuh."


Ditengah pembicaraan tersebut tubuh Cathy tiba-tiba terguncang berhasil membuat seisi ruangan panik.


"Dingin.." Cathy mengigil, mengenggam erat tangan Poseidon.


"Oh tidak! Al, kau dewa matahari, tubuhmu dapat mengeluarkan aura panas." titah Artemis.


Apollo mengangguk paham, tidak membuang waktu lagi melompat menaiki ranjang mengejutkan Poseidon yang langsung mengalihkan pandangan.


"Apa yang mau kau lakukan?" desis Poseidon.


Tubuh kecil Cathy ditarik oleh Apollo dan kemudian dibawa ke dalam rengkuhan hangat sang dewa. Apollo  terpejam seraya mengeluarkan aura panas dari dalam tubuhnya agar Cathy bisa merasakan kehangatannya.


Cathy yang sempat mengigil mulai berangsur tenang dalam dekapan Apollo. Nafas yang tadi tak beraturan perlahan mereda membuat Apollo semakin menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Membuat Rhea tetap hangat. Bukankah kau sendiri pernah menawarkan agar aku memberikan kasih sayang padanya." Apollo menyunggingkan senyum tipis menggoda Poseidon.


Poseidon menggeram tertahan dengan kedua mata terpejam berusaha menahan sesuatu.


"Al, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda." tegur Leto. Sudah menjadi kebiasaan Apollo memang yang gemar menggoda dewa lainnya dengan perkataannya yang sedang sedikit berlebihan bahkan terkesan kekanakan untuk ukuran seorang pria dewasa.


Keheningan melanda ruangan tersebut sebelum pada akhirnya satu persatu dari ketiga Dewi lainnya yang ada disana melangkah keluar memberi sedikit ruang untuk Cathy beristirahat.


Athena dan Artemis menuju ruang pengetahuan untuk mencari tau lebih banyak tentang racun yang dipakai oleh Hera karena tak mungkin mereka bertanya pada Dewi gila itu, meminta bantuan sang pembunuh sama saja memberi kesempatan untuk mati kedua kali.


Sepeninggalnya Leto yang terakhir keluar. Poseidon masih berdiam diri di sana menjaga Cathy bersama Apollo yang masih betah dengan posisinya memeluk tubuh Cathy.


Katakanlah bahwa suatu keajaiban Poseidon tidak langsung melemparkan trisulanya ke kepala Apollo. Tidak, dia masih menahannya. Tunggulah sebentar lagi!


Suara tawa Apollo terdengar secara tiba-tiba ditengah keheningan menarik perhatian Poseidon, "Kau tidak tau kan kalau aku juga sempat menaruh dendam sama sepertimu." ungkap Apollo mengingat kejadian di masa lalu ketika kedua matanya menatap Cathy dan Poseidon bergantian.


"Maksudmu?"


"Bohong kalau aku tidak dendam, Aiden! Kau tau dengan pasti seperti apa aku dan Artemis," Apollo bercerita, "Tapi hari itu ibuku datang menceritakan semuanya. Ia bercerita bahwa dia memiliki seorang saudara perempuan yang kemudian berubah wujud menjadi sebuah pulau yang kita sebut pulau Delos."


Poseidon terkejut. Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Leto memang pernah bercerita kepadanya dan membuatnya berada dipihak mereka tapi Leto tidak menceritakan sebanyak ini.


"Aku benar-benar tidak percaya tapi setelah turun langsung menyelidikinya, seakam tertampar oleh kenyataan didepan mata bahwa Cathy memiliki darah yang sama denganku dan Artemis. Maka dari itu kami berjanji untuk selalu menjaganya, berusaha keras agar Hera tidak mengetahui keberadaannya dan kalau pun ketahuan kami sudah menyiapkan senjata untuk melawannya." cerita Apollo,


"Awalnya kami ingin menyerah untuk melibatkanmu dalam rencana besar ini namun benar waktu bisa mengubah segalanya. Terima kasih, Aiden."


Apollo tidak pernah berterima kasih untuk apapun tapi hari ini dia melakukannya. Hal tersebut mengejutkan Poseidon.


"Apa kau dan Aiden sedang bertengkar?"


"Tidak." Cathy menggeleng keras namun melihat wajah cantiknya merenggut membuat Apollo sadar bahwa Cathy sedang menyembunyikan perasaannya saat ini.


"Rhea, kau tidak bisa membohongiku."


"Dia marah dan mengatakan hal yang tak ku sukai, Al." curhat Cathy.


Apollo tertawa, "Oh astaga, Rhea ku sayang. Mengapa kau tidak mengerti bahwa dia sedang cemburu. Para pria memang akan seperti itu jika jatuh hati. Garis kebodohan akan menutupi logika."


"Akan ku pastikan kau menjadi dewa kedua yang akan ku buang ke Tartarus." seru Poseidon.


"Aku menemukannya." pekik Artemis dan Athena heboh memasuki kamar.


Poseidon dan Apollo menoleh dengan kompak menatap kedua gadis yang tengah berlari menghampiri ranjang Cathy.


"Penawarnya tumbuh di hutan perbatasan Arcadian."


"Arcadian?" ulang Apollo menatap Artemis, sedang saudarinya itu langsung saja menunduk.


"Aku akan pergi ke sana. Art, kau mau ikut denganku." Apollo menatap Artemis menunggu jawaban gadis itu.


"Itu Arcadian, Al."


"Terus kenapa?" tanya Apollo.


Artemis mendengus, entah Apollo lupa atau sedang mencoba pura-pura tidak tau dihadapannya.


"Aku membutuhkanmu disana, Art. Ayolah."


Artemis mengangguk pasrah.


Apollo menarik diri dari Cathy ketika merasa tubuh gadis itu sudah jauh lebih baik. Apollo bersiap untuk pergi, ia tidak bisa membuang waktu lebih banyak.


"Aiden, kau tetap disini. Rhea mungkin akan membutuhkanmu." ucap Athena ketika melihat Poseidon ikut berdiri.


"Aku memang tidak akan pergi." balas Poseidon yang ternyata hanya mengubah posisinya.


 


"Ayah, apa kita tidak keterlaluan melakukan ini pada bibi? Maksudku kita tidak hanya  menarik seluruh pelayan dan penjaga dari paviliun, membiarkan bibi Cathy sendiri di sana tapi kita juga bekerja sama dengan Dewi Hera untuk menyingkirkan bibi Cathy. Apa kita tidak terlalu berlebihan?"


Beberapa hari yang lalu kediaman baginda Raja kedatangan utusan dari Dewi Hera. Sang Dewi menawarkan bantuan untuk menghadapi perang dengan Sparta dengan satu syarat.


Yaitu membuang Cathy.


Awalnya sang Raja ingin menolak tapi penawaran yang terus dilontarkan oleh pihak Hera tak mampu untuk ditolak, nyatanya keputusan yang diambil sudah cukup membuktikan bahwa nyawa si bungsu Troya tidak lebih berharga dari bantuan yang akan didapat. 


"Hektor, apa yang kau katakan? Bukankah sejak awal bibi mu itu memang tidak tercatat dalam catatan keluarga kita karena ayahnya tidak jelas. Hesione melahirkannya tanpa seorang ayah." sahut pamannya yang paling tidak menyukai kehadiran Cathy yang dianggap telah merebut banyak hal dari mereka.


"Aku hanya merasa kita terlalu kejam dan tidak adil, paman." Hektor menghela nafas.


"Maka berhenti berpikiran seperti itu. Fokus saja untuk ke depan."


"Yang dikatakan oleh ayah benar, kakak." sambung Paris.


Sejak kejadian dimana Cathy melakukan perlawanan akan keputusan sang Raja, semua seakan berubah. Kedatangan Helen luar biasa dahsyat hingga para pria disana lebih memilih mempertahankannya dibanding mendengarkan Cathyrene.


Seorang pria tua terlihat memasuki ruang rapat lalu berjalan mendekati tempat duduk sang Raja, "Maaf telah menganggu, Yang mulia akan tetapi didepan ada rombongan tak dikenal datang untuk menemui anda. Mereka membawa banyak kereta kuda berisikan barang mewah."


"Membawa barang mewah? Mengapa terdengar seperti ingin melamar?" sahut salah seorang pria disamping Hektor.


"Apa kau tidak tau dari mana mereka berasal? Dari arah mana mereka datang?"


"Mereka muncul begitu saja, Yang mulia."


Untuk menjawab rasa penasaran. Kakak lelaki ketiga Cathy, yang paling tidak menyukai kehadiran Cathy mulai melangkah keluar diikuti Hektor dan lainnya. Mereka sangat penasaran dengan apa yang ada didepan sana.


"Aku adalah demigod utusan dari istana Poseidon bermaksud melamar tuan puteri Cathyrene of Troy untuk dewa Poseidon." sapa seorang pria tampan muncul dihadapan sang Raja dan lainnya.


"Apa!!"


Keterkejutan terlihat jelas di mata para pria itu saat mereka melangkah keluar dan mendapati begitu banyak kereta kuda berisikan barang-barang. Hektor bersama pamannya menuruni anak tangga kemudian mendekati salah satu kereta kuda dan memeriksanya.


Hektor melebarkan mata sempurna melihat begitu banyaknya barang mewah yang diantarkan oleh orang yang mengakui dirinya utusan Poseidon.


"Apa benar ini dari dewa Poseidon? Aku tidak dapat mempercayainya." bukan Hektor yang bertanya melainkan kakak keempat. Dia jiga salah satu pria yang tidak menyukai Cathy.


"Maka itu bukan urusanku untuk membuat anda percaya, Pangeran."


"Ck! Sombong sekali."


"Kalau memang kau utusan Poseidon, coba buktikan pada kami atau usahamu untuk datang sia-sia karena kami tidak menerima barang dari orang tak dikenal."


Demigod itu tertunduk seperti tengah menahan sesuatu. Sebagai keturunan setengah dewa mereka dilarang menggunakan kekuatan mereka apalagi sampai memamerkannya didepan umum, tidak! itu sangat terlarang dilakukan tanpa ijin.


"Kau tidak bisa melakukannya?"


Demigod tersebut membalikkan badan lalu dengan sekali gerakan mengayunkan tangan seekor banteng berukuran cukup besar muncul dihadapan mereka.


Banteng adalah binatang keramat Poseidon. Semua tau akan hal itu jadi memuculkannya dihadapan Raja Troya dan yang saudara lainnya adalah pilihan yang tepat untuk dilakukan.


"Apa ini sudah cukup membuktikan?"


Hening!


Tidak ada satupun yang mampu menjawab. Mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Sungguh sesuatu yang sangat mustahil puteri dari kerajaan mereka dilamar oleh salah satu Dewa Agung Olympus.


"Bagaimana ini bisa terjadi, bukankah bibi sudah," Hektor bahkan tidak mampu menyelesaikan ucapannya sendiri, "Kurasa aku harus menemui bibi di Paviliun." sambungnya hendak pergi tapi Demigod Poseidon berucap,


"Anda tidak akan menemukan Putri Cathy di sana. Dia sudah bersama kami di Olympus."


Dan lagi! Mereka benar-benar terkejut dua puluh kali lipat dari sebelumnya. Cathy berada di Olympus? Bagaimana bisa itu terjadi, siapa yang membawanya? Bukankah mereka sudah cukup yakin malam kemarin adalah malam Cathy bernafas.


"Hadiah ini adalah mahar pernikahan dari dewa Poseidon. Jika kurang atau ada masalah bisa disampaikan langsung maka saya akan menyampaikannya kepada dewa Poseidon."


 


Tbc