
Hera benar-benar dikuasai emosi saat ini. Kabar yang baru saja dia dengar cukup mengusik ketenangan. Ia tidak menyangka, kelengahan tempo dulu justru mendatangkan malapetaka baru untuknya. Seorang keturunan lain.
"Ouh, jadi Leto berusaha menyembunyikan ini dariku. Memang dia pikir dia siapa?" desisnya marah.
Cukup Athena, Artemis dan Apollo yang menjadi saingan putranya selama ini. Ketiga anak suaminya dari Dewi lain itu selalu berhasil menarik simpati hingga membuat Zeus bangga akan pencapaian mereka, sangat berbeda dengan putranya, sang dewa Ares yang selalu menuai keburukan dan nyaris dianggap pembuat masalah di Olympus terlebih kasus perselingkuhan yang dilakukan olehnya bersama Aphrodite, sang Dewi Cinta.
Dan sekarang seolah belum cukup sudah datang lagi keturunan lain yang semakin menggeser posisi anaknya. Hera mendengus, sampai kapan dia harus bersaing seperti ini.
"Cari tau anak itu siapa." titahnya pada bawahan yang membawakan kabar tersebut.
----
Kereta kuda yang membawa Cathy tiba di istana utama Troy. Cathy bergegas keluar setelah pintunya dibukakan oleh pengawal. Cathy mengangkat gaun bagian depannya kemudian setengah berlari menuju tempat dimana ayahnya di rawat.
"Ayah."
Cathy memandang sedih pria yang tengah terbaring diatas ranjang tak sadarkan diri. Wajah keriput yang sudah tirus memucat menandakan kesehatannya yang semakin memburuk tiap hari.
Dia memang bukan Cathy yang sebenarnya tapi biar bagaimanapun pria yang saat ini terbaring lemah dikamar itu adalah orang yang memberikannya kasih sayang selama ia berada ditempat asing tersebut.
"Ayah." panggil Cathy lagi seraya menggengam tangan sang Raja.
Selang beberapa waktu kedua mata yang sudah dua hari tidak mau terbuka itu perlahan bergerak sebelum terbuka sepenuhnya dan memandang Cathyrene.
"Cathyrene, kau kembali putriku." lirih Raja Troy memanggil Putri bungsunya yang sangat ia kasihi.
"Iya, Ayah. Cathy sudah pulang."
"Bisa tinggalkan kami berdua." perintah sang Raja pada beberapa orang didalam sana diantaranya adalah petugas kesehatan dan beberapa putranya juga menteri dan panglima kerajaan.
Satu persatu diantara mereka mulai melangkah keluar memberi privasi untuk Cathyrene dan Sang Raja walau ada salah satu diantara putra Laomedon yang terlihat tidak senang dengan kepulangan adiknya.
"Ada yang ingin ayah katakan padamu."
"Nanti saja, Ayah. Sekarang kesehatan ayah lagi tidak memungkinkan untuk banyak bergerak." larang Cathy.
"Ayah takut tidak ada kesempatan lagi. Sudah cukup lama Ayah ingin menceritakan hal ini padamu."
"Dulu sewaktu ibumu hamil. Zeus mendatangiku. Dia mengatakan sesuatu yang tidak dapat ku percaya."
"Apa katanya, Ayah." tanya Cathy penasaran.
"Dia bilang bahwa kau bukan bagian dari Troya. Kau sebenarnya hanya adalah titipan. Keberadaanmu diramalkan bisa menjadi ancaman besar di Olympus."
"Kenapa begitu, Ayah?"
"Ayah tidak tau dengan pasti. Zeus tidak menceritakan keseluruhannya. Dia hanya memintaku untuk menjaga dan melindungi identitas aslimu. Kau bukan putriku, melainkan cucuku yang lahir dari rahim putriku. Hanya karena suatu masalah hingga kau menggantikan posisi ibumu disini sebagai Putri ku." jelas sang raja panjang lebar,
"Zeus juga mengatakan hal lain. Setelah kematianku, Troya akan hancur."
"Tidak mungkin." Cathy tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia memang bukan ahli sejarah tapi Cathy pernah menonton sebuah film yang bercerita tentang kehancuran bangsa Troya ditangan Yunani. Semua itu terjadi karena seorang pangeran bernama Paris yang terbuai akan kecantikan Helen of Sparta.
"Untuk itu, ayah mengirimmu ke kuil Athena saat kau mengutarakan keinginanmu yang ingin lebih dekat dengan Poseidon." sang Raja mengenggam tangan Cathy, "Setelah ini pergilah sejauh mungkin. Jangan kembali lagi karena ini bukan tempatmu. Semua akan berubah begitu Ayah pergi."
"Jangan berkata seperti itu. Akan ku pastikan ayah sembuh." tangis Cathy pecah.
Sang raja menggeleng, "Tidak, Nak. Takdir hidup manusia memang sudah digariskan. Yang akan datang akan datang jika sudah waktunya, sama halnya dengan kepergian."
"Ayah."
Cathy menyusuri taman belakang istana tanpa ditemani para dayang yang mengira dirinya sudah tidur di Paviliun pribadinya. Nyatanya lagi dan lagi dia berhasil menggelabui para pelayan dan kabur di tengah malam.
Kesedihan masih terlihat jelas diwajah cantiknya. Matanya membengkak karena terus menangis. Kesehatan ayahnya semakin buruk saja bahkan para tabib sudah mulai menyerah menghadapi kondisi ini.
"Ada apa?" tanya seseorang begitu Cathy memasuki area mirip labirin kecil, sebuah tempat yang dibangun oleh ayahnya asal permintaan Cathy dulu.
Jubah kebesaran berwarna putih dnegan corak emas mengkilap menghiasi punggung jubah membuat pria itu terlihat gagah seperti hari-hari sebelumnya. Cathy sesegukan.
"Ayahku." Cathy mendekat.
"Butuh pelukan?" lengan pria itu terbuka, seakan menyambut Cathy yang terlihat ingin menumpahkan kesedihannya saat ini.
Cathy mengangguk lalu bergerak memeluk tubuh Poseidon, menangis pelukan pria itu, "aku tidak mau ayah meninggalkanku."
"Semua yang tak abadi akan kembali ke tempat asal mereka cepat atau lambat."
Tangis Cathy semakin kencang. Poseidon benar-benar tidak ahli membujuk seorang gadis.
"Tapi aku belum siap." lirih Cathy.
Poseidon melepas pelukannya lalu menatap kedua mata Cathy seraya menangkup pipi Cathy.
Sial! Dewa laut ini benar-benar tau cara menaklukan wanita dengan caranya sendiri.
"Ayahmu adalah orang hebat yang dengan berani menipu dua dewa Olympus sepertiku dan Apollo. Sekarang biarlah dia beristirahat dengan tenang."
"Rasanya ini tak adil."
Cukup lama keduanya bercengkrama di taman belakang istana sembari menikmati hembusan angin malam yang menerpa kulit wajah Cathy.
Cathy sudah merasa lebih baik dari sebelumnya berkat Poseidon. Mungkin benar, ayahnya sudah terlalu lama berkuasa, sudah saatnya dia istirahat tapi harusnya dengan cara merelakan kematian?
Hembusan nafas gusar terdengar berhasil menarik perhatian Poseidon, "Kenapa lagi?" tanyanya.
"Jika aku mengatakan suatu rahasia yang ku simpan selama ini apakah kau akan percaya?" ungkap Cathy. Entah mengapa dia ingin memberitahu Poseidon kalau dia bukan berasal dari dunia ini. Dunia yang sempat tidak dia percayai keberadaanya dalam suatu sejarah.
Poseidon mengernyit, "Apa itu?"
"Nama asliku adalah Yerim, bukan Cathyrene."
"Yer- im." ulang Poseidon kesusahan menyebut gadis disampingnya membuat sang empunya nama tertawa kecil. Senang rasanya mendengar namanya lagi.
"Ah sebentar." Cathy mengambil ranting kecil pohon Dan mengambar ukiran cantik berbentuk bunga Yang menjadi lambang namanya, "ini dia, Kim adalah emas dan Yerim adalah teratai." jelasnya dengan senyuman bangga.
"Astrhea?" gumam Poseidon terkejut.
Cathy membalikkan bada, "Apa itu?"
"Tanaman langit Yang hanya bisa tumbuh di istana Olympus. Teratai emas itu tumbuh di sungai istana Dewi Leto, ibu Apollo dan Artemis."
"Benarkah?" kekeh Cathy.
----
"Apa kita harus memberitahu Poseidon masalah ini?"
"Kurasa. Kita membutuhkannya untuk membantu melindungi Cathy. Kau tau kan kalau ayah pasti akan mengalah untuk Hera seperti kasus yang terjadi pada ibu. Ayah diam saja ketika Hera berulah dengan menyembunyikan Dewi kelahiran dan mengutuk siapapun yang membantu kelahiran kita."
"Kau benar." angguk Artemis yang sudah cukup kebal dnegan kelakuan Hera yang seolah tidak ada habisnya mencari masalah dengan para wanita yang disukai ayah mereka.
Sebenarnya salah satu alasan Artemis meminta kekuatan untuk tetap perawan selamanya agar tidak ikut menjadi korban ayah atau saudaranya yang lain meskipun dirinya adalah kesayangan dari sang ayah. Artemis ingin mengikuti jejak kakaknya Athena, yang tumbuh menjadi seorang Dewi tangguh.
"Art, kamu mendengarku kan?" panggil Apollo ketika melihat saudari kembarnya hanya diam saja sejak tadi.
"Iya."
"Ternyata kalian sedang disini." seru seorang Dewi cantik berjalan menghampiri si kembar dari kejauhan.
Dilihat dari gaun putih yang menjuntai Indah sembari mengeluarkan kobaran api kecil membuat Artemis dan Apollo berpikir bahwa wanita itu baru kembali dari dunia bawah tanah untuk menemui ibunya.
"Persephone." senyum Artemis.
"Hubunganku dengan Hades tidak baik. Dia menuduhku telah membohonginya." ceritanya.
Apollo memandang saudari kembarnya dengan tatapan mengejek seakan menyalahkan Artemis atas kesialan yang menimpa Persephone, saudari tidak dalam rahim yang sama.
"Sepertinya ibu memanggilku." ucap Apollo berjalan pergi meninggalkan Persephone dan Artemis berdua. Mungkin mereka membutuhkan privasi untuk bicara mengenai masalah ini.
"Al." panggil Artemis diabaikan saudaranya yang terus melangkah sebelum menghilang dibalik pilar Olympus yang menjulang tinggi.
----
"Kakak." panggil Cathy menarik perhatian orang-orang diistana karena kedatangannya yang mendadak dan langsung menerobos kerumunan dalam ruang acara istana yang kala itu tengah menyambut kedatangan sang Putra mahkota.
"Cathy, jangan berlarian seperti itu nanti jatuh."
"Aku tidak apa-apa. Sudah biasa."
Alis pria dihadapan Cathy menyatu seiring mendengar perkataan adik kecilnya. Setahunya Cathy adalah adik paling kecil yang sangat anggun, tidak suka berlarian di dalam istana tapi sekarang? Apa saja yang sudah dia lewatkan karena menghabiskan banyak waktu di medan perang.
"Oh ya, Kakak mengenai kondisi Ayah."
Cathy menitihkan air matanya. Tidak, dia tidak ingin kehilangan seseorang yang ia sayangi. Mungkin saat ini perasaan yang ia rasakan adalah sebagian dari rasa sayang Cathy asli yang mungkin masih hidup dalam raga yang tengah ia tempati.
"Cathy, apa kau bisa mendengarku? Ayahmu. Apa kau tidak ingin menemuinya untuk terakhir kali."
Kosong. Setelah itu Cathy tidak merasakan apapun lagi. Segalanya lenyap tak tersisa.
Setelah upacara penyambutan sang putra mahkota yang masih berlangsung saat ini Cathy mengunjungi kamar ayahnya. Dia melihat begitu banyak orang mengelilingi tubuh ayahnya yang terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya dengan mata yang tak mau terbuka seperti kemarin.
Sang Raja telah meninggal...
Oh tidak! Cathy menggeleng tegas, rasanya tidak mai mempercayai apa yang ia lihat dihadapannya. Dia ingin sekali kabur tapi sial otak dan hati selalu tak sejalan. Ia malah mendekati sang ayah, berlutut tepat disamping pria tua yang ia tau begitu mencintai dirinya sepenuh hati disaat beberapa orang disana tidak menyukai kehadirannya diantara pewaris Troy.
"Ayah." tangis Cathy pecah.
"Yang mulia tuan Putri, mohon tenangkan dirimu."
"Kita harus secepatnya mengadakan upacara penobatan Putra mahkota sebagai Raja."
"Apa hanya itu yang ada dikepala kalian hah?" teriak Cathy yang sempat mendengar penuturan bawahan ayahnya. Ia sangat marah ditengah kondisi seperti ini orang-orang disana justru memikirkan tentang tahta.
"Putri, mohon tenangkan dirimu." ucap panglima kerajaan yang tadi menjadi teman bicara anggota parlemen kerajaan disampingnya.
Persetan dengan semua orang ini. Cathy sama sekali tidak mempedulikan mereka yang berusaha untuk menghiburnya. Ia tau semua itu tidak tulus.
"Keluar dari sini!" teriak Cathy mengusir orang-orang didalam kamar sang Raja.
Satu persatu diantaranya mulai berjalan keluar menuruti kemauan sang Putri sementara yang lain merasa memang harus keluar untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan penobatan Raja baru. Mereka sungguh-sungguh mengabaikan omelan sang Putri yang menurut mereka masih kecil untuk ikut campur pada masalah kerajaan.
Sepeninggalnya orang-orang itu. Pintu kamar yang ditutup dari luar membuat Cathy memutuskan memanggil Apollo. Mungkin pria itu bisa membantu masalahnya ini.
"Al, kau mendengarku."
Hanya dalam kurun waktu sekejab panggilan Cathy mendapatkan jawaban dari sang dewa yang kini berada dikamar tersebut. Apollo memandang wajah penuh air mata Cathy dengan tatapan prihatin.
Apollo tau maksud dan tujuan Cathy memanggilnya ke sini, "Aku tidak bisa, Rhea." ucapnya.
"Ku mohon, Al. Kau adalah dewa penyembuhan. Tolong ayahku. Aku tau dia telah menipumu dan Poseidon dulu tapi berilah sedikit pengampunan." pinta Cathy menyatukan tangan.
Blushh
"Al tidak bisa melakukannya." sahut Poseidon ikut muncul disana.
"Apa maksud kalian."
Apollo dan Poseidon saling memandang. Jujur saja sebagai orang terdekat Cathy mereka tidak tega melihat gadis itu menangis apalagi sampai memohon seperti tadi.
"Segala sesuatu yang terjadi memang haruslah terjadi. Meskipun kami adalah seorang dewa tapi kami tidak bisa melawan takdir. Masalah ini akan menjadi tugas Hades dan Persephone di alam bawah."
"Sudahlah, Rhea. Jangan menangisi kepergian ayahmu."
Cathy memejamkan mata, ia membalikkan tubuh menatap ayahnya, "Aku belum sempat mengucapkan hal yang ingin ku katakan padanya."
Beberapa waktu lalu sang raja telah mengatakan sebuah rahasia tentangnya dan pada saat itu juga Cathy ingin nengakui rahasia yang ia sembunyikan juga mengenai Cathy yang sudah pergi selamanya.
"Ikutlah denganku." ucap Poseidon.
Apollo menoleh dengan wajah kaget, "Apa kau yakin?" tanyanya paham akan jalan pikir sang dewa laut.
"Tentu." angguk Poseidon. Perlahan tapi pasti dia berjalan mendekati Cathy. Menarik wajah gadis itu agar menatapnya. Tangannya lalu terulur untuk menghapus sisa air mata Cathy berhasil membuat Apollo terhenyak.
"Itu akan melanggar aturan para dewa. Zeus akan sangat marah." sambung Apollo. Mungkin suatu kecepatan tindakan menceritakan tentang ramalan yang hanya diketahui olehnya, Artemis dan ibu mereka saja kepada Poseidon. Sekarang pria itu benar-benar bertindak diluar batas.
Poseidon bahkan menyanggupi permintaan Apollo dan ide Artemis dan Leto.
"Dia tidak akan berani melakukannya terhadapku." balas Poseidon melirik Apollo sekilas, "kita temui ayahmu," ucapnya sebelum menghilang dengan membawa Cathy bersamanya.
----
Baru beberapa hari ditinggalkan oleh Persephone. Hades menemukan dirinya sudah sangat merindukan istrinya itu. Hubungan keduanya sebelum wanita itu pergi menemui ibunya memang tidak baik. Hades dengan sikap keras kepala terus menyalahkan istrinya sedang Persephone sama sekali tidak mau mengakui kesalahan yang tidak dia lakukan.
"Aku baru saja menjemput Raja Troy." lapor Thanatos menghadap Hades.
Tatapan tajam Hades tertuju pada Thanatos. Ia merasa terganggu, "Terus?" tanyanya sinis.
"Apa yang harus kami lakukan terhadapnya. Dia adalah Raja yang telah dengan lancang menipu Poseidon dan Apollo pada saat menjalani hukuman dari Zeus." jelas Thanatos. Sang dewa kematian tau bahwa Hades mungkin tidak akan peduli namun tetap saja dia membutuhkan keputusan sang Raja dunia bawah untuk mengambil keputusan.
Biasanya disaat seperti ini kehadiran Persephone yang paling bijaksana lah yang paling dibutuhkan. Wanita itu membuat penghuni bawah terkagum-kagum dengan cara dia mendampingi kepemimpinan Hades yang selalu mendengar pendapat Persephone hingga berujung mematuhi keputusan istrinya itu.
"Hukum saja sesuai dosa yang dia lakukan. Tidak ada tambahan apapun dariku."
"Kau sedang merindukan Ratu, Yang mulia?" tebak Thanatos tepat sasaran.
"Bukan urusanmu."
"Bagaimana kalau yang mulia Ratu masih merajuk dan menolak untuk kembali."
"Dia sudah berjanji padaku." balas Hades dingin.
Rhadamanthus melangkah masuk ke dalam ruang Hades. Ia menunduk sebelum mengatakan maksud dan tujuannya masuk.
Jika sudah begini pasti ada berita penting yang ingin disampaikan oleh salah satu hakim tertinggi Hades itu.
"Berita penting apa yang kau bawa?" tanya Hades.
"Kita kedatangan tamu. Dewa Poseidon dan berita pentingnya dia membawa seorang wanita yang masih hidup bersama dengannya."
Hades berdiri dari singgasananya, "apa dia gila?" hardiknya menatap Thanatos yang tadi baru saja menyebutkan nama Poseidon, "lihat! Kau seperti memanggil ikan laut itu ke sini. Kita tidak punya kolam air kecuali kolam api untuk menampungnya."
"Mau apa dia kesini?" Hades bertanya lagi.
"Dewa laut ingin menemui Raja Laomedon."
Hades mendengus. Belum cukupkah kemarin dia di tipu salah satu keponakannya yang sedang dimabuk Cinta dan sekarang saudaranya juga menyusul. Ada apa sebenarnya dengan para dewa Olympus?
Pintu gerbang utama kediaman Hades terbuka lebar. Poseidon melangkah masuk dengan santai sembari menggengam tangan Cathy yang terlihat ketakutan berada ditempat gelap dan asing.
Ya ampun, kalau begini caranya lebih baik dia menolak saja ajakan Poseidon. Tempat yang mereka datangi terlalu menakutkan.
"Apa itu tengkorak?" gumam Cathy menyipitkan mata menatap langit-langit istana Hades dan pijakan kakinya. Semua dipenuhi tulang belulang.
"Hem, kepala orang mati." jawab Poseidon tanpa menoleh sedikitpun.
Double shit!!
"Kau mau membunuhku ya!"
Poseidon menghentikan langkahnya, "aku sedang berusaha membantumu, Ashrhea. Sekarang diamlah dan jangan lepaskan tanganku kecuali kau mau dibawa oleh para jiwa kelaparan seperti tadi."
Cathy binggung harus senang atau sedih. Di sisi lain dia memang ingin menemui ayahnya tapi perjalanan yang ditempuh sebelum masuk ke tempat ini sangat menyeramkan. Mereka melewati lautan api dengan perahu melayang yang di dayung oleh Kharon, begitu kira-kira Poseidon memanggilnya tadi.
Ia tidak tau jenis kelamin si pendayung itu karena seluruh tubuhnya dibungkus kain hitam. Cathy sampai bertanya kepada Poseidon apakah Kharon tidak akan kepanasan bekerja dengan kostum seperti itu namun hal tersebut justru membuatnya dihadiahi ketukan di kepala oleh Poseidon.
"Poseidon."
Suara yang timbul ditengah kegelapan yang hanya diterangi sedikit cahaya membuat Cathy terlonjak. Ia melompat masuk dalam pelukan Poseidon. Sial! Siapa yang bersuara ditengah keheningan malam seperti ini. Mengagetkan saja.
"Diam dan tetap disisiku."
"Iya, iya aku tidak akan kemana-mana. Tidak sedetik pun." patuh Cathy.
Tiba-tiba saja ruangan yang tadinya gelap mulai diterangi oleh beberapa cahaya. Cahaya yang hanya hidup jika sang Ratu berada disana tapi saat ini sepertinya cahaya itu dibutuhkan untuk menyambut mahkluk luar yang sepertinya tak terbiasa.
"Shit!" Cathy tidak bisa menahan makiannya saat ruangan tersebut bisa dilihat dengan jelas.
"Ekhm. Poseidon, hal apa yang membawamu ke sini?" tanya Hades.
Cathy mendongak menatap pria yang tengah berdiri di dekat singgasana megahnya. Tatapan matanya tajam. Garis wajah tegas mirip seperti Poseidon. Cathy sama sekali tidak menyangka jika para dewa ini memiliki ketampanan luar biasa ditambah kekuasaan mereka.
"Aku ingin meminta ijinmu." ucap Poseidon tak terpengaruh dengan tatapan mengintimidasi Hades.
"Ijin?" ulang Hades.
"Aku ingin menemui Laomedon."
----
Tbc..