
Terjawab sudah pertanyaan Cathy selama ini tentang bagaimana caranya dia bisa selamat dari kematian untuk kedua kalinya di lautan.
"Kenapa?" tanya Cathy.
Melalui ingatan Cathy, ia sudah cukup yakin bahwa sebelum Cathy memutuskan untuk melompat dari tebing, Poseidon sama sekali tidak menunjukkan tanda akan kemunculannya saat itu dan malam mengerikan itu hanya ditemani suara petir yang mencengkram.
"Aku hanya merasa perlu menyelamatkanmu." Balas Poseidon.
"Hanya itu saja?" gumam Cathy kecewa. Ia sempat berpikir bahwa mungkin saja Poseidon datang menyelamatkan wanita yang ia pikir Cathy pada malam itu karena menyadari suatu perasaan yang didambakan oleh pemilik asli tubuh yang telah menghilang dari raganya namun ternyata sama saja.
Bahkan sampai Cathy meninggalkan raganya, ia tak mendapatkan cinta tulus dari sang pujaan hati yang begitu ia idamkan.
Setelah pembicaraan cukup lama. Kesalahpahaman diantara keduanya mulai menemukan jalan keluar sebagaimana metinya. Cathy merasa tidak perlu membenci Poseidon untuk masalah yang ia sendiri tidak tau kebenarannya. Selama ini Cathy hanya mengandalkan ingatan Cathy untuk menghardik Poseidon.
"Jadi kau mau memaafkanku kan?" tanya Poseidon kemudian ketika mereka hanya diam saja selama beberapa waktu.
"Tergantung." Balas Cathy berpangku tangan.
"Apa lagi?" keluhnya.
"Jangan pernah membohongiku lagi dengan menyamar jadi Apollo atau siapa lah, itu saja." ungkap Cathy.
"Baiklah, aku tidak keberatan dengan hal itu."
"Deal ya."
"Deal?" ulang Poseidon tidak mengerti perkataan yang baru diucapkan oleh Cathy.
"Maksudku kita damai sekarang." Ucap Cathy lagi. Huh, mengapa dirinya sangat sulit menghilangkan bahasa milenial nya. Sulit sekali rasanya hidup di jaman kuno dengan pengetahun masa depan yang canggih.

Sepertinya sekarang Apollo bisa bernafas dengan tenang karena salah satu misi telah berhasil sesuai rencana. Apollo jadi memikirkan perkataan ibunya tempo hari tentang Cathy.
"Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Hera akan segera tau. Kita harus mempersiapkan segala kemungkinan. Akan lebih baik sebelum semua itu terjadi, Rhea telah menjadi pengantin Poseidon karena dengan begitu dia akan sama kuatnya dengan Hera."
Kebenaran tentang Rhea telah terungkap di pulau Delos. Rhea adalah putri Zeus yang terlupakan bersama adik titan Leto yang memutuskan berubah menjadi sebuah pulau hanya karena ingin menjauh dari Zeus. Pulau yang diangkat kembali ke dasar laut oleh Zeus untuk membantu Leto melahirkan kedua bayi kembarnya yaitu Artemis dan Apollo.
Dalam hati, sebenarnya Apollo belum bisa merelakan Rhea-nya bersama Poseidon. Memikirkan jika nanti Poseidon akan kembali menyakiti hati Cathy untuk yang kedua kali adalah hal terakhir yang ingin Apollo lihat. Sejak mengetahui bahwa Rhea adalah bagian dari keluarga mereka yang terancam kehadirannya oleh Hera membuat Apollo dan Artemis menjadi protektif. Mereka bahkan berpihak pada kerajaan Troya karena Rhea adalah putri yang berasal dari kerajaan tersebut meski pada dasarnya Rhea hanyalah titipan, Dia bukan anak putri Hesione dan Heracles.
"Al, sejak kapan kau disana?" tanya Cathy berjalan menghampiri Apollo yang datang mengunjungi tempatnya.
"Tidak ada, Rhea." Balas Apollo tersenyum.
Cathy mengernyit, merasa aneh dengan nada bicara Apollo yang tidak biasa. Pria itu seperti bukan Apollo yang ia kenal. Mungkinkah Apollo sedang ada masalah?
"Apa semua baik-baik saja, Al?"
Apollo tersenyum mengulurkan tangan menarik pipi Cathy membuat sang empunya meringis dengan wajah merenggut, "Tidak ada ap-apa Rhea sayang."
"Benar? Kau bisa cerita padaku, aku tidak mau jadi sahabat yang tidak berguna untukmu jika memang kau punya masalah."
"Aku adalah dewa matahari, tidak ada hal yang bisa membuatku berada dalam masalah."
"Ck! Dasar." Cibir Cathy.
"Ekhm." Dehem seorang muncul disana. Jubah putih bercorak keemasan menjuntai indah di belakang, sama halnya dengan kepunyaan Apollo. Siapa lagi kalau bukan sang dewa laut.
Hubungan keduanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya Cathy tidak lagi bersikap dingin setelah keterbukaan yang dilakukan mereka karena bujukan Apollo yang memiliki andil besar dalam hubungan Cathy dan Poseidon.
Dengan begini, Cathy jadi memiliki tiga dewa yang berada dipihaknya dan siap membantu dirinya kapanpun namun sayang Cathy tidak suka melakukan itu semua karena sama saja tidak adil untuk peserta lainnya bukan? Cathy lebih suka menerima masukan karena dia sangat percaya pada kemampuan dirinya sendiri untuk masalah bakti sosial.
"Karena kita semua sudah disini, bagaimana kalau kita bermain." Sambut Cathy memandang dua pria dihadapannya.
"Bermain?" ulang Apollo.
Cathy mengangguk semangat, "Iya, bermain. Apa para dewa hanya tau bermain wanita saja?"
"Kata siapa?" sahut Poseidon tidak terima.
"Kata aku, kenapa?"
Apollo dan Poseidon saling melempar pandangan. Mereka jelas tidak terima namun tidak ingin mengelak juga.
"Kali ini aku setuju." Celetuk Artemis datang tiba-tiba.
"Art." Sambut Apollo membuat Artemis tersenyum senang sebelum berhambur memeluk saudara kembarnya.
"Ibu mencarimu."
"Aku akan menemui ibu setelah ini." Balas Artemis dalam pelukan Apollo.
"Lihat! Aku benar kan." Seru Cathy kembali mengundang perhatian yang lain, "Ayo kita bermain. Yang menolak adalah pengecut." Sambungnya melirik Apollo dan Poseidon membuat Artemis tertawa kecil karena ulah berani Cathy.
Sebelumnya tidak ada yang berani berkata seperti itu didepan Poseidon, dan Artemis akui, Cathy satu-satunya yang cukup berani bahkan takkan mendapatkan masalah meski ia melakukannya.
"Ayo, siapa takut." Balas Apollo merasa tertantang.
Permainan pun di mulai. Cathy memberi panduan terlebih dahulu bagaimana cara permainan mereka. Hal tersebut membuat Apollo dan lainnya mengernyit heran mengenai cara bermain Cathy yang berbeda.
Jadi begini, permainan dibagi dua kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan. Apollo bersama Poseidon sedang Artemis tentu saja bersama Cathy. Permainan simple pada kehidupan Cathy yaitu petak umpet dimana sang pemain yang kalah akan ditutup matanya dan harus menemukan lawan bermainnya.
"Suitnya batu," Cathy mengepalkan tangan,"Gunting, kertas." lanjutnya membentuk tanda peace lalu membalikkan telapak tangannya yang terbuka didepan ketiga dewa-dewi didepannya.
Ketiganya nampak binggung namun berusaha mengingat seraya mempraktekkannya layaknya anak kecil yang baru belajar berhitung. Cathy terkekeh.
Come on, permainan bahkan belum di mulai.
"Batu, gunting, kertas." Ulang Apollo memperlajari dengan menggerakan tangan sesuai yang ditunjukkan Cathy.
"Aku paham." Sahut Poseidon.
"Aku juga." Sambung Artemis.
"Aku tidak yakin." Tutup Apollo sukses membuat ketiganya melongo ke arahnya namun hanya dibalas cengiran, "Bercanda. Ayo mulai." Lanjutnya mengosok-gosokkan tangan, siap memulai pertarungan.
"Batu, gunting, kertas." Ucap mereka serempak.
"Yes." Girang Cathy memenangkan suit yang mereka lakukan. Kalau segini mudah, kenapa dari tadi buang waktu.
"Sudah tau kan permainannya seperti apa? Sekarang tutup mata kalian berdua dan jangan mengintip." Perintah Artemis kali ini.

"Apa kau tidak nyaman disini?"
Ariadne membalikkan tubuh, memandang ke arah suaminya yang baru saja memasuki kamar mereka. Jika boleh jujur Ariadne memang merasa tidak nyaman namun setelah semua yang terjadi, rasanya tidak adil jika dia mengatakan hal tersebut setelah segala hal yang dilakukan oleh Dionysus untuknya.
"Aku hanya belum terbiasa." Balas Ariadne.
"Jika kau tidak nyaman, katakan saja karena aku juga tengah mempertimbangkan usulan Artemis dan Apollo padaku."
"Usulan?" ulang Ariadne.
Dionysus mengangguk, "Iya. Mereka berdua berencana membangun rumah sendiri diluar Olympus dan membawa ibu mereka bersama." Ariadne mengangguk. Ternyata bukan dirinya saja yang merasa tidak nyaman disana.
"Aku mau."
Jemari tangan Dionysus terlulur mengelus pipi Ariadne. Betapa dia sangat mencintai wanitanya ini. Dionysus bahkan bersedia melakukan apapun untuk Ariadne, "Baiklah. Akan ku bicarakan nanti dengan mereka berdua."

Ruangan tempat kerja Cathy yang sempit menjadi tempat bermain mereka siang itu. Rak-rak besar yang di isi buku dan beberapa bahan pangan sengaja tidak disingkirkan mengingat itu hanya akan memakan waktu saja.
"Mereka berdua sangat hebat dan peka pada suara. Kita harus hati-hati." Bisik Artemis memperingatkan Cathy.
"Aku tau, tenang saja, aku ahli dalam permainan ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menghindar." Balas Cathy ikut berbisik.
"Apollo, kau dimana?" teriak Poseidon mengagetkan Cathy dan Artemis yang posisinya sekarang tidak jauh dari sang dewa laut.
Cathy mengangkat tangan memberi kode pada Artemis untuk berpisah.
"Aku disini. Tidak perlu berteriak karena aku bukan dewa tuli." Balas Apollo dibelakang Poseidon ketika Artemis diam-diam melewati saudara kembarnya itu.
"Art, kau kah itu." Celetuk Apollo membentangkan tangan tapi dengan cepat Artemis menghindar.
Apollo tidak berhenti sampai di situ saja. Melalui indra penciumannya ia bisa merasakan bahwa Artemis sangat dekat mulai bergerak cepat menelusuri sekeliling berharap dapat menangkap Artemis dan..
Bruk
"Hey, ini kepalaku." Keluh Apollo yang baru saja terkena senggolan maut tangan Poseidon.
"Hya, kau menginjak kakiku, Apollo." Protes Poseidon kali ini karena kakinya di injak oleh Apollo.
Cathy berusaha tertawa tanpa mengeluarkan suara begitu pun dengan Artemis yang kini memegangi perutnya karena tidak tahan melihat kelucuan kedua pria dihadapannya yang selalu terlihat gagah selama ini.
Entah kemana perginya Poseidon sang dewa tempramental dan Apollo yang terkenal sebagai dewa pendendam dibalik wajah tampan nan rupawannya. Yang terlihat kini justru adalah dua bocah yang kurang main dari kecil.
Ya, itu mungkin benar mengingat catatan syair dari para penyair kisah yunani menyiratkan bahwa para dewa penting penghuni gunung Olympus lebih suka bermain dengan cara meniduri wanita yang menurut cantik tanpa memandang wanita itu sudah bersuami atau belum. Hasrat yang dimiliki para dewa di syairkan besar, sama hal dengan kekuatan spiritual mereka.
Tidak ada hal di dunia maupun gunung Olympus yang dapat membuat para dewa rupawan itu setia. Mereka terkenal tidak bisa hidup tanpa wanita. Miungkin Hades adalah pengecualian karena sebelum bertemu Persephone, dia tidak mengijinkan wanita manapun menginjakkan kaki di istana kelamnya, atau mungkin dia hanya belum memiliki waktu untuk hal tersebut sebelum kehadiran Persephone yang merubah ketidakmungkinan itu.
"Dimana kalian."
Suara Poseidon kembali mengagekan Cathy. Entah sejak kapan dewa laut itu telah berada dalam jarak dekat dengan dirinya, hanya sepertiga langkah tepatnya. Gawat, batin Cathy berangsur mundur setelah sempat beradu pandang dengan Artemis yang sejak tadi memperingatinya melalu gerakan tangan.
Brak..
Sial!
"Rhea." Pekik Artemis reflek.
Karena usaha terburu-buru Cathy membuatnya tak sengaja membentur meja dibelakangnya hingga hampir saja terjungkal ke belakang jika sebuah tangan tidak dengan sikap menangkap pinggul Cathy.
Hap ..
Tubuh Cathy berhasil ditangkap sebagai upaya penyelamatan sebelum membentur kerasnya lantai yang dapat melukainya tapi sayangnya Artemis justru ikut tertangkap oleh Apollo.
Poseidon menarik kain yang menutup matanya dengan tangannya yang bebas tanpa melepas pengangan pada pinggul Cathy. Hal pertama yang dipandang oleh Poseidon ketika kedua matanya terbuka adalah tatapan membulat lucu Cathy yang tertuju kepadanya.
"Ada apa?" tanya Poseidon heran.
Cathy merasa hawa panas menjalar disekitar pipinya yang mungkin saat ini sudah merona. Ia buru-buru membuang pandangan, memutuskan kontak mata dengan sang dewa laut.
Tok ' Tok
Suara ketukan pintu menginterupsi membuat Cathy berangsur mundur seraya melepaskan diri dari pegangan ah tidak, itu lebih mirip pelukan Poseidon. Cathy melirik Apollo dan Artemis, kedua bersaudara itu tersenyum tipis kearahnya seakan tengah meledek Cathy. Itu adalah hal yang memalukan.
"Masuk." Perintah Cathy kemudian.
Seorang pemuda, yang dipercayakan membantu Cathy selama tugas melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Ia sedikt membungkuk sebelum membuka suara, mengatakan maksud kedatangannya, "Nona, Yang mulia Putra mahkota ingin menemui anda." Ucapnya pada Cathy yang dalam pandangan berada sendirian dalam ruangan tersebut namun sebelum masuk ia sempat mendengar suara-suara lain tapi memilih tidak mengambil pusing.
Sementara itu, Apollo dan laiinya masih berada disana. Hanya saja sosok mereka tidak dapat dilihat oleh sembarangan orang kecuali jika mereka menghendakinya. Itu sudah bukan rahasia umum, apa yang akan terjadi jika para manusia bisa melihat dewa mereka. Akan sangat menyusahkan kalau yang dilakukan pertama kali adalah memohon permintaan bukan?
"Baiklah, aku akan menyusul sebentar lagi, Spencer.'
Lelaki yang disapa Spencer oleh Cathy mengangguk paham kemudian berangsur mundur dari hadapan Cathy, meninggalkan ruangan kerja milik sang nona.
"Sepertinya Putra mahkota menyukaimu." Komentar Artemis menggoda Cathy. Sebagai seorang wanita Artemis cukup mengerti tentang pria. Dikenal sebagai dewi perburuan yang meminta kekuatan dari ayahnya Zeus untuk tetap perawan selamanya tak membuat Artemis buta tentang hal-hal yang berhubungan dengan para lelaki.
Artemis sendiri, sebagai salah satu dari dewi cantik yang dimiliki oleh Olympus pun kerap kali membuat banyak pria bertekuk lutut dibawah kakinya dan siap memberikan apapun yang menjadi keinginan sang dewi.
Apollo mendesis. Astaga, apa yang Artemis pikirkan saat mengatakan hal tersebut disaat seperti ini. Akan lebih baik jika Artemis tidak menghilang dan mendengarkan nasihat ibu mereka bersama-sama.
"Art." Panggil Apollo rasanya ingin menyumpal mulut Artemis jika tidak mengingat wanita itu adalah saudari kembarnya.
"Hm?" bukannya waspada, Artemis justru balik bertanya pada Apollo.
"Sepertinya aku harus kembali bertugas. Apa kalian akn tetap disini atau kembali ke Olympus?" tanya Cathy basa-basi. Akan lebih baik jika ketiga dewa itu kembali ke habitat masing-masing agar dia tidak perlu merasa risih karena mennggalkan tamunya menunggu disini sementara dia menyelesaikan beberapa tugas diluar.
"Aku dan Art akan kembali ke Olympus bersama," balas Apollo paling mengerti disaat Cathy sedang dalam mode tak ingin mendapat gangguan ketika tengah bekerja.
"Aku tetap disini." Poseidon memotong ucapan Apollo berhasil membuat si kembar secara kompak memandanginya.
----
TBC