The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Jealous



Poseidon melangkah memasuki istana miliknya di Olympus dengan senyum manis ia berjalan menuju kamar Asthrea berniat memberikan kabar untuk istrinya itu tapi sayang yang di cari tak ditemukan di dalam kamarnya berhasil membuat sang penguasa lautan di landa kepanikan.


"Asthrea." teriak Poseidon keluar dari kamar lalu mencari di segala tempat yang biasanya istrinya datangi namun sama sekali tak membuahkan hasil.


Takut. Itulah yang di tunjukan ketika melihat gelagat sang dewa penguasa lautan. Selama ini Poseidon di kenal sebagai dewa pemberani, dingin yang bahkan berani melawan Zeus. Dalam peperangan melawan Kronos, ayahnya. Poseidon berada paling depan tapi dari semua kehebatan itu, hari ini dia mulai menujukkan kelemahannya.


"Dimana istriku?" kali ini pertanyaan di layangkan untuk para demigod dan pelayan lain. 


"Aku disini." sahut Amprifit muncul dari salah satu ruangan. Senyum manis terukir dibibirnya selepas mendengar Poseidon mencari keberadaannya.


Poseidon menggeleng. Di luar dugaan ia berbalik pergi meninggalkan tempat tersebut sembari meneriakkan satu nama, "Asthrea." panggilnya.


Amprifit mengepalkan tangan, menahan amarah. Tanpa mengedarkan pandangannya Amprifit tau, ia dapat merasakan tatapan-tatapan mata itu tertuju padanya dan Amprifit benci bagaimana cara mereka menatapnya.


"Apa kalian melihat istriku. Asthrea." tanya Poseidon menekan kata terakhir, menegaskan kepada dua pengawal yang berjaga di depan gerbang masuk istana.


Salah satu dari pengawal itu menjawab, "Terakhir aku melihat Yang mulia Ratu keluar menuju istana Dewa Apollo dan Dewi Artemis, Dewa." Tunduknya.


Poseidon mengerang. Tanpa membuang banyak waktu lagi Poseidon bergerak menuju istana Apollo namun baru dua langkah, Poseidon mendapati Asthrea muncul bersama Apollo dan kini berjalan bersama mengarah ke tempat ia berdiri saat ini.


"Dari mana kalian?" tanya Poseidon begitu Apollo dan Asthrea berada dalam jarak dekat dengannya sontak saja mengalihkan pandangan keduanya.


"Berhentilah bersikap berlebihan." balas Apollo.


"Aku tak akan khawatir jika telah melupakan fakta terakhir istriku memutuskan pergi setelah pulang dari kuilmu, mungkin kau lupa." sindir Poseidon.


"Aiden," marah Asthrea buru-buru menghampiri suaminya, "Jangan bicara seperti itu." bisiknya menutup mulut Poseidon sebelum suaminya itu semakin menggila dengan tutur kata pedasnya.


"Tidak apa, Rhea. Aku memang bersalah waktu itu." sahut Apollo tersenyum manis. Ia dapat mengerti perasaan takut yang di alami oleh Poseidon karena dirinya.


Asthrea menatap Apollo singkat lalu beralih ke arah Poseidon, "Aku tidak ingin kalian bertengkar hanya karena masa lalu. Sekarang aku ada di sini jadi ku mohon berhentilah."


Apollo tertawa, "Kau terlalu berpikir berat, Rhea. Kami baik-baik saja." balasnya menatap Poseidon yang terlihat mengangguk, "Oh ya, tadi saat sedang dalam perjalanan pulang aku diberitahu tentang rencanamu oleh Dio."


"Iya, dan aku ingin secepatnya. Aku juga butuh bantuanmu, Apollo."


"Tanpa kau meminta pun aku bersedia."


"Wah, apa yang sedang berusaha kalian berdua sembunyikan dariku?" tanya Asthrea penasaran. Pasalnya hanya dirinya saja yang terlihat seperti orang bodoh didepan kedua dewa tersebut.


Poseidon menunduk, menaruh kedua tangannya di pinggul Asthrea lalu mengangkatnya, membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan kepala mendongak menatap mata coklat milik istrinya membuat Asthrea reflek berpegangan pada kedua pundak Poseidon, "Aku punya sesuatu untukmu."


Asthrea menautkan alis, ia benar-benar penasaran, "Apa itu?" tanyanya penuh harap.


"Belum saatnya, sayang ku."


"Huh, harusnya jangan beritahu dulu. Bikin penasaran kan jadinya." decak Asthrea sukses membuat Poseidon dan Apollo tertawa karenanya.


Tanpa mereka bertiga sadari. Amprifit berdiri dari kejauhan, memperhatikan bagaimana Poseidon tertawa lepas untuk wanita lain. Suatu kehormatan yang tak pernah ia dapatkan. Amprifit terpejam, merasa kalah bahkan belum sempat memulai.


Mungkin yang di dengar oleh Amprifit selama ini benar bahwa Poseidon sangat mencintai wanita asing itu melebihi apapun. Awalnya Amprifit tak dapat mempercayainya akan tetapi hari ini dia telah melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Poseidon menurunkan tubuh Asthrea, "Kembalilah ke kamar. Aku perlu bicara berdua dengan Apollo."


"Ah kalian bersungguh-sungguh ingin merahasiakan hal ini dariku," cemberut Asthrea, "Baiklah kalau begitu, aku akan ke kamar sekarang." angguknya hendak melangkah pergi tapi terurung begitu mendengar nama nya di serukan.


"Rhea!!" seru Athena berjalan cepat menghampiri Asthrea. Ia baru saja kembali ketika mendengar kabar kembalinya Asthrea tak membuang waktu langsung bergegas menuju istana Poseidon.


Selama ini Athena di kenal sebagai Dewi perang juga kebijaksanaan yang memerintah dengan ketenangan dan penuh strategi, nyaris tanpa ekpresi tapi hari ini dia memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang tak banyak diketahui orang.


"Athena."


"Aku mendengar kabar kau kembali. Aku pikir itu semua bohong."


"Ayo pergi, Apollo." ajak Poseidon menggerakan kepala sebagai isyarat arah bagi Apollo untuk mengikutinya akam tetapi sebelum benar-benar pergi dari sana Poseidon sempat menarik pinggul istrinya lalu secepat kilat meninggalkan kecupan di pipi Asthrea yang membuat Athena tertegun sedang Apollo kembali terkekeh seraya menepuk kepala Asthrea sebanyak dua kali.


Bukan tanpa alasan Athena berekspresi seperti itu. Ia pernah menyaksikan kesedihan Poseidon saat mendapati istrinya tak berdaya dibawah tangannya dan kemarahan pria itu tatkala berhadapan dengan Hera namun yang dia lihat hari ini sungguh di luar dugaan.


----


"Wanita itu telah kembali. Ini tidak Bagus untuk Amprifit. Kasihan sekali wanita Malang itu karena wanita tak jelas yang di cintai oleh saudaramu itu." adu Hera pada suaminya.


Zeus terdiam. Yang di katakan oleh Hera benar. Wanita Troya bernama Cathyrene itu telah mati. Zeus telah memastikannya sendiri tapi perempuan lain entah dari mana muncul dan di klaim sebagai istri saudaranya yang hilang. Sebenarnya apa yang terjadi hingga Zeus tak mampu memahami setiap kejadian yang menimpa Olympus.


Bagaimana mungkin wanita Troya itu bisa tiba-tiba bangkit dari kuburannya, kemana juga jiwanya berkelana selama ini hingga Hardes tidak dapat menemukannya?


Mungkinkah ramalan terdahulu itu benar-benar terjadi sekarang? Selama ini Zeus telah berhasil menyembunyikan sebuah rahasia yang hanya ia ketahui bersama seseorang di pulau Delos. Tentang seorang gadis yang tidak pernah hidup juga tak pernah mati akan menguncang Olympus dengan membangun peradaban baru.


"Secepatnya kita harus mengatur waktu untuk meminta Poseidon meninggalkan wanita itu."


"Hera! Tidak cukupkah kekacauan yang kau sebabkan selama ini. Bisakah untuk membiarkan Poseidon tenang bersama kehidupannya." marah Zeus kesal karena terus mendapatkan tekanan dari Hera yang terus menerus mengungkit masalah tersebut.


"Kau takut pada Poseidon?"


"Hera!" teriak Zeus murka.


Hera terlonjak dengan perasaan takut membludak melihat kilatan petir menguasai tubuh suaminya. Hal tersebut membuat ia bergegas keluar dari ruang utama Olympus sebelum amarah suaminya meremukkannya.


Sementara itu,


"Bisakah aku meminta satu hal darimu?" pinta Amprifit dihadapan Asthrea yang tengah bersantai di taman.


"Apa?"


"Pergilah dari kehidupanku. Semua baik-baik saja sebelum kau datang."


Asthrea tersenyum. Merasa bersalah sekaligus kasihan terhadap Amprifit yang terlihat putus asa.


Amprifit menggeleng tak terima, "Hentikan! Jangan bicara omong kosong. Kau adalah wanita asing. Ratu terdahulu sudah lama meninggal. Dia ratu Cathyrene, bukan dirimu yang di panggil Asthrea."


"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi yang di nikahi dan yang berdiri dihadapanmu sekarang adalah orang yang sama," balas Asthrea berdiri, "Kalau hanya itu yang ingin dibicarakan lebih baik aku pergi saja."


"Tunggu!" teriak seseorang dari kejauhan.


Asthrea terpejam. Dalam hati ia mengutuk pemilik suara tersebut yang sudah menggagalkan rencana untuk kabur segera mungkin dari sana. Asthrea membalikkan badan. Seketika wajahnya berubah masam melihat wajah Hera.


Mau apa lagi nenek lampir ini. Batin Asthrea kesal.


"Justru sejak kedatanganmu semuanya kembali berantakan." ucap Hera pada Asthrea.


"Bukankah kau penyebab kekacauan selama ini? Mengapa melemparkan umpan untuk yang lain, Atau ini memang kebiasaanmu ya, Dewi Hera?" sindir Asthrea membuat Hera mengerang kesal.


"Benar-benar tidak punya etika! Bagaimana bisa Poseidon masih mempertahankan mu sebagai istrinya." balas Hera tak mau kalah, "Amprifit lebih dari segalanya dibanding dirimu."


"Gemanhae! Sanggwanhajima! Geunyang dakcho!" desis Asthrea sebelum melangkah pergi dari sana meninggalkan Amprifit dan Hera yang menatapnya binggung.


"Dia berbicara aneh lagi." komentar Amprifit.


"Apa kau mengerti yang dia katakan?"


Amprifit menggeleng lalu menjawab, "Tidak. Dia juga berbicara aneh sebelumnya." balasnya lalu terdiam selama beberapa saat,


"Sepertinya aku tak lagi di butuhkan di sini." ucapnya kemudian.


Hera menoleh dengan tampang terkejut dia mencengkeram pundak Amprifit, "Bodoh! Apa kau akan segampang itu menyerah setelah semua yang ku korbankan agar kau bisa menikah dengan Poseidon hah!"


"Aku tidak berdaya. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menyaingi wanita itu untuk mendapatkan cinta dewa Poseidon."


"Tidak! Kau tidak boleh menyerah." desis Hera penuh emosi, "Aku akan mencari jalan keluar untuk masalahmu ini. Wanita itu tidak boleh menang dengan cara apapun."


----


"Membangun wilayah khusus untuk Rhea? Itu adalah ide paling menakjubkan. Aku bersedia memberikan bantuan dalam bentuk apapun."


Athena muncul dari balik pintu setelah menerobos ruang pertemuan Poseidon dengan dua dewa tampan lainnya yaitu Apollo dan Dionysus langsung saja menawarkan diri dihadapan ketiganya yang hanya bisa melongo keheranan melihat Athena.


"Aku serius." seru Athena melenggang masuk dan bergabung bersama ketiga pria tampan tersebut kemudian menggerakkan jemari tangannya di atas permukaan kotak samudera milik Poseidon.


"Baiklah kita lanjutkan saja." potong Dionysus mengambil alih, "Jadi, Aiden. Di antara beberapa wilayah di Yunani, bagian mana yang ingin kau kuasai untuk di jadikan istana untuk Rhea?"


Poseidon terlihat berpikir dengan sorot mata tajam lurua ke depan. Ia menyunggingkan senyum tipis seraya menunjuk hamparan laut yang luas.


"Hey, Aiden. Seriuslah sedikit. Rhea bukan ikan atau makhluk laut lainnya yang bisa di ajak tinggal dalam lautan." komentar Apollo berpangku tangan.


"Apa kau ingin menciptakan daratan baru untuk Rhea?" tebak Athena tepat sasaran. Dionysus yang tadi hanya menebak dalam hati beralih menatap Poseidon dan ketika melihat sang penguasa lautan itu menganggukkan kepala. Senyum terukir di bibir Dionysus yang terlihat takjub.


"Samudera adalah pilihan yang tepat."


Diskusi berlanjut membahas tentang struktur yang diinginkan. Tak tanggung-tanggung Poseidon tak hanya berniat membangun istana mengah namun juga sebuah kerajaan besar yang nanti akan di kenal seluruh dunia sebagai bentuk cintanya untuk Asthrea.


"Aiden, bagaimana dengan istri barumu itu? Apa dia tau mengenai rencanamu ini?" tanya Athena. Ia merasa kecintaan Poseidon kepada Asthrea hanya akan menambah luka di hati Amprifit yang Athena tau betul begitu menganggumi Poseidon.


Poseidon menggeleng menjawabnya. Lagian untuk apa dia memberitahu Amprifit jikalau alasan utama dia membangun istana baru untuk istrinya karena tidak ingin kenyamanan Asthrea terganggu hanya karena kecemburuan Amprifit. Poseidon juga ingin mencegah hal buruk yang bisa saja terjadi nanti mengingat Amprifit dekat dengan Hera.


Hera. Huh, mengingat nama itu saja membuat Poseidon muak. Pernikahannya dengan Amprifit adalah salah satu dari jebakan wanita itu.


Jemari Poseidon terulur mulai menciptakan daratan di atas samudera. Satu persatu daratan di atas permukaan laut samudera mulai terbentuk.



----


Wajah cantik Amprifit terlihat begitu sedih dalam berbagai kesempatan ketika dia harus berhadapan dengan banyak orang. Itu adalah satu satu dari sejuta cara untuk membuat dirinya mendapatkan banyak dukungan dari sekeliling, sangat berbeda dengan Asthrea yang selalu menampakkan raut wajah kebahagiaan penuh senyuman seolah tak ada apapun yang membebaninya.


Perlahan tapi pasti Amprifit mulai mendapatkan simpati. Karena hal tersebut banyak yang bicara tentang Asthrea di belakang. Rata-rata dari mereka menyayangkan keegoisan sang puteri yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau berbagi suami serta menganggap Asthrea menginginkan Poseidon untuknya seorang.


Segala gosip tentang Asthrea telah sampai ke telinganya. Ia sungguh tak mengerti mengapa mereka bisa berpikir seperti itu tentangnya.


Sejak kedatangan Asthrea. Poseidon tak lagi ingin menemui Amprifit. Segala dunianya hanya untuk Asthrea. Amprifit bahkan tak diijinkan menyentuh suaminya atau menghabiskan malam bersama sang penguasa lautan.


Lalu apa semua itu kesalahan Asthrea?


Tidak masa lampau, masa depan. Statment selalu di ukur dari salah satu sudut pandang saja. Dari mulut satu ke mulut lainnya padahal setiap dari mereka di berikan akal untuk berpikir dan menilai, lalu mengapa tidak menggunakannya?


Miris!


Asthrea memandang sekeliling. Di saat seperti ini ia justru tak menemukan keberadaan Poseidon yang lebih sering pergi melaksanakan tugas. Suaminya itu memang menghabiskan malam bersamanya namun ketika Asthrea membuka kedua matanya. Sang dewa tak ada lagi di sisinya. Selalu seperti itu.


"Katakan padaku hal apa yang paling kau inginkan?"


"Rumah adalah tempat di mana hati berada. Untuk itu aku hanya ingin bersamamu setiap saat nafas ku berhembus. Aku ingin menjadi bagian dari dirimu yang tak lekang oleh waktu."


Ia mengingat kembali percakapan bersama Poseidon di hari pertama dia kembali. Setelah semua masalah yang menimpa mereka. Mengapa harus ada Amprifit di tengah-tengah keduanya.


Asthrea memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Pandangannya berkabut membuatnya berbalik menuju kamarnya.


"Yang mulia." panik salah seorang pelayan melihat Asthrea berjalan sempoyongan dengan buku di tangannya sebelum pada akhirnya jatuh pingsan berhasil membuat para pelayan yang mendampingi sang Ratu memekik.


----


Tbc