The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Dyonisus



Setelah mendapatkan kebebasan dari Hades. Dionysus tidak membuang kesempatan langsung saja membawa Ariadne keluar dari dunia bawah. Sekarang dia hanya perlu meyakinkan Zeus, ayahnya agar memberikan tempat untuk wanita yang ia cintai bersamanya di Olympus. Itulah satu-satunya keinginan terbesar Dionysus saat ini.


Sebelum menginjakkan kaki di Olympus. Dionysus membawa Ariadne menuju hutan liar dimana ia bisa menemui Artemis. Sang dewi cantik itu lebih senang menghabiskan waktu senggang dengan berada di alam liar.


"Art." Panggil Dionysus memanggil Artemis yang dilihatnya tengah berbincang bersama seorang pemuda tampan dibawah pohon salam.


Mendengar namanya disebutkan. Artemis menoleh ke asal suara. Artemis terlihat begitu senang melihat kedatangan Dionysus, sangat berbeda dengan Ariadne yang nampak ketakutan.


"Dio, kenapa membawaku ke sini?" bisik Ariadne mencengkram lengan Dionysus sembari bersembunyi di punggung sang dewa anggur.


"Tenanglah, Ria. Art tidak akan menyakitimu lagi."


"Apa maksudmu?"


Artemis tersenyum. Ia dapat mendengar perdebatan pasangan dihadapannya itu dengan jelas dan cukup mengerti mengapa Ariadne sampai ketakutan terhadapnya.


Akan tetapi, hal yang tidak diketahui oleh Ariadne hanya diketahui oleh Artemis dan Dionysus saja sebagai bagian dari rencana gila mereka.


"Kau mencintai gadis itu, Dio? Apa kau tau kalau dia sebenarnya adalah cucu ayah kita? Tapi sangat disayangkan dia hanya manusia biasa.""


"Aku tau."


Artemis terkekeh, "Huh, mengapa cinta bisa membuat kalian nampak bodoh. Ayolah, Dio. Dia akan menua sedangkan kau hidup abadi."


"Apa tidak ada cara untuk membuat Ariadne hidup abadi?"


"Kau gila." Komentar Artemis.


Ingatan-ingatan perbicaraan Artemis dan Dionysus beberapa waktu lalu berputar kembali dalam kepala Artemis. Ya, kematian Ariadne sebenarnya adalah bagian dari rencana besar mereka.


Dionysus bahkan telah meminta bantuan Persephone sebelum gadis itu pulang ke pelukan Hades. Tentu saja dengan bantuan bujukan Artemis, jika tidak si polos Persephone tidak akan secara mudah masuk dalam rencana mereka.


Berbekal kisah cinta yang membuat Persephone terharu. Ditambah fakta bahwa Hades pernah berhutang budi pada titan Leto yang adalah ibu Artemis dan Apollo seakan menambah senjata untuk ditembakkan pada saat tertentu. Hades tidak akan bisa menolak keinginan Persephone dan pasti juga tidak ingin ada pertikaian terjadi di Olympus. Itu hanya akan sangat melelahkan, So. Perang dingin antara Artemis dan Dionysus seakan menjadi pelengkap rencana.


"Terima kasih."


"Aku senang rencananya berhasil, Dio. Karena kalau tidak gadis yang kau cintai akan mati sia-sia."


"Jadi ini rencanamu?"


"Terima kasih karena telah membuat masalah di labirin yang membuatku punya alasan masuk akal untuk membunuhmu."


Ariadne tergelak mendengar suara lembut Artemis berbicara kepadanya padahal sebelumnya wanita itu terlihat begitu dingin menatapnya sesaat sebelum dirinya terbunuh.


"Oh ya, apa kau tidak mau bercerita tentang pemuda disana?" tanya Dionysus melirik Orion yang terlihat tersenyum ketika saling bertemu pandang dengan Dionysus.


"Hanya teman."


"Apollo bisa mengamuk jika dia tau." Kekeh Dionysus mengingat betapa posesif nya saudara kembar Artemis jika sudah menyangkut pria-pria didekat Artemis meski sang dewi sendiri sudah meminta pada sang ayah untuk memberikan kekuatan tidak akan menikah untuk selamanya.


"Apa yang akan kalian lakukan setelah ini." Tanya Artemis mengalihkan pembicaraan.


"Kembali ke Olympus dan menghadap ke hadapan Zeus. Aku berencana untuk meminta ijin agar Ariadne bisa tinggal di Olympus bersamaku."


"Mengapa Olympus seakan menjadi pilihan terakhir? Kalian bisa tinggal dimana saja."


"Kau memang tidak pernah betah di Olympus dan dengan jelas menunjukkannya, beda dengan Athena."


"Aku memang tidak pernah betah disana karena Hera jelas tidak pernah menyukai kehadiran kami."


"Aku telah berhasil membawa Ariadne dari dunia bawah, tapi aku juga harus menghadap kepada Zeus. Nanti akan ku pikirkan dimana sebaiknya kami menetap." Jelas Dionysus beralih memandang Ariadne. Dari sorot mata Dionysus, Ariadne bisa merasakan ketulusan pria itu.


Jika dulu, Ariadne pernah bodoh karena mencintai Perseus hingga menyalahkan takdir yang tidak berlaku adil terhadapnya, Kini, ia mengerti bahwa takdir sejak awal berpihak padanya.


"Baiklah kalau itu keputusanmu." Balas Artemis menyadarkan pasangan tersebut dari lamuna mereka.


Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya Dionysus dan Ariadne berpamitan menuju Olympus, meninggalkan Artemis yang kembali menghampiri Orion.


"Apa yang tadi adalah seorang dewa?"


Artemis mengangguk, "Iya, mereka sepasang kekasih yang baru selesai melalui ujian dan sekarang telah kembali bersatu."


"Kisah cinta yang menarik. Apa kita bisa seperti mereka?" ucap Orion berhasil membuat Artemis membeku ditempatnya.


----


Cathy bergerak tidak nyaman sepanjang waktu dalam kegiatan bakti sosial yang ia lakukan. Cathy berkeliling menelusuri wilayah barat, mengecek perkembangan terakhir. Kali ini Cathy pergi mengunjungi para nelayan di pinggir lautan. Dia juga bertemu dengan sang Putra mahkota, yang tidak pernah absen mengunjungi tempat kerja Cathy.


"Aku benar-benar merasa seperti di awasi mafia." Batin Cathy risih karena merasa terus di awasi sedari tadi.


Terkutuklah indra perasa-nya atau orang yang tengah mengawasinya entah dari mana namun sialnya kekuatan yang di sebarkan orang itu cukup kuat disekeliling Cathy.


"Aku senang melihat kemajuan di wilayah ini, biasanya mereka tidak akan dengan mudah menerima orang baru tapi berkat bantuan Nona semua bisa teratasi dengan baik." Puji sang Putra mahkota terhadap Cathy.


"Yang mulia terlalu berlebihan. Semua ini juga berkat bantuan Yang mulia juga. Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan yang ku dapat dari pihak istana melalui Yang mulia sendiri." Balas Cathy ikut memuji.


Putra mahkota menyunggingkan senyum, "Kalau begitu kita sama-sama telah berusaha. Terima kasih untuk kita berdua."


"Iya, terima kasih." Ulang Cathy tertawa membuatnya nampak cantik dimata sang pewaris tahta.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak sang Putra mahkota. Cathy mengernyit namun ia juga tidak enak kalau harus menolak ajakan tersebut padahal dia sudah janji akan bertemu dengan Apollo.


"Baiklah." Angguk Cathy. Putra mahkota tersenyum lalu mempersilahkan Cathy mengikutinya menuju kereta kuda yang akan membawa mereka ke istana.


Blushhhh


Blaarrsssshhh


Deru ombak kencang menerpa salah satu perahu nelayan berhasil mengejutkan Cathy dan Putra mahkota dengan suaranya yang begitu kencang ketika keduanya hendak menaiki kereta kuda.


"Apa itu?"


Salah seorang nelayan berlari ke arah Cathy dan Putra mahkota. Tubuhnya basah karena baru saja terkena serangan tiba-tiba dari pasang air laut.


"Ombaknya kencang. Sepertinya malam ini akan terjadi badai laut. Mungkin akan lebih baik jika nelayan tetap di darat." Lapor pria itu bersimpuh dihadapan Putra mahkota.


"Tidak apa, utamakan keselamatan para Nelayan." Ucap Sang Putra Mahkota menyetujui.


Cathy menghela nafas. Sepertinya ia mengenal gejala ini. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Bagaimana bisa laut yang tadi nampak tenang bisa langsung kacau kalau bukan disebabkan oleh seseorang,


"Yang mulia." Panggil Cathy menatap Putra mahkota dengan mimik wajah tak enak karena sebentar lagi akan menolak ajakan pria itu untuk makan siang bersama.


"Ya?"


"Tidak masalah, Nona. Mungkin kita bisa makan bersama lain kali." Balas Putra mahkota, "Kalau begitu ijinkan aku mengantar Nona pulang, boleh kan?"


"Tentu saja. Dengan senang hati." Angguk Cathy.


----


Apollo menghela nafas lelah. Sejak kapan dewa pemusik tampan seperti dirinya berubah menjadi dewa pengurus masalah orang. Yang jelas ini semua terjadi karena Poseidon. Sang dewa laut yang menyalahkan dirinya atas kemarahan Cathy.


Padahal disini jelas-jelas Poseidon yang bersalah. Memang siapa suruh menyamar jadi dirinya didepan Cathy.


"Sekarang kalian bicarakan baik-baik." Seru Apollo berlagak seperti mentor yang berupaya melakukan mediasi untuk pasangan yang hubungannya diambang perceraian.


"Selesaikan dengan baik, benar dan bijak. Jangan ada kekerasan diantara kalian, mengerti?" Apollo mengangkat jari telunjuk, memperingatkan keduanya.


Hey. Itu tidak ada dalam perjanjian. Batin Cathy merengut. Kalau begini Apollo sama saja mengingkari ucapannya sendiri yang mengatakan bahwa Cathy boleh melakukan apapun termasuk membunuh Poseidon.


"Al." Panggil Cathy namun Apollo sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan keduanya di sebuah taman kediaman Baron Deracles.


Hening..


Setelah kepergian Apollo. Tidak ada satu pun dari keduanya mau membuka mulut. Poseidon masih saja diam ditempatnya begitu pun dengan Cathy yang nempak begitu keras kepala didepan sang penguasa lautan.


"Aku," ucap Poseidon memulai,membuat Cathy menolehkan kepala menatap pria itu, "Aku minta maaf karena telah berbohong padamu,"


"Permintaan maaf tidak terima." Balas Cathy cepat. Dengan gaya angkuh berpangku tangan dihadapan Poseidon.


"Kenapa begitu?"


"Karena alasannya kurang jelas kenapa kau salah dan mengapa harus meminta maaf."


Sial!


Poseidon kali ini benar-benar dibuat tidak habis pikir dalam menghadapi Cathy. Segala hal yang ada pada gadis itu mampu membuat dirinya kehilangan akal. Ia seperti tumbuhan dasar laut yang bisa di sentuh tapi tak mudah digenggam tanpa membiarkannya terlepas.


" Pada dasarnya aku dikenal sebagai dewa labil, sama hal nya dengan ombak di lautan." Cerita Poseidon.


"Yang selalu pasang surut tiba-tiba, tidak heran sih." Balas Cathy menyeleneh dengan cibiran bibir.


"Dengarkan dulu! Aku belum selesai bicara." Protes Poseidon kesal sendiri.


Cathy diam.


"Aku sangat marah terhadap raja Laomedon karena sudah menipuku. Mungkin Apollo bisa dengan mudah melupakannya tapi tidak denganku sebagai salah satu dari ketiga dewa yang memegang kekuasaan tertinggi, aku tidak terima" cerita Poseidon, "Tapi Aku sadar bahwa tidak sepantasnya aku membencimu.. Rasanya aku telah berlaku tidak adil, bukan?"


"Dan aku hanya tidak tau harus melakukan apa untuk memperbaiki hubungan hingga memutuskan menyamar jadi Apollo mengingat kau selalu tidak terima dengan kehadiranku." Sambung Poseidon.


"Dengan berubah jadi Apollo, Itu tidak akan merubah pandanganku terhadapmu."


"Aku tidak punya pilihan lain. Karena hanya dengan begitu aku bisa mengenalmu lebih dekat, kau hanya bersikap lembut jika Apollo yang datang."


"Karena dia teman baikku."


"Dan aku musuhmu."


Lagi. Cathy terdiam. Tak dapat berkata-kata karena yang dikatakan oleh Poseidon benar. Jika Cathy yang dulu mencintai pria ini dengan segenap hati namun sekarang Cathy yang seperti itu sudah mati. Gadis itu mati tanpa tau kebenaran dari cintanya.


"Tidak juga, hm tapi iya benar." Binggung Cathy menjawab.


Poseidon tersenyum, "Bodoh." Gumamnya berhasil mengejutkan Cathy.


Kata-kata itu. Suara itu adalah suara yang sama dengan yang ia dengar ketika pertama kali datang ke dunia ini.


"Apa kau orangnya, Dewa?" tanya Cathy tiba-tiba.


"Apa?" tanya Poseidon.


"Yang datang menolongku saat tenggelam dilaut."


Poseidon terbelalak. Ia sudah cukup yakin bahwa pada malam penyelamatan itu Cathy sedang tidak sadarkan diri, namu kenapa gadis itu sampai bisa mengenali dirinya.


"Jawab pertanyaanku." Tuntut Cathy.


"Iya." Angguk Poseidon akhirnya.


----


Keadaan Olympus saat ini tengah ricuh setelah kedatangan Dionysus yang membawa Ariadne turut bersama dengannya didepan Zeus, raja para dewa yang ada. Dionysus tak membuang waktu langsung saja menyampaikan keinginan yang langsung mendapatkan penolakan dari Hera, sang ratu dari singgasana disamping Zeus.


"Apa kau yakin, Dio?"


"Sangat yakin." Angguk Dionysus berhasil meyakinkan ayahnya mengingat dirinya juga salah satu kesayangan Zeus, sama halnya dengan Athena dan Apollo dan Artemis.


"Baiklah, mengingat jasa Ariadne, maka dia boleh tinggal dan menjadi abadi bersamamu." putus Zeus.


"Bagaimana itu bisa terjadi dengan mudah."


"Aku telah membuat keputusan Hera. Jadi sudah sepantasnya kau menerima segala keputusan yang ku buat." balas Zeus tanpa melihat Hera yang terlihat kesal.


"Dimana Art. Aku belum melihatnya dari kemarin." sambung Zeus mencari keberadaan salah satu Putri kesayangannya di singgasana milik sang Dewi namun sayang dia tidak menemukan siapapun. Bahkan tempat di sisi Artemis juga nampak kosong menandakan putra kebanggaannya juga tidak berada ditempat semestinya.


Sejak insiden kematian Ariadne. Hampir seluruh penghuni Olympus menyalahkan Artemis untuk tindakan gegabah yang dilakukan oleh sang Dewi tanpa memikirkan perasaan saudaranya akan tetapi, sebagai Ayah. Zeus tidak menindaklanjuti hukuman yang diusulkan oleh Hera atas perilaku Artemis. Zeus hanya terlalu menyayangi putrinya dari Leto hingga tak sanggup jika harus menghukum Artemis karena Zeus yakin, Artemis mempunyai alasan mengapa dia sampai berbuat hal demikian.


"Kau terlalu memanjakan Artemis." celetuk Hera kesal namun lagi lagi tak mendapat perhatian dari sang suami.


"Apa mereka sedang berburu bersama?" kali ini pandangan Zeus tertuju pada Leto.


"Kurang lebih seperti itu. Aku akan mencoba memanggil mereka sekarang." jawab Leto berdiri lalu berjalan keluar dari ruang utama Olympus menuju istana miliknya dan kedua anak kembarnya.


"Ibu." panggil Apollo yang ternyata berada di istana keluarga.


"Al, dari mana kau, nak? Dimana Art? Ayah mencari kalian berdua tadi."


"Aku belum melihat Art, Ibu. Dia masih merajuk karena kita menyalahkannya."


"Anak itu." komentar Leto menghela nafas gusar karena sudah cukup lama tidak melihat putrinya, "Oh ya, bagaimana dengan Rhea? Apa kau bisa melihat sesuatu?"


"Ibu mungkin melupakan sesuatu kalau aku tidak bisa meramal Rhea setelah insiden pencobaan bunuh diri itu." ungkap Apollo mengingatkan.


----


TBC