The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Hate



Aura dingin terpancar seiring dengan langkah kaki sang dewa penguasa lautan ketika memasuki istana. Garis wajah sempurna itu terlihat panik melewati para demigod yang menunduk menyambut kedatangannya.


Amprifit menyambut kedatangan Poseidon di depan kamar Asthrea. Kepalanya tertunduk sebagai tanda hormat kepada suaminya.


"Apa yang terjadi?" tanya Poseidon memandang satu persatu demigod yang berdiri menunggu di depan pintu kamar Asthrea.


Hening..


Tidak ada yang mau membuka suara. Serempak semua terdiam tak terkecuali Amprifit yang juga berdiri di sana membuat Poseidon langsung menerobos masuk di susul oleh Amprifit karena tak kunjung mendapat jawaban.


Hal pertama yang menyambut pemandangan Poseidon adalah Asthrea yang tengah di periksa oleh Hecate. Sang Dewi cantik itu tersenyum manis menyambut kedatangan Poseidon.


"Hecate, apa yang terjadi pada istriku?" tanyanya mendekat, menghampiri Asthrea dan mengambil alih tempat Hecate yang telah berdiri memberikan tempat untuk Poseidon.


"Tidak perlu khawatir, Dewa. Rhea akan baik-baik saja setelah ini."


"Aku mendengar kabar bahwa istriku pingsan dan kau bilang dia baik-baik saja?"


"Ini adalah gejala umum di alami oleh manusia ketika mengandung apalagi yang di kandungnya adalah putra-putri seorang dewa."


"Apa!?"


"Iya, Dewa. Ratu mu tengah mengandung bayi kembar."


Poseidon tertawa bahagia mendengar kabar dari Hecate, sangat berbeda dengan Amprifit, dunianya seakan runtuh dalam sekejab. Amprifit melangkah mundur perlahan-lahan pergi dari sana dengan air mata yang telah lolos membasahi pipi.


"Kenapa harus begini?" lirih Amprifit tersedu-sedu.


Impian memiliki kehidupan bahagia bersama pria yang dia cintai meski dia tau pria itu sama sekali tidak mencintai dirinya hancur.


Sejak awal Amprifit telah mencintai Poseidon saat ia menerima kabar bahwa pria yang di cintainya menikahi seorang gadis dari Troya. Amprifit adalah seorang nimfa laut yang mengagumi Poseidon sejak lama sangat patah hati sampai bahagia itu datang.


Amprifit merasa alam berpihak pada dirinya dengan merenggut nyawa perempuan dari Troya itu. Egois memang berbahagia di atas kesedihan yang lain namun tidak ada yang bisa menghalangi jalannya mendapatkan cinta Poseidon.


Berbagai cara di lakukan oleh Amprifit untuk merebut hati Poseidon meskipun selalu berakhir kegagalan. Amprifit sama sekali tidak menyangka cinta bisa mengubah seorang dewa Agung seperti Poseidon menjadi lebih menyeramkan.


Hingga suatu hari Hera menawarkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin ditolak oleh Amprifit. Dengan syarat agar selalu menuruti perintah Hera apapun itu, Amprifit menyetujuinya asalkan imbalan yang di dapatkan adalah memiliki Poseidon seutuhnya.


Tapi sayang, memiliki raga belum tentu bisa dengan mudah mengenggam hati pria itu. Setelah apa yang di lakukan oleh Amprifit, wanita asing tiba-tiba muncul di malam pernikahannya dan sialnya wanita itu memiliki kemiripan dengan Cathyrene, istri sekaligus Ratu di hati Poseidon.


Sementara itu ditengah kesedihan Amprifit yang tak pernah di anggap oleh Poseidon sebagai istri. Di dalam kamar Asthrea nampak sepasang suami-istri berbaring dia atas ranjang dengan sang suami yang memeluk tubuh istrinya, tak ingin dilepaskan sedetik pun.


Mata biru milik Poseidon menyambut Asthrea saat kedua mata cantik itu terbuka, tersadar dari tidur panjangnya. Poseidon tersenyum mendekatkan, mengecup bibir Asthrea.


"Berhenti membuatku khawatir."


"Apa yang terjadi denganku?"


"Harusnya itu ku tanyakan padamu, sayang. Apa saja yang sudah kau lakukan sampai jatuh pingsan karena terlalu lelah hingga membahayakan anak kita?"


Asthrea mengernyit binggung, "Anak?" ulangnya tak paham, "Anak siapa?" tanyanya.


Poseidon tersenyum gemas, "Dalam perutmu saat ini ada dua nyawa yang harus kau jaga dan mulai saat ini juga aku melarangmu melakukan aktifitas berat apapun."


"Aku hamil?"


"Hem." Angguk Poseidon. Asthrea tersenyum senang sembari menenggelamkan wajahnya pada pelukan suaminya.


 


"Rhea." heboh Apollo memasuki istana Poseidon.


Langkah kaki sang dewa matahari terarah menuju tempat bersantai Asthrea yang terletak di bagian timur istana. Sebuah tempat Indah seperti taman yang ditumbuhi rumput segar juga kolam air jernih sangat menyejukkan itu di buat atas kemauan Poseidon mengingat istrinya sangat menyukai ketenangan ditemani suara gemericik air menemani dirinya dalam kesendirian.


Mendengar suara Apollo yang memanggil namanya membuat Asthrea mendongak memperhatikan sang penguasa siang itu mempercepat langkah kakinya menghampirinya.


"Semalam aku mendapat kabar kalau kau jatuh. Kau baik-baik saja, Rhea? Katakan bagian mana yang sakit? Apa ada yang ingin meracunimu. Jawab aku!" Apollo duduk di sisi tempat duduk Asthrea dengan kedua tangan berada di kedua pundak wanita cantik dihadapannya, dengan wajah panik memeriksa keadaan Asthrea.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang mau meracuniku, Al. Jika kedatanganmu cuma untuk mengomeliku, ku beritahu ya kalau aku sudah mendengar ribuan kata omelan dari Aiden sejak kemarin."


"Aku ke sini karena mengkhawatirkanmu." desah Apollo menyentil dahi Asthrea saking gemesnya akan balasan wanita itu menanggapi rasa khawatir yang ia rasakan.


"Aduh. Jangan menyakiti wanita hamil, Al."


"Wanita hamil, alasan saja- eh." kaget Apollo menyadari perkataan Asthrea sedang wanita di hadpaannya itu hanya membalas tatapan binggung Apollo dengan anggukan penuh senyum bahagia.


"Wow, kalian luar biasa." Apollo menggeleng tak percaya namun ia juga ikut bahagia mendengar kabar bahagia tersebut.


Tiba-tiba saja senyum di bibir Asthrea memudar tatkala melihat Apollo terdiam seperti tengah di rundung masalah, "Ada apa, Al?" tanyanya.


"Aku ikut bahagia, Rhea."


Asthrea menggeleng, ia sangat mengenal Apollo dengan baik, "Apa yang terjadi? Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, Al. Kita sudah sepakat bukan? Apa ini ada hubungannya dengan Art? Bagaimana keputusannya?"


"Tidak ada yang bisa di ubah dari takdir Art." Apollo memandang para Demigod yang mendampingi Asthrea dan seakam paham kalau keduanya ingin bicara empat mata, para demigod mulai melangkah mundur setelah mendapat anggukan Asthrea.


"Ada satu cara untuk membantu Art dan aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya. Selanjutnya semua tergantung pilihan Art, apakah dia bisa bertahan atau tidak."


"Ku pikir akan mudah karena Art adalah seorang Dewi. Memanfaatkan penciuman Lycan untuk menyatukan mereka hanya sedikit kemungkinan bisa berhasil, bagaimana jika Lycan menolak?"


"Harusnya aku sadar mengapa ayah menciptakan hal itu untuk menyatukan para werewolf."


"Al." Asthrea menggengam tangan Apollo, memberi sedikit kekuatan pada sentuhannya.


"Ini semua salahku, Rhea."


"Jangan bicara seperti itu. Aku yakin Art tidak akan suka melihatmu menyalahkan dirimu sendiri, Al."


Apollo tersenyum beralih menatap Asthrea, "Kau benar-benar teman terbaik, Rhea. Terima kasih."


"Aku akan selalu menjadi teman baik yang bisa dipercaya olehmu dan Art selamanya." balas Asthrea dalam sekejab sudah berada dalam pelukan Apollo.


"Cleito, Putri Yunani."


Pelukan keduanya terlepas karena seorang wanita tiba-tiba saja datang dan kini berdiri di hadapan mereka berdua. Asthrea tersenyum menatap wanita yang sejak kemarin tidak di lihat olehnya.


"Mau apa kau ke sini?" sinis Apollo.


"Al." tegur Asthrea.


"Maafkan aku, Dewa jika kedatanganku menganggu kalian. Aku hanya ingin memastikan keadaan Putri Yunani saja."


"Putri Yunani?" ulang Apollo binggung. Asthrea mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Apollo yang pada akhirnya paham.


"Tidak lucu kan orang yang sudah mati bangkit lagi dari kuburannya." ucap Asthrea sangat pelan. Apollo membuang nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Amprifit.


"Maaf atas sikapku kemarin, ku harap ke depan kita bisa menjadi teman."


Apollo mengusap kepala Asthrea lembut, ia baru saja mendapat pesan singkat dari Athena yang meminta ingin bertemu melalui telepati, "Rhea, aku harus pergi." pamitnya berdiri yang kemudian dibalas anggukan oleh Asthrea.


"Bisakah kita keluar sebentar? Aku rasa kau butuh udara yang lebih segar dari tempat ini."


"Tentu, lagipula banyak yang ingin aku bicarakan denganmu." sumringah Asthrea menyetujui ide Amprifit.


Asthrea berjalan duluan diikuti oleh Amprifit. Setiap langkah yang di ambil oleh Asthrea tak luput dari tunduk hormat para penghuni istana, lain halnya dengan Amprifit yang seolah tak di anggap disana. Saat ini dia lebih mirip seorang dayang yang tengah mengawal sang majikan keluar istana.


Cukup lama mereka berjalan keluar tanpa ada yang mengeluarkan suara. Asthrea menunggu Amprifit untuk memulai cerita tapi wanita itu hanya diam saja dengan tatapan mata lurus ke depan.


"Sepertinya kita sudah terlalu jauh. Sebaiknya kita kembali saja."


"Harusnya aku yang berada di posisi itu." ucap Amprifit secara mengejutkan menatap Asthrea.


Senyum yang tadinya di berikan Asthrea untuk wanita dihadapannya perlahan memudar bergantian raut wajah kebingungan melihat kedua mata penuh emosi itu tertuju padanya.


"Pergilah! Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali ke sini."


"Amprifit, aku pikir kita."


"Semua telah menjadi milikku sebelum kau datang. Apa kau pikir aku mau berbagi suami denganmu?"


Asthrea tertawa ketir, "Apa yang kau katakan? Kata itu harusnya aku yang mengatakannya."


"Kau sudah tidak punya akal sehat. Kau hanyalah orang asing yang kebetulan mirip dengan putri Cathyrene." amuk Amprifit.


Helaan nafas panjang yang kemudian dihembuskan secara perlahan di lakukan oleh Asthrea untuk meredam emosi. Meladeni wanita di hadapannya hanya membuang waktunya saja.


"Sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu sebelum bicara denganku."


Amprifit tertawa mendengarnya. Ia menahan langkah Asthrea yang hendak pergi, mendorongnya hingga terjungkal ke belakang lalu berakhir jatuh di dalam sungai.


"Pergilah sejauh mungkin!" desis Amprifit. Dengan menggunakan kekuatan sihir terbatasnya dia mengirim Asthrea ke tempat lain, sebuah tempat yang hanya dia yang tau.


Sementara itu di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Apollo dan lainnya terlihat begitu puas dengan hasil yang terpampang dihadapan mereka.


Ariadne, sang Dewi cantik yang bertanggung jawab untuk urusan pangan ditempat itu tersenyum puas dalam rengkuhan Dionysus.


"Tempat ini benar-benar menakjubkan dan di luar dugaan. Aku tak menyangka Aiden melakukan ini semua untuk Rhea." seru Ariadne mendongak menatap suaminya.


Dio menundukkan kepala, meninggalkan kecupan di pelipis istrinya sebelum menjawab, "Itulah yang dinamakan cinta. Poseidon melakukan ini semua agar Rhea bisa mendapatkan tempat yang aman jauh dari segala urusan yang ada di Olympus."


"Keputusan yang tepat karena aku pun tak mau tinggal disana."


"Aku tau, sayang."


"Tinggal sedikit lagi dan Rhea akan siap menempati tempat ini bersama anak-anakku." bangga Poseidon sangat puas dengan hasil yang didapatkan.


"Kurasa secepatnya kau harus membawa Rhea tinggal disini. Firasatku tidak baik." sahut Apollo mengingat kejadian tadi bersama Amprifit.


 


Asthrea membuka kedua matanya. Kepalanya mengeluarkan darah karena beberapa kali membentur benda tajam beberapa kali, bahkan saat ini pandangan matanya kabur, tak bisa melihat langit dengan jelas sampai suara seorang pria menginstruksikan sesuatu.


"Nona muda, apa kau mendengarku?"


Tubuh Asthrea semakin melemah ditambah kondisi bahwa dirinya tengah mengandung bayi kembar justru membuatnya tak berdaya.


"Tolong.. Selamatkan bayiku.." lirihnya sebelum hilang kesadaran.


"Dia tidak sadarkan diri. Cepat panggilkan seorang tabib desa."


Tubuh Asthrea di bawa menuju sebuah gubuk tua yang terletak di pinggir sungai, tempat tinggal sepasang suami istri yang sangat di segani.


"Kalian lihat pakaian wanita itu. Dia pasti bukan manusia biasa dan lagi bagaimana caranya dia bisa sampai hanyut di sungai kita."


"Bicarakan itu nanti saja. Sekarang kita harus membantu wanita itu dulu."


 


Istana Poseidon benar-benar dalam keadaan kacau balau. Para demigod, nimfa juga pelayan dibuat sibuk karena tak dapat menemukan keberadaan Ratu kesayangan dewa mereka.


Amprifit menangis, ia bersikap seolah tak tau apa yang baru saja terjadi. Amprifit mengarang cerita bahwa semua terjadi sangat cepat di mana Asthrea tiba-tiba saja menghilang.


"Ini gawat! Kita akan kembali hidup dalam neraka kalau sampai Ratu tidak kembali." panik demigod menyayangkan nasib mereka jika harus hidup seperti dulu lagi bersama dewa mereka.


Poseidon kembali ke istana bersama Apollo dan lainnya. Mereka sengaja berkumpul di sana untuk merayakan kerja keras mereka selama beberapa waktu belakangan ini ditambah Ariadne yang ingin sekali bertemu dengan Asthrea setelah cukup lama mereka tidak bertemu.


Ditengah ketakutan para demigod tetap melayani tamu Poseidon, masih dengan menyembunyikan fakta bahwa Ratu mereka hilang dan belum di temukan.


"Sampai kapan kita akan seperti ini, pasti dewa akan segera tau." panik salah satu demigod.


"Pikirkan itu nanti. Sekarang kita layani dulu para Dewa Dewi yang datang sebagai tamu." balas nimfa yang bertugas sebagai kepala dayang Asthrea.


Tanpa keduanya sadari. Apollo berdiri di balik tembok mendengar semua perkataan mereka. Apollo panik namun dia harus bersikap tenang. Sekarang dia harus mencari tau kebenarannya.


"Di mana Rhea?" tanya Ariadne antusias berhasil membuat para pelayan yang tengah melayani mereka terdiam serempak.


Poseidon berdiri dari tempat duduknya, "Aku akan menjemputnya di kamar." ucapnya berjalan menuju kamar istrinya.


Sepeninggalnya Poseidon. Para pelayan istana dang dewa laut kini tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan mereka yang secara kompak mengikuti setiap langkah kaki sang dewa yang perlahan mulai menghilang dari pandangan mereka.


Hal yang tak biasa terjadi disana ternyata tak luput dari pandangan Athena dan Ariadne. Keduanya merasa ada yang tidak beres terjadi di sana.


Athena melirik tempat di sampingnya berniat untuk menanyakan kepada Apollo apakah dia mengetahui sesuatu namun Athena tidak menemukan sang dewa di sisinya mengernyit binggung.


"Dimana Apollo?"


Brukkk


Amprifit terlonjak kaget ketika Apollo tiba-tiba saja datang menerjangnya dengan mencekik lehernya. Kedua mata Dewa matahari itu berkilat marah menatap kedua mata Amprifit.


"Katakan! Dimana kau menyembunyikan Rhea?"


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti, dewa."


"Kau pikir aku bisa kau bodohi! Aiden tidak akan memaafkan mu jika dia tau apa yang sudah kau perbuat!" desis Apollo.


"Memang apa yang dia perbuat?"


Kedua mata Amprifit membulat sempurna. Kini dia diliputi kepanikan saat mendengar suara itu. Apollo menyunggingkan senyum mengejek Amprifit yang menggeleng lemah seolah memohon pada Apollo untuk tidak mengatakan tuduhannya pada Poseidon.


"Harusnya kau tau akibat dari perbuatan jahat mu, Sekarang bahkan dewa kematian mungkin sedang dalam perjalanan untuk menjemputmu."


 


Tbc