
Cathy meggeleng tak percaya dengan apa yang ada didepan matanya saat ini. Perlahan langkah kecilnya mulai menjauh dari tempat tersebut, berlari sejauh mungkin dari sana. Tidak! pasti ada yang salah disini.
Bagaimana ini bisa terjadi padanya?
Deru nafas tak beraturan, wajah berkeringat ketakutan ditengah perlarian sesekali membuatnya terjatuh tapi dengan cepat pula ia berdiri melanjutkan pelariannya hingga tak terasa langkah kakinya telah membawa Cathy sampai pada batas terakhir.
Splasshh
Entah mengapa dirinya bisa jatuh ke dalam air lagi Ke dasar laut paling dalam, tenggelam dalam kegelapan yang tak dia inginkan.
Yer...
Tubuh lemah itu semakin jauh dalam jangkauan, terus menerus ke bawah tanpa perlawanan. Kedua mata terpejam, enggan untuk dibuka seakan telah pasrah pada apa yang akan terjadi pada dirinya. Semua mungkin sudah berakhir.
Mungkin ini memang akhir dari segalanya. Untuk kedua kali dia akan mati dengan cara yang sama. Akankah ada yang menolongnya seperti waktu itu.
Poseidon! Kemana pria itu pergi disaat seperti ini? Ah betapa bodohnya dia. Mengapa harus pria itu yang terpikirkan disaat seperti ini.
"Asthrea.."
Suara ini? Dia pernah mendengarnya sebelumnya. Pemilik suara yang pernah menyelamatkan hidupnya.
"Jangan lakukan ini. Ku mohon bangunlah!"
Mendengar suara itu membuat kedua mata Cathy yang semula terpejam mulai terbuka. Entah dari mana kekuatan untuk melawan itu datang. Cathy mendongak ke atas dimana cahaya satu-satunya perlahan menghilang dari pandangannya.
Dengan seluruh kekuatan yang tersisa Cathy merangkak naik ke atas. Suatu keajaiban yang membuat dirinya bisa berenang dalam sekejab mata atau dorongan yang dia terima..
"Hah.." Kedua mata Cathy benar-benar terbuka lebar kali ini. Tidak terjebak lagi dalam dunia mimpi yang membelenggunya selama kurun waktu lama.
Semua yang ada dalam ruangan pada akhirnya bisa bernafas lega. Leto tersenyum haru begitupun dengan Athena sedang Apollo langsung saja memeluk Artemis karena merasa lega akhirnya mereka berhasil menyelamatkan Cathy.
Berbeda dengan seisi ruangan yang nampak lega. Cathy justru menangis beranjak bangun dari tempat tidur kemudian langsung menangis memeluk Poseidon yang duduk disisi ranjangnya.
"Aku pikir tidak akan bisa kembali lagi." Cathy sesesegukan tak terkendali.
Tidak ada yang betul-betul mengerti perasaan takut yang dialami oleh Cathy saat ini. Mereka memaklumi perasaan wanita yang baru lolos dari kematian.
Poseidon membalas pelukan Cathy seraya mengusap punggung wanitanya yang berbalut gaun satin tipis dengan lembut, "Sstt.. Kau pasti bermimpi buruk lagi ehm?"
Cathy mengangguk dalam pelukan Poseidon, "Aku pikir aku akan kehilangan kalian."
Entah perasaan seperti apa yang dirasakan Poseidon saat ini. Semua campur aduk antara rasa bersalah, lega bahagia dalam satu waktu namun yang pasti dia harus mengakui sesuatu.
"Maaf, harusnya aku tidak marah kemarin." ungkapnya dengan nada menyesal. Bukan sang dewa laut yang terkenal arogan seperti biasa.
Cathy menarik diri dari pelukan Poseidon. Kedua mata cantiknya berbinar senang melihat si kembar dan yang lainnya ikut bediri disana.
"Rhea.." Apollo mendekat, berlutut disamping Cathy seraya mengenggam tangan Cathy membuat Poseidon mendelik ke arahnya, "Jangan membuat kami semua khawatir lagi, bisa kan?" ucapnya lembut.
"Maaf, Al." balas Cathy tersenyum.
"Kau mau makan sesuatu?" potong Poseidon berhasil menarik kembali perhatian Cathy.
Cathy menghela nafas, "Para pelayanku sedang dibebastugaskan. Mungkin aku harus pergi sendiri meminta makanan di dapur istana utama."
Poseidon dan Apollo saling melempar pandangan. Rupanya Cathy belum menyadari dimana dia berada saat ini.
"Lihat sekelilingmu, Rhea. Ini bukan kamarmu." sahut Artemis terkekeh disamping Athena yang juga tidak bisa menahan tawanya.
"Euhm?" binggung Cathy mau tak mau mengedarkan pandangannya dan detik itu juga dia membulatkan kedua matanya sempurna. Benar! Itu bukan kamarnya.
Kamarnya terlampau lebih besar dua kali lipat dari kepunyaannya, belum ranjang yang ditempati ditambah dekorasi kamar yang di dominasi warna langit biru serta corak keemasan pada pilar-pilar. Terlihat seperti kamar seorang yang memegang kekuasaan.
"Sebentar! Akan ku perintahkan Demigod untuk menyiapkan makanan." ucap Poseidon berdiri. Ia harus melakukannya sendiri untuk memastikan semuanya aman.
Leto dan Athena berjalan keluar menyusul Poseidon untuk membantu sang dewa mengawasi karena Hera sudah pasti tidak akan tinggal diam apalagi istananya berada dekat dengan istana Poseidon.
Olympus memiliki dua belas dewa dengan tingakatan kekuasaan dan kekuatan yang berbeda. Zeus sebagai dewa tertinggi Olympus memiliki istana utama yang kemudian di susul oleh Poseidon, sang dewa laut dan lainnya.
Artemis dan Apollo, dikarenakan keduanya saudara kembar mereka berbagi istana setelah istana Ares disusul istana Dionysus, Hermes, Demeter yang harusnya milik Hades tapi karena sang dewa lebih banyak menghabiskan waktu di dunia bawah. Posisinya di Olympus digantikan oleh Demeter.
Sepeninggalnya Poseidon. Apollo mengambil tempat disamping Cathy. Pria itu menarik pipi berisi Cathy dengan gemas.
"Hentikan, Al! Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa bisa aku disini?" tanya Cathy.
"Kau diracuni, Rhea. Kau tidak ingat apapun?"
Cathy mengernyit berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Terakhir kali yang ia tau bahwa ia sedang minum dan ingin pergi tidur tapi tiba-tiba saja rasa sakit menjalar disekitar kepala dan setelah itu ia tidak ingat apapun lagi.
"Aku hanya ingat kalau aku minum air."
"Ya, air beracun dan kau meminumnya, Rhea." sahut Artemis.
"Lalu kalian datang menyelamatkanku kan?" tanya Cathy dibalas anggukan kompak si kembar, "Sudah ke tebak juga. Kalian memang yang terbaik," puji Cathy, "Oh ya, kalau begitu antarkan aku pulang ya. Aku kan sudah sadar. Kakakku dan yang lain pasti khawatir mencariku."
Apollo dan Artemis saling bertukar pandangan lalu menggeleng secara kompak.
"Tidak bisa, Rhea karena sekarang ini rumahmu." ucap Apollo.
Cathy mengernyit, "Bukan, Al. Ini jelas bukan rumahku. Aku tidak kenal tempat ini."
"Ini adalah kamar milik Poseidon dan karena kau sudah resmi menjadi istri Poseidon, itu berarti kamar ini juga kamarmu, Rhea."
Kedua bola mata Cathy membulat sempurna. Astaga apa yang barusan dia dengar?
"Apa maksudmu, Art. Bagaimana bisa aku tiba-tiba menjadi istri Aiden sedang aku baru saja bangun." dengus Cathy tak mau percaya. Dasar Al dan Art, sembarangan saja kalau bicara. Bagaimana kalau Poseidon dengar, bisa kepala besar itu dewa.
"Ekhm.."
Pucuk dicinta, yang ditakutkan pun terjadi. Poseidon telah berdiri didekat mereka entah sejak kapan tapi sudah dapat dipastikan pria itu mendengarnya.
"Biar aku yang menjelaskannya." ucap Poseidon mendekati ranjangnya.
Apollo beranjak. Mau tak mau mengajak Artemis keluar bersama untuk memberikan keduanya waktu bicara berdua. Benar. Dalam keadaan seperti ini akan lebih baik jika Poseidon saja yang memberi penjelasan kepada Cathy.
"Pendengaranku jadi tidak baik akhir-akhir ini. Masa mereka bilang kalau kita suami istri. Itu mustahil." cerita Cathy membuang nafas.
"Itu memang benar." balas Poseidon duduk disamping Cathy.
Ledakkan tawa keluar dari mulut Cathy. Oh astaga, apakah sekarang dia sedang dikerjai, "Jangan bercanda. Aku saja baru bangun, kalau kita sudah menikah lalu bagaimana dengan upacara nikahnya. Apa aku bilang Ya dalam mimpi ehm?"
"Upacara?" ulang Poseidon binggung.
Cathy memutar bola mata jengah, "Iya upacara pernikahan atau sejenisnya lah. Pasangan pada umumnya biasanya mengikrarkan janji pernikahan didepan orangtua atau kerabat." jelasnya heboh.
"Apa itu perlu? Setahuku Troya tidak memiliki aturan pernikahan macam itu?"
"Ya iy-" Cathy terdiam tidak dapat melanjutkan ucapannya karena menyadari perkataan Poseidon barusan, "Benarkah?" tanyanya mendadak merasa bodoh.
"Tidak mungkin." pekik Cathy heboh.
Oh god. Ini tidak dapat dipercaya. Meski dirinya terjebak dalam tubuh Cathy tapi tetap saja dia gadis belia yang baru berusia belasan tahun, yang bahkan belum mencapai kedewasaan menurut korea Selatan. Selamat tinggal masa mudanya..
"Sepertinya aku masih terjebak. Sebentar aku mau tidur dulu. Mimpi ini benar-benar membuatku gila." Cathy memegang kepalanya.
"Permisi, Dewa. Kami membawakan makanan yang anda minta." suara Demigod terdengar dari pintu yang masih tertutup rapat.
"Diam disini! Jangan melakukan kegilaan apapun." titah Poseidon menunjuk Cathy yang kemudian mengerucut karena terkejut.
----
Apollo baru saja kembali usai menjalankan tugas ketika Artemis datang menghadang jalannya yang ingin masuk ke istana mereka.
"Apa yang kau bicarakan dengan Ayah?"
Sungguh semalam Artemis tidak dapat tidur dengam nyenyak karena terus memikirkan perihal pembicaraan saudara kembarnya dengan Zeus. Artemis hanya tak siap jika harus kehilangan Orion untuk selamanya.
Ya, meski mereka tak bisa bersatu. Artemis cukup senang mengetahui bahwa pria yang ia cintai masih hidup meski terkena kutukan, karena dengan begitu saja dia merasa punya kesempatan untuk melihat Orion dari kejauhan.
"Kau bisa menanyakannya sendiri, Art."
"Al, kau tidak berpikir untuk melakukan sesuatu pada Lycan kan? Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu jika kau sampai melakukannya."
Apollo menarik nafas panjang lalu membuangnya. Perlahan mendekati Artemis, menangkup kedua pipi saudarinya, "Tidak seperti itu, Art. Percayalah padaku. Apa yang aku lakukan adalah untuk menebus kesalahanku kemarin."
"Aku tidak mengerti." Artemis menggeleng.
"Kau akan mengerti sebentar lagi." balas Apollo meninggalkan ciuman di dahi Artemis sebelum melangkah pergi meninggalkan saudarinya yang masih bertanya-tanya.
----
Beberapa wanita terlihat mondar-mandir didepan Cathy mempersiapkan segala keperluannya. Jika dibanding dengan para pelayan miliknya, jumlah yang dia dapatkan ditempat ini dua kali lipat lebih banyak meski sekedar mengurus keperluan mandi saja harus lebih dari lima orang.
Apa mereka di gaji? Pertanyaan itu sontak saja muncul dikepala Cathy. Jika ya, itu sama saja dengan pemborosan.
"Nyonya, air mandinya sudah siap." seorang wanita berdiri didepan ranjang dimana Cathy duduk berujar memberitahu.
Cathy mengangguk lalu menuruni ranjang. Dua dari banyak wanita disana mulai membantu melepaskan gaun tidur yang dikenakan oleh Cathy kemudian menggantinya dengan jubah mandi sebelum menuntun Cathy pergi ke tempat permandian.
Keadaan Cathy sudah berangsur membaik. Saat ini dia tengah dilayani dua wanita tuk dibersihkan dalam kolam besar berisikan wangi-wangian yang menenangkan.
"Biar aku sendiri saja." seru Cathy ketika dua dari wanita yang mengikutinya ingin mengosok bagian tubuhnya. Sungguh dia tak terbiasa disentuh orang asing. Para pelayannya saja tidak diijinkan untuk itu.
Seakan mengerti maksud Cathy, satu persatu mulai keluar meninggalkan ruang permandian tersebut barulah Cathy leluasa bergerak masuk ke dalam kolam setelah melepas jubah mandinya.
"Astaga, aku merasa hidup kembali." desah Cathy berendam masuk kedalam air. Wangi bunga lavender semakin tercium membuatnya merasakan ketenangan.
Jadi begini rasanya hidup di surga.
Cathy benar-benar menikmati waktu mandinya dengan bermain air. Sesekali menenggelamkan diri lalu keluar, memukul air dengan kedua tangannya persis seperti anak kecil yang baru saja dikasih mainan. Rasanya menyenangkan.
Kedua mata Cathy terpejam bersandar pada pinggir kolam dengan kepala mendongak ke atas menatap langit-langit biru yang nampak Indah.
"Dimana istriku?"
Deg
Kedua mata Cathy langsung saja terbuka lebar setelah sebuah suara yang sangat ia kenali tertangkap Indra pendengarannya.
"Apa dia didalam?" tanyanya lagi. Kali ini suara itu semakin jelaa menandakan bahwa pria itu sudah berada dibalik pintu penghubung ruangan tempat Cathy saat ini.
Please!! Jangan beritahu Poseidon kalau dia disini. Doa Cathy dalam hati dengan mata tertutup rapat.
"Iya, Dewa."
Shit!! Ah habislah dia.
Selanjutnya yang didengar oleh Cathy adalah suara pintu yang dibuka. Cathy panik, ia bergerak ke sana kemari, binggung harus bersembunyi atau tidak tapi muncul dalam keadaan seperti ini juga akan sangat memalukan untuknya.
Ah! Dia bisa gila kalau begini terus.
Satu-satunya ide terlintas dikepala Cathy tepat saat kemunculan Poseidon yaitu menenggelamkan diri sampai sebatas dagu. Ia tidak tau apa ini berhasil atau tidak tapi setidaknya Cathy sudah berusaha juga mengumpulkan kelopak bunga disekelilingnya untuk membantu persembunyian yang mungkin tak ada gunanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Poseidon heran melihat tingkah Cathy.
Cathy menggeleng polos, "Tidak sopan masuk ke dalam ruang pribadi seorang gadis, Aiden." ucapnya kemudian.
"Kau istriku, harus berapa kali ku bilang."
"Aku tidak percaya. Buktinya apa kalau aku ini istrimu uhm?" tantang Cathy.
"Kau mau bukti seperti apa?"
Cathy terlihat berpikir. Menimbang-nimbang apa yang sekiranya dapat membuktikan ucapan Poseidon.
Poseidon tidak sabar. Ia paling benci menunggu hal apapun perlahan melepas jubahnya membuat Cathy tersadar langsung saja terbelalak.
"Hey, apa yang kau lakukan?" pekik Cathy heboh.
"Membuktikan ucapanku."
Cathy menggeleng keras. Tidak! Bukan ini yang dia mau. Dia masih polos, masih muda, masih lucu, pokoknya terlalu dini untuk hal ini. Ya ampun!
Poseidon melompat turun ke dalam kolam, tersenyum penuh arti melihat Cathy yang masih menutup mata, membelakanginya.
"Lihat aku!"
"Tidak mau."
"Aku tidak akan meminta untuk yang ketiga kalinya." ancam Poseidon.
Cathy mengigit bibirnya. Mau tak mau menuruti kemauan Poseidon dengan wajah memerah merona mengingat kondisi keduanya saat ini terlalu intim.
"Berikan tanganmu." pinta Poseidon.
Cathy mengangkat tangan membuat Poseidon menyematkan gelang yang dibawa olehnya ke pergelangan tangan Cathy. Sebuah gelas emas dengan simbol yang dikeramatkan untuk sang dewa laut dan di ukir sedemikian rupa diberikan untuk Cathy seorang.
"Wah indah sekali." gumam Cathy takjub.
Wajah Cathy tiba-tiba terangkat menatap wajah Poseidon, "Kau adalah istriku. Ingat itu!" ucap sang dewa laut.
----
Tbc