
Pria pemilik mata bewarna biru laut yang dilihat oleh Cathyrene melanjutkan langkah kaki menaiki tangga. Perlahan tapi pasti jubah putih berukiran abstrak emas muncul memenuhi punggung pria itu. Surai yang tadinya bewarna coklat mulai berubah warna menjadi warna hitam pekat dengan tongkat trisula ditangan kanannya ia membalikkan badan.
Ya, itu Poseidon...
Rasa penasaran membuatnya terus memandang lurus ke bawah. Dari tempatnya berdiri, kehadiran gadis itu sangat jelas. Tatapan mata yang membuat siapapun yang menatapnya saat ini akan diliputi ketakutan tertuju pada Cathyrene.
Cathyrene justru tak menyadari bahwa dirinya tengag di tatap oleh sang dewa penguasa lautan tetap terus melanjutkan langkahnya.
"Ada yang bilang rasa penasaran bisa membunuh." celetuk Apollo entah sejak kapan berdiri disamping sang dewa laut, Poseidon.
"Maksudmu?"
"Aku tau kau membencinya tapi jangan terlalu larut dalam kebencianmu."
"Kau selalu sok tau ya?"
Apollo tertawa kecil, menundukkan kepala sebentar lalu memandang ke arah yang sama, "Aku hanya terlalu mengerti gadis yang kau benci itu hingga hal terkecil pun yang berhubungan dengannya aku tau." jelas Apollo dengan nada tak seperti biasanya. Pria itu terdengar begitu marah. Tentu saja, bagi Apollo, Cathyrene sudah seperti saudarinya, sama halnya dengan Artemis dan dia tidak akan tinggal diam jika melihat Cathy di sakiti.
"Kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Ya, ya kau dewa Agung. Semua wanita jatuh dalam pesonamu dan mendapatkan kasih sayangmu sementara dia tidak mendapatkan kelayakan itu darimu." sambung Apollo kemudian.
Poseidon menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat oleh Apollo, "Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang memberikan kasih sayang terhadapnya?" balas Poseidon santai.
Ditengah pembicaraan kedua dewa tampan penghuni olympus tersebut. Sebuah panah emas tiba-tiba saja membidik punggung Poseidon yang tengah membelakanginya, akan tetapi sang dewa terlebih dulu menyadari dan melakukan pertahanan dengan menangkap panah emas tersebut dengan tangannya.
Dalam sekejab panah emas ditangannya hancur lebur. Wajah Poseidon memerah menahan amarah, ia menyebutkan satu nama yang ada dikepalanya.
"Eros."
"Tangkapan yang Bagus, Aiden."
Bukannya merasa bersalah. Pelaku yang dipanggil Eros oleh Poseidon itu justru tertawa kecil seperti tidak melakukan apapun.
Pria tampan yang selalu bersama panah cintanya kemanapun ia pergi melangkah mendekati Apollo dan Poseidon.
"Ck! Jadi ini rencanamu?" tuduh Poseidon terhadap Apollo yang mengernyit binggung karena harus menjadi tersangka untuk sesuatu yang tak ia lakukan.
"Bukan aku." bela Apollo.
Eros menepuk bahu Poseidon guna menenangkan pria emosional itu dari amarah. Jika tidak, Eros yakin Apollo akan menjadi sasaran dan keduanya akan terlibat dalam pertengkaran besar. Huh, Eros bahkan tak mampu membayangkan dampaknya ketika penguasa laut dan matahari itu berseteru.
Poseidon membalikkan tubuh, menepis tangan Eros kemudian menghilang meninggalkan Apollo dan Eros tanpa pamit membuat kedua dewa itu hanya bisa mendesah maklum. Mereka sudah biasa akan perlakuan seperti ini dari Poseidon saat suasana hati sang penguasa laut sedang kacau.
"Dasar bodoh! Memanah Aiden saja tidak berhasil. Itu kan tugasmu selama ini." semprot Apollo pada Eros. Mereka memang tidak merencanakan hal itu sebelumnya tapi tetap saja sayang sekali moment tadi rusak begitu saja karena kelalaian Eros.
"Kenapa menyalahkanku. Kita tidak ada perjanjian ya. Tadi itu murni aku ingin mengerjainya saja." balas Eros tak diterima disalahkan Apollo.
"Harusnya di sah kan saja."
"Sialan kau! Tidak semudah itu memperdayainya."
"Huh, tetap saja, yang tadi itu sayang sekali gagal." bantah Apollo tidak mau kalah membuat Eros sedikit kesal tapi saat memikirkannya lagi. Sang cupid ikut menyetujui.
Mungkin akan seru jika melihat sang penguasa laut tergila-gila kepada satu wanita, "Kau benar." gumam Eros, "ah lain kali nanti kita coba lagi, bagaimana?" tawar Eros menaik turunkan alisnya.
"Tidak ada kesempatan lain lagi. Dia pasti akan lebih waspada." dengus Apollo, "Sudahlah, aku mau berburu bersama Art dulu." lanjut Apollo berubah menjadi cahaya dan pergi dari sana.
Cathyrene mendudukkan dirinya di rerumputan hijau taman tepatnya dibawah pohon pinus yang ada letaknya ditengah taman. Ia sudah cukup lelah menempuh perjalanan hingga sampai ditaman tapi tidak mendapatkan hasil, bahkan jejak kehadiran sang Dewa tidak terlihat. Apa mungkin itu cuma kabar bohong. Poseidon tidak pernah datang ke sana.
Tenaganya terbuang dengan percuma..
Kalau begini caranya kapan aku bisa bertemu dengan orang itu?
"Apa aku panggil saja tiga kali?" gumam Cathyrene tersenyum tapi pada detik berikutnya ia mengerucut lucu menyadari ide bodohnya itu.
Poseidon itu dewa bukan hantu, Yerianna Kim! Ah, sepertinya virus bodoh Cathyrene menular..
Kepala Cathyrene menengadah ke atas, menatap ke arah langit biru yang indah, polos dan belum tersentuh polusi udara seperti tempat tinggalnya yang dulu. Beberapa hari ini secara mengejutkan terjadi perubahan cuaca. Tanpa sebab tanaman sekitar tidak semekar beberapa minggu lalu saat ia datang ke sini. Pohon tempat ia duduk sekarang pun hampir mengering.
Sepertinya ia mengenali bencana alam ini?
"Olympus sedang kritis karena saudari tiriku, anak dari ibu Demeter menghilang tanpa jejak dan aku terlalu malas melihat drama lain setelah itu diatas sana."
Ah, Persephone alasan dari perubahan musim. Dia adalah Dewi musim semi sebelum diculik oleh Hades. Kala itu, Persephone sedang memetik bunga ketika Hades keluar dari dunia bawah. Sang dewa yang melihat Persephone langsung jatuh Cinta dan menculik sang Dewi untuk dibawa tinggal bersamanya di dunia bawah.
Karena hal itu, Demeter, ibu Persephone bersedih selama berhari-hari dan membuat seluruh dunia ikut bersedih. Angin dingin berhembus kencang merontokkan daun pepohonan, bunga menjadi layu tanaman tak bertumbuh dimana-mana.
"Tidak salah lagi." desah Cathyrene menyandarkan punggungnya dipohon sembari memejamkan kedua matanya.
"Permisi.,"
Cathyrene yang tadinya hampir terlelap membuka kedua matanya lagi, menatap seorang wanita cantik yang tengah berdiri tepat dihadapannya dengan padangan sayu setengah mengantuk.
"Ah, apa aku sudah menganggu tidurmu?" tanya gadis itu tak enak hati.
Sudah tau nanya lagi.
"Tidak apa." balas Cathyrene mencoba tersenyum ramah meski dalam hati sebenarnya dia merasa terganggu akan kedatangan gadis itu yang secara langsung menganggu tidur siangnya.
"Kau calon Pendeta Agung dari Troy kan?"
Catyrene mengangguk kecil, "Iya."
"Kita baru bisa bertemu. Kenalkan, aku Valerie. Sama sepertimu, aku juga salah satu dari enam calon Pendeta Agung." ucap wanita cantik itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
Well, aku tidak tanya sih tapi lumayan lah nambah teman lagipula sejak datang ke sini aku belum memiliki teman bicara. Mungkin Valerie bisa menjadi teman yang baik.
Setelah cukup lama terdiam memandang Valerie, akhirnya Cathyrene menyambut uluran tangan wanita didepannya itu dengan senyum ramah.
----
Dewa penguasa langit tengah diliputi kebimbangan hati karena kasus putrinya belum menemukan titik terang. Zeus sendiri binggung, ia tidak ingin terlibat pertikaian dengan saudaranya sendiri, Hades yang begitu menginginkan putrinya tapi dia juga tidak tega melihat kesedihan Demeter yang berdampak pada kesejahteraan manusia bumi.
"Kau harus menemui Hades segera sebelum bumi tempat manusia semakin tenggelam akan bencana alam karena kesedihan Demeter." nasihat Hera dibalik punggung Zeus. Sebagai Ratu para dewa yang ikut bertanggung jawab, Hera merasa perlu ikut mencari jalan keluar dan mengesampingkan urusan pribadi rumah tangganya.
Hera telah mengetahui setelah memaksa Zeus untuk menceritakan semuanya. Kecurigaan Hera bermula ketika Zeus nampak tidak terlalu terkejut ketika mendengar kabar penculikan Persephone dari Helios. Zeus bertindak santai, bukan seperti dirinya yang biasa kala mendengar kabar buruk. Zeus bisa langsung marah bahkan lebih parah mengeluarkan petirnya tapi itu tidak terjadi.
Nyatanya, Hades telah lebih dulu mendatangi Zeus secara pribadi dan meminta ijin membawa sang Dewi musim semi ke dunia bawah untuk dijadikan Ratu sang penguasa kegelapan.
"Aku sengaja mengutus Hermes agar bisa menculik Persephone dari Hades tapi dia malah ketahuan." aku Zeus.
Prang...
Sebuah gelas jatuh dari tangan seorang wanita yang berdiri tak jauh dari pasangan suami istri tersebut membuat perhatian keduanya teralihkan ke arah sumber suara dan menemukan seseorang yang tidak mereka harapkan berdiri disana.
Demeter, sang Dewi pertanian dan kesuburan mendengar semuanya dan dia cukup terkejut mengetahui fakta yang sengaja disembunyikan darinya, "Jadi semua ini.." lirih Demeter terlihat sangat terpukul.
"Demeter."
Hera melangkah mundur, memilih untuk tidak terlibat disana. Dia sangat yakin bahwa sebentar lagi akan terjadi perdebatan besar dan dirinya tidak ingin menjadi orang kedua yang harus menerima pelampiasan amarah Demeter.
"Aku kecewa denganmu. Ternyata kau otak dibalik semua ini. Kau mengijinkan Hades membawa putriku bersamanya di dunia bawah."
"Demeter, dengarkan aku. Waktu itu aku tidak serius. Aku pikir Hades hanya mengada-ada." ungkap Zeus membela diri.
"Kau tau Hades bukan orang sepertimu. Dia tidak pernah main-main dengan perkataannya."
"Ya, aku tau tapi-"
"Kembalikan putriku!" teriak Demeter menjatuhkan dirinya dilantar yang terbuat dari marmer berawan kelam sesuai suasana hatinya saat ini.
Zeus mengerang frustasi. Dia benar-benar binggung harus mengambil keputusan seperti apa. Sudah terlambat untuk mencabut perkataannya terhadap Hades. Saudaranya itu terlalu jenius, dia telah mempertimbangkan segala hal dengan baik hingga dengan memberikan Persephone buah delima dari dunia bawah. Itu membuat Persephone tidak bisa kembali ke dunia atas.
Karena hukumnya siapapun yang memakan buah delima dari dunia bawah maka dia akan terikat selamanya..
----
"Ah, capek sekali. Jika begini terus aku merasa seperti mengulang masa traine dimana tiap hari diisi dengan belajar dan belajar." desah Cathyrene merenggangkan otot-ototnya. Seluruh tubuhnya terasa amat letih setelah setelah menyelesaikan tugas.
Tanpa sadar langkah kaki Cathyrene ternyata membawa dirinya kembali ke taman belakang.
Samar-samar terdengar suara tawa seorang sukses menarik perhatian Cathyrene. Ia menoleh mencari asal suara dan menemukan sosok Valerie sedang berbincang bersama seorang pria.
Sangat jelas dalam penglihatan Cathyrene, Valerie terlihat malu-malu berhadapan dengan pria yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu. Pria sombong yang menolongnya agar tidak jatuh. Ck! Ternyata itu pacar Valerie.
Tapi tunggu! Bukankah calon pendeta tidak boleh pacaran?
Cathyrene tidak mau ambil pusing mengurusi urusan orang lain. Dia tidak mau dicap tukang mengadu, toh jika mereka benar pacaran, tidal salah kan? Toh manusia bebas mau mencintai siapa saja.
Ia tersenyum, hendak meninggalkan tempat itu ketika cahaya asing terlihat menyinari tubuh pria itu. Detik berikutnya kedua mata Cathyrene terbelalak kaget ketika melihat pria itu merubah wujudnya.
Poseidon..
Tidak salah lagi. Cathyrene sangat mengenalinya meskipun dari jarak jauh sekalipun. Poseidon telah memenuhi ingatan Cathyrene selama ini. Dan pria yang menabraknya kemarin adalah..?
Hadeuh... Pantes kelakuannya begitu.
Cathyrene berdecak sebal, "Orang ini berulah lagi." komentarnya melipat tangan didepan dada melihat sepak terjang Poseidon dalam hal menaklukkan hati wanita..
Eh, sebentar! Sepertinya ada yang terlewatkan. Bukannya kemarin gosipnya bersama penjaga muda? Valerie kan calon pendeta Agung sama sepertiku. Jangan-jangan Valerie korban lain?
Wah parah sih ini namanya!
Baiklah. Untuk kali ini Cathyrene tidak membiarkan Valerie, teman barunya terjebak oleh pesona sang dewa laut pun melangkah cepat menghampiri mereka berdua yang sepertinya belum menyadari kehadirannya sampai Cathyrene berdiri diantara keduanya.
"Salam kepada Dewa Agung penguasa lautan." sapa Cathyrene ramah menundukkan kepalanya hormat namun tak mendapatkan balasan dari sang dewa yang justru memandangnya datar tanpa ekspresi.
"Cathy." sapa Valerie cukup kaget melihat kehadiran Cathyrene disana. Valerie gugup, ia takut Cathyrene akan mengadukan hal imi terhadap tetua pendeta Agung lain.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Cathy." panik Valerie binggung mencari penjelasan.
Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Cathy! Come on! Aku sudah mendengarnya ribuan kali dalam drama yang ditayangkan di TV tentang prahara rumah tangga ketika salah satu pasangan tercyduk selingkuh.
"Memang apa yang ku pikirkan, Vale. Aku sedang tidak memikirkan apapun." balas Cathyrene tersenyum manis.
Valerie bernafas lega mendengarnya. Secara tidak langsung ia mengerti makna dibalik ucapan Cathy untuknya yang tidak memberitahukan hal ini pada siapapun.
Dengan hati-hati Valerie mendongak menatap sang dewa tampan, lebih tinggi beberapa centi meter darinya dengan penuh kekaguman.
"Dewa, ini adalah."
"Aku tau," potong Poseidon cepat ketika Valerie akan memperkenalkan Cathyrene. Tak hanya sampai disitu saja, sang dewa jelas tidak mau memandang ke arah Cathyrene. Hal itu cukup menyinggung perasaan Cathyrene.
Sial! Mati saja kau! Jadi dewa tidak punya sopan santun. Dasar!
Seseorang! Tolong beritahu aku bagaimana cara membunuh dewa menyebalkan ini.
Secara mengejutkan Poseidon mengalihkan pandangan menatap Cathyrene yang juga tengah menatapnya. Tatapan pria itu begitu dingin dan menusuk tapi itu sama sekali tak berpengaruh. Untuk pertama kalinya, Cathyrene membalas tatapan Poseidon tak kalah dingin seakan mengirimkan sinyal perang.
Valerie mengerutkan dahi melihat pemandangan yang terjadi dihadapannya. Kedua orang didepannya lebih terlihat seperti musuh yang dipaksa bertemu. Sama-sama mengeluarkan aura mengerikan.
Cathyrene lebih dulu melepas pandangan dari Poseidon. Ia beralih menatap Valerie, "Sepertinya aku sudah menganggu waktu kalian. Aku akan masuk ke dalam lebih dulu." pamit Cathyrene membalikkan badan. Dan tanpa menunggu balasan dari Valerie dia berjalan meninggalkan keduanya ditaman belakang.
Lagi, Poseidon memandangi punggung Cathyrene yang telah menjauh sebelum pada akhirnya gadis itu menghilang dibalik tembok.