
"Cathy. Kaukah itu?"
Cathy menyunggingkan senyum tipis mendengar suara kakaknya menyapa Indra pendengaran. Sungguh ironis membayangkan bahwa kakaknya juga bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa dirinya hingga hampir merenggut nyawanya sendiri.
Dan sekarang seolah tak melakukan kejahatan apapun terhadapnya, mereka justru mengharapkan bantuan darinya. Hector yang berada disamping Cathy sejak tadi pun tak sanggup menatap wajah bibinya karena malu.
"Aku sudah memberitahu Hector apa yang bisa ia lakukan nanti saat peperangan di mulai." seru Cathy memandang Hector sambil tersenyum.
Meski sebenarnya mustahil untuk menang mengingat hampir seluruh pasukan Yunani di pimpin oleh raja-raja mereka yang bersedia meninggalkan kerajaan untuk datang berjuang bersama untuk menegakkan keadilan selepas Paris menculik seorang Ratu Yunani.
"Sayang, ayo kita kembali sekarang."
Suara Poseidon terdengar di kepala Cathy langsung saja membuat wanita cantik itu berpamitan pada keluarganya tanpa mau berlama-lama lagi berada disana. Sangat miris melihat keangkuhan keluarga yang dia banggakan tersebut terus menerus melalui mata batin anugerah Poseidon yang membuat dirinya dapat mengetahui kebenaran wajah yang tertutup topeng dari para manusia yang berada di ruang utama istana.
"Hector, ingat ucapanku baik-baik." pesan Cathy sebelum benar-benar pergi dari sana.
Poseidon menunggu Cathy di taman dekat Pavilliun terdahulu milik Cathy. Lengan sang penguasa lautan itu langsung saja terbuka menyambut istrinya. Poseidon yakin bahwa Cathy membutuhkannya.
Cathy tersenyum berlari kecil ke dalam pelukan Poseidon. Kedua matanya terpejam, "Terima kasih untuk segalanya." lirih Cathy.
"Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan untuk wanita yang ku cintai." balas Poseidon.
Hari demi hari berlalu. Cathy semakin membulatkan tekad untuk bertahan,melawan rintangan apapun yang melarang dirinya untuk tetap disana. Tidak! Tak ada yang bisa membuat dirinya pergi dari sana selama keinginannya untuk bertahan tetap kuat.
Sejak itu pula, mimpi buruk yang sering mendatangi Cathy menghilang. Tidak pernah ada lagi tangisan dalam mimpi-mimpinya. Jika boleh jujur Cathy sering sekali merasa bahwa dirinya adalah orang jahat karena telah dengan egois memaksakan kehendaknya akan tetapi salahkah jika dia hanya ingin tinggal karena cinta?
"Kau yakin ingin ke sana?" tanya Poseidon mendekati Cathy yang tengah berusaha mengaitkan gaun yang terbuat dari sutra, salah satu dari hadiah suaminya yang dijadikan favorit oleh Cathy.
"Tentu saja." angguk Cathy ketika tangan Poseidon mulai terulur membantu istrinya yang sejak tadi kesusahan dengan gaunnya.
Klik
Gaun Cathy telah terpasang sempurna. Kini wanita cantik itu beralih meraih gelang pemberian Poseidon sebagai pelengkap penampilan dan meninggalkan perhiasan lain di atas meja rias bercorak emas padahal begitu banyak perhiasan yang diberikan oleh Poseidon namun Cathy hanya menggunakan beberapa sedang sisanya di biarkan dalam kotak. Hal kecil yang sering menjadi alasan perdebatannya dengan Poseidon yang selalu protes karena Cathy hanya memakai barang lainnya sekali saja.
"Akan sangat bahaya jika mereka mengenalmu sebagai Putri Troya."
Cathy berbalik. Dengan wajah polos melingkarkan tangan di pinggul sang dewa laut seraya mendongak memandang suaminya yang tinggi menjulang di atasnya, "Terus kenapa? Bukankah aku punya suami yang akan menemaniku, terlebih lagi suamiku bukan manusia biasa lalu apa lagi yang harus ku takutkan?"
Poseidon tertawa, "Jadi kau mulai besar kepala karena bersuamikan dewa Olympus?"
Cathy menggelengkan kepala sembari mengulum senyum, "Bukan aku yang bicara seperti itu. Ingat itu." ucapnya menunjuk wajah tampan Poseidon.
Setelah perdebatan kecil yang cukup memakan waktu. Keduanya sampai pada tempat tujuan sedikit meleset dari waktu yang sudah ditentukan. Baik Poseidon dan Cathy benar-benar menyamar dengan baik dibalik jubah bertudung yang mereka berdua kenakan, karena dengan begitu mereka bebas melakukan apapun semau mereka.
"Cathy." panggil seorang dibelakang membuat Cathy membalikkan badan. Dan betapa mengejutkan Cathy saat bertemu pandang dengan wanita tersebut.
"Valerie."
Sungguh Cathy tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan Valerie dalam keadaan seperti ini. Ia sudah mendengar bahwa Valerie lah yang terpilih menjadi pendeta agung di kuil Athena. Jujur saja, Cathy ikut bahagia mendengarnya tapi dia tidak tau apakah Valerie akan percaya jika dia menyatakan hal tersebut mengingat hubungan keduanya sedikit memburuk sesaat sebelum Cathy kembali ke Troya.
"Ternyata benar. Cathy, kenapa kau tidak mengunjungi kuil lagi?" Ucap Valerie. Perhatiannya lalu teralihkan pada pria disamping Cathy kemudian turun ke bawah dimana rengkuhan Poseidon yang tak lepas sejak tadi di pinggul Cathy.
"Kalian," Valerie mengantungkan ucapannya. Meski dia sudah menjadi pendeta agung Athena tapi tak bisa di pungkiri perasaannya kepada Poseidon tak pernah hilang, ia masih berharap namun sayang sang dewa tak pernah mengunjungi kuil Parthenon sejak Cathy kembali ke Troya cukup menampar Valerie.
"Vale, aku-"
"Dia istriku, kami sudah menikah."
Valerie dan Cathy membulatkan mata kompak dengan alasan berbeda keduanya beralhir menatap Poseidon yang nampak santai. Valerie yang sama sekali tak menyangka endingnya akan seperti ini dan Cathy juga tak enak hati jika Valerie haru mengetahui kebenarannya.
"Wah, aku terkejut tapi selamat untk pernikahan kalian. Sungguh aku kecewa karena kalian tidak mengundangku." ungkap Valerie menekan perasaannya. Mungkin ini memang sudah menjadi takdirnya.
"Maaf, Vale."
"Tidak apa, Cathy. Oh ya, ayo ikut ke kuil bersamaku. Aku harap kalian tidak menolak pemberkatan dariku."
"Tentu."
Valerie berjalan duluan menuntun pasangan suami-istri itu menuju kuil Parthenon yang kebetulan tak jauh dari pusat perbelanjaan.
"Pendeta Agung, kami mencarimu dari tadi. Yang mulia Raja menunggu anda sejak tadi di ruang utama." Seru seorang wanita berlarian menghampiri Valerie.
"Astaga." panik Valerie berbalik, tak lupa mengajak keduanya ikut bersamanya karena biar bagaimana pun mereka juga tamu penting sang pendeta agung yang menjadi pilihan dewi Athena.
"Cathyrene."
Untuk yang kedua di waktu berdekatan Cathy di beri kejutan. Kali ini oleh kemunculan pria yang dulu sempat membantunya, dan kalau tidak salah dengar tadi wanita pendamping pendeta Agung menyebutnya sebagai 'Raja'. Oh astaga, apa begitu banyak hal yang telah ia lewatkan?
"Yang mulia."
"Sudah lama kita tidak berjumpa." Sang Raja mengulurkan tangan. Cathy tersenyum menyambutnya akan tetapi hal yang di lakukan oleh sang Raja mengejutkan Cathy dan seisi ruangan tak terkecuali Poseidon yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak gerik salah satu Raja yunani tersebut.
Cathy menarik tangannya buru-buru sebelum semuanya semakin runyam. Dapat dia rasakan bahwa aura yang dikeluarkan oleh Poseidon sudah dalam mode waspada namun mungkin hanya dirinya seorang yang merasakan hal itu disana.
"Kalau tidak salah, ku dengar para Raja Yunani saat ini sedang menuju Troya. Mengapa kau disini, Yang mulia?"
"Aku tidak ikut penyerangan karena tidak pernah terlibat dalam lamaran putri Helene dulu," jawab Sang Raja tersenyum, "Atau apakah kau sengaja menungguku dan berniat melakukan penyambutan jika aku datang ke sana?" lanjutnya dengan nada menggoda.
Astaga! Cathy telah salah melemparkan pertanyaan.
"Ekhm." dehem Poseidon, "Tunggu dulu! Wanita yang kau goda sudah memiliki suami. Jadi jaga ucapanmu karena aku adalah suaminya!"
Valerie panik. Selain Cathy, dia orang kedua yang tau bahaya sedang didepan mata. Jika sang Raja yang tak tau apapun itu terus berdebat karena ketidaktahuannya tengah berhadapan dengan seorang dewa, itu akan berakhir buruk untuknya dan kerajaannya.
"Aku tidak dapat mempercayainya karena biasanya kabar pernikahan seorang Raja biasanya selalu tersebar di segala pelosok atau mungkinkah kau berasal dari kerajaan kecil."
Sang Raja memperhatikan Poseidon dari ujung kepala hingga kaki. Penampilan pria itu terlalu sederhana untuk dikatakan sebagai seorang Raja namun tak bisa di pungkiri wajahnya yang rupawan serta aura mengintimidasi cukup menjelaskan bahwa pria itu bukan orang biasa.
Tapi tetap saja pernyataan pria itu tidak bisa dipercaya oleh Raja begitu saja. Bisa saja kan dia hanya mengarang cerita karena sebelumnya dia sudah mengirimkan perwakilan ke Troya sesaat setelah dia di angkat menjadi Raja.
"Hm, apa aku salah bicara?" sambung sang Raja bertanya ketika Poseidon diam saja, dan justru menatapnya tanpa ekspresi.
"Mungkin sebaiknya kami pergi. Lagipula Pendeta Agung sedang sibuk hari ini jadi kami akan kembali nanti saja."
"Tidak, Cathy. Aku sama sekali tidak keberatan jika-" seru sang Raja namun terpotong perkataan bernada dingin daru Poseidon.
"Kita pergi." Poseidon menggengam erat tangan istrinya kemudian mengajak Cathy keluar dari kuil Parthenon.
Mood sang penguasa lautan berantakan hanya karena ulah satu orang. Siapa lagi kalau bukan sang Putra mahkota yang kini telah di angkat menjadi Raja. Sial! Mengapa juga mereka harus bertemu.
"Ada apa denganmu?" tanya Cathy tak mengerti situasi.
"Kau senang kan?" bukannya menjawab. Poseidon justru melemparkan pertanyaan yang membuat alis Cathy menyatu.
"Senang?" ulang Cathy.
"Iya karena bisa bertemu penggemar beratmu si Putra mahkota itu."
Cathy yang pada awalnya tak mengerti apa yang terjadi pada suaminya mulai menahan senyum, "Astaga, cemburu ternyata." kekeh Cathy. Pantas saja sejak tadi Poseidon seakan mengibarkan bendera perang saat melihat kehadiran pria yang sempat di anggap sebagai saingannya itu.
"Ck!"
Poseidon yang masih kesal karena terbakar api cemburu melangkah cepat meninggalkan Cathy namun bukan Cathy namanya kalau tidak bersikap usil setelah tau kalau suaminya cemburu.
"Seorang dewa bisa cemburu juga ya? Baru tau." celetuk Cathy melingkarkan tangan dilengan Poseidon. Mereka berjalan bersama menyusuri taman yang dulu sempat menjadi saksi akan segala perdebatan mereka.
"Diam!" rajuk Poseidon semakin membuat Cathy tertawa bahkan ingin terus menggoda.
"Oh tidak bisa. Kapan lagi coba. Moment seperti ini kan sangat langka."
Poseidon memberhentikan langkah, "Oh makin seneng ya. Mau ku buat tempat ini tertutup ombak? Aku hanya perlu mengeluarkan trisulaku."
Cathy menggeleng cepat. Astaga, itu bukan sebuah pilihan, "Bercanda, sayang. Emosian terus hem nanti makin jelek."
"Ehem. Pengantin baru memang beda ya." celetuk seorang pria entah sejak kapan sudah berada didepan Poseidon dan Cathy berhasil menarik perhatian keduanya.
"Al." kaget Cathy melihat kehadiran Apollo disana. Tidak hanya itu, ternyata Apollo tak sendiri. Dia datang bersama Athena.
"Kalian kenapa disini?"
"Apa maksud dari pertanyaanmu, Aiden? Bukan cuma kuilmu saja yang dibangun disini." celetuk Athena.
Poseidon mendengus sebal memilih untuk tidak menanggapi ucapan bernada sewot dari Athena.
"Dimana Art?" tanya Cathy.
"Aku disini." sahut Artemis ikut muncul ditengah-tengah Athena dan Apollo.
"Wah rame." girang Cathy. Tiba-tiba sebuah ide melintasi di kepalanya untuk mengajak ketiganya pergi bersama akan tetapi Poseidon yang sudah belajar dari pengalaman dan mengenal situasi langsung saja menghalangi niatan istrinya tersebut.
"Ini bukan pesta kumpul keluarga. Kalian tidak bosan apa bertemu di ruang utama Olympus dan sekarang mau jalan bersama lagi? Tidak!"
Poseidon kembali menarik Cathy, mengajak istrinya itu pergi dari sana dengan perasaan kesal. Belum ada setengah hari mereka menghabiskan waktu berdua, menikmati waktu sebagai sepasang suami-istri tapi sudah mendapatkan banyak sekali cobaan, kalau begini caranya bisa-bisa Poseidon tidak dapat menahannya lagi.
Tbc