
Tidak ada hal lain lagi yang lebih melegakan saat melihat kembalinya Persephone ke dunia bawah. Gadis cantik, satu-satunya dewi yang bisa membuat Hades jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona yang dimiliki oleh sang dewi.
Hermes, dewa yang menuntun kepulangan sang Ratu dunia bawah itu melangkahkan kaki menuntun Persephone masuk melewati sungai Akheron yang di dayung oleh Kharon, karena membawa sang Ratu pulang, Kharon tidak menuntut bayaran sekeping Obolos seperti manusia lain yang ingin melewati sungai Akheron.
"Ratu telah kembali." seru Minor lega.
Seruan Minor terdengar sampai ditelinga Hades. Pria itu dengan cepat berdiri, menuruni singgasana, melangkah dengan tergesa-gesa keluar dari istana akan tetapi pintu utama istana yang terbuka disusul kemunculan Thanatos dan Hermes membuatnya mengurungkan niatnya untuk keluar.
Hades menggeram tertahan. Ia merasakan kehadiran diantara Thanatos dan Hermes. Kecemburuan jelas terlihat ketika dia menatap kedua dewa tersebut marah hingga membuat Hermes menyingkir seakan memberi jalan untuk sang dewi musim semi dan Hades.
Raut wajah dingin Hades berganti senyum. Sebuah senyum langka yang sangat jarang dilihat oleh Thanatos dan lainnya di alam bawah. Hades lalu mendekat, mengulurkan tangan menyambut kepulangan istrinya.
"Aku tau kau tidak akan mengingkari janji."
Persephone menatap tangan Hades yang mengantung di udara sejenak kemudian beralih memandang Hermes yang terlihat mengangguk. Persephone tersenyum, menyambut uluran tangan Hades dengan bahagia.
Thanatos bernafas lega begitupun dengan ketiga hakim Hades yang berjaga didepan pintu masuk. Mereka turut senang. Akhirnya penderitaan mereka berakhir pada detik itu juga.
----
Hal pertama yang menyambut kedatangan Cathy di wilayah barat kota Athena adalah kondisi daerah kota yang jauh dari kata baik-baik saja. Apollo berkata benar, kota tersebut sangat kotor dan banyak anak-anak kecil berlarian kesana kemari dengan pakaian kusut, kotor dan sobek.
Selama dalam perjalanan menuju tempat yang akan ia tinggali selama berada disana. Cathy disuguhkan pemandangan lainnya lagi. Hampir tak ada harapan untuk tempat ini. Jika begini, kemungkinan dia akan gagal pada kompetensi kali ini.
Larut dalam pemikiran mengenai tempat yang ia dapatkan membuat Cathy tak menyadari bahwa kereta kuda yang membawanya telah memasuki sebuah pekarangan rumah. Satu-satunya tempat yang terlihat jauh lebih baik dari tempat yang ia lewati tadi.
"Ini tempat tinggal siapa?" tanya Cathy sekilas sempat melihat tanaman dan kondisi rumah yang terurus dengan baik, memungkinkan bahwa tempat tersebut ditinggali oleh orang penting dikota itu.
"Ini kediaman Baron Deracles, Nona." jawab pria muda yang ditugaskan mengantar Cathy, "mari masuk, Nona." sambungnya menuntun Cathy sembari membawa beberapa barang Cathy masuk ke dalam kediaman Baron Deracles.
Cathy mengangguk mengikuti pria itu masuk ke dalam sebuah rumah minimalis yang dikelilingi taman bunga, nampak Indah. Sangat berbeda dengan kondisi diluar pintu masuk wilayah tersebut yang terlihat kacau dan tak terurus.
Sesampainya didalam rumah. Cathy disambut baik oleh Baron Deracles dan istrinya. Tak lupa juga Putri kecil mereka yang sangat cantik namun terlihat malu-malu bersembunyi dibelakang ibunya sesekali mengintip penasaran ke arah Cathy.
"Selamat datang, Nona. Saya harap anda bisa betah selama tinggal disini. Ini adalah istri saya, Deandra dan Putri saya Belladiva" sambut Baron Deracles ramah seraya memperkenalkan istri dan anaknya.
"Terima kasih atas keramahan anda, Tuan Baron dan Nyonya. Saya merasa terhormat bisa tinggal disini selama melaksanakan tugas." balas Cathy sopan, melirik gadis kecil yang masih bersembunyi dibelakang tubuh ibunya, "lalu dimana Bella, kenapa tidak kelihatan ya?" sambungnya pura-pura mencari keberadaan pemilik nama yang ia sebutkan.
"Disini." decit gadis kecil bernama Bella me jawab namun enggan keluar dari tempat persembunyian.
"Bella, keluar dan perkenalkan diri pada Nona Cathyrene, sayang. Tidak sopan begitu, sayang." tegur Deandra pada putrinya, Bella.
Cathy tersenyum. Ia yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecil meminta ijin kepada Baron dan istrinya untuk mendekati Bella dan ketika mendapat persetujuan. Cathy langsung saja menghampiri Bella, berjongkok didepan gadis kecil yang kini semakin menenggelamkan diri dibalik gaun belakang yang dikenakan oleh ibunya.
"Bella tidak mau berkenalan ya? Hm, bibi Cathy sedih nih." ucap Cathy dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.
Bella mengintip lagi. Gadis kecil itu menggeleng lemah dengan kedua mata berbinar lucu, membuat Cathy gemas. Cathy lalu mengulurkan tangan ke arah Bella.
Cukup lama Bella terdiam sebelum pada akhirnya menyambut uluran tangan tersebut setelah menatap sang ibu dan ayahnya yang terlihat mengangguk seolah mengijinkan Bella menyambut uluran tangan Cathy.
"Bibi Cathy tidak boleh sedih." bisik Bella.
"Iya, bibi tidak jadi sedih, kan Bella sudah mau kenalan dengan bibi." balas Cathy. Bella tersenyum begitupun dengan Cathy.
Selesai perkenalan. Cathy bersama keluarga Baron makan siang bersama. Barang-barang milik Cathy pun telah dimasukan ke dalam kamar yang akan dia tempati selama beberapa bulan ke depan.
Usai makan siang. Cathy menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya karena pada besok hari ia sudah mulai bekerja. Baron Deracles pun telah menjelaskan sedikit mengenai kondisi wilayah ditempatnya, dan menawarkan bantuan untuk Cathy yang tentu saja disetujui tapi sebelum itu Cathy perlu untuk turun lapangan besok pagi.
Cathy baru saja membuka pintu, memasuki kamar ketika matanya menangkap sosok pria berjubah putih keemasan telah berada dalam kamarnya yang tengah memusatkan perhatian tepat kearahnya seperti seorang yang ingin menangkap buruannya.
"Astaga.." pekik Cathy tertahan memegang dada, dimana jantungnya serasa mau jatuh, "Kenapa ke sini, nanti kalau ada yang lihat bagaimana, Al?"
Apollo, sosok yang terlihat oleh Cathy menjawab, "Tidak akan, tenang saja."
Cathy menghela nafas panjang, membuangnya kasar, "yang kamu katakan benar. Seharusnya aku meminta wilayah lain saja. Tempat ini tidak strategis dan akan membutuhkan waktu lama, bahkan tidak ada harapan, huh aku ragu."
"Kau belum mencoba tapi sudah menyerah?"
"Benar." angguk Cathy.
"Sekarang apa yang mau kau lakukan."
Cathy memejamkan kedua matanya sejenak, lalu membukanya kembali, "Tidur, aku butuh istirahat banyak untuk menyambut hari esok."
Apollo tersenyum tanpa sadar melangkahkan kaki menghampiri Cathy, "padahal aku kesini untuk mengajakmu berkeliling. Aku mengenal beberapa tempat disini karena sering berpetualang bersama Dionysus." ungkap Apollo memainkan anak rambut Cathy.
"Benarkah, kenapa aku baru tau?" tanya Cathy mengernyit, Apollo balas menatapnya.
"Karena kau tidak pernah bertanya. Kepalamu hanya berisi tentang Poseidon."
"Huh, berhenti mengungkit dewa menyebalkan itu dihadapanku, aku tidak suka." keluh Cathy. Gerakan tangan Apollo pada rambut Cathy terhenti, ia lantas menatap Cathy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Istirahatlah, aku akan kembali lagi nanti." balas Apollo menarik tangannya dari rambut Cathy.
"Hm." angguk Cathy.
Tanpa berkata apapun lagi Apollo berbalik lalu menghilang dari hadapan Cathy.

Seorang gadis cantik, anak Minos, Raja Kreta, putra dari Zeus dan Ratu Pasifae. Ariadne adalah cucu Zeus. Ia mendapatkan tugas menjaga labirin bersama Minotaur.
Karena kecantikan dan ketangguhan yang dimiliki oleh Ariadne membuat Dionysus jatuh hati. Pria itu bahkan tidak berpikir dua kali untuk masuk dalam Labirin untuk menemui Ariadne.

"Siapa kamu?" seru Ariadne menarik busur anak panahnya ke arah Dionysus yang memasuki Labirin dengan mudah.
"Ariadne." Dionysus menyerukan nama Ariadne membuat gadis yang dipanggil namanya itu terlihat terkejut karena pria didepannya mengetahui namanya.
"Ku tanya sekali lagi, siapa kamu!?" ucap Ariadne lagi penuh penekanan.
Pria dihadapannya menggulum senyum, "Dionysus." jawab Dionysus akhirnya.
Ariadne menurunkan busur panahnya lalu terdiam. Ia mengingat kembali nama yang rasanya pernah ia dengar sebelumnya namun sayangnya ia lupa.
"Tidak ada." jawab Ariadne cuek tepat seperti dugaan Dionysus, "Minotaur!" teriak Ariadne lantang memanggil makhluk lain penghuni Labirin tersebut.
Tak lama kemudian, seekor makhluk berbentuk manusia berkepala banteng muncul dihadapan Dionysus tak membuat sang dewa anggur takut.
"Urus dia!" perintah Ariadne tersenyum puas lalu berbalik pergi.
"Dewa." tunduk Minotaur tiba-tiba.
Ariadne memberhentikan langkah kakinya. Ia lalu berbalik menatap Minotaur yang tertunduk dibawa kaki pria yang tidak dia kenal. Dan apa kata tadi? Seorang Dewa?

Cathy mengumpulkan semua informasi yang ia dengar secara terperinci. Di kehidupan sebelumnya ia tidak pernah berhadapan dengan hal-hal seperti ini tapi ingatannya sebagai Kim Yerim menyimpan informasi penting yang sekiranya ia butuhkan. Oh astaga, ia bersyukur karena pada kehidupan sebelumnya ia suka membaca berbagai jenis buku.

"Bibi Cathy." panggil Bella membuka pintu kamar Cathy yang tengah sibuk menulis diatas buku.
Cathy menoleh, tersenyum lembut menyambut kedatangan Bella didalam kamarnya. Akan tetapi ketika ia mengulurkan tangan meminta Bella agar mendekat. Tatapan gadis cilik itu justru tertuju pada hal lain. Tepatnya dibelakang punggung Cathy.
"Paman itu siapa?"
"Hah?" binggung Cathy berbalik menatap arah tunjuk tangan kecil Bella dan menemukan Apollo berdiri bersandar dekat jendela dan tengah menatap ke arahnya dengan senyum.
"Al, sejak kapan kau disana?" tanya Cathy berdiri dengan cepat menghampiri Bella, menggendong gadis kecil itu lalu menutup pintu kamarnya.
Cathy mendudukkan Bella diatas tempat tidurnya ketika Apollo berjalan mendekati keduanya. Pria itu berjongkok, menyamai Bella yang tengah duduk dan terlihat memeluk lengan Cathy takut membuat Cathy mau tak mau ikut duduk disamping Bella.
"Dia memang seperti ini terhadap orang asing." ungkap Cathy menjelaskan.
"Hey gadis manis, siapa namamu?" tanya Apollo.
Bella tidak menjawab. Ia semakin meringkuk dalam pelukan Cathy, menghindari tatapan Apollo.
"Bella sayang, paman ini teman bibi, jangan takut! Paman orang yang baik, iya kan?" ucap Cathy. Apollo mengangguk membalasnya.
Setelah mendengar ucapan Cathy. Bella menoleh menatap Apollo yang tersenyum kepadanya membuat Bella mau tidak mau ikut tersenyum karenanya.
"Nah begitu kan lebih manis."
"Terima kasih, paman." balas Bella menarik Cathy, meminta sang bibi agar menunduk.
"Teman bibi tampan." bisik Bella malu-malu. Cathy tertawa kecil, memandang Apollo yang terlihat ikut menahan tawa.
Ah, Bella sangat manis menurut mereka..
"Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan kau berdiri disana?" Cathy mengulang pertanyaannya.
"Sejak kau duduk disana," tunjuk Apollo pada meja kecil tempat Cathy menulis, "tapi kulihat kau sangat serius jadi ku putuskan untuk menunggu sampai Bella masuk." lanjutnya kemudian.
Cathy mengernyit, merasa heran dengan tingkah Apollo, "tidak biasanya kau menungguku, biasanya kan kau selalu menjadi penganggu." omel Cathy. Apollo menyunggingkan senyum tipis.
"Aku tidak mau menganggu, hanya itu saja. Dan aku juga tidak mau menjadi alasan kau hilang fokus karna harus meladeniku."
"Ck! Percaya diri sekali." sengit Cathy merasa tidak asing dengan kata-kata yang barusan diucapkan oleh Apollo.
"Paman dan bibi seperti ayah dan ibu kalau sedang bertengkar." polos Bella cemberut mendengar nada bicara keduanya yang seperti tengah berdebat.
Cathy dan Apollo mengalihkan pandangan mereka serempak ke arah Bella. Tatapan polos Bella justru semakin membuat keduanya gemas meskipun mereka ingin sekali membantah pernyataan gadis kecil itu dengan tegas.
"Paman dan bibi tidak bertengkar, Bella."
"Cuma berdebat saja," sambung Apollo.
----
Tubuh Lycan terhempas jauh membentur sebuah pohon setelah Artemis menyelamatkannya yang hampir diterkam binatang buas karena upaya pria itu untuk menolong Artemis yang tengah bergulat dengan hewan buruannya.
Artemis mengeluarkan anak panah lalu membidik serigala yang berlari ke arah Lycan.
Dalam sekejab mata, serigala tersebut tumbang karena panah beracun milik Artemis.
"Kau bodoh ya!" teriak Artemis marah menghampiri Lycan yang tengah meringis kesakitan.
"Iya sama-sama." balas Lycan seolah Artemis baru saja berterima kasih terhadapnya.
"Apa?"
"Dewi, bisakah kau marah nanti saja, tubuhku mati rasa, aku tidak bisa bergerak."
Seakan tersadar. Artemis melempar busurnya untuk menolong Lycan, "apa yang bisa ku lakukan? Bagian mana yang sakit?" tanya Artemis khawatir. Sial! Ia tidak suka berhutang kepada manusia apalagi sampai berhutang nyawa seperti ini.
Tidakkah Lycan terlalu bodoh. Dia membahayakan nyawanya sendiri demi menolong Artemis yang adalah seorang dewi yang tak akan mati dengan mudahnya.
"Disini." keluh Lycan menunjuk bagian dadanya, "aku merasakan rasa sakitnya setiap hari ketika dewi menolakku."
"Dasar bodoh!" kesal Artemis. Ingin rasanya ia memukul kepala pria yang selalu menganggunya ketika sedang berburu di alam liar.
Lycan tertawa, "aku serius," balasnya terbata-bata sebelum pada akhirnya kehilangan kesadaran karena terus menerus menahan rasa sakit.
"Hey, apa kau tidur!" panggil Artemis menggoncang tubuh Lycan namun tak mendapatkan respon.
"Lycan!! Bangunlah, jangan bercanda." seru Artemis lagi.
Kesal karena mengira Lycan sedang mengerjai dirinya membuat Artemis ingin meninggalkan pria itu disana akan tetapi ketika dirinya hendak pergi. Artemis melihat kubangan darah dibelakang tubuh Lycan yang membuatnya dilanda kepanikan.
"Lycan!!"
----
Tbc