
Kurang lebih empat penjaga mengawal jalan masuk Cathy yang ingin menemui Putra mahkota. baron Deracles bahkan hanya bisa mengantar Cathy sampai gerbang depan, dan sisanya diambil oleh penjaga khusus milik Putra mahkota.
Cathy mengedarkan pandangan sekelilingnya dengan kagum. Pilar-pilar kokoh, pintu yang menjulang tinggi dengan ukiran cantik mampu membuat Cathy takjub disetiap langkah kaki menuju istana milik putra mahkota.
"Silahkan masuk, Nona. Yang mulia sudah menunggu anda didalam."
Perkataan salah satu penjaga berhasil menyadarkan Cathy dari kekaguman. Cathy tersenyum menganggukan kepala kemudian memasuki sebuah ruangan besar yang didalamnya terdapat beberapa rak buku besar, perapian kecil dan sebuah meja kerja yang terletak didekat balkon yang kalau dilihat dari tempat Cathy berdiri saat ini menampakkan pemandangan taman luar istana. Cathy sangat yakin, itu adalah tempat sang Putra mahkota menghabiskan waktu bersama pekerjaannya.
"Yang mulia, Calon Pendeta agung dari kuil Parthenon telah datang menghadap." ucap penjaga pria tampan, berusia diatas umur Cathy itu kepada Putra mahkota yang saat ini tengah berdiri dekat meja kerjanya, membelakangi mereka.
"Saya, Cathyrene dari kuil Parthenon memberi hormat kepada Yang mulia," sapa Cathy menundukkan kepala.
Putra mahkota membalikkan badan, menunjukkan wajahnya yang tak asing dimata Cathy. Pria yang menabraknya sewaktu di pasar adalah Putra mahkota. Hal tersebut cukup membuat Cathy terpaku ditempatnya berdiri saat ini dan melupakan fakta kalau sebelum dijinkan, dia tidak boleh mengangkat wajah menatap sang Putra mahkota dengan jelas. Itu bisa dianggap sebuah kejahatan kepada keluarga kerajaan.
"Astaga.." batin Cathy tersadar lalu dengan panik menundukkan kepala menyadari kesalahannya, "Maafkan atas kelancangan saya tadi, Yang mulia." ucapnya.
"Cai, kau bisa keluar sekarang!" titah sang Putra Mahkota kepada bawahannya.
Kini, didalam ruangan yang luas tersebut hanya tertinggal Cathy dan Putra mahkota. Pria itu mempersilahkan Cathy untuk duduk disalah satu kursi tamu disusul dirinya yang juga duduk didepan Cathy.
"Tidak ku sangka kita akan bertemu lagi." ucap Putra mahkota membuka suara, "Ku dengar dari Baron Deracles kau punya penawaran untukku?"
Cathy menghela nafas lalu membuangnya secara perlahan. Sebisa mungkin ia mengontrol dirinya sendiri agar tidak terlihat gampang di intimidasi oleh sang Putra mahkota. Cathy mendongak, tersenyum begitu manis menanggapi perkataan pria dihadapannya.
"Seperti yang anda dengar, saya datang untuk membahas pembangunan yang perlu dilakukan di wilayah barat."
"Selama ini aku belum mendapatkan jalan keluar untuk masalah yang terjadi disana. Makanya aku merasa tertarik ketika mendengar bahwa Nona akan melakukan perubahan terkait tugas Bakti sosial di wilayah barat."
"Itu benar, Yang mulia. Aku bahkan telah membawa beberapa dokumen penting yang sudah saya kumpulkan beberapa hari ini dan menemukan jalan keluar untuk masalah wilayah barat." jelas Cathy sembari mengeluarkan dokumen yang dimaksud.
"Jalan keluar seperti apa?"
"Memanfaatkan kembali hasil laut dan pertanian."
"Kurasa itu tidak mudah, Nona mengingat sudah lama sekali sejak kekeringan melanda wilayah barat dan cuaca tak menentu karena disana jarang turun hujan."
"Aku sudah menyelidikinya, Yang mulia. Setelah melakukan riset aku jadi tau apa saja penyebab utama jarangnya turun hujan, tanah yang tidak subur lagi dan hasil laut yang berkurang." Cathy melanjutkan penjelasan dengan mengambil salah satu dokumen dan memperlihatkannya kepada Putra mahkota,
"Itu karena jumlah nelayan semakin hari menurun dan jumlah pengangguran yang terus bertambah akibat kurangnya lapangan pekerjaan ditambah ketidakyakinan mereka terhadap hasil yang akan mereka dapatkan. hm, bisa dibilang para pekerja sudah pesimis duluan."
Putra mahkota memandang Cathy takjub akan pemikiran gadis itu yang tidak biasa, "Lalu bagaimana dengan masalah pertanian?" tanyanya.
"Itu dia, kita membutuhkan bibit unggul untuk ditanam dan waktu penanaman harus sesuai siklus cuaca yang sering terjadi di wilayah barat."
"Siklus?" ulang Putra mahkota tak paham dengan maksud perkataaan Cathy.
Cathy menghela nafas, "Begini, kita membutuhkan curah air yang besar kan? Kita tidak akan menanam padi disaat cuaca buruk itu terjadi karena ku pikir perubahan cuaca akan terus berlangsung berulang-ulang, bisa dibilang mutlak atau paten." jelas Cathy. Tidak mungkin kan dia menceritakan kronologi asli yang berhubungan langsung dengan para dewa hingga kejadian seperti ini terjadi. Cathy baru menyadari ketidakseimbangan musim yang disebabkan oleh dewi Demeter akan membawa pengaruh sebesar ini pada masanya.
"Bagaimana anda bisa yakin ide ini akan berhasil."
"Karena aku telah mengerahkan segala pengetahuanku dari kehidupan masa depan." Batin Cathy, "Aku hanya berkeyakinan penuh pada apa yang ku lakukan. Untuk apa aku bersusah payah pada suatu yang tidak bisa ku yakini."
Sang Putra mahkota terlihat mengulum senyum. Gadis didepannya benar-benar menakjubkan dengan caranya sendiri, "Baiklah, aku akan memberitahu keputusanku besok. Aku harap kau menepati ucapanmu sendiri dengan tidak mengecewakanku."
"Terima kasih." senyum Cathy.
----
Persephone menyunggingkan senyum senang melihat hasil karya dikamar miliknya dan Hades. Tidak sia-sia waktu yang ia buang untuk merangkai kamar tersebut agar sesuai dengan keinginannya.
Setelah mendapat ijin dari Hades. Persephone tidak membuang-buang waktu langsung saja merangkai kamar mereka sesuai dengan apa yang ia mau. Dan untuk urusan Hades akan menyukai hasilnya atau tidak, Persephone mungkin akan mecari ide hiasan lain agar sesuai keinginan Hades.
Tanpa sepengetahuan Persephone yang terus menyibukkan diri dikamar. Hades melangkah masuk. Hades mengakui bahwa ia sangat terkejut melihat perubahan pada kamarnya. Tidak ada lagi aura kegelapan, yang ada hanyalah hamparan bunga yang dipaksa tumbuh di atas bara api.
Sungguh design kamar itu bukan gayanya namun apa daya. Hades tidak akan mungkin menolak keinginan Persephone. Satu-satunya cara agar Persephone betah adalah membuat sang dewi merasa nyaman di dunia bawah.
"Apa kau senang?" tanya Hades melingkarkan tangannya di pinggul Persephone, memeluk erat tubuh istrinya dari belakang berhasil membuat Persephone terlonjak kaget namun ketika tahu bahwa suaminya lah yang tengah memeluknya, menarik sudut bibir Persephone membentuk senyum yang menawan.
"Iya, aku sangat senang, Hades terima kasih. Oh iya, kamarnya bagus kan? Apa kau menyukainya juga?" Persephone bertanya penuh harap.
Hades mengangguk, "Hm, sangat cantik tapi tidak secantik ratuku." puji Hades membuat pipi Persephone merona malu.
--‐-
Cathy baru saja tiba dengan kereta kuda miliknya ketika mendapati bayangan Apollo berdiri ditaman kediaman Baron Deracles dan tengah berdiri, bersandar pada batang pohon besar sembari memandanginya. Cathy menyungginkan senyum, perlahan tapi pasti mendekati Apollo yang ia yakin tengah menunggunya.
"Al, tumben disini. Biasanya juga langsung ke kamar."
"Aku sengaja menunggumu disini." balas pria itu dingin, tidak seperti Apollo yang kemarin datang dikamarnya. Apollo yang berdiri dihadapannya dipenuhi emosi yang terlihat tak stabil mampu membuat Cathy keheranan, sebenarnya ada apa dengan Apollo?
Keheningan menyelimuti. Baik Cathy dan Apollo sama-sama terdiam sebelum pada akhirnya Cathy memilih mengalah dan mengambil inisiatif sendiri untuk memulai obrolan mereka,
"Oh ya, tadi aku sudah menemui Putra mahkota dan dia cukup tertarik dengan ideku." girang Cathy bercerita berharap Apollo akan ikut senang, seperti Apolo biasanya yang selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Cathy tapi kini,
"Kenapa, Al? Kau kelihatannya tidak senang." sambung Cathy memperhatikan Apollo yang nampak kesal. Untuk yang kesekian kali tidak memahami Apollo.
Apollo terpejam, "Tidak apa-apa. Mau pergi ke suatu tempat bersamaku?" ajak Apollo mengulurkan tangan untuk diraih oleh Cathy.
"Mau kemana?" tanya Cathy yang tangannya kini telah berada dalam gengaman tangan Apollo.
Cathy tidak bertanya lagi memutuskan untuk mengikuti setiap langkah kaki Apollo yang ternyata membawanya ke tepian pantai. Dimana langit malam bertabur bintang ditemani cahaya bulan menjadi sebuah pemandangan sangat Indah.
"Wah, aku baru tau kalau tempat ini begitu indah saat malam hari." gumam Cathy takjub berlarian dengan langkah kecil menyusuri pinggir pantai. Ia kemudian berbalik menghampiri Apollo yang tersenyum manis memyambutnya.
"Apa jadinya aku tanpamu, Al." haru Cathy berhambur memeluk Apollo membuat pria tampan itu diam membeku di tempatnya.
Sementara itu,
Didalam istana khusus yang dibangun untuk Dewi Leto di Olympus. Nampak sepasang anak kembar milik Dewi Leto tengah berdiri menunggu ibu mereka menyelesaikan sesuatu.
"Apapun yang terjadi, kalian harus bekerja sama melindungi Rhea. Jangan sampai Hera mengetahui semua ini. Jika tidak akan sangat berbahaya untuknya." ungkap Dewi Leto kepada kedua anaknya.
"Aku dan Art bisa melindungi Rhea kita dari Hera tapi tidak dengan ramalan yang tidak terhindarkan itu, ibu."
"Al benar, Ibu. Ketakutan terbesar kita adalah apa yang di takutkan oleh bibi menjadi kenyataan."
Dewi Leto memejamkan mata, "Sebentar lagi bencana besar yang akan dikenang sepanjang masa akan segera terjadi dan saat itu terjadi kita tidak bisa melakukan apapun." lirihnya memandang jauh ke depan.
Pagi hari dikediaman keluarga Baron Deracles. Cathy duduk disamping si kecil Bella dimeja makan, ikut sarapan bersama keluarga kecil yang bahagia itu. Cathy sangat senang berada disana, menikmati waktu serta melihat seberapa besar cinta kasih kelurga Baron Deracles.
Ditengah keheningan dimeja makan, seorang kepala pelayan terlihat tergesa-gesa berlari dan menerobos masuk ke dalam ruang makan. Sambil menundukkan kepala, pelayan itu membawa kabar penting untuk disampaikan kepada Baron,
"Tuan dan Nyonya, mohon maaf menganggu tapi didepan ada rombongan putra mahkota,"
Kedua mata Baron Deracles melebar sempurna begitupun dengan istrinya. Pasangan suami-itri itu mendadak kalap, binggung harus melakukan apa.
"Astaga, kenapa mendadak sekali? Kita tidak ada persiapan untuk menyambut Putra mahkota, bagaimana ini?"
Cathy memandang Baron Deracles bersama istrinya binggung sembari terus mengunyah makanannya dengan tatapan polos. Sebenarnya apa yang ia lewatkan. Cathy terpejam, mencoba menggali informasi penting yang sekiranya berguna untuk saat ini.
And great!
Dalam peraturan turun temurun sudah menjadi kewajiban para bangsawan menyiapkan sambutan jika akan didatangi oleh keluarga kerajaan seperti hidangan spesial, makanan penutup dan lainnya guna menyenangkan sang tamu. Itu pun diikuti pemberitahuan dari pihak kerajaan sebelum bertandang ke rumah salah satu bangsawan. Well, tidak jauh berbeda dengan tempat asalnya, cuma harus ya berlebihan seperti ini? Dan lagi, kenapa Putra mahkota harus datang tanpa pemberitahuan sebelumnya?
Cathy menggelengkan kepala lemah. Sembilan puluh persen pria ditempat ini selalu bertindak gegabah dan menyebalkan.
"Sayang, siapkan semuanya ya, aku akan menyambut Yang muli Putra mahkota." pinta Baron Deracles pada istrinya kemudian langsung berdiri, melangkah meninggalkan ketiga perempuan yang masih terpaku di meja makan.
"Kepala pelayan, tolong siapkan segala sesuatu untuk menyambut Putra mahkota!" Titah Nyonya Deracles dengan cepat ikut beranjak dari meja makan, meninggalkan makanannya yang baru disentuh setengah begitu saja hanya untuk mempersiapkan penyambutan Putra mahkota.
Kini, tinggallah Cathy dan Bella diruang makan tersebut tanpa ada yang mengajak mereka. Bella mendongak menatap Cathy dengan polosnya bertanya, "Keributan apa tadi, Bibi? Ayah dan ibu kedatangan tamu tapi kenapa mereka kelihatan panik?"
"Bibi juga tidak tau, sayang. Itu masalah orang dewasa, bagaimana kalau Bella ikut bibi dikamar. Mau kan?"
"Mau." girang Bella.
"Kalau begitu cepat habiskan makanannya dan kita pergi ke kamar." ajak Cathy.
"Iya, bibi." angguk Bella menurut dan mulai menghabiskan makanannya.
Selesai sarapan, Cathy mengandengn tangan Bella hendak menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas ketika mendengar suara Baron Deracles memanggil namanya mau tidak mau membuat Cathy mengurungkan niatnya lalu membalikkan badan, menghadap ayah Bella.
"Tuan Baron memanggil saya?"
Baron Deracles mengangguk, "Iya nona Cathy, ternyata kedatangan Putra mahkota yang mendadak adalah untuk menemui Nona dan sekarang beliau menunggu di ruang kerja saya."
"Apa?" kaget Cathy, "Tapi untuk apa menemui saya pagi-pagi begini?"
Oh astaga, jadi semua keributan di pagi hari ini hanyalah untuk menemuinya. Ck! Jika begini Cathy jadi tidak enak hati pada Baron Deracles dan istrinya yang sudah direpotkan Putra mahkota hanya karena dirinya.
"Kalau itu saya juga tidak tau, Nona."
Cathy mengangguk kemudian menyerahkan Bella ke tangan ayahnya sementara dirinya pergi menuju ruangan yang dimaksud untuk bertemu dengan Putra Mahkota.
Ketika berada didepan pintu yang ia yakini adalah ruang kerja milik Baron Deracles. Cathy membukanya lalu melangkah masuk ke dalam, menemui pria yang katanya sedang menunggu dirinya itu.
"Yang mulia ingin menemui saya?" tanya Cathy langsung ketika berdiri dihadapan sang Putra mahkota.
"Iya, duduklah!"
Cathy tersenyum ramah namun dalam hati ia sedikit mengumpat mengenai aturan kerajaan. Sebenarnya siapa tuan rumah ditempat ini mengapa pria ini bisa seenaknya mentang-mentang Putra mahkota jadi semua tempat bisa dijadikan milik sendiri.
"Jadi ada keperluan apa sampai Yang mulia mau membuang tenaga untuk mendatangiku?" tanya Cathy sopan.
"Aku sudah membuat keputusan bahwa aku setuju untuk menjalankan pembangunan di wilayah barat, dan untuk masalah biaya pihak kerajaan akan menanggung semuanya." jelas Sang Putra Mahkota pada Cathy.
Kedua mata Cathy melebar sempurna. Senyum manis terukir dibibir manisnya mengepresikan kebahagiaan yang tengah ia rasakan saat ini mampu membuat sang pewaris tahta terdiam ditempatnya.
"Astaga, ini kabar bahagia." girang Cathy.
Putra mahkota menahan senyum melihat Cathy. Ia langsung saja mengajak gadis itu membicarakan berbagai macam hal untuk rencana mereka ke depan yang tentu saja di sambut senang oleh Cathy.
----
Tbc...