
Oh astaga. Demi apapun Apollo dan Eros tidak bisa menahan tawa mereka. Lagian mengapa Dionysus harus mengambil tempat diantara keduanya hingga membuat Eros dan Apollo mati-matian menahan tawa yang ingin segera meledak itu.
"Apa kau sudah memikirkan akibat dari mengusik para monster penghuni Olympus?!" Eros berbisik seraya menepuk punggung Dionysus.
"Apa, ada apa memang?" tanya Dionysus balik. Sungguh dia tidak paham maksud dari perkataan Eros.
Apollo menghela nafas panjang seraya menunduk. Oh astaga dia ingin menangis dan tertawa terbahak disaat bersamaan, "Ck! Benar-benar."
Penampilan dari para Dewi diakhiri tepuk tangan para demigod dan nimfa diruangan tersebut.
"Apa tadi bisa disebut menari." gumam Cathy berjalan menuju belakang panggung setelah penampilan mereka selesai.
Cathy menggeleng heran. Tarian yang mereka bawakan tadi lebih mirip seperti orang mabuk yang dipaksa berdansa, terlalu pelan dan tak bergairah padahal tadi sebelum tampil dia sudah mengusulkan tarian namun malah mendapatkan tatapan heran dari keempat dewi lainnya.
"Apa itu?"
"Kelihatannya seperti hewan buruan yang tengah berada diambang kematian setelah kena panah beracun milikku."
"Atau seperti manusia gila."
Oh astaga, sungguh rasanya Cathy ingin menjedotkan kepalanya sendiri di dinding saat mendengar ucapan para Dewi itu. Mereka tidak tau saja seberapa enerjik gerakan dance ice cream cake dimasanya.
"Rhea, ada apa?" tanya Artemis menghampiri Cathy yang berdiri sendirian.
"Tidak ada." Cathy menggeleng menjawab Artemis.
"Kalau begitu ayo kita ke depan. Aku yakin mereka sudah menunggu kita."
"Mereka?" ulang Cathy binggung.
"Aiden dan Al, siapa lagi. Mereka ada di depan dan mereka juga menonton pertunjukan kita tadi."
"Mereka disini?" polos Cathy. Dia tidak tau kalau Poseidon berada tempat itu karena sibuk menari.
Artemis tertawa. Jadi sejak tadi Cathy yang murung dipikirnya tengah kalut karena takut berhadapan dengan Poseidon nantinya namun ternyata dugaannya salah, "Ya begitulah, Rhea." jawabnya merangkul Cathy lalu mengajak gadis itu ke depan.
"Nama saya Adonis." ucap pria didepan Persephone membuat sang Dewi menyunggingkan senyum manis yang mampu membuat Adonis terdiam ditempatnya.
"Ada apa?" tanya Persephone menyadari tatapan Adonis untuknya.
Adonis menunduk, "Maafkan saya, dewi. Saya hanya terpukau melihat kecantikan dewi."
Disaat bersamaan Hades berdiri dari tempat duduk. Ia yang sejak tadi memperhatikan istrinya dari kejauhan mulai jengah tatkala melihat Persephone tersenyum kepada Demigod di kediaman Dionysus.
"Despoina." panggil Hades menyebut nama lain istrinya. Sebuah nama yang disematkan kepada sang dewi ketika menjadi Ratu dunia bawah. Despoina sendiri berarti kan nyonya rumah.
Persephone tidak menjawab, bahkan untuk sekedar menatap suaminya ia tidak mau.
"Adonis, ke sini." panggil Aphrodite yang juga terkena pesona Adonis yang tampan.
"Aphrodite!" desis Ares.
Demigod Adonie menunduk, ia memang berhasil membuat kedua Dewi cantik seperti Persephone dan Aphrodite terpesona karena ketampanannya yang luar biasa tapi itu juga bukanlah hal yang baik mengingat dengan siapa dia harus berhadapan jika mengusik dua dewi tersebut.
"Aria, aku berharap pesta ini tidak akan cepat berakhir hanya karena mereka yang ada disana." tunjuk Artemis ke arah Adonis yang terjebak diantara Persephone dan Aphrodite. Tidak hanya itu saja. Ares dan Hades ikut berdiri tak jauh dari sana dan sudah mengeluarkan aura ingin berperang.
"Semoga saja." angguk Ariadne.
"Itu suami dewi Persephone kan?" tanya Cathy dibalas anggukan Ariadne dan Artemis.
"Ayo pulang." celetuk suara berat mengejutkan Cathy dan kedua wanita disampingnya.
"Aiden."
Artemis menahan senyum. Sudah dia duga akan kejadian seperti ini. Lagian juga bukan salahnya mengajak Cathy, toh ini demi kelancaran rencana mereka. Bisa dikatakan Artemis sengaja karena cuma cara inilah yang bisa membuat mereka mendapatkan dua keuntungan sekaligus.
Yang pertama dukungan Ariade dan kedua adalah kecemburuan Poseidon.
"Ayolah, Aiden. Cathy dan aku butuh hiburan, lagian kami juga sama-sama wanita lajang jadi bebas kan."
"Yq kecuali Persephone. Huh, aku bersyukur suamiku masih baik-baik saja sekarang." sambung Ariadne.
"Tenang, Aria, mereka tidak akan bisa menyakiti Dio tanpa alasan yang jelas."
"Sudah cukup." celetuk Poseidon.
"Rhea." heboh Apollo datang lalu merangkul Cathy semakin membuat keadaan memburuk, "Kau sangat hebat tadi. Kau adalah wanita terseksi yang pernah ada. Kalau begini aku bersedia tidak menjadi teman melainkan suamimu saja."
"Al." tegur Poseidon dan Cathy bersamaan namun jika Cathy menanggapinya sebagai candaan Apollo seperti biasanya, bal berbeda terjadi pada Poseidon yang terdengar tidak bersahabat sama sekali.
"Besok adalah hari ulang tahun Raja Troya, apa kau ingin melewatkan hari perayaan besar kakakmu?"
"Oh astaga, aku melupakannya." Cathy memandang Artemis, "Art, bisa antar aku pulang secepatnya?"
"Hm, aku ingin tapi bagaimana Rhea. Bukankah kita sudah sepakat akan pulang besok?"
"Al." Cathy berbalik memandang Apollo memohon namun belum sempat dijawab oleh Apollo. Poseidon sudah lebih dulu menarik Cathy keluar dari sana.
"Ikut denganku."
"Aiden!"
Sepeninggalnya Poseidon dan Cathy. Apollo beserta dua Dewi yang tertinggal hanya bisa memandang kepergian mereka. Baik Artemis maupun Apolli sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengejar apalagi menahan apa yang ingin dilakukan oleh Poseidon terhadap Cathy, justru itu yang mereka inginkan.
"Dengan begini apakah dia akan bergerak lebih cepat?" tanya Ariadne penasaran.
Sebenarnya tanpa perlu Cathy datang ke pesta Ariadne sudah memihak Troya mengingat betapa banyak jasa si kembar juga sehingga dirinya masih bisa merasakan kehidupan bahagia bersama pria yang mencintainya.
Berkat bantuan Artemis dengan sedikit mengelabui Persephone dan Hades dirinya bisa hidup abadi. Untuk itu tidak ada alasan lain untuk Ariadne menolak karena Dionysus pun ikut menyetujui.
"Dia itu dewa playboy paling tidak peka di dunia setelah Hades tentunya." Apollo bersuara.
Hanya dalam sekejab mata Cathy telah berada didalam kamar miliknya. Itu tentunya bukanlah sesuatu yang sulit mengingat Poseidon salah satu dari tiga Dewa tertinggi Olympus. Selain dewa penguasa lautan Poseidon juga dikenal sebagai dewa terkuat diantara saudaranya.
"Mengapa kau bisa ada disana hem? Apa sebenarnya yang direncanakan oleh kalian tanpa sepengetahuanku." Poseidon membuka suara lebih terdengar seperti mengintrogasi seorang tersangka.
"Ini ide Artemis dan aku rasa tidak ada salahnya. Kau tentu tau kan apa yang dilakukan oleh Paris berdampak bagi kerajaan Troya. Aku hanya mencoba membantu dengan mencari pendukung dan kata Artemis aku bisa mencari sekutu disana." aku Cathy.
"Dan kau mempercayai perkataan Artemis?"
Cathy mengernyit. Pertanyaan macam apa itu, "Tentu saja, mereka sudah seperti saudara bagiku. Tidaka ada alasan apapun bagiku meragukan Art dan Al karena mereka juga berada dipihakku."
"Dan aku tidak dipihakmu, begitu maksudmu?"
"Bukan begitu, Aiden. Ada apa denganmu. Ini bukan masalah besar."
"Bukan masalah besar katamu tapi menurutku masalah ketika kau menari seperti tadi yang hanya dilakukan oleh para wanita penghibur."
"Cukup!" teriak Cathy, "Kalau kedatangamu hanya untuk menyalahkanku lebih baik tadi kau tidak perlu mengantarku pulang."
"Terserah! Mungkin memang seperti itu lebih baik." balas Poseidon berbalik pergi meninggalkan Cathy sendiri.
"Ck! Dasar aneh." cibir Cathy tanpa sadar menjatuhkan air mata. Siapa sangka jauh dalam lubuk hatinya ia merasakan perasaan terluka karena perkataan Poseidon barusan.
Sudah hampir seminggu lamanya Cathy menjalani hari tanpa kehadiran Poseidon yang pada hari-hari sebelumnya tidak pernah absen mengunjungi dirinya. Pria itu seakan lenyap ditelan bumi. Apollo dan Artemis yang akhir-akhir ini sering mengunjungi dirinya pun tidak tau dimana dewa itu berada.
Selama itu juga banyak hal yang terjadi di Troya. Paris yang akan menjadikan Helen sebagai istrinya tanpa mempedulikan dampak buruk untuk kerajaan Troya. Cathy telah mendengar sedeikit cerita dari Apollo bahwa Sparta cepat atau lambat akan menuntut balas atas apa yang dilakukan oleh Paris dan lebih mengejutkan lagi Sparta tidak sendiri melaikan akan turut membawa beberapa pasukan dari kerajaan lain untuk ikut melawan Troya.
"Helen dikenal sebagai wanita tercantik hingga membuat banyak pria datang dari berbagai penjuru bermaksud untuk melamar Helen dan karena ayahnya Tindareus tidak ingin ada perselisihan pun membuat para pelamar yang terdiri dari para raja Yunani untuk berjanji akan mendukung siapapun pilihan Helen nanti." cerita Artemis waktu itu.
Dan sekarang seolah waktu telah dengan cepat berlalu. Ketakutan Cathy benar-benar sudah berada didepan mata ketika salah satu dari pelayan pavilliun nya datang membawakan kabar yang tidak ingin ia dengar.
"Sparta sedang dalam perjalanan untuk menyerang."
Cathy yang akan memetik salah satu bunga terlonjak kaget. Telunjuknya tak sengaja mengenai duri dari bunga cantik yang hampir dia petik tersebut. Cathy meringis membuat sang pelayan gelagapan karena telah menjadi penyebab sang putri terluka.
"Maafkan saya, Yang mulia." tunduk pelayan setia Cathy merasa bersalah.
"Tidak apa." balas Cathy.
Tanpa disadari oleh Cathy. Saat ini dirinya tengah diperhatikan dari kejauhan oleh seorang wanita cantik yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebenciannya saat melihat Cathy dan hanya dengan memperhatikan wajah gadis itu sudah membuatnya yakin bahwa Cathy adalah anak yang dicari olehnya selama ini.
"Mereka terlihat mirip. Tidak salah lagi." desis wanita itu mengulas senyum.
Cathy meninggalkan Paviliun miliknya menuju istana utama. Ia harus menemui Paris dan Helen. Keduanya adalah penyebab penyerangan kerajaan Sparta.
"Cathy." sapa sang Raja begitu melihat Cathy memasuki ruang utama.
"Apa kabar yang ku dengar itu benar?" tanya Cathy memulai pembicaraan seraya melirik Helen yang saat ini berdiri disamping Paris seperti seorang wanita naif. Hal tersebut cukup membuat Cathy muak.
"Kembalikan dia,"
"Bibi!" desis Paris menolak.
"Dia hanya mendatangkan masalah sejak kepulangan kalian. Paris, sadarkah bahwa kau telah melakukan kejahatan dengan menculik milik orang lain." balas Cathy lagi.
"Aku bukan milik Sparta." celetuk Helen membuka suara setelah cukup lama berdiam diri menyaksikan perdebatan yang terjadi disana.
"Apa katamu huh?!" seru Cathy dingin, "Aku bukan berbicara tentang Sparta tapi suamimu yang kau tinggalkan demi pria lain."
"Tidak ada salahnya mencintai seseorang."
"Ya, tapi akan menjadi kesalahan besar ketika kau mencintai orang lain disaat kau telah memiliki hubungan dengan seseorang."
"Cathy!" tegur sang Raja.
Cathy mendongak, sangat berharap kali ini kakaknya mau mendengarkannya dan mengesampingkan dulu rasa sayangnya yang terlalu besar untuk Paris hingga selalu memilih menutup mata akan kesalahan yang dilakukan oleh putranya yang satu itu.
"Sekarang Helen sudah menjadi milik kerajaan kita. Tolong terima keputusan itu."
Dan harapan Cathy serasa dihempas ke dasar jurang yang paling dalam. Tidakkah kakaknha berpikir bahwa sebentar lagi kerajaan yang dibangun oleh leluhur mereka akan hancur karena kebodohan putranya.
"Apa kalian sadar kalau kita sedang berada dalam kehancuran?"
"Tidak ada yang bisa menembus pertahanan kita selama ini. Dinding Troya dibangun oleh dewa Apollo dan Poseidon, tidak akan mudah diruntuhkan." sahut Hektor juga ikut membela. Cathy menoleh, menatap keponakan tertuanya dengan tatapan kecewa. Apa dia tidak salah dengar? Bahkan Hektor pun ikut dibutakan oleh rasa sayang terhadap adiknya.
"Ada pepatah yang mengatakan bahwa kesombongan adalah wabah paling mematikan dan juga awal dari sebuah kehancuran." pesan Cathy sebelum berbalik pergi meninggalkan ruang utama. Percuma baginya mengingatkan kalau pada dasarnya tidak ada yang mau mendengarkannya.
Sekarang sejarah benar-benar tidak bisa diubah bahkan oleh dirinya yang datang dimasa depan membuat Cathy tersadar bahwa sesuatu yang memang terjadi sudah seharusnya jadi kenyataan.
----
Artemis keluar dari kamarnya untuk mencari saudara kembarnya. Tiba-tiba terdengar suara music yang begitu indah membuat Artemis mengikuti asal alunan indah itu berasal kemudian menemukan Apollo yang tengah memainkan lyra miliknya di taman istana milik mereka.
"Al." panggil Artemis mendekat, mendudukkan diri disamping Apollo.
"Hm?" respon Apollo singkat karena masih menyibukkan diri dengan Lyra miliknya.
"Perasaanku tidak enak." ucap Artemis memberitahu.
Apollo mengernyit. Apakah karena mereka berdua saudara kembar karena Apollo pun sempat merasakan hal yang sama maka dari itu dirinya tidak bisa beristirahat dengan tenang hingga memutuskan untuk bermain Lyra.
"Rhea?" tanya Apollo dijawab anggukan kepala Artemis, "Aku juga memikirkan Rhea sejak tadi. Apa kaita merindukannya?"
"Kurasa bukan itu." Artemis menggeleng. Sang dewi alam liar kemudian tidak sengaja mendapati bayangan Poseidon yang baru saja mendatangi Olympus setelah cukup lama tak terlihat.
"Poseidon." panggil Artemis.
Mendengar namanya dipangil membuat Poseidon menghentikan langkahnya, ia kemudian membalikkan badan menghadap Artemis yang sudah berdiri dihadapannya.
"Apa kau dari Paviliun Rhea?"
"Untuk apa aku kesana?"
Artemis mengernyit binggung. Tidak menyangka akan mendapatkan balasan seperti barusan. Sungguh itu bukan hal yang ingin di dengar olehnya. Ada apa, apa yang dilewatkan Artemis tentang hubungan keduanya.
"Kalian sedang bertengkar?"
Poseidon tidak menjawab. Ia malah melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti karena Artemis.
Artemis kembali menghampiri Apollo yang tidak lagi memainkan Lyra nya sejak kedatangan Poseidon. Ia memperhatikan dari kejauhan pembicaraan Artemis dan Poseidon.
"Jadi benar bertengkar ya? Aku penasaran masalah apa hingga dua orang itu bisa bertengkar sehebat ini."
"Itu bukan masalah penting sekarang. Perasaanku sejak tadi tidak enak, Al." seru Artemis tidak tenang.
Sementara itu,
Malam ini begitu sepi dan dingin bagi Cathy yang berdiri di balkon kamarnya hanya dengan gaun tidur tipis yang terbuat dari sutra. Pandangannya tertuju ke depan, memandang hamparan laut yang luas.
Helaan nafa Cathy terdengar. Entah apa yang menjadi fokus utama dalam pikirannya saat ini. Cathy tidak dapat memahami semuanya. Terlalu banyak masalah yang terjadi diwaktu bersamaan.
Dia membutuhkan Artemis atau Apollo saat ini tapi dia juga tidak bisa selalu mengandalkan keduanya. Mereka sudah terlalu banyak dibuat susah olehnya.
Cathy melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menuju meja kecil beralaskan bulu domba dan menuangkan gelas kosongnya dengan air lalu meminumnya.
"Kenapa hidup keduaku dipenuhi masalah, kalau begini caranya aku lebih memilih mati saja." keluhnya membuang nafas lelah.
Tiada hari tanpa masalah baru, mungkin itulah motto hidup Cathyrene. Oh astaga, entah ia harus tertawa karena lucu atau mengejek betapa menyedihkannya hidup kedua yang ia jalani kini.
Kim Yerim, di masa depan hidup dengan masalah dibenci oleh sebagian besar masyarakat yang suka menghakimi sedang Cathyrene hanya punya satu masalah yaitu cinta tak terbalas tapi kini cerita berubah. Selamat untuk Kim Yerim yang telah sukses menambah ribuan masalah baru yang mungkin bisa dipertimbanhkan untuk dijadikan dewi segudang masalah.
Mungkin ini bisa jadi alasan mengapa dirinya bisa terjebak ditubuh Cathy. Mereka sama-sama mengharapkan cinta yang hampir tak mungkin di gapai. Cathy kepada Poseidon dan Yerim kepada fans nya di masa depan.
Cathy memegangi kepalanya. Memikirkan itu semua membuat kepalanya sedikit pusing. Cathy berjalan menuju ranjangnya. Mungkin sudah waktunya dia beristirahat karena besok adalah hari yang panjang untuknya akan tetapi sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi. Pandangan matanya bahkan mulai kabur hingga dia tidak dapat menahannya lagi.
Brukk
Tubuh Cathy jatuh bahkan sebelum dia mencapai ranjangnya dengan wajah kelihatan pucat.
----
Tbc