The Abandoned Princess

The Abandoned Princess
Pencarian



Poseidon mengangguk paham. Dalam hati ia sama sekali tidak mengira bahwa Apollo akan sedekat itu, bahkan memperlakukan gadis lain seperti Artemis. Apollo yang ia kenal adalah pria yang tidak mudah menceritakan kehidupan pribadinya pada orang lain kecuali dia mempercayai orang tersebut dan gadis ini, adalah gadis kepercayaan Apollo setelah ibu dan saudari perempuannya.


Keheningan mulai menyelimuti keduanya. Poseidon maupun Cathyrene, sama-sama tidak ada yang mau membuka suara dan malah hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau kembali."


Sial! Dia mengusirku?


"Jangan berpikir aku mengusirmu. Aku merasa lebih baik kau segera masuk sebelum ada yang menyadari keberadaanmu disini." seru Poseidon membuat Cathyrene membelalakan mata terkejut. Apa pria itu bisa membaca pikiran?


"Ada apa? Tatapan matamu terlihat kesal dan menujukkan ketidaksukaan."


Yeuh, baru sadar, kemana saja kemarin?


Helaan nafas terdengar keluar dari bibir Cathyrene. Dia sempat mengira Poseidon bisa membaca isi kepalanya namun ternyata dia hanya menebak saja.


"Oh my god, i feel so bad." gumam Cathyrene tak sadar.


"Apa?"


Seakan tersadar. Cathyrene segera mengigit bibirnya, "tidak, aku hanya asal bicara." bohong Cathyrene gelagapan.


Poseidon mengernyit heran. Sejak tadi Cathyrene selalu menggumamkan sesuatu yang tak dapat dia pahami sama sekali, "Dari tadi kau selalu bicara dengan bahasa aneh."


"Hm kau benar, ini sudah malam. Aku akan masuk sekarang." elak Cathyrene seraya melepaskan jubah milik sang dewa laut untuk dikembalikan kepada sang pemilik.


"Tidak perlu dikembalikan sekarang. Kau akan membutuhkannya."


Belum sempat Cathyrene bertanya. Poseidon telah mengambil langkah duluan melewati Cathyrene. Memberi isyarat mengantar gadis itu ke kuil.


Kali ini Cathyrene benar-benar dibuat binggung dengan sikap pria itu yang berubah drastis. Jika dulu Poseidon bersikap seakan membenci dirinya tapi kini, pria itu bertindak seperti ingin mencoba berdamai dengannya. Sebenarnya mana yang harus dia percayai?


"Aku bersungguh-sungguh. Mungkin aku keterlaluan berprilaku kepadamu selama ini. Mengenai kejadian itu, harusnya aku datang lebih cepat. Maafkan aku karena harus mengurus beberapa kekacauan yang disebabkan perubahan siklus perputaran angin Utara dan selatan."


"Hari itu aku sangat kecewa."


"Bencana alam ini menimbulkan banyak masalah dilaut, dan sampai sekarang belum ada yang bisa menghentikan kekacauan ini."


"Sebenarnya ada."


"Ada?" ulang Poseidon.


"Pertarungan antara Dewi Demeter dan Hades maka jalan keluarnya hanya ada pada Dewi Persephone." jawab Cathyrene menunduk, meraih ranting pohon didekat kakinya.


Cathyrene menunjukkan ranting pohon tersebut didepan Poseidon yang menatapnya binggung, "seperti ranting yang utuh ini. Jika dua orang membutuhkannya, maka,"


Krekkk


Ranting pohon yang rapuh itu dipatahkan oleh Cathyrene menjadi dua bagian, "harus dibagi, bukan?" jelas Cathyrene membuat Poseidon menatapnya tak mengerti hingga Cathyrene menghela nafas sebelum melanjutkan,


"Apollo dan Artemis adalah saudara kembar, anak Dewi Leto. Dan mereka adalah anak-anak Zeus. Apollo sebagai dewa matahari sedang Art sebagai dewi bulan?"


"Lalu?"


"Bumi membutuhkan keduanya, untuk itu diciptakan dua waktu, siang untuk dikuasai Apollo dan malam untuk Artemis."


"Jadi maksudnya disini Bumi perumpamaan untuk Persephone? jika Persephone yang dibutuhkan oleh Demeter dan Hades, kita harus membagi waktu untuk sang dewi?"


Cathyrene mengangguk..


"Aku tidak menyangka kau akan berpikir sejauh ini. Tapi apa mungkin ini akan berhasil?"


"Aku hanya memberi usulan, terlepas dari semua itu para dewa lah yang memutuskan."


Poseidon menyeringai. Dia mengerti maksud dari pertanyaan Cathyrene barusan.


"Baiklah, aku terima dan mencoba mengusulkan hal ini di Olympus."


Tak terasa keduanya telah sampai didepan pintu yang biasa digunakan oleh para koki kuil untuk menerima bahan persediaan makanan dari pasar. Pintu yang tak banyak diketahui orang itu telah menjadi akses Cathyrene jika ingin pergi keluar tanpa ketahuan oleh penghuni kuil lainnya.


"Terima kasih sudah mengantarku, yah meski aku tidak memintanya sama sekali." balas Cathyrene masih saja bersikap cuek. Ia melepaskan jubah milik Poseidon.


Poseidon tersenyum tipis, "Sudah ku katakan, kau akan membutuhkannya sampai ke kamarmu dengan aman."


"Apa maksudnya?" tanya Cathyrene mengernyit binggung.


"Kau akan tau sendiri!" titah Poseidon berlalu pergi dari hadapan Cathyrene dan menghilang ditelan kabut malam.


Setelah Poseidon benar-benar dipastikan telah pergi. Cathyrene membuka pintu yang ada disana kemudian berjalan masuk ke dalam.



"Art!" teriak Apollo memanggil saudari kembarnya.


Artemis menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik memandang Apollo yang tengah berjalan kearahnya yang hendak turun ke bumi untuk berburu.


Gaun panjang bewarna putih dengan ikatan emas melingkari pinggulnya selaras dengan kepunyaan Apollo adalah hadiah dari ibu mereka Leto. Berbeda dengan Apollo yang banyak memakai atribut emas ditubuhnya, bagian lain pada gaun Artemis justru di penuhi hiasan perak sesuai cahaya bulan. Mahkota dikepalanya berlambangkan bulan dan Bintang serta gelang daun perak melingkari lengannya semakin menambah pesona sang dewi.


"Ibu mencarimu tadi."


Artemis mengangguk, "aku sudah menemui ibu tadi dan ibu memberi kita tugas ke pulau Ortygia. Kau sudah tau kan, Al?" cerita Artemis. Seperti halnya dengan panggilan 'Art' Apollo untuk Artemis. 'Al' juga adalah panggilan Artemis untuk Apollo dan hanya Artemis yang memanggil Apollo dengan panggilan tersebut.


Athena muncul secara tiba-tiba diantara kedua kakak beradik itu. Selain dikenal sebagai dewi kebijaksanaan. Athena juga dewi strategi perang. Ia berteman dekat dengan Apollo dan Artemis, anak ayahnya dari wanita lain.


"Kalian yakin akan melakukannya?" tanya Athena menatap saudara kembar dihadapannya.


Apollo menganggukkan kepala lengkap dengan senyum manis yang tak pernah pudar, "Tentu saja, memang sejak kapan kita melawan perintah ibu."


Athena tau jikalau dia telah salah bertanya. Kedua dewa dewi itu memang sangat menyayangi ibu mereka lebih dari apapun, bahkan mereka tidak segan-segan menghukum orang-orang yang menyakiti hati ibu mereka.


Seperti Niobe, Ratu Thebes dan istri Amfion. Dia menyombongkan bahwa dia lebih hebat dari Leto karena memiliki empat belas anak, tujuh putra dan tujuh putri, sedangkan Leto hanya dua. Karena keesombongannya, Apollo membunuh semua putranya ketika mereka sedang berolahraga atletik dan Artemis membunuh semua putrinya dengan panah beracun.


"Baiklah, tapi jangan sampai kabar ini tersebar."


"Kau bisa mempercayakan hal itu pada kami." balas Artemis tersenyum.


Apollo dan Artemis kemudian berpamitan untuk turun ke bumi. Mengunjungi tempat kelahiran mereka yaitu pulau Ortygia yang sebenarnya adalah wujud dari saudari ibu mereka. Satu-satunya tempat bagi Leto bisa melahirkan kedua bayinya dan selamat dari amukan Hera yang cemburu akan perselingkuhan Zeus dan Leto, bahkan sampai pada detik ini pun sang Dewi masih menyimpan kecemburuannya karena Dewi Leto memiliki dua anak yang kini menjadi dewa dewi penting yang ada di Olympus.


Alasan kenapa pulau Ortygia jauh dari jangkauan Hera yang murka adalah karena pada sebelumnya pulau Ortygia adalah saudari Leto yang berubah jadi pulau setelah menolak Cinta Zeus.


Dan sekarang, Artemis dan Apollo ditugaskan ke pulau tersebut untuk mencari sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan dari para dewa.



Makan malam di istana Hades terasa begitu sepi. Persephone masih saja berdiam diri, tak mau bicara dengan Hades. Gadis itu seakan tengah merajuk kepada sang penguasa kegelapan. Makanan lezat yang tersaji dihadapannya pun tak mampu menarik minat sang dewi.


Lalu, tanpa mengatakan apapun. Persephone berdiri. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Hades diruang makan menuju kamar mereka.


Sejak Persephone mencoba melarikan diri dari istana dunia bawah. Hades memperketat penjagaan disekitar istananya meski sebenarnya itu tidak lagi diperlukan karena dari Persephone sendiri sudah tak berani keluar atau melewati selangkah pun pintu utama istana Hades.


Pertemuan sang dewi dengan beberapa makhluk aneh yang menghuni tempat itu cukup mengerikan untuk ia alami lagi. Sebagai dewi musim semi. Ia hanya menciptakan dan menikmati keindahan alam selama ini dan dunia Hades adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan terjadi.


"Kau sudah berjanji akan membawa ibuku ke sini." tuntut Persephone.


Hades menghela nafas, "aku sudah mencobanya tapi aku tidak mendapatkan hasil apapun."


"Jika kau tidak bisa membawa ibuku kesini maka pulangkan aku pada ibuku."


"Tidak!" desis Hades marah. Ia sama sekali benci mendengar kata-kata itu terucap dari bibir tipis kemerahan Persephone, "aku bisa mengabulkan apapun keinginanmu tapi tidak untuk yang satu itu." lanjutnya kemudian.


"Aku lelah."


Sementara itu..


Diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda. Poseidon berdiri ditengah-tengah Zeus dan Hera. Sang penguasa laut itu datang menghadap di Olympus untuk membantu permasalahan yang di alami Demeter.


"Dunia langit memiliki Hera sebagai Ratu begitu pun dengan dunia bawah yang memiliki Persephone sebagai Ratu lalu bagaimana denganmu, Aiden?" sambut Hera tertawa kecil.


"Diamlah, Hera!"


"Kau terlalu lama bermain-main dan membuat onar seperti saudaramu ini, Aiden." Hera melirik Zeus seakan menegaskan kalau perkataannya tersebut tertuju untuk suaminya.


"Hentikan! Bisakah kalian tidak membuat kekacauan sekali saja?" lerai Zeus emosi.


"Aku datang kesini untuk memberikan usulan mengenai Persephone."


Keadaan tiba-tiba menjadi hening dalam sekejab. Zeus merasa tertarik begitupun dengan Demeter mendengar bahwa Poseidon punya jalan keluar untuk masalah yang tengah mereka hadapi.


"Apa itu?"


"Pembagian waktu antara Hades dan Demeter untuk memiliki Persephone."


"Kau yakin?"


"Kau bisa memanggil Hades dan membicarakannya sekarang juga."


Zeus nampak ragu tapi alangkah baiknya jika dia berpikiran positif dan mencoba ide tersebut. Sedang Demeter. Ia memandang Zeus gelisah menunggu respons pria itu sebelum pada akhirnya kelegaan meliputi hatinya ketika melihat Zeus mengangguk.


"Baiklah, aku akan coba membicarakan mengenai usulan yang kau katakan barusan." putus Zeus.


----


Lagi, cahaya keemasan milik Apollo memasuki kamar ketika sang pemilik kamar tengah sibuk membaca gulungan kertas yang dikirim dari kerajaan Troy.


Sebuah surat dari Troy yang memberitahukan bahwa kakak tertuanya telah diangkat menjadi Raja baru Troy mengantikan ayahnya yang kini sedang jatuh sakit.


Cathyrene ingin sekali pulang akan tetapi dia tidak bisa melakukannya. Sejak menginjakkan kakinya disini maka Cathyrene harus menerima segala peraturan yang ditetapkan dan dalam wakti dekat ini dia tidak dapat pulang karena harus menyiapkan diri untuk acara pengenalan yang akan diadakan besok malam.


"Rhea.."


Apollo, dengan wujud sempurna berbinar bahagia karena bisa menemui Cathyrene lagi dikejutkan dengan satu objek bercahaya yang berhasil menarik perhatiannya.


"Apa aku tidak salah lihat? Itu jubah Aiden." heboh Apollo tidak dapat menyembunyikan keterkejutan pada wajah tampannya yang kini nampak seperti orang bodoh.


"Tidak perlu berteriak." komentar Cathyrene. Ia sejak tadi sudah merasakan kehadiran Apollo berdiri dari meja rias menghadap sang dewa matahari dengan tangan yang dilipat didepan dada.


"Rhea, sekarang katakan padaku apa yang terjadi? Mengapa jubah ini bisa ada padamu? Kau tidak mencurinya kan?"


Apollo menggeleng cepat. Hal itu tentu saja tidak mungkin. Jubah dewa adalah benda keramat dan hanya ketika sang dewa berkehendak baru jubah yang mereka miliki bisa berpindah tangan.


"Sembarangan! Jubah ini dipinjamkan padaku karena katanya aku akan membutuhkannya saat masuk ke dalam kuil dan yah aku benar-benar membutuhkannya. Para penjaga bahkan tidak menyadari kehadiranku saat memakai jubah ini." cerita Cathyrene.


"Di pinjamkan siapa?"


"Si dewa laut itu."


"Aiden?"


"Memang ada dewa laut lain lagi yaa?"


"Tidak, tidak," sekali lagi Apollo menggeleng. Oh astaga dia tidak dapat mempercayai semua ini, "Rhea, apa kau serius?" tanya Apollo untuk yang kesekian kali.


"Iya."


"Bagaimana bisa?"


Cathyrene mengedikkan bahu. Ia juga sebenarnya tidak mengerti dengan jalan pikiran dewa laut yang secara mengejutkan berubah, "Aku juga tidak tau, tapi yang jelas semalam kami membicarakan banyak hal. Mungkin dia mau berdamai."


"Aku tidak dapat mempercayai ini, Rhea."


"Aku juga tidak sekalipun aku yang mengalaminya sendiri."


Apollo mengulum senyum. Ia menoleh menatap hamparan laut melalui kamar Cathyrene yang entah mengapa selalu memiliki kamar dengan selalu memiliki pemandangan sama yaitu laut.


"Baiklah, sepertinya ini akan menarik." batin Apollo.



Pencarian yang dilakukan oleh Apollo dan Artemis belum juga membuahkan hasil. Putra dan Putri dari dewi Leto itu telah mengelilingi hampir seluruh pulau tersebut tapi sama sekali tidak mendapatkan satu pun petunjuk.


Kini, Artemis memutuskan menyudahi pencarian mereka dan kembali pada tugas masing-masing. Artemis menuju alam liar sementara Apollo pergi entah kemana.


Artemis medongak, menatap ke arah langit. Senja Apollo telah datang memanggil dirinya untuk segera melakukan tugasnya menghadirkan sang rembulan untuk menyinari bumi.


Dalam sekejab busur, anak panah ditangan Artemis menghilang. Cahaya kecil bermunculan memenuhi tubuh Artemis yang berubah wujud. Gaun putih lengkap dengan atribut kebanggaan gadis itu bercahaya ditengah-tengah hutan.


Srekkk


Suara asing terdengar membuat cahaya pada tubuh Artemis memudar, menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Artemis membalikkan badan. Mahkota perak melingkari kepala sang dewi yang teramat cantik seperti ibunya.


"Al, apa itu kau?" panggil Artemis.


Rasa penasaran Artemis menuntunnya mencari asal suara. Ia berjalan menyusuri bebatuan demi mencari asal suara yang ia yakini adalah seseorang karena dia dapat merasakan kehadiran orang itu sangat kuat.


"Siapa disana?"


"Art, lakukan tugasmu sekarang, sayang. Ayahmu telah menunggu." suara Leto memenuhi pikiran Artemis berhasil menghentikan langkah sang dewi.


"Tapi ibu, Al mengerjaiku."


"Aku baru saja kembali selesai menyelesaikan tugas dan sekarang aku d Olympus bersama ibu, Art." sahut Apollo.


Apa!


"Lakukan tugasmu sekarang, Art."


Artemis mengangguk dan memilih membunuh rasa penasarannya dan mulai melakukan tugasnya. Ia berbalik, menggunakan kekuatan yang ia miliki untuk menarik bulan dan memanggil cahaya Apollo.


----


TBC