
Mimpi buruk yang di alami oleh Cathy sedikit membuatnya takut untuk mengistirahatkan tubuhnya. Cathy akan lebih memilih menyibukkan diri agar tidak mengingat tidur.
Atas permintaannya Cathy mendatangkan seorang yang dapat menafsirkan mimpinya. Ya meski bagian tubuhnya berisi Yerim yang hidup di masa depan dimana mimpi buruk hanya bunga tidur tak berarti tapi berbeda disini. Mimpi ibarat sebuah peringatan atau tanda akan sesuatu yang akan terjadi.
"Kegelapan, jurang dan ketakutan itu mengartikan hal buruk, Putri Troya. Bisa saja sebuah peringatan akan perang atau kehancuran. Aku baru mendengar mimpi yang seperti yang dialami tuan Putri. Jadi aku belum bisa merinci sedetail mungkin."
Cathy menghela nafas. Jika memang seperti itu lebih baik untuk tidak memberitahukan siapapun tentang mimpinya yang belum pasti artinya ini.
"Baiklah, kau boleh pergi tapi kau harus memberitahu jika sudah menemukan penjelasan lebih akurat. Untuk sementara rahasiakan pembicaraan ini diluar sana." ujar Cathy.
"Baik, Yang mulia Putri." tunduk pria penafsir mimpi yang di undang Cathy ke ruang kerja yang ada di paviliun pribadi nya.
Sepeninggalnya pria tua tersebut Cathy berjalan keluar menuju taman yang tersembunyi dalam labirin yang dibangun dekat paviliun khusus untuknya. Disana ada sebuah kolam kecil dengan air jernih. Cathy sengaja masuk ke dalam tanpa para pelayan. Ia butuh ketenangan.
Hari sudah sore, sebentar lagi malam. Hal yang paling dikhawatirkan Cathy saat ini adalah memasuki kamarnya. Sial! Dulu dia sangat menyukai waktu tidur tapi sejak mimpi itu dia rasanya ingin terjaga terus.
"Awas didepanmu."
Cathy terlonjak menghentikan langkah kakinya karena suara berat itu memperingatinya. Ia menundukkan kepala melihat tanjakan pembataa kolam. Astaga, saking sibuknya melamun dirinya hampir saja masuk ke dalam kolam.
Kedua matanya terpejam. Akhir-akhir ini ia sedikit linglung mungkin karena waktu tidur yang berkurang. Cathy memegangi kepalanya.
"Kau ini kenapa?" tanya pria itu mendekat, menarik tangan Cathy dengan begitu mudahnya agar berbalik menatapnya.
"Aku mengantuk." lirih Cathy yang sudah sangat hafal betul pemilik suara tersebut.
Cathy membuka mata, membalas tatapan Poseidon sebelum mendorong tubuh pria itu, "lagian kenapa ke sini coba? Bukankah kamu masih marah. Pergi sana, tidak usah sok peduli." cerocos Cathy panjang lebar ketika mengingat bahwa setelah berminggu-minggu lamanya Poseidon baru mendatanginya lagi.
"Aku salah apa memangnya?" tanya Poseidon tak mengerti. Ia baru datang juga bukan tanpa alasan. Tugas dan tanggung jawab sebagai dewa harus dijalani olehnya, kalau tidak Zeus akan semakin marah.
Poseidon melihat Cathy berjalan sempoyongan menuju gazebo terbuat dari kayu. Mendudukkan diri disana sembari menyandarkan tubuh lelahnya.
"Kau masih kesulitan tidur?" tanya Poseidon yang telah duduk disamping Cathy.
Cathy yang malas berdebat panjang menganggukkan kepala. Tubuhnya lalu dirasa ditarik tiba-tiba oleh. Poseidon. Sang dewa laut itu menaruh kepala Cathy di dada bidangnya.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu."
"Aku takut mimpi buruk itu datang lagi."
"Kali ini tidak, percaya padaku." balas Poseidon meyakinkan.
Terbuai oleh perkataan pria itu serta perlakukan lembut Poseidon yang mengusap lembut kepalanya berhasil membuat pertahanan Cathy melemah.
"Apa kau marah?" tanya Cathy dalam pelukan Poseidon. Matanya sudah mulai terasa berat namun ia masih berusaha untuk tetap sadar.
"Marah kenapa?"
"Kau baru datang dan tidak mau bicara denganku akhir-akhir ini." bibir Cathy mengerucut ketika mengatakan hal tersebut.
"Aku punya urusan lain. Apa kau mau aku terus menerus menemanimu?"
Cathy menggeleng, "Sudah beberapa hari ini Apollo juga tidak terlihat. Pergi kemana anak itu sebenarnya sampai melupakan sahabatnya disini? Dia bahkan tidak berusaha untuk datang menemuiku padahal aku ingin bertanya sesuatu padanya." ucap Cathy lalu jatuh tertidur. Sampai disini saja pertahanannya ternyata.
Dahi Poseidon berkerut, "Bertanya apa?" tanyanya tak kunjung mendapat jawaban selama beberapa detik, yang terdengar hanya suara helaan nafas teratur membuat Poseidon menundukkan kepala.
"Huh, sudah tidur rupanya." gumamnya menggeleng. Percuma bertanya kalau begitu.
----
Untuk pertama kali Artemis merasa dirinya tidak berguna sama sekali sebagai seorang Dewi, bahkan untuk menyelamatkan pria yang ia cintai dari kutukan saudaranya tak bisa dilakukan.
Artemis frustasi, merasa nyaris gila saat ini karena hanya bisa melihat tanpa bisa membantu ketika Orion menjerit kesakitan. Para tabib di istana pria itu tidak ada yang bisa menyembuhkan Orion. Awalnya mereka berpendapat bahwa itu penyakit campak biasa tapi sialnya tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan biasa berhasil membuat mereka binggung.
Mengapa juga dia harus jatuh Cinta seperti ini?
"Aku tidak bisa melihatnya menderita seperti itu." lirih Artemis yang saat ini tengah berada di ruang utama Olympus, "Aku harus melakukan sesuatu, Athena. Apollo pasti tidak akan membiarkannya begitu saja."
"Kau harus bisa membujuk Apollo, hanya dia yang bisa membebaskan Orion dari penderitaan tersebut."
"Ya, aku akan melakukannya meski harus mengangkat busur dan anak panahku."
"Tidak! Itu bukan bujukan tapi mengajak saudaramu perang. Dewi Leto tidak akan setuju jika kalian berdua bertengkar." nasihat Athena.
"Aku tidak peduli." balas Artemis melangkah pergi meninggalkan ruang utama Olympus.
Artemis turun ke bumi untuk bertemu dengan Eros yang tengah mengemban tugas sebagai sang dewa Cinta seperti ibunya. Eros tersenyum hangat begitu melihat kehadiran Artemis.
"Tidak biasanya salah satu dari kalian menemuiku. Ada apa?" tanyanya langsung.
"Apa kau bisa melakukan sesuatu untukku?" ujar Artemis langsung sukses membuat Eros keheranan.
-----
Kedatangan seorang pria yang dikatakan sebagai putra Raja Priamos membuat Cathy penasaran hingga mendatangi ruang utama istana Troya. Ia harus melihat sendiri sosok putra sang Raja yang juga berarti adalah keponakannya.
"Cathy." panggil sang Raja begitu melihat kehadiran Cathy disana.
Cathy menunduk memberi salam. Pandangannya lalu teralih menatap sosok pria yang kini tengah duduk disamping Priamos. Seorang pria tampan dengan rambut ikal itu juga terlihat membalas tatapannya.
"Paris?" tanya Cathy membuat pria itu binggung sebelum dijawab oleh Priamos.
"Dia adalah adik bungsu ku, bibi mu juga, Cathyrene of Troy." Priamos memperkenalkan Cathy.
Paris berdiri. Ia menunduk dihadapan Cathy sebagai bentuk kesopanan yang harusnya lebih dulu ia lakukan sejak tadi.
"Dimana Hektor?" tanya Cathy mencari putra sulung Priamos yang sudah lama tidak terlihat olehnya.
"Aku disini, Bibi." jawab seorang pria yang baru saja memasuki ruang utama dengan beberapa orang dibelakangnya.
Cathy membalikkan badan. Dahinya berkerut memperhatikan pria tampan dibelakangnya itu datang bersama prajuritnya sembari menenteng sesuatu dipunggung mereka.
Sekilas bau anyir langsung menyeruak memasuki Indra penciuman Cathy seiring langkah kaki Hektor yang semakin dekat dengannya.
"Kau berburu lagi?" tanya Cathy sangat tepat karena Hektor langsung mengangguk menjawabnya.
"Ya begitulah."
"Kau mulai bersikap seperti seorang ibu sekarang, adikku." komentar Priamos.
"Kita akan pesta besar malam ini. Buruanku sangat banyak. Apa bibi mau ikut lain kali?"
"Tidak, terima kasih atas tawaranmu."
Apollo akhirnya datang menemui Cathy setelah sekian lama. Awalnya Cathy ingin melayangkan protes seperti yang ia lakukan pada Poseidon namun niatnya itu dia urungkan begitu melihat wajah sedih Apollo.
"Al, ada apa?" tanyanya. Sungguh suatu yang aneh melihat Apollo yang diam seperti ini.
"Apa aku salah. Rhea?"
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Salah ya jika kita hanya tidak ingin orang yang kita sayangi celaka?"
"Kau dan Art maksudnya? Kalian ada masalah apa?"
"Art menyalahkanku. Kami bertengkar hebat." cerita Apollo menghela nafas lalu membuangnya kasar.
"Pasti ada alasannya. Kau mau memberitahuku?"
"Dia telah bersumpah untuk tetap mempertahankan kesuciannya tapi dia malah jatuh Cinta. Aku sengaja mengutuk pria itu agar Art menjauh dan mengingat kembali janjinya tapi dia tidak terima dan malah menyalahkanku."
"Aku juga kalau ada diposisi Art akan melakukan hal serupa."
"Kenapa kau tidak berada dipihakku." protes Apollo.
"Mudah mengatakan tapi tak mudah melakukan. Kami manusia saja sering sekali terjebak pada perkataan sendiri, dan ternyata kalian juga begitu ya. Saranku biarkan Art menjalaninya. Aku yakin dia pasti tau konsekuensi sebelum memutuskan melakukan sesuatu."
"Aku takut dia terlalu jauh."
"Kau harus mempercayainya, Al."
----
Susah payah Orion melawan rasa sakit ditubuhnya hanya untuk mengejar Artemis ditempat pertemuan mereka pertama kali. Orion sangat merindukan Dewi cantik itu hingga tidak memikirkan kondisinya sendiri.
Dan dugaannya benar adanya. Di tempat yang sama seperti waktu itu ia kembali melihat Artemis dengan gaun putih bercorak perak bercahaya tengah berdiri, menengadah ke atas dimana cahaya bulan bersinar pada bukan itu sendiri, begitu cantik.
"Apa yang kau lakukan disini." tanya Artemis menyadari kehadiran Orion disana.
Orion tersenyum. Selalu saja, Artemis menyadari kehadiran orang lain disekitarnya sekalipun orang yang mengintip tidak bernafas pasti tetap ketahuan.
Wajah pucat Oriaon terlihat gelisah ketika kembali mengingat tujuan awalnya memasuki hutan liar ditengah kondisinya yang kian memburuk.
"Jangan menjauh dariku." pinta Orion memelas.
Artemis membuang pandangan tidak mau melihat mata Orion karena itu bisa saja meruntuhkan segala pertahanan yang susah payah ia bangun.
"Jadi ini maksudmu?" Eros muncul menghampiri Artemis yang tak bergeming ditempatnya. Sejak tadi ia telah memperhatikan dari kejauhan.
Artemis mengangguk.
"Aku belum pernah mencoba anak panah kebencian kepada manusia dan seorang Dewi disaat bersamaan." lanjut Eros menatap kasihan Orion. Sekujur tubuhnya penuh luka dan Eros sepertinya tau dari mana pria itu mendapatkan penyakit seperti itu.
Blushh
Pergantian siang ke malam baru saja selesai. Apollo ikut muncul seusai melaksanakan tugas membuat Artemis waspada.
"Untuk apa kau ke sini, Al?" panik Artemis berdiri menghadang Apollo yang sejak kedatangannya, kedua matanya tertuju hanya pada satu objek yaitu Orion.
"Minggir, Art."
"Tidak! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi." Artemis mengeluarkan busur dan anak panah, bersiap menyerang Apollo, saudaranya.
Apollo tertawa miris. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Saudarinya berusaha melawannya, "Apa ini, Art. Kau mencoba memanahku demi pria itu?"
"Aku tidak akan ragu kali ini." balas Artemis yakin seraya menarik anak panah, sudah sangat siap jika Apollo berani mendekat.
"Art, jangan seperti ini. Apa kau lupa dengan sumpah yang kau buat sendiri dipangkuan ayah?"
"Jangan seperti ini. Aku tidak pantas." sahut Orion entah kapan sudah berdiri dihadapan Artemis. Menahan tangan sang Dewi yang tengah melakukan sebuah perlawanan kepada saudaranya.
"Eros, lakukan sekarang!" titah Artemis.
"Akkkrrrhhh..." teriak Orion kesakitan.
Tubuhnya terjatuh, kepalanya tertunduk menahan rasa sakit disekujur tubuhnya berhasil membuat Eros binggung. Anak panah kebencian masih berada ditangannya, belum dia tembakkan tapi Orion sudah lebih meringis kesakitan.
"Eh, bukan aku."
Mendengar hal tersebut secara kompak Artemis dan Eros menatap Apollo yang juga terlihat sama binggung dengan mereka berdua.
Suara petir tiba-tiba menguncang malam membuat ketiganya kompak menatap langit.
"Ayah." gumam Artemis melihat langit dimana suara ayahnya terdengar.
"Aha.. Arkkh.. Tolong aku." racau Orion tanpa ada yang berniat menolongnya.
Secara mengejutkan sekujur tubuh Orion berbunyi seperti patahan tulang. Perlahan bulu-bulu halus bewarna hitam keluar dari tubuhnya. Wajahnya berubah bentuk dan mengeluarkan taring.
Artemis yang menyaksikan semua itu terjadi tepat didepan matanya tak dapat berkata-kata namun setetes air mata jatuh ketika melihat perubahan Orion sudah cukup mewakili perasaan yang ia rasakan kini.
Artemis memejamkan mata seiring dengan Orion yang telah selesai melakukan perubahan pada tubuhnya dan menjadi mahkluk mengeringkan seperti serigala namun kali ini dua kali lipat lebih besar dari serigala pada umumnya.
Eros mengangkat busurnya bersiap menembakkan anak panah peraknya namun Artemis melarangnya.
"Tidak, Eros! Jangan menggunakan perak."
Sesuai kutukan dari Zeus, ayahnya yang saat ini tengah berbicara dalam pikiran Artemis. Rupanya ayahnya menyaksikan sendiri pertarungan yang hampir saja terjadi diantara Apollo dan Artemis memilih turun tangan langsung dari Olympus.
Orion dalam wujud serigala merangkak mendekati Artemis. Menundukkan kepala dipangkuan Artemis berhasil membuat Artemis sedih dan terluka hatinya.
Artemis menangis, air matanya jatuh membasahi kepala Orion yang kemudian berubah menjadi tanda bulan sabit, "Kau tidak akan mati kecuali dengan senjata yang terbuat dari perak begitupun dengan para kaum mu yang lain." batin Artemis berbicara pada Orion sembari memaksakan senyum.
Suara lolongan terdengar dari serigala Orion. Detik berikutnya juga lolongan dari serempak terdengar dari berbagai arah.
"Ada apa ini?"
Seluruh penghuni Arcadia telah berubah menjadi manusia serigala. Orion sebagai putra yang sempat diangkat menjadi Putra mahkota malam ini resmi diangkat menjadi Raja. Berikut dia akan dikenal sebagai Werewolf Lycan dan Orion, sang Raja Arcadia.
Ayahnya bahkan telah memberitahu juga mengenai nama baru yang malam ini disematkan kepada sang Dewi bulan dan akan dikenal oleh para kaum Orion yaitu Queen of Luna atau bisa juga disebut..
The Moon Goddes..
----