
*Pada kehidupan sebelumnya aku adalah Yerianna Kim, seorang gadis muda yang baru memulai debutnya dengan bergabung masuk ke dalam sebuah group yang sudah lebih dulu debut. Aku menjadi member kelima sekaligus yang termuda dalam group.
Tak sedikit fans yang menolak kehadiranku. Sejak awal masuk, aku sudah mendapatkan cercaan. Sedih? Tentu saja, banyak yang mengumpat, bahkan mengutukku agar menghilang dari dunia selamanya, dan mungkin doa mereka terkabul karena aku terjebak di sini sekarang. Dunia milik para dewa Yunani*..
Huh lelucon apa ini! Aku harus melanjutkan hidup orang lain? Oh astaga, orang ini bahkan sangat berbeda jauh denganku..
Oke, kita mulai dari mengenal Cathyrene dulu...
Yerianna dalam tubuh Cathyrene memejamkan kedua mata sembari berpikir. Sesekali wajahnya berubah masam, sedih, kesal. Ia memangku tangan, masih berusaha menggali informasi tentang gadis seperti apa Cathyrene ini?
*Oke, wow kita mulai dengan yang lain!
Eh.. Sebentar, coba yang lain lagi.
ouch shit! Neomu paboya!
Seriously?
Kalian tau*?
"Tidak ada yang bisa dibanggakan. Gadis ini benar-benar bodoh!" desahnya kesal.
Cathyrene adalah seorang Putri pendiam hingga tidak ada lelaki atau pun pangeran yang mau mendekatinya karena cara berpakaian sang Putri dulu jauh dari kata modis. Hampir semua gaun miliknya yang memenuhi lemari bergaya sama. Dia juga sangat pemalu dan tidak menyukai keramaian.
Seumur hidup Cathyrene hanya mencintai satu pria dan itu Poseidon. Pertemuan mereka terjadi pada saat Raja Laomedon, ayah Cathyrene memerintah Appolo dan Poseidon yang kala itu mendapat hukuman Zeus karena menentang sang dewa petir, membangun sebuah tembok besar disekeliling Troya dengan imbalan berupa anggur emas namun ayahku melanggar perjanjian hingga membuat Poseidon marah. Dari sanalah Cathyrene mulai mencintai pria itu. Cinta nya semakin tumbuh dan semakin besar hingga akhirnya Cinta itu sendiri yang membunuhnya.
Poseidon adalah satu-satunya pria yang tidak bisa dimiliki meskipun Cathyrene memohon di kaki Zeus, sang dewa petir. Benar-benar gadis naif sejak lahir.
*Eh, tunggu dulu! Gadis bodoh ini kan aku yang sekarang!
Ah andwee*..
Blushhh
Sebuah cahaya bewarna kuning emas terlihat turun dari atas langit melewati balkon Cathyrene yang terbuka lebar. Cahaya tersebut kemudian berubah menjadi sosok pria yang sangat tampan tapi sayang, sang pemilik kamar tidak menyadari kedatangannya.
"Sekarang apa yang harus ku lakukan?" gumam Cathyrene dilema.
"Masih tidak mau menyerah?"
Cathyrene terlonjak dari tempatnya. Ia dengan cepat membalikkan tubuh dan menatap seorang pria tampanĀ dengan setelan ala pangeran negeri dongeng juga jubah putih bercorak emas dipunggungnya yang bercahaya.
Itu adalah Apollo, dewa matahari yang menjadi teman dekat Cathyrene selama ini setelah insiden tersebut karena Apollo tidak separah Poseidon yang mengirimkan monster laut sebagai bentuk amarah pada Raja Laomedon.
"Ada apa?" tanya Cathyrene. Kata itulah yang paling sering diucapkan Cathyrene kepada Apollo saat datang mengunjunginya. Cathyrene selalu menjadi tempat Apollo jika tidak mempunyai tujuan.
"Olympus sedang kritis karena saudari tiriku, anak dari ibu Demeter menghilang tanpa jejak dan aku terlalu malas melihat drama lain setelah itu diatas sana."
"Anak Dewi Demeter,?" ulang Cathyrene sebelum kembali bertanya "Persepone?"
"Hm,"
"Bukannya dia ada di bumi?"
"Entahlah, Rhea. Yang jelas dia menghilang." balas Apollo tidak mau memberikan informasi lebih lagi.
Rhea adalah nama yang hanya digunakan oleh Apollo seorang saat berbicara dengan Cathyrene. Hampir tidak ada yang menggunakan nama itu atau bisa dibilang, nama itu telah dilupakan oleh banyak orang yang mengenal Cathyrene.
Cathyrene mengalihkan pandangan. Memilih fokus pada tempat lain sampai suara Apollo, sang dewa matahari menginterupsi.
"Oh ya, bagaimana keadaanmu? Ku dengar kau mencoba bunuh diri?"
Dalam sekejab. Apollo telah berada dihadapan Cathyrene. Berpangku tangan menatap gadis yang sudah ia anggap sebagai saudarinya sendiri setelah Artemis, "sudah ku bilang, Rhea. Jangan bersikap bodoh. Sekuat apapun kau berusaha dia tidak akan melihat ke arahmu."
"Jadi itu saja tujuanmu datang?"
"Hah?"
"Aku baik-baik saja." balas Cathyrene acuh. Ia akan menjadi kesal sendiri saat mengulang ingatan pada saat melompat tebing.
"Tidak, tidak. Kau tidak pernah baik-baik saja setelah berurusan dengan Aiden."
"Terima kasih perhatiannya tapi aku akan baik-baik saja setelah ini."
Ya, aku bisa menjaminnya karena aku bukan gadis bodoh itu lagi...
"Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak dulu." Apollo tersenyum.
----
Mahkota daun emas melingkari kepala wanita cantik yang baru saja memasuki olympus. Gaun putih berkilauan indah, ikat emas serta aksesoris melingkari bahu hingga leher semakin menambah pesona sang Dewi perang Athena.
"Apa yang kau lakukan pada Medusa!!"
Seorang pria tampan nan gagah lengkap dengan baju zirahnya muncul menghadang jalan sang Dewi Athena. Tatapan mata tajam penuh amarah seakan ingin melenyapkan Dewi Athena sama sekali tak membuat Sang Dewi gentar.
"Tak ku sangka kabar cepat berhembus," Athena menghela nafas, "Dia telah menodai kuilku! Itu adalah hukuman yang pantas dia terima." lanjutnya dingin.
"Lalu bagaimana dengan Poseidon? Dia juga harus bertanggung jawab bukan?"
"Apa kau mau aku menghukumnya juga? Medusa tau hukum yang telah ku tetapkan. Jika dia mau mendengarkan, dia tentu tidak akan melanggarnya."
"Athena!"
"Kau khawatir karena tidak dapat menggodanya lagi kan, Ares?"
"Jaga bicaramu, Athena!" protes seorang wanita cantik lain ikut muncul disana. Gaun senada dengan pernaik pernik emas sederhana melingkari bagian dada, tak menutup kecantikan sang dewi cinta, Aphrodite. Sang dewi berdiri dengan anggun didekan singgasana Dewa langit yang terlihat kosong hanya untuk membela sang Dewa perang, Ares.
Athena tersenyum simpul. Ia sangat malas jika harus berdebat dengan Ares. Mereka berdua selalu tak sejalan sejak kecil. Sebagai saudara tiri. Ares selalu menganggap Athena adalah saingannya mengingat Athena, sebagai Dewi kebijaksanaan paling banyak mendapat perhatian ayah mereka, dan juga para rakyat yang memujanya.
Ares diberi gelar dewa perang tapi dia haus akan darah dan berperang dengan brutal tanpa berpikir konsekuensi yang didapat, berbeda dengan Athena yang mempertimbangkan banyak hal sebelum memulai perang.
"Sebaiknya kau mencabut kutukanmu terhadap Medusa." sambung Ares bersikeras.
"Aku, Athena tidak pernah menarik kembali kutukanku." balas Athena singkat kemudian berjalan meninggalkan keduanya diruang rapat olympus.
----
Bangunan kokoh yang terbuat dari batu marmer. Kebutuhan dapur yang masih menggunakan logam dan besi, tunggu kayu untuk keperluan memasak. Sebuah peradapan yang jauh dari kata canggih dan aku terjebak didalamnya. Entah sampai kapan aku akan bertahan dengan keadaan seperti ini.
Aku ingin pulang...
Cathyrene hidup sendiri di kastil sebelah Utara, jauh dari kastil utama anggota kerajaan. Itulah alasan mengapa selama ini Cathyrene selalu kesepian dan hidup seperti dalam pembuangan.
Jujur saja, hidup, Cathyrene jauh dari kata mewah meskipun ia menyandang status sebagai putri Troy. Selama ini, hanya beberapa dayang dan penjaga di istana miliknya. Cathyrene bahkan bebas keluar masuk istana, berkeliaran sesuka hatinya tanpa ada yang melarang.
Itulah yang bisa di simpulkan saat ini setelah menggali ingatan Cathyrene lebih dalam lagi.
Jika begini, Cathyrene sedikit mirip dengannya yang suka menyendiri karna tidak siap menghadapi dunia yang tidak mau melihatnya.
----
"Tolong biarkan aku pulang, Tuan." tangis seorang gadis cantik seraya memohon dihadapan lelaki berkulit pucat dihadapannya.
Ia telah melakukan kesalahan dengan melanggar perintah ibunya untuk tidak meninggalkan rumah akan tetapi rasa penasaran justru membawa dirinya semakin jauh dari rumah.
Pria yang terkenal selalu menampakkan wajah dingin, hampir tak pernah tersenyum itu kini menatap wanita yang sedang berlutut dibawah kakinya lembut.
"Aku bersedia memberikan apapun yang kau mau kecuali yang satu ini,"
Dan wanita itu semakin tertunduk sedih, "Ku mohon, ibuku pasti sedang mencariku." decitnya dengan suara kecil hampir tak terdengar. Wajah cantik, kulit pucat serta tatapan teduh itu kian membuat sang penguasa dunia bawah terpana.
Menyadari dirinya tengah ditatap. Persephone langsung saja menundukkan kepala tak nyaman. Sejak lahir, dirinya tidak pernah bertemu orang banyak karena ibunya sengaja menyembunyikan dirinya dari dunia bahkan ayahnya.
Hades, sang penguasa dunia bawah rupanya tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Persephone mulai meninggalkan singgasananya lalu berlutut didepan Persephone kemudian mengangkat wajah wanita itu agar dirinya bisa melihat kecantikannya.
"Siapa namamu?"
"Persephone, Tuan."
Hades tersenyum penuh arti, "Baiklah, Persephone. Aku akan mengijinkanmu untuk pulang."
"Benarkah?" kedua mata Persephone berbinar cantik, semakin menambah kecantikannya.
Sekali lagi Hades mengangguk. Persephone terlalu polos hingga tak menyadari rencana dibalik tatapan Hades, "Kau bisa pulang setelah melakukan sesuatu untukku."
"Apa itu?"
Hades mengeluarkan satu buah delima dari tangannya. Sembari tersenyum ia menyodorkan buah tersebut didepan Persephone.
"Makanlah dan kau akan pulang."
"Hm." angguk Persephone mengambil buah dari tangan Hades dan memakannya cepat.
Senyum puas terpeta dibibir Hades. Tangannya terulur mengusap lembut Puncak kepala wanita yang masih memakan buah pemberiannya dengan nikmat tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
----
Gosip tentang dewa laut yang kembali menggoda wanita, kali ini nimfa menjadi sasaran Poseidon. Sang dewa laut yang tak mengenal kata lelah menggoda para wanita.
"Kurasa selamanya Aiden akan terus seperti itu. Kalian berdua sangat mirip satu sama lain."
"Aku sedang sibuk mencari keberadaan Persepone. Jangan membuatku semakin pusing, Hera."
Aiden atau poseidon adalah satu-satunya diantara saudaranya yang paling terlihat muda karena dia dimuntahkan terakhir dari perut kronos, ayah para dewa olympus. Dia juga paling kuat diantara saudaranya hingga saat pembagian wilayah. Poseidon mendapatkan laut yang merupakan wilayah yang paling besar dari pada daratan yang menjadi tanggung jawab dewa lain.
"Bukannya Persephone pergi bersama Athena dan Artemis, kenapa kau tidak bertanya pada mereka berdua saja?" sahut Hera.
Sebagai Ratu para dewa juga istri Zeus. Hera terkenal sebagai wanita pencemburu yang tidak segan-segan menghukum dewa atau Dewi yang menganggu ketenangan dan kebahagiaannya tanpa ampun. Hampir sebagian dewa terutama Dewi-dewi pernah menjadi korban sang Ratu.
"Aku tau maksudmu, Hera. Mereka bukan putrimu. Tentu mereka berdua tidak akan melakukan hal buruk terhadap Persephone."
"Ck!"
"Helios datang."
Merasakan hawa panas mendekati Olympus membuat sang dewa langit beranjak pergi meninggalkan istrinya menuju ruang tempat berkumpulnya para dewa tertinggi Olympus.
Ketika memasuki ruangan. Hanya setengah dari kedua belas dewa berkumpul disana. Tak terkecuali Demeter, sang Dewi terus bersedih. Kesedihannya bahkan menyebabkan bencana bagi kaum manusia.
"Helios, ku dengar kau membawa kabar tentang dimana keberadaan Persephone?" tanya Athena mewakili pertanyaan yang juga ingin ditanyakan ayahnya.
Helios mengangguk, "Dia bersama Hades didunia bawah." jawabnya beralih menatap Demeter. Sebelumnya ia telah memberitahukan kabar tersebut kepada sang Dewi yang membuat sang Dewi semakin murung sekembalinya dari pencarian Persephone.
"Kalau begitu kita harus menjemput Persephone dari dunia bawah," titah sang dewa langit Zeus, "dimana Hermes berada?" lanjutnya menanyakan keberadaan salah satu putranya yang akan diberi tugas tersebut.
----
Apakah aku harus mengikuti cara hidup Cathyrene atau aku harus mengubahnya?
Apa masih ada harapan untuk kembali ke duniaku?
Lalu bagaimana caranya aku agar bisa kembali?
"Cathyrene."
Sang pemilik nama yang dipanggil terlonjak kaget ketika merasakan tangan seseorang berada dipundaknya. Cathyrene menoleh, memandang pemilik tangan yang ia kenal melalui ingatan adalah Cathyrene.
"Ayah."
"Sedang memikirkan apa? Ayah memanggilmu dari tadi, Cathy."
Cathyrene menggeleng lemah sebagai jawaban. Entahlah, dirinya terlalu pusing memikirkan harus melanjutkan hidup milik orang lain sementara ia sendiri tak tau apa yang terjadi pada dirinya yang sebelumnya.
Pria dihadapan Cathyrene terlihat senang akan sesuatu yang tidak dipahami oleh Cathyrene namun gadis itu juga tak berminat menanyakannya pada pria paruh baya didepannya itu.
"Ayah sudah menyiapkan sesuatu untukmu." ucapnya menarik perhatian Cathyrene, "kau akan dikirim ke kuil Parthenon milik Athena."
Hah! Apa hubungannya?
Oh tidak!
Kuil Parthenon adalah kuil terkenal milik Athena yang dibangun diatas bukit tertinggi untuk menyembah sang Dewi. Cathyrene memimpikan menjadi salah satu pendeta Agung disana sejak ia mendengar bahwa Poseidon sering mengunjungi kuil tersebut untuk menggoda para pengikut Athena yang kebanyakan terdiri dari kaum wanita cantik.
Sial!! Sebenarnya apa yang dipikirkan si bodoh ini? Ternyata pernyataan Apollo benar. Cathyrene tidak baik-baik saja jika berurusan dengan Poseidon. Gadis ini akan menggila saat mendengar nama oria itu disebutkan.
"Ada apa, Cathy? Apa kau tidak menyukainya?"
"Aku-" kata Cathyrene terpotong ucapan ayahnya,
"Ayah susah payah menghalalkan berbagai macam cara. Ya, semua ini memang salah Ayah sehingga kau harus menanggung sendiri. Untuk itulah Ayah ingin melakukan sesuatu agar bisa menebus segala kesalahan yang Ayah perbuat dulu."
Tentu saja. Ayah Cathyrene tidak pernah menepati janjinya sampai membuat Poseidon murka lalu mengirimkan monster laut untuk menghancurkan kerajaan Troy. Dan setelah perbuatannya itu, aku juga ikut terseret menjadi korban.
"Ayah hanya ingin kau bahagia, Cathy."
Rasanya aku ingin menangis sekarang. Aku sangat merindukan ayahku. Dia hampir mirip ayahku. Apa aku tega menolak jika sudah begini?
Mungkin alangkah baiknya aku menurut saja walau sebentar sekalian memperbaiki kesalahan masa lalu. Mungkin setelahnya aku bisa hidup bahagia dan melanjutkan hidup ini dengan tenang.
----