
Taman bunga yang terletak diantara kamar Apollo dan Artemis menjadi tempat pilihan sang dewa matahari untuk bicara dengan Cathy namun saat melewati kolam kecil, pandangan mata Cathy tak sengaja melihat bunga teratai yang nampak indah, kelopaknya yang bewarna emas menarik perhatian Cathy. Ia sepertinya melupakan sesuatu tentang teratai emas.
Apollo yang menyadari arah pandang Cathy saat ingin memulai obrolan tersenyum membuka suara, "Aku dan Artemis menamainya Asthrea. Kami membawanya dari pulau Delos tertepatan dengan insiden melompat dari tebing yang kau lakukan. Awalnya aku mau memberikannya padamu tapi bunga ini lebih cocok ditempat lembab dengan sedikit cahaya matahari." cerita Apollo, ia kemudian teringat sesuatu,
"Kalau tidak salah, Aiden memanggilmu Asthrea kan? Ck! Dasar."
Cathy menoleh. Mengangguk sebagai balasan, mengingat ucapan Poseidon saat dia mengakui namanya yang sebenarnya tapi tidak dengan asal usul aslinya yang berasal dari di mensi lain.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Rhea?" tanya Apollo kali ini menyadarkan Cathy akan tujuan utamanya mengajak sang dewa matahari bertemu.
"Aku bukan Cathy tapi perempuan lain yang terjebak dalam tubuh ini," ungkap Cathy menatap Apollo untuk melihat reaksi pria itu.
Tanpa di duga oleh Cathy, Apollo justru tersenyum, "Aku sudah menduga sebelumnya. Awalnya aku tidak mau percaya karena kau memiliki segala ingatan tentang Rhea tapi terlalu banyak perubahan yang terjadi dan sekarang kau mengakuinya, mau tak mau aku harus percaya kan." balas Apollo.
Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Apollo diliputi kebinggungan setelah pengakuan Cathy. Entah bagaimana itu semua bisa terjadi. Jika memang Cathy bukanlah Cathy lalu mengapa segala informasi tentang Cathy diketahui olehnya.
"Al, maafkan aku." Cathy tertunduk.
"Sungguh aku masih tak paham, Rhea. Mengapa bisa kau mengenalku dan Artemis. Segala informasi tentang Cathy juga sangat tepat.
"Aku juga tak mengerti mengapa ingatan Cathy bisa tiba-tiba ada dikepalaku saat aku masuk ke dalam tubuh ini. Rasanya seperti mau gila saja."
"Pantas saja waktu itu aku tak lagi dapat melihat ramalan tentangmu. Semua mulai masuk akal. Jadi, Cathyrene sudah tak ada lagi ya. Dimana dia? Apa dia mendiami Ellisium."
"Ellisium?" ulang Cathy binggung.
"Euhm, sebuah tempat di dunia bawah untuk para pahlawan atau manusia yang tak pernah melakukan kesalahan semasa hidup."
Entah harus bagaimana Cathy mengatakannya, bahwa saat ini Cathy belum benar-benar pergi. Gadis itu nyatanya masih menetap disana, jauh dalam kegelapan tak tersentuh. Apa Cathy harus mengakuinya. Bagaimana jika Apollo justru meminta Ia mengembalikan Cathy asli ke dunia ini?
"Aku yakin bukan itu saja, pasti ada hal lain yang juga memaksamu mengakui kebenaran yang sudah kau sembunyikan. Katakan padaku apa yang terjadi, Rhea?" sahut Artemis ikut bergabung. Ia sejak tadi mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan dibuat sangat penasaran setelah mendengar pengakuan Cathy.
Cathy memejamkan kedua mata. Artemis berkata benar, sesungguhnya kedatangan Cathy adalah untuk meminta jalan keluar namun saat ini dirinya justru mulai ragu dan takut akan reaksi keduanya nanti.
"Rhea?" tanya Apollo kali ini.
"Apa aku pantas di sebut dengan nama itu kalau kalian sendiri sudah menyadari siapa aku? Aku adalah Kim Yerim. Seorang dari dimensi lain yang terjebak dalam tubuh ini."
"Sejak awal kami sudah tau tapi kami lebih memilih diam menunggu dan menikmatinya lagipula kau cukup menyenangkan."
"Al benar. Segala sesuatu yang terjadi diluar kendali kadang mempunyai alasan."
"Bagaimana jika aku bilang sebenarnya Cathy masih hidup di tubuh ini tapi dia terjebak dalam kegelapan karena ada aku yang sedang menempati tubuhnya dan sekarang dia berteriak di kepalaku memintaku agar mengembalikan kehidupannya?" Cathy menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangan setelah mengakui segalanya didepan Artemis dan Apollo, tak peduli akan konsekuensi yang akan didapatkan, "Maaf kalau aku egois, tapi aku tidak siap untuk ini." tangis Cathy pecah merasa nyaris gila menghadapi masalah ini. Ia benar-benar di perhadapkan pada pilihan yang sulit namun yang pasti dia sudah terlalu nyaman berada ditempat ini.
Apollo dan Artemis saling melempar pandangan. Entahlah, keduanya juga sama binggungnya. Entah kepada siapa mereka harus berpihak.
"Apa kau yakin akan hal itu?"
"Apa kalian akan mengusirku pergi atau tetap membiarkanku mengantikan Cathy?" bukannya menjawab Cathy terus melontarkan pertanyaan.
----
Poseidon mengulurkan tangan mencari keberadaan istrinya namun ketika dia tak menemukannya. Kedua matanya terbuka, terbangun ketika tak merasakan kehadiran Cathy dimanapun.
Kemana lagi dia?
Mau tak mau Poseidon beranjak dari tempat tidur berukuran king size, mencari di setiap sudut ruang sembari menyerukan nama istrinya tapi sekali lagi Poseidon tak menemukan apapun.
Ia kemudian memutuskan untuk berjalan keluar setelah meraih jubahnya. Mungkinkah istrinya itu berjalan sekitar? Astaga, benar-benar tidak ada habisnya membuat ulah.
"Aku tidak tau, Al."
Samar-samar Poseidon mendengar suara istrinya ketika mendatangi kediaman si kembar. Poseidon melihat keberadaan Cathy di taman bersama Apollo dan Artemis, mereka seperti sedang membicarakan hal serius. Poseidon berjalan mendekati ketiganya yang belum menyadari kehadirannya.
Tapi tunggu!
Terdengar suara tangisan kecil dan itu suara Cathy. Apa yang terjadi disana? Mengapa istrinya sampai menangis tersedu-sedu.
"Asthrea.." panggil Poseidon.
Cathy terlonjak ditempatnya, terkejut mendengar suara Poseidon. Hal serupa terjadi kepada Apollo dan Artemis.
"Ada apa? Mengapa kamu menangis?" Poseidon berlutut, menyamai posisinya dengan Cathy lalu mengusap air mata istrinya, "Apa yang terjadi? Katakan padaku?" tuntutnya beralig menatap Apollo serius berharap dapat menemukan jawaban.
Cathy panik. Ia lantas menatap Artemis dan Apollo bergantian seakan memohon melalui tatapan mata teduh agar si kembar tak membicarakan apapun.
"Tidak ada apapun, Rhea hanya mengatakan bahwa dia merindukan rumahnya." bohong Artemis membaca tatapan mata Cathy yang kini tertuju padanya.
Poseidon mendengus, "Sudah ku katakan untuk melupakan mereka, bukan? Mereka tidak seperti yang kau pikirkan, Asthrea."
Cathy menundukkan kepala, mengangguk dalam diam. Tidak ingin mengatakan apapun saat ini.
"Ayo kita kembali ke kamar." ajak Poseidon menarik lembut tangan Cathy menuju kamar.
Sebelum pergi Cathy sempat menoleh memandang Apollo yang tersenyum bersama Artemis seolah menegaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Aku tau kau tidak dapat berisitirahat dengan baik. Minumlah ini agar kau bisa tidur dengan nyenyak." ucap Poseidon sesaat setelah keduanya berada di atas ranjang.
Cathy menatap Poseidon curiga, "ini bukan racun kan?" tanyanya waspada.
"Apa aku terlihat seperti ingin meracuni istriku sendiri?" Poseidon balik bertanya, tak terima akan tuduhan yang dilayangkan oleh istrinya.
"Baiklah." Cathy meraih cawan lalu meminum ramuan tersebut.
"Sekarang tidurlah." titah Poseidon.
----
Tanpa sepengetahuan Poseidon. Cathy mengiyakan ajakan Apollo untuk pergi ke kuil Delphi bersama dengan Artemis untuk melihat ramalan tentang Cathy. Apollo sebagai dewa yang dipuja di kuil tersebut memiliki keistimewaan tersebut tapi seperti yang sudah pernah katakan sebelumnya bahwa dia tak lagi dapat melihat masa depan Cathy sejak insiden malam itu.
Terakhir kali Apollo melihat Poseidon akan turun tangan sendiri untuk menyelamatkan Cathy, maka dari itu dia tidak berusaha mencegah apapun yang memang harus terjadi pada waktu itu. Sekarang, mereka mendatangi Kuil Delphi atau lebih sering di sebut kuil Apollo untuk mencari kebenaran dari para Oracles Apollo yang memiliki kekuatan meramal seperti sang dewa yang dipuja.
"Apa kau yakin ingin melakukan hal ini kepada Rhea?" tanya Artemis menahan lengan Apollo.
"Iya, Art. Mungkin kita bisa mencoba melihat masa depan Asthrea bukan Rhea yang kita kenal." jelas Apollo menatap sosok Cathy yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam.
Oracles sama halnya dengan para pendeta kuil Parthenon yang bisa terhubung langsung dengan dewa yang di puja. Oracles Delphi adalah peramal wanita kepercayaan dewa Apollo. Apapun yang dikatakan oleh mereka dipercaya orang-orang berasal dari sang dewa Apollo.
"Selamat datang, Yang mulia Ratu dari dewa Poseidon, sang penguasa lautan." sapa kepala Oracles menunduk hormat menyambut kedatangan Cathy, "Dewa Apollo telah memberi pesan akan kedatangan Yang mulia, mari ku antar ke tempat khusus, Ratu."
Cathy mengangguk meski dia sedikit merasa terkejut dengan bagaimana cara dirinya di sambut. Oh astaga, Apollo benar-benar berhasil jika ingin mengejeknya.
Serangkaian syarat untuk meramalkan masa depan Cathy di mulai. Membaca setiap garis tangan dan melakukan penglihatan di lakukan oleh Oracles. Sesekali wanita Delphi itu mengernyit, menatap tak percaya ke arah Cathy yang hanya bisa membalas tatapan itu dengan penuh tanya.
Benarkah masa depannya bisa terlihat oleh wanita yang disebut sebagai Oracles? Sejujurnya Cathy tak mau percaya dengan hal seperti ini karena pada jamannya ramalan adalah suatu omong kosong belaka tapi jika ditelusuri lagi. Cathy sempat lupa kalau dirinya berada di dunia di mana segala sesuatu yang tadinya tak mungkin menjadi mungkin.
"Takdir telah berubah. Kedatanganmu adalah untuk mengubah takdir seseorang dan mengukir takdirmu sendiri. Ini adalah kesalahan terbesar."
"Kesalahan?" ulang Cathy.
Wanita delphi menganggukkan kepala, "Ya, aku bisa merasakan sebuah penyesalan dan amarah karena kecemburuan. Kesedihan, air mata, darah." jelasnya dengan mimik wajah sedih melihat masa depan Cathy atau Yerim, "Sejak awal kedatanganmu sudah merupakan kesalahan. Disini buka lah tempat seharusnya kau berada. Kau harus segera kembali ke tempatmu berasal dan mengembalikan takdir seperti seharusnya."
"Tidak! Aku tidak mau kembali." Cathy menggeleng. Jelas menolak, "apa tidak ada cara lain?"
Oracles Delphi nampak menggeleng lemah menjawab pertanyaan Cathy.
Cathy tidak mengharapkan hal ini sebelumnya. Mengapa semuanya harus diluar dugaan, para Oracles justru meminta ia kembali ke dunianya karena sejak kedatangannya, telah merusak takdir yang seharusnya tidak untuk menjadi miliknya.
"Kau masih punya kesempatan. Mereka masih menunggumu kembali, sama seperti seseorang yang tinggal dibagian terdalam dalam dirimu. Ia memiliki keinginan kuat untuk kembali sedang kau memiliki keinginan yang sama untuk bertahan. Itu tidak sepadan."
"Kau tidak berhak mengatakan hal itu padaku!" teriak Cathy. Biarlah saat ini dirinya dianggap sebagai wanita egois. Cathy tidak peduli, yang jelas dia hanya mau tetap disini.
Emosi menguasai Cathy membuatnya dengan cepat beranjak meninggalkan tempat itu. Berjalan keluar menghampiri Apollo.
"Al, apa yang kau lakukan hah. Kau menginginkanku pergi kan? Jawab!! Mengapa kau tega padaku. Aku pikir kau mendukungku. Harusnya aku tau kalian pasti memihak Cathyrene." amuk Cathy. Ia seperti orang kesetanan saat ini karena tak mampu mengontrol emosinya dan justru menyalahkan Apollo atas apa yang terjadi.
Cathy tau dengan pasti cara kerja kuil Delphi adalah dibawa naungan Apollo. Segala hal yang disebutkan tadi pasti dari Apollo sendiri. Cathy tertawa, omong kosong macan apa ini!
Salahkah jika dia hanya ingin tinggal? Persetan dengan Cathy. Kenapa tidak dari dulu saja dia kembali? Mengapa harus sekarang setelah semua permasalahan terutama tentang perasaan Kim Yerim sudah terlalu dalam.
"Rhea."
"Jangan memanggilku. Aku membencimu." hardik Cathy berjalan pergi meninggalkan Apollo.
Artemis datang dari kejauhan karena harus mengurus sesuatu sempat menyaksikan perdebatan antara Apollo dan Cathy.
"Apa yang terjadi?"
Apollo hanya terdiam menatap kepergian Cathy dari tempatnya berdiri saat ini. Yang dikatakan oleh Cathy tadi bukanlah kebenaran yang dapat dipercayai oleh gadis itu. Apollo sama sekali tidak bermaksud membuat Cathy merasa tidak dibutuhkan lagi disana. Dia hanya mencoba mengatakan kebenaran kepada Cathy karena sebagai dewa, Apollo adalah satu-satunya dewa yang selalu berkata sesuai kebenaran.
"Seperti dugaanmu, Art. Dia tak menerimanya."
"Jika melihat dari sudut pandangnya aku juga tidak akan menerima begitu saja. Makanya tadi aku bertanya kan? Apa kau sudah cukup yakin ingin melakukan hal ini?" balas Artemis.
"Aku bisa mengerti ketakutan Rhea saat ini karena aku pernah merasakannya. Itu adalah perasaan yang sama, sekaligus paling buruk ketika kau ingin menghukum Orion. Marah, kesal, sedih, semua menjadi satu."
"Apa cinta memiliki efek mengerikan seperti itu?"
"Ya, saudaraku dan aku harap kau siap menghadapi hal itu." Artemis tersenyum. Ia benar-benar serius dengan harapannya yang satu ini untuk Apollo nya tersayang.
----
Tbc
P.s
Oracles adalah sebutan untuk peramal di kuil Delphi atau bisa di sebut kuil Apollo karena sejak insiden seekor ular besar, disebut Pythia, yang hidup di sana. Apollo membunuh ular itu dengan panahnya dan semenjak itu Delphi menjadi kuilnya. Delphi juga dianggap sebagai pusat dunia. Itu juga salah satu alasan mengapa Apollo menjadi salah satu putra kesayangan Zeus setelah Athena.
Orakel Delfi (Yunani: Δελφοί — Delphoi; atau disebut Pythia) adalah sebuah orakel terkenal di Yunani yang dilindungi oleh dewa Apollo. Mereka terdiri dari imam-imam wanita yang bertugas di Kuil dewa Apollo di kota Delfi (atau Delphi), yang terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air "Castalian Spring". Kota Delfi sendiri disebut-sebut oleh bangsa Yunani sebagai pusat dari tata surya.