
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Suara menggerisik mulai terdengar saat semilir angin bertiup pelan, sementara itu ada dua orang yang terpaku diam saling menatap satu sama lain. Di antaranya terlihat seperti menahan sesuatu, itu adalah Rebecca. Ia sedang menenangkan diri atas sentuhan yang di berikan tuan muda pertama keluarga Aristotle.
Beruntung sekali pria itu memakai sapu tangan, jika tidak? Pasti Rebecca akan merasa mual dan pusing.
"Sekarang jawab pertanyaan ku tadi, dayang Rere," ucapnya sembari melepaskan genggaman yang ada pada wajah wanita itu.
Dia meminta jawaban soal bukti tentang perkataan Rebecca beberapa waktu lalu.
Sebelum menjawab, ia sedikit menghela nafas pelan. Mencari jawaban yang tepat untuk tuan muda pertama.
"Buktinya sudah di ketahui oleh keluarga Aristotle. Anda tahu betul'kan bagaimana persahabatan kedua keluarga saling terjalin, mana mungkin Duke Osmond sehajahat itu ingin merampas kekuasaan yang kalian miliki jikalau anaknya naik tahta."
Penjelasan yang cukup panjang namun memiliki arti yang dalam itu, membuat pria bernetra pink terdiam beberapa saat. Kenapa dayang sepertinya bisa yakin soal Duke Osmond yang tidak akan mengambil daerah kekuasaan mereka?
Ia tertawa kecil sembari menatap bola mata berwarna violet milik Rebecca.
"Kita lihat saja, apakah keyakinan mu itu benar," ujarnya berbalik pergi dari sana.
Meninggalkan Rebecca yang kini bernafas lega. Syukurlah ia tahu tentang rencana busuk pangeran kedua dari novel. Jika tidak, pasti dia akan kebingungan setengah mati.
"Lebih baik aku kembali saja, bukankah ini jadwal belajarnya tuan muda kedua? Jadi aku harus melihatnya langsung."
Rebecca beranjak meninggalkan halaman belakang tempat jemuran. Ingin menemui sang majikan yang pastinya akan mengerjai guru yang sedang mengajarinya.
...∆••∆...
Apa yang di perkirakan Rebecca benar terjadi, sekarang guru yang mengajarinya sedang menunjukkan raut kesal sebab ada beberapa noda bercak di kemerja putih miliknya. Bisa di tebak, Mikel sengaja menumpahkan kopi yang di sediakan untuk sang pengajar.
"Kamu, tolong antarkan tuan pengajar ke kamar kecil untuk membersihkan kemejanya," ucap Rebecca menunjuk pelayan yang berdiri di samping meja belajar.
Sepertinya kejadian ini belum lama terjadi melihat pelayan pengantar masih disini.
Wanita itu mengangguk setuju sembari menuntun guru Mikel ke belakang, sedangkan Rebecca. Ia langsung saja membersihkan kekacauan yang di perbuatan tuanya dalam diam.
"Pembelajaran apa kali ini tuan muda?" tanyanya setelah selesai membersihkan ruangan tersebut.
Netra berwarna Ruby itu kini menatap aneh Rebecca, seperti mengatakan 'memangnya kau paham jika ku katakan?'
"Sejarah kekaisaran," jawabnya ketus sambil menikmati beberapa kue kering yang tersedia diatas meja.
Mendengar jawaban tersebut, perempuan bermarga Dowis itu tersenyum penuh arti. Sepertinya ia tahu harus berbuat apa untuk anak nakal ini.
'Terimalah pembalasan ku ini atas sepatu yang kamu leparkan pagi tadi tuan muda~'
"Oh... sejarah ya? Hmm, soal itu saya sangat tahu!"
Seulas senyuman yang di buat-buat agar terlihat natural di tunjukkan oleh wanita bersurai hitam tersebut. Membuat tatapan jengkel tercetak jelas di mata Mikel.
"Aku tidak menanyakan itu padamu. Lagi pula rakyat biasa seperti mu mana bisa membaca dan menulis."
Senyuman keangkuhan muncul di balik bibir kecil itu, makin membuat Rebecca bersorak-ria dalam hatinya.
'Kena kau bocah.'
"Memang benar sih, tapi apa tuan muda tahu nama kaisar pertama di kekaisaran ini? Lalu sejarah apa yang di lakukan beliau? Tempat-tempat sejarah kuno? Apa anda tahu?"
Pertanyaan berantai di berikan Rebecca untuk Mikel, membuat anak itu tersentak sambil membuang pandang kesegala arah dengan keringat dingin yang jatuh dari pelipisnya.
"Melihat anda yang diam, sepertinya tuan muda tidak tahu apa-apa ya? Padahal rakyat biasa seperti saya yang tidak tahu membaca dan menulis saja tahu. Masa anda yang seorang bangsawan malah sebaliknya. Sungguh memprihatinkan."
Rebecca menggeleng-gelengkan kepala sembari menunjukkan raut sedih yang di buat-buat. Sementara Mikel, ia sejak tadi sudah menggertakan giginya merasa kesal atas perkataan tersebut.
Segera dia memukul kasar meja belajar dengan kedua tangan yang terkepal erat, kemudian menunjuk Rebecca marah.
"Aku hanya lupa saja! Bukan berarti aku tidak tahu ya! Cih! Sekarang, coba katakan sejarah yang kau ucapkan tadi! Jika benar kau tahu itu."
Sudah ia duga Mikel akan berkata seperti itu. Tapi tenang, karena sebelumnya dia adalah pencinta novel love prince walaupun setelahnya sudah tidak, karena kematian Rebecca. Namun dia masih ingat betul alur cerita novel ini.
"Ekhem! Kaisar pertama dari kekaisaran ini adalah Yang mulia Dairoy De Liconia. Karena itu kekaisaran tempat kita tinggali bernama Liconia. Sebab di ambil dari nama keluarga beliau."
Mikel terlihat mengerutkan alisnya merasa panik. Bagaimana bisa pembelajaran sejarah yang tidak ia sukai dan malas di ingat, dengan mudahnya bisa di jawab oleh dayang rendahan seperti Rere?
"Ak-aku tahu kok sejarah itu. Lalu sekarang yang kedua! Sejarah apa yang beliau lakukan. Pastikan kau menjawab dengan benar!" tekannya di akhir kalimat.
Rebecca lalu menghembuskan nafas kasarnya seraya membuka mulut berbicara.
"Beliau memenangkan perang saat melawan penyihir kegelapan dengan pedang cahaya pemberian sang uskup agung. Lalu setelahnya ia melakukan perjanjian sihir supaya para penyihir tidak semena-mena pada masyarakat,
Dan terakhir, beliau mendapatkan beberapa tempat di mana spirit stone berada. Makanya sampai sekarang kita masih menggunakan benda tersebut sebagai alat untuk kehidupan sehari-hari."
'Walaupun jumlah spirit stone sudah berkurang. Tetapi dari cerita yang ku tahu, Killian akan menemukan tempat di mana letaknya spirit stone yang langkah dan begitu melipah. Mungkin dua tahun depan.'
'Sayang sekali aku tidak tahu tempat tersebut, karena tidak di katakan dengan jelas dalam novel. Jika saja sebaliknya? Pastinya aku akan kaya mendadak! Mengingat spirit stone yang harganya mulai mahal. Sebab di import dari negara bagian selatan, karena spirit stone yang berkurang di kekaisaran ini,' benaknya mengangguk-angguk singkat.
Kemudian ia berahli pada Mikel yang sekarang masih terlihat panik. Ini sesuai dengan rencana yang di inginkan Rebecca, membuat anak itu kesal dan berakhir tidak tenang seperti ini.
"Jadi? Apa anda masih mau menanyakan tempat sejarah yang saya ketahui?" tanyanya memastikan.
"Tidak, karna aku sudah tahu. Cih! Tidak perlu mengajariku," bohongnya sambil bersedekap lalu mengembungkan kedua pipi.
"Benarkah?!" timpal Rebecca dengan menunjukkan raut terkejut.
"Kau meremehkan ku ya?! Lihat saja, ulangan sejarah ku pasti akan seratus nantinya!"
Binggoo!
Perkataan yang di tunggu-tunggu oleh Rebecca akhirnya keluar juga. Pastinya setelah ini Mikel akan belajar dengan giat untuk mencapai nilai seratus itu. Dan dia akan terhindar dari rencana busuk yang di susun majikannya ini selama beberapa hari kedepan. Rencana yang bagus.
"Saya akan menantikan nilai seratus anda tuan muda! Jika anda berhasil saya akan berikan hadiah tapi kalau tidak? Yah, hadiah tersebut batal di berikan. Kalau begitu saya undur diri dulu."
Pintu pun tertutup di iringi decakan pelan dari Mikel. Sial! Dia sudah salah berucap, tapi tenang. Dia tidak akan kalah dari rakyat biasa seperti Rere. Akan ia buktikan dia bisa, dari nilai sejarah.
...∆••∆...
Rebecca menyandarkan punggungnya ke kepala tempat duduk kereta kuda, padahal baru dua hari bekerja. Tetapi seperti dua tahun saja. Mental dan fisiknya begitu lelah, namun ia tidak bisa mengeluh demi masa depan yang indah.
Di tambah dia juga sudah memperkirakan bisnis apa yang akan ia bangun di zaman seperti ini, jika nanti uangnya sudah terkumpul banyak. Dirinya sungguh tidak sabar melihat toko yang bertuliskan namanya.
Tetapi sebelum itu, ia harus membeli tanah untuk membangun toko miliknya. Tempat yang banyak di datangi atau di lewati para bangsawan maupun masyarakat.
"Aku harus pikirkan ini dengan seksama. Untung ruginya juga. Pertama-tama cari tahu dulu berapa harga tanah, agar aku bisa menyelipkan beberapa gaji sedikit demi sedikit," monolognya sambil menutup kedua mata sebentar, ingin mengistirahatkan tubuh selepas bekerja.
Sesekali ia tersenyum lelah mengingat kehidupan yang di jalani.
Mau di dunia nyata ataupun novel, nasibnya selalu tidak berubah. Yakni selalu berusaha sendiri. Mungkin Rebecca masih beruntung memiliki keluarga yang begitu menyayangi dia dan menjaganya layaknya sebuah berlian.
Andaikan di kehidupannya sebagai Viely memiliki kedua orang tua seperti pasangan count dan countess Dowis, ia akan sangat bahagia.
Tetapi begitulah kehidupan, ada kurang dan lebihnya. Mungkin ia tidak mendapatkan keluarga seperti yang di miliki Rebecca, itulah kekurangannya. Dan disisi lebihnya, dia bisa menjadi sosok yang kuat dan mandiri.
Sedangkan dari Rebecca, ia memiliki keluarga yang menyayanginya. Namun kekuranganya adalah tidak memiliki hati dan sifat seperti dirinya ini.
"Pokoknya aku harus semangat!" pekiknya seraya mengepalkan kedua tangan di udara.
...∆••∆...
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam itu, Rebecca kini tiba di depan gerbang kota County. Ia segera turun dari kereta kuda saat di rasa kusir sudah memberhentikan benda beroda empat tersebut.
Perempuan itupun bergerak masuk kedalam kota sembari bersenandung pelan. Tidak ada yang ia sukai selain saat senja seperti ini. Karena langit akan berubah menjadi jingga. Warna favoritnya setelah biru.
"Cantik sekali!" ujarnya senang.
Sempat Rebecca mampir membeli beberapa bunga mawar biru untuk ibunya Stella. Pasti beliau akan senang. Sesudah membeli apa yang ia inginkan, langsung saja dia pulang ke kediaman Dowis.
Kali ini dia akan masuk dari gerbang depan, sebab ia yang sudah berganti pakaian sejak dari kediaman Aristotle. Selanjutnya juga akan seperti itu, Rebecca melakukan hal seperti ini karena tidak mau repot harus berputar cukup jauh untuk sekedar ke gerbang belakang kediaman Dowis.
Setibanya ia di depan gerbang kediaman, terlihat dari kejauhan ada dua kereta kuda yang sedang terparkir di halaman rumahnya. Satu di antaranya adalah kereta pemuat barang dan satunya lagi...
"Oh tidak, jangan-jangan Killian datang berkunjung!!"
...~ Mikel cyril Aristotle ~...
...Gambar di ambil dari pin....
^^^To be continued ....^^^