Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Perubahan >



...Happy reading...


.......


.......


.......


Sejak tadi Viely sudah mondar-mandir di dalam kamar, sambil menggigit kuku jarinya merasa cemas.


Berikutnya dia berhenti dan menatap kearah jendela yang terbuka lebar, menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan.


"Tenang dulu Viely .... kamu harus berfikir."


Wanita itu dengan cepat berbalik membongkar laci meja mengambil kertas serta pena bulu yang ada.


"Astaga aku saja tidak terlalu ahli menulis dengan beda kuno ini," ujarnya terkekeh dingin.


Dia kemudian duduk dan menuliskan sesuatu di lembaran kertas tersebut, sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


Yang ia tahu, cerita love prince tidak dia baca sampai selesai, sangking benci terhadap alur tersebut.


"Ah! Sekarang aku menyesal tidak membaca habis cerita itu!" gerutu Viely sambil mengacak-acak rambutnya.


Ia kemudian berhenti dan berfikir lagi, sembari menatap langit-langit kamar yang luas. Konfliknya di mulai saat kematian pengeran pertama, pria tampan yang berbakat dalam kekaisaran.


Karena kematiannya itu, Killian menjadi jarang bertemu dengan Rebecca dan malah dekat dengan Harmonie, sahabatnya yang tengah berduka. Akibat kedekatan mereka, terjadi gosip buruk soal Rebecca yang tidak di cintai lagi.


Padahal Killian juga sibuk karena desas-desus soal ia yang akan mendaftarkan diri sebagai kandidat untuk memperebutkan kedudukan kaisar, agar tidak jatuh pada pangeran ke dua yang rakus akan kekuasaan.


Dalam cerita, Killian masih berhubungan darah dengan keluarga kaisar, karena ibu dari Killian yang sudah meninggal adalah adik dari kaisar.


Jika ia berhasil, Killian bisa di tunjuk menjadi calon kaisar selanjutnya. Dan itu mungkin akan terjadi,


Bagaimana tidak, Killian itu super terkenal dan berbakat. Di tambah nilai wajahnya yang sangat plus, membuat ia menjadi tranding topik di kalangan para wanita bangsawan.


"Aku penasaran wajahnya seperti apa .... ah! Tapi itu tidak penting! Sekarang nyawa ku yang penting, bagaimana caranya agar aku bisa lolos dari situasi ini," pikirnya sambil menggigit kuku jari yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari.


"Aku tahu! Sebuah Perpisahan! Aku tinggal berpisah dengannya dan hidup bahagia, tapi .... pertunangan ini di buat agar keluarga Dowis tidak jatuh. Kalau aku berpisah dengannya, sama saja kehidupan ku akan melarat!"


Viely kembali lagi membanting otaknya berfikir keras.


"Tunggu, ini kapan? Harusnya itu yang ku cari tahu sejak awal!" gumamnya sembari bangkit berdiri.


Buru-buru Viely membuka pintu kamarnya ingin bertanya kepada seseorang, bahwa hari apa ini? beserta hal lainnya.


Saat hendak keluar, ia bertabrakan dengan seseorang yang akan masuk, sampai mereka berdua jatuh ke lantai secara bersamaan.


"Aduh! Sakit ....," rintihnya pelan.


"Nona! Astaga maafkan saya!" ujar seorang wanita dengan pakaian maid, sambil membantunya bangkit berdiri.


Rambut merah sebahu dengan bola mata hitam, tubuhnya kecil terlihat seperti anak-anak padahal umurnya sudah dewasa.


'Itu adalah deskripsi yang ada di Novel, dayang yang akrab dengan Rebecca, Emily. Tidak ku sangkah melihat karakter ini langsung,'


pikirnya menatap lurus Emily tanpa berkedip.


"Nona .... maafkan saya, pasti itu sakit," ucapnya berkaca-kaca seakan sudah melakukan kesalahan besar.


"Kamu tidak salah, akulah yang terburu-buru sampai tidak melihat keberadaan mu," jawabnya sambil melambaikan kedua tangan, sebagai tanggapan tidak apa-apa.


"Tapi .... bagaimana jika terjadi cedera saat jatuh tadi? Maka saya akan di hukum karna itu ...."


Wanita yang bernama Emily langsung meneteskan air matanya, dan Viely jadi dibuat bingung kembali.


"Bisakah kamu diam?" pintahnya mengubah ekspresi wajah menjadi datar.


"Baiklah ....," jawab Emily segera.


Dia lalu menghapus air mata yang ada di ke dua pipi cepat-cepat, dan menunduk dalam diam mengikuti perintah.


"Maafkan saya nona, padahal anda sedang stres karena menghadapi rumor buruk. Tetapi saya malah menyusahkan anda,"


Gumamnya yang masih bisa di dengar. Viely yang penasaran akan perkataannya, langsung menggenggam lengan Emily dan menarik wanita bersurai merah itu masuk ke dalam sambil menutup pintu kamar rapat-rapat.


Ia membimbing Emily ke tempat duduk yang sudah ada sejak lama dalam ruangan kamar. Lalu mendudukkannya di sana.


"No-nona ....," tatapnya bingung dengan kedua bola mata hitam pekat itu.


"Rumor apa yang kau dengar?"


Tanya Viely sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Emily lurus.


Wanita itu seketika berhenti berbicara sembari membuang pandangan ke samping, ia nampak takut untuk melanjutkan perkataannya.


Sedangkan Viely, dia mendesah kesal seraya memegang kepalanya yang berdenyut sakit.


Ternyata sudah hampir di pertengahan cerita, kacau. Padahal Viely sudah mendapatkan ide akan memperbaiki usaha keluarga Dowis sampai berhasil, agar bisa memutuskan hubungan dengan Killian.


"Maaf nona! Hukum saya saja," ucapnya takut.


Emily kemudian bersimpuh seraya memegang kedua kaki Viely gemetar.


"Sudahlah. Sekarang kamu antarkan aku menemui tuan Count."


"Eh apa?"


"Kau tidak mengerti?!"


"Tidak. Saya mengerti. Mari nona,"


Ujarnya panik dan bergegas bangkit berdiri memimpin jalan menuju ruangan kerja Count.


...❅️❅️❅️...


Dalam perjalanan, para pelayan yang sedang membersihkan kediaman sesekali mencuri pandang pada Viely.


'Apa-apaan tatapan mereka itu!' pikirnya kesal.


Karena merasa risih dengan tatapan yang mereka berikan, dia berhenti sejenak dan berteriak di tempat.


"Lanjutan kerja kalian! Jangan memberikan tatapan menyebalkan itu!" bentaknya dengan sorot mata tajam, menatap satu persatu para pekerja kediaman.


Mereka seketika terlihat panik kemudian berbalik melanjutkan pekerjaan bersih-bersih.


"Huft! Ayo jalan," pintahnya pada Emily.


Wanita itupun mengangguk cepat dan kembali bergerak. Ia merasa takut akan sosok Rebecca yang terlihat tidak seperti biasanya.


Begitu mereka tiba di depan ruangan, Emily mengetuk pintu beberapa kali sampai terdengar suara Count dari dalam ruangan memberikan izin untuk masuk.


Ketika pintu di buka, sepasang mata berwarna Hazel menatap Viely terkejut.


"Rebecca. Bukannya kamu dalam proses pemulihan, kenapa kemari? Harusnya kamu memanggil ayah kesana."


Suaranya terdengar tulus dan penuh perhatian, itulah yang di ceritakan dalam novel. Sosok ayah Rebecca, Count Edgar. Karena sikapnya yang seperti ini, anak perempuan yang ia besarkan sedikit manja dan keras kepala. Yah, itulah kekurangan Rebecca.


"Salam Tuan Count, pertama-tama terima kasih karna sudah mau mengkhawatirkan saya," ucap Viely dengan nada sopan.


Membuat Count sendiri merasa bingung akan cara bicara anaknya yang berbeda drastis.


"Tunggu dulu, kenapa bicara mu seformal itu," celah pria tersebut dengan raut keheranan, sambil terus menatap Rebecca.


"Lantas? Harusnya saya berbicara bagaimana? Santai pada anda?"


tanyanya yang masih belum paham.


Padahal dalam novel bangsawan yang sering ia baca, ketika hendak berbicara dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, kita harus menggunakan bahasa sopan. Apakah dirinya sudah salah mengira?


Cepat-cepat Count bangkit berdiri dan bergerak mendekati Rebecca, kemudian meletakkan telapak tangannya di dahi sang anak yang membuat wanita itu terkejut.


"Kamu tidak panas ...., " gumamnya.


Segera Viely menepis tangan Count dan mundur selangkah kebelakang.


Dia mengepalkan tangan menenangkan dirinya yang sempat gemetar akibat sentuhan Count Edgar. Kemudian mulai berbicara kembali pada pria tersebut.


"Jangan mengada-ada tuan Count, saya kesini hanya ingin membicarakan soal bisnis yang akan saya bangun kedepannya,"


Jelas Viely—atau bisa di katakan sekarang dia adalah Rebecca. Tatapan yang penuh percaya diri terukir jelas dalam bola mata Violet itu. Karena baginya hal seperti ini sudah biasa ia lakukan, karna dirinya dulu adalah seorang pemimpin di salah satu perusahaan bisnis ternama.


Lain hal dengan pria di depannya yang terdiam memproses semua yang terjadi. Putrinya yang tidak tahu namanya berbisnis ini mulai merangkai kata gurauwan? Ini pasti akibat dari desas-desus dalam kekaisaran.


"Sepertinya aku harus memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan mu Rebecca," ucapnya menatap intens perawakan putrinya yang terlihat sangat aneh.



...~Rebecca Dowis~...


...Gambar di ambil dari pin...


^^^To be continued^^^