Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Mimpi >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


Rebecca menghela nafas pelan begitu tiba dalam ruang kamar, untungnya tadi pintu belakang kediaman tidak ada siapapun yang berjaga, jadi Rebecca bisa masuk tanpa ketahuan.


Dengan langkahnya yang lemas ia membaringkan diri ke atas tempat tidur, sembari menatap kartu kecil yang bertuliskan alamat tempat kemana dia akan bekerja besok.


Rebecca sekarang begitu senang akan rencananya yang berhasil mendapatkan pekerjaan, di tambah sebelum nyonya itu pergi, ia sempat menanyakan gaji yang akan di terima, yaitu sebesar 20 koin emas besar.


"Cukup tinggi juga yah .... mungkin karena seorang dayang pribadi, jadi gajinya berbeda," ucapnya pelan seraya membalikan kartu alamat di tangannya. 


Sesaat ia menilik tulisan yang ada di belakang kartu, merasa pernah membacanya di suatu tempat.


"Aristotle ....," gumam Rebecca merasa tidak asing akan nama tersebut.


Perlahan dia mendudukkan diri, sambil terus berfikir dengan mata terpejam.


"Astaga! Ini nama keluarga yang terkenal itu bukan!" pekiknya merasa terkejut dengan kedua bola mata yang terbuka lebar.


Dalam novel love prince pernah muncul marga keluarga ini beberapa kali. Karna mereka adalah bangsawan yang hebat, sebab Duke Aristotle adalah jenderal perang ke dua setelah Duke Osmond.


"Tidak ku sangka akan dapat jekpot besar! Artinya wanita tadi itu adalah Duchess! Tapi tunggu dulu, dalam keluarga Duke Aristotle'kan dia memiliki dua anak laki-laki .... jangan sampai aku menjadi dayang untuk anak-nya yang kedua," gumam Rebecca pelan sambil mengernyitkan alis.


Ia berharap agar pekerjaannya nanti menjadi dayang Duchess, bukan yang lain.


Mengingat penjelasan dalam novel tentang anak kedua dari Duke Aristotle yang begitu nakal serta jahil. Bahkan para dayang yang merawatnya langsung menyerah.


Karna itu, setiap sebulan sekali selalu ada dayang yang di ganti atau mungkin mengundurkan diri karena tidak tahan akan sikap anak itu.


Tidak hanya itu saja, dia juga pernah membuat masalah besar di Akademi. Hingga harus di sekolahkan di rumah, namun guru-guru yang mengajarinya hampir sebagian undur diri.


Padahal Duke sudah memberikannya hukuman serta ganjaran, tapi dia tidak jera sedikitpun.


"Jika di hitung-hitung umurnya sekarang baru akan menginjak sepuluh tahun. Ukh! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia besar nanti ....," ucap Rebecca dengan aura imajiner berwarna ungu di sekitar kepala, karna membayangkan kehidupan keluarga Aristotle.


Setelah itu, bergegas dia bangkit berdiri menuju meja rias, sembari membuka laci ke tiga mengambil kertas rencananya.


Rebecca menandai salah satu tugas yang sudah selesai ia lakukan.


Sekarang rencana nomor dua, dia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya lalu membuka usaha kecil-kecilan.


Dia lalu melipat kertas tersebut menjadi empat bagian lalu menyimpannya di laci paling dalam agar seseorang tidak menemukannya.


Ia kemudian berbalik mengganti pakaian sebelum Emily datang mengantar makan siangnya.


...❅️❅️❅️...


Sore ini Rebecca di undang ibunya Stella untuk datang menikmati secangkir teh di halaman belakang.


Di jelaskan dalam novel, bahwa halaman belakang kediaman Dowis cukup besar sehingga Count bisa membangun Green house sebagai tempat di laksanakan-nya acara tea party atau kumpul bersama keluarga seperti sekarang.


Namun, sayangnya hari ini Count tidak bisa hadir dikarenakan sedang mengurus beberapa perkejaan di luar.


'Itu pasti soal Duke Osmond sebagai besan ingin membantu calon keluarga anaknya.'


Alasan dia melakukan hal itu, karena Duke Osmond ingin memperluas wilayah kekuasaan-nya dan mengambil keuntungan dari keluarga Dowis.


Sebab pada kenyataannya, mana ada bangsawan yang menjodohkan anak mereka begitu saja? ingat, ini zaman politik. Di mana para petinggi melempar jala menangkap hasil, untuk menambah reputasi serta kekayaan mereka.


Dan Count Edgar adalah orang yang mereka incar sejak awal, karna kekuasaan County memiliki tanah yang subur jadi banyak yang iri akan hal tersebut.


Karna itulah para bangsawan lain merencanakan hal jahat dan membuat tanah sekitar sini menjadi rusak, akibatnya bisnis pangan Count Dowis mengalami penurunan.


Setelah itu mereka akan pura-pura membantu dan mengambil untung lebih, tapi sebelum itu terjadi, Duke Osmond sudah lebih dulu merusak rencana mereka dan langsung menjodohkan putranya dengan putri Count, Rebecca.


Padahal banyak bangsawan ternama yang mengirim surat lamaran pada keluar Osmond, tapi mereka menolak itu semua.


Mungkin karena apa yang di perlu Duke Osmond tidak ada pada mereka, dan hanya ada pada Count Dowis saja.


Bagaimana tidak, dari segi kekayaan, reputasi, kemiliteran, kepintaran, sudah mereka miliki. Tinggal bisnis pangan yang belum ada.


'Di novel, penulisnya tidak mengatakan siapa pelaku yang membuat jatuh bisnis keluarga Dowis. Itu yang masih membuat ku penasaran.'


Walaupun sisanya membuatnya emosi karena kematian karakter favorit, Rebecca.


"Oleh karna itu aku harus bertahan hidup," gumamnya.


"Hmm? Ada yang kamu katakan sayang?" tanya Countess ketika mendengar suara dari mulut anaknya.


"Ah tidak ibu, saya hanya memikirkan sesuatu ...."


Sudah beberapa tahun ia bersama-sama dengan keluarga Dowis, dan terus mendekatkan diri. Tapi mungkin karena dirinya ini seorang ibu tiri, maka Rebecca tidak mau terbuka.


Perlahan tangan lembut Countess bergerak memegangi tangan sang anak, dengan di ikuti sorot matanya yang sayu.


"Nak, ibu ada di sini sebagai teman, sahabat serta orang tua mu .... jika ada hal yang mengganggu pikiran mu, ceritakanlah itu pada ibu, karna ibu akan mendengarkannya sebagai seorang sahabat," jelas Stella yang membuat wanita di depannya menghela nafas berat.


Dia lalu membalas genggaman tangan Countess sambil berbicara.


"Ini masih masalah kemarin ibu, saya tahu keluarga ini sebenarnya hampir jatuh. Hanya  berkat keluarga Osmond kita bisa bertahan. Tapi ibu, bergantung pada sesuatu itu tidak baik. Jadi, kemarin saya keluar dari kediaman mencari pekerjaan ...."


Penjelasan yang di katakan Rebecca membuat Stella sangat terkejut. Dia memberikan tatapan tidak percaya akan perubahan anaknya kini.


"Rebecca .... kamu .... tidak, lalu di mana tempat mu bekerja?" tanyanya setelah mengalami keterkejutan yang cukup membuatnya tercengang.


Rebecca lalu menceritakan kejadian kemarin pada Stella. Dan sama seperti tadi, wanita itu terkejut kembali. Dia sungguh tak menyangkah gadis di depannya melakukan hal seperti ini.


Mengingat Rebecca dulu adalah wanita yang manja, jadi perkataannya kemarin di anggap angin lewat saja bagi mereka.


"Ibu .... berjanjilah hal ini jangan ibu ceritakan pada ayah, saya tidak mau membuatnya sakit kepala."


Rebecca memandang netra biru ibunya yang masih terus memperhatikan dia.


"Saya hanya ingin membantu, jika misalnya keluarga Osmond bertengkar dengan keluarga Dowis, pasti ibu tahu apa yang akan terjadi .... maka dari itu, uang dari hasil kerja saya akan menyokong kita kedepannya dan kita juga bisa membangun usaha kecil-kecilan," lanjutnya dengan iris mata yang menunjukan keyakinan.


Sempat ada rasa takjub yang muncul dalam diri Countess, karna anaknya seperti datang dari masa depan. Jadi dia bersiap-siap seperti ini.


Stella pun tidak dapat berbuat apa-apa jika melihat tekat dalam diri Rebecca, ia hanya bisa mengangguk setuju dan akan terus mendukung putrinya.


Perasaannya kini berkata bahwa Rebecca akan berhasil. Lalu satu hal yang membuat Countess senang, sekarang Rebecca mau terbuka dengannya ....


...❅️❅️❅️...


Menjelang malam selepas makan bersama dengan kedua orang tuanya, Rebecca beranjak menuju kamar tidur hendak mempersiapkan berbagai macam hal untuk besok.


Dia juga tadi diam-diam mengambil buku tentang cara menjadi dayang baik dalam ruangan perpustakaan, tanpa sepengetahuan siapapun. Dan membawa buku tersebut lalu menyembunyikan itu dalam kolong tempat tidur.


Setibanya Rebecca di kamar, ia langsung menutup pintunya rapat-rapat dan juga menguncinya.


"Huft .... akhirnya bisa sendirian," ucapnya senang sambil bergerak menuju tempat tidur.


Ia lalu menunduk mengambil buku yang di sembunyikan.


Setelah itu Rebecca mendudukkan diri keatas ranjang, sambil bersandar kebelakang, tepat di kepala tempat tidur. Saraya menyalakan lampu yang ada di atas meja.


Dia lalu membuka buku tersebut dan membacanya. Di dalam sini ternyata ada banyak sekali peraturan serta cara untuk menjadi seorang dayang yang baik.


Tapi Rebecca hanya menggambil beberapa bagian yang penting saja, seperti salam hormat, tunduk dan setia pada majikan, rajin dan sabar, seperti itulah hal-hal yang penting menurutnya.


Sesudah membaca hampir 30 menit, wanita bersurai Golden white itu segera menutup cover buku dan meletakkan benda itu di bawah bantal. Dia pun menguap sembari membaringkan diri, bersiap tidur.


Malam ini ia bermimpi sedang berada di dalam ruangan yang begitu gelap dan dingin. Dia bahkan menggigil, dengan rasa sakit di sekujur tubuh.


"Di mana ini ....," gumamnya melirik sekitar ruangan.


Hanya ada setitik cahaya di balik lubang yang ada di dinding ruangan. Serta jeruji besi yang ada di depannya.


"Bukankah ini dalam penjara?" ujar Rebecca yang terdengar serak.


Dia lalu melihat ke bawah, nampak baju compang-camping dengan luka-luka di tangan dan kakinya yang banyak.


"Tunggu .... kenapa begini?! Aku kan sebelumnya sedang tidur. Ah, mungkin saja ini mimpi. Ya, melihat situasi sekarang, sepertinya aku—"


Tiba-tiba pintu penjara yang terbuat dari kayu terbuka lebar, di ikuti sosok bertubuh tinggi yang masuk kedalam.


Ketika Rebecca akan bertanya siapa dia, suaranya sudah tidak bisa di keluarkan. Hal itu membuatnya panik, di tambah orang misterius ini menariknya pergi entah kemana.


Sungguh rasa sakitnya makin bertambah berkali-kali lipat, di tambah wajah orang yang menariknya tidak kelihatan, makin membuat Rebecca ketakutan.


'Rasanya tidak asing .... bukankah adegan ini saat dimana pemeran favorit ku bunuh diri! Tapi, bukankah ini mimpi? Kenapa rasa sakitnya terasa sekali. Lalu apakah pria yang menariku ini adalah Killian!' 


Tiba-tiba di tengah jalan tangan Rebecca bergerak sendiri menarik pedang yang adalah milik Killian.


Dia lalu menggungkap beberapa kata yang tertulis dalam novel dan yang terakhir menikam jantungnya dengan sembilah pedang, dan rasa sakitnya kali ini, tidak dapat di jelaskan lagi.


Seketika itu juga Rebecca membuka kedua kelopak matanya dengan nafas yang memburu tidak tenang. Dia memegang dadanya yang ternyata baik-baik saja, hanya degupan jantungnya yang berdegap kencang.


"Tenanglah .... itu hanya mimpi ....," gumam Rebecca letih sambil menyapu pandang ke arah jendela, ternyata sudah pagi.


Dia lalu turun dari atas ranjang mulai mempersiapkan diri untuk hari ini.


^^^To be continued...^^^