Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Penyelidikan >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


"Ini, barang yang kamu inginkan."


Seorang pria yang duduk di seberang kanan sofa melirik satu kantong sedang berwarna hitam yang ada di atas meja. Dia tersenyum kecil sambil bergerak mengambil kantong tersebut.


Para rekan yang ikut serta hanya bisa duduk diam memerhatikan ketua mereka yang entah sedang melakukan negosiasi apa bersama dengan Tuan muda Osmond.


"Keh, keh, keh. Ku pikir kamu akan melupakannya, Killian." Dia terkekeh pelan kemudian mengirim benda yang ia pegang ke menara penyihir lewat teleportasi sihir.


"Itu ku berikan karna sihir mu berhasil pada ku. Jika tidak, mana bisa aku mengingatnya," Killian berucap sambil menghela nafas pelan, ia pun menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Merilekskan diri sebentar.


"... Tapi, aku tidak memberikan sesuai kesepakatan. Jumlah spirit stone spesial itu hanya ku berikan lima puluh persen dan bukan enam puluh lima persen."


"Heh! Kenapa?!" kagetnya dengan wajah yang cemberut karna mendengar kerugian tersebut. Padahal ia sudah bersusah-payah mengeluarkan sihir terlarang, tapi malah bonusnya terpotong.


Killian melirik sebentar sahabatnya itu, kemudian membuang pandangan ke arah jendela ruangan yang terbuka.


"Karna ... ada seseorang yang berubah karna sihir mu."


Pria bersurai biru terang yang tidak lain Eros sang ketua penyihir utara, mengernyitkan dahi menatap Killian. Ia memikirkan kata seseorang yang di maksud temannya. Setelah menemukan jawabannya, Eros menghela nafas kasar dan ikut menyandarkan punggung ke tempat sandaran.


"Maksud mu ... wanita yang kamu cinta itu?"


Killian mengangguk pelan sambil menatap balik Eros yang sedang menatapnya.


"Perubahan seperti apa?" tanyanya sekali lagi, hendak memastikan sesuatu. Killian pun menghela nafas pelan sambil menjelaskan garis besarnya pada Eros agar tidak terdengar bertele-tele.


Semua perubahan Rebecca serta apa yang ia rasakan saat berbincang dengan wanita itu, tanpa terkecuali di ceritakan olehnya.


"Hmm ... jika ada waktu, aku akan pergi menemui wanita itu. Ingin memastikannya secara langsung."


Eros memberikan jawaban tanpa ada penjelasan, dan itu makin membuat Killian penasaran. Tetapi mengingat dia yang selalu punya alasan jelas dalam maksud perkataannya, Killian jadi tidak menanyakannya dan ingin bersabar menunggu penjelasan dari Eros untuk selanjutnya.


"Ku serahkan dia padamu, tapi jangan sampai kamu melukainya Eros." Ancaman yang di berikan Killian membuat Eros mengangguk patuh, mana mungkin dia berbuat sesuatu yang berbahaya pada tunangan teman lamanya.


Dia tidak ingin rugi lagi dalam mendapatkan spirit stone langkah. Jadi untuk kali ini dia harus berhati-hati dalam bertindak.


"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai bertemu lagi."


Eros melambaikan tangannya sembari tersenyum pada Killian dan menghilang dari sana, di ikuti oleh kedua rekannya yang sejak tadi hanya diam membisu dalam ruangan.


Mereka seperti itu karena belum menerima perintah dari sang ketua untuk berbicara.


Setelah kepergian mereka dari ruangan tamu keluarga Osmond, Killian bangkit berdiri sambil berteriak memanggil kesatria penjaganya yang berada di luar ruangan. Pria itu segera masuk dan membungkuk hormat pada Killian.


"Aaron, kita pergi ke pasar gelap sekarang," ucapnya yang di angguki oleh pria bernama Aaron.


Killian lalu beranjak keluar ruangan, ingin mempersiapkan pakai agar mereka tidak mencurigainya ketika masuk ke tempat terlarang itu.


Kalau Killian tidak salah ingat, dalam beberapa bulan ke depan dia akan di tuduh karena menjual belikan orang tubuh manusia dari para masyarakat serta beberapa bangsawan.


Dan dalang dari semua tuduhan yang ia terima adalah karena perbuatan pangeran kedua, pria yang tidak ingin dia menjadi penerus Kaisar selanjutnya.


Tetapi, karna dulu dia tidak dapat menemukan bukti yang kuat serta pangeran yang sudah menghapus jejaknya, Killian jadi kesusahan dan malah kehilangan sebagian dukungan masyarakat dan bangsawan.


Sebab itulah dia jadi sibuk dan melupakan tunangannya. Dia sungguh menyesalinya.


"Tapi, kali ini tidak akan ku biarkan dia lolos begitu saja. Seringala berbulu domba itu harus ku lenyapkan."


...∆••∆...


Di belakang kediaman Aristotle, Rebecca tengah mengangkat jemuran yang sudah kering ke dalam keranjang pakaian. Ia tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala saat mengingat kejadian di ruangan makan tadi.


Ekspresi mereka sungguh sangat lucu, apalagi raut terkejut yang di berikan ketiga orang laki-laki itu. Awalnya mereka seperti enggan percaya, tetapi begitu meminum susu yang Rebecca buatkan, ekspresi wajah mereka langsung berubah.


"Rebecca kamu benar-benar hebat," gumamnya yang di akhir cengiran kecil. ia lalu berbalik masuk ke dalam ruangan dengan tumpukan pakaian yang menggunung.


Melanjutkan perkerjaan yang tertunda sambil bersenandung pelan karna merasa senang.


Beberapa jam pun berlalu, setelah ia selesai mengerjakan seluruh tugas dayang, Rebecca beranjak pergi untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Dalam perjalanan menuju taman samping kediaman, ia menangkap siluet seseorang yang sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Itu adalah tuan muda kedua, anak menyebalkan yang membuat Rebecca kaya mendadak.


Dia ingin sekali menyapanya, tetapi karena merasa lelah, niat tersebut di urungkan dan Rebecca melanjutkan perjalanannya. Namun itu semua tidak berjalan sesuai kemauannya, kini dia mendengar suara teriakan Mikel yang memanggil namanya.


Salahku memilih jalan ini.


Rebecca berbalik sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Dia lalu melangkah mendekati Mikel yang masih terus menatapnya sejak tadi.


"Salam tuan muda, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya sambil menatap manik merah Mikel.


Dia terlihat menghembuskan nafas pelan kemudian berbicara, "Tidak, hanya saja... besok siang temani aku untuk menghadiri pertemuan antar anak-anak bangsawan. Mungkin seperti pesta tea party."


"Kenapa harus saya?"


Mendengar jawaban yang di katakan Rebecca, Mikel berdecak kesal menatap sengit wanita itu. Terlihat kerutan di dahinya sebelum kata-kata menusuk meluncur dari mulutnya.


"Kau bodoh atau apa, status mu kan dayang pribadi ku! Jadi aku mengajak mu."


Rebecca sempat menampilkan raut sebal tapi langsung saja di tutupi dengan senyuman palsunya.


"Saya tahu, tapi kenapa tidak meminta Nyonya untuk menemani anda?" tanyanya dengan penuh kesabaran.


"Cih! Ibu besok sibuk, karna itu dia tidak dapat menemani ku."


Rebecca mengangguk mengerti, tanpa mengetahui bahwa semua yang di katakan Mikel itu bohong. Sebab, tadi saat Marchioness menawarkan diri untuk menemaninya, anak itu menolak dan berkata ingin pergi bersama Rere saja.


"Hmm... tapi tumben sekali anda mengajak sa-"


"Tidak usah banyak tanya! Kau harus pergi bersamaku besok! Ini perintah."


Melihat Mikel yang sudah menunjukkan raut garangnya, mau tidak mau Rebecca harus mengiyakan permintaan tersebut. Setelah menerima persetujuan, Mikel mengangkat ujung bibirnya tersenyum kecil.


Rebecca yang melirik ke arah majikannya pun mengeryit bingung sambil mengatainya anak aneh.


Pasti ada rencana jahat yang akan ia lakukan besok. Aku harus berhati-hati.


...∆••∆...


Dalam kereta kuda keluarga Aristotle, Rebecca tengah duduk memandangi keadaan luar yang masih terlihat ramai meskipun sudah menjelang sore.


Sesekali Rebecca menghela nafas berat kala mengingat dia harus membuat plan C setelah sampai di rumah nanti. Banyak hal yang ia pikirkan sampai-sampai kepalanya akan pecah saat ini juga.


Dia lalu bersandar kebelakang dengan nyaman, merilekskan tubuh walaupun goncangan luar masih terasa sebab mereka sudah meninggalkan kota yang di pimpin keluarga Aristotle.


Waktu pun berlalu begitu cepat, kini kereta tersebut sedang melewati beberapa kota demi untuk sampai di kediaman Dowis. saat tengah bersantai, nampak dari dalam kereta kuda perawakan seorang pria bertubuh tinggi yang sangat di kenali Rebecca.


"Lho... itu bukannya Killian? Sedang apa dia di kota terpencil ini?"


Rebecca bertanya-tanya dalam hatinya, sembari mengingat kejadian yang ada di novel. Karna tidak ada adegan seperti ini, apalagi pakaian yang di kenakan Killian terlihat seperti sedang menyamar.


Jangan-jangan ada sesuatu yang ia selidiki?


Tetapi... di dalam novel, penyelidikan yang di lakukan Killian selain spirit stone adalah tentang beberapa tuduhan palsu yang mengarah padanya, salah satunya adalah perdangangan organ tubuh manusia yang di buat oleh pangeran kedua, tetapi menggunakan nama Killian dalam proses transaksi. Seperti memalsukan identitas pemilik asli dan menggunakan nama orang lain.


"Tapi itu terjadi beberapa bulan ke depan... lalu hal apa yang ia lakukan sampai harus berpakaian seperti itu?" Rebecca berfikir sejenak setelah kemudian menyuruh kusir untuk berhenti.


Ia lalu turun dari kereta kuda sambil berbincang singkat dengan pak kusir.


"Pak, saya mau pergi sebentar, soalnya ada keperluan di kota ini," jelasnya menatap sang kusir yang kini mengangguk mengerti.


"Akan saya tunggu nona," jawabnya kemudian turun dari kursi pengemudi dan mencari tempat untuk beristirahat.


Sedangkan Rebecca, ia sudah pergi sejak lima belas detik yang lalu. Dia mengejar Killian agar tidak kehilangan jejak.


Setelah beberapa belokan lorong kecil, matanya menangkap sosok Killian yang menutupi wajahnya dengan tudung jubah berwarna hitam.


Terdapat seseorang di samping kiri pria itu, kelihatannya dia adalah kesatria penjaga sekaligus orang kepercayaan dan informan Killian, Aaron namanya.


Rebecca terus mengikuti kemana arah langkah kaki yang di ambil dua orang di depan sana. Dia sesekali bersembunyi di balik tembok dan beberapa barang bekas yang masyarakat tinggalkan di sana, agar mereka tidak mengetahui keberadaannya.


Sampai tiba-tiba dua orang itu berhenti tepat di pertigaan jalan, sambil berbincang. Rebecca yang melihat hal itu langsung mendekat perlahan-lahan untuk mendengar percakapan mereka.


"Apa tuan yakin, pasar gelap itu ada di sekitar sini?" tanya pria bersurai coklat tua pada Killian.


"Iya, ingatanku tidak pernah salah. Setelah ini kita akan ambil jalan sebelah kanan."


Rebecca menutup mulutnya tidak percaya, untuk apa Killian pergi ke tempat terlarang itu? Apa jangan-jangan dugaannya benar, soal Killian yang sedang menyelidiki khusus perdagangan manusia?


Tidak, tidak, aku harus menyelidiki lebih lanjut.


"Memangnya kenapa kita harus kesana?" tanya Aaron sekali lagi. Killian pun menatap bawahannya sambil mengatakan sesuatu yang membuat Rebecca lebih tekejut.


"Karna aku akan mengurus tuduhan yang mengarah padaku. Orang itu lebih licik dari pada iblis."


Tidak mungkin!


Sangking terkejutnya, Rebecca tidak sengaja menendang kaleng kosong yang ada di bawah kakinya, dan membuat suara kegaduhan dalam lorong sunyi itu.


Dua orang yang ada di sana langsung saja berbalik ke asal suara, "Siapa di sana! Keluar atau mati!" Aaron berteriak lancang dan menggema dalam lorong.


Selama beberapa detik tidak ada tanggapan, mereka pun memutuskan untuk berjalan mendekati tumpukan sampah besi di ujung jalan. Tempat Rebecca bersembunyi.


Sementara Rebecca sendiri, ia sedang terdiam kaku di tempat karna rasa gugup yang melanda. Dia hanya bisa menelan kasar ludahnya dengan keringat dingin yang membasahi wajah.


Gawat!


^^^To be continued...^^^