
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Beberapa tahun lalu di keluarga Aristotle. Pagi yang cerah untuk sekedar jalan-jalan menikmati suasana sejuk di taman. Tapi tidak dengan seorang anak laki-laki yang sedang berada dalam ruangan mengikuti pembelajaran.
Dia berpangku tangan menatap serius guru yang sedang memberinya materi politik serta ekonomi. Sesekali ia mencatat hal-hal penting yang di berikan oleh sang guru.
"Baiklah tuan muda, pembelajaran kita sampai di sini saja. Dan jangan lupa untuk terus membaca materi yang sudah saya berikan, agar nilai anda lebih bagus lagi."
"Baik saya mengerti, salam untuk anda."
Setelah selesai dengan pembelajaran pertama, guru kedua pun masuk untuk mengajar kembali. Helaan nafas lelah terdengar darinya, kala setiap hari kegiatannya hanya seperti ini terus menerus. Mungkin waktu liburnya cuma datang setiap akhir pekan saja.
Bagi keluarga Aristotle yang menjunjung tinggi harga diri dan martabat, dirinya juga harus sempurna. Mau itu dari segi fisik, mental dan kemampuan. Mereka sudah di didik dengan keras untuk menjadi penerus yang tidak bercacat cela suatu hari nanti, agar tidak mempermalukan nama keluarga dan status sang ayah.
"Baiklah tuan Mikel, kita akan memulaikan pelajaran sejarah."
Anak laki-laki yang bernama Mikel segera membuka buku selanjutnya sambil memerhatikan guru kembali. Beberapa jam pun berlalu, setelah materi itu selesai, Mikel segera merapikan alat tulisannya sambil memberi salam pada sang guru dan bergerak meninggalkan ruangan.
Siang ini dia akan latihan berpedang bersama dengan kakak laki-lakinya, seperti biasa.
Begitu Mikel selesai berganti pakaian latihan, ia cepat-cepat menuju ke lapangan latihan para kesatria yang ada di belakang kediaman Aristotle.
Dari kejauhan siluet sang kakak sudah nampak dalam pandangan, Mikel tersenyum dan berlari mendekatinya. Menyapa lelaki yang berbeda beberapa hari saja dengannya, bisa di katakan mereka kembar tak seiras.
"Kakak sudah menunggu lama?" tanyanya antusias dan di beri gelengan pelan oleh saudaranya. Di saat yang bersamaan, sang pelatih yang sering datang melihat dan memberi pelajaran tentang teknik berpedang sudah tiba di tempat.
"Salam tuan muda pertama, tuan muda kedua."
Pria berotot itu menunduk dengan tangan kiri memegang dadanya sebagai tanda salam.
"Mari kita mulai saja latihan ini, Sir Eiden." Christof yang adalah kakak dari Mikel angkat bicara pada sang pelatih. Pria itu mengangguk patuh sambil memulai acara latihan mereka.
Semilir angin bertiup di lapangan latihan, menyentuh surai perak dua anak laki-laki yang sedang berduel pedang demi mengasah kemampuan masing-masing. Sembari di pandu oleh Eiden sang pelatih sejak tadi.
Suara pedang kayu yang saling beradu mengisi keheningan tempat latihan, nafas keduanya memburuh dengan keringat yang bercucuran deras dari pelipis.
Tak!
Serangan mutlak yang di berikan oleh Christof membuat pedang Mikel terhempas kebelakang dan menancap tanah. Lagi-lagi dia kalah jika bertarung dengan kakaknya yang sangat ahli dalam berpedang.
"Tuan Mikel, anda harus lebih fokus dan serius lagi." Eiden berucap memberi saran pada anak tersebut. Sebab, sudah beberapa kali dalam latihan berpedang dia selalu kalah telak dari Christof.
Tetapi bagi Mikel itu hal yang wajar, menang ataupun kalah dia akan tetap menerimanya dengan lapang dada.
Namun tidak setelah ini, begitu Duke memanggil setiap guru mata pelajaran untuk melaporkan hasil dan nilai yang di dapati oleh kedua putranya.
Malam itu Mikel di panggil menghadap Duke di ruangan kerjanya, padahal ia sudah bersiap-siap ingin tidur tetapi malah di panggil. Karna penasaran dan dia juga harus memenuhi panggilan tersebut, mau tidak mau Mikel harus mengganti pakai tidurnya dengan kemeja dan celana panjang seperti biasa.
Dia lalu keluar dari dalam kamar menuju ruangan yang di tempati Duke setiap hari ketika sedang sibuk bekerja mengurus beberapa dokumen yang di kirimkan oleh Kaisar.
Tok, tok, tok.
Suara pintu memberhentikan kegiatan menulis Duke, dia pun memberi izin masuk untuk seseorang di luar ruangan. Mikel masuk sembari menutup pintu ruangan kemudian memberi salam pada Duke alias ayahnya.
"Kamu tahu kenapa aku memanggil mu ke sini?"
Nada suara yang terdengar dingin masuk dalam indra pendengaran Mikel saat itu juga. Dirinya jadi berdigik ngeri ketika tatapan tajam dari Duke terarah padanya.
Mikel menunduk dalam mencoba melawan rasa takutnya sekarang.
"Tidak, Ayah."
Mendengar jawaban anaknya, Duke tanpa berpikir panjang langsung melempar setumpuk surat yang tadi sempat ia baca ke arah Mikel.
"Apa yang ku lihat ini?! Kamu gagal dalam sejarah dan berpedang? Sangat memalukan!"
Duke berteriak marah dengan urat kepala yang sudah muncul di kedua pelipisnya. Merasa malu akan nilai serta penjelasan yang di katakan guru Mikel padanya.
"Ini kali pertama keturunan Aristotle mendapatkan anak seperti mu! Contohilah Christof kakak mu! Dia memiliki nilai dan kemampuan di atas rata-rata."
Pria itu menekan semua perkataannya sambil terus menatap marah Mikel.
"Angkat kepala mu dan tataplah aku!"
Segera Mikel mengangkat kepalanya menatap takut wajah Duke yang sekarang terlihat menyeramkan. Dia seperti akan di terkam jika bergerak atau salah bicara.
Duke menunjuk surat yang berserakan di atas lantai ruangan. Di mana lembaran itu mencatat nilai serta tanggapan dari guru pengajarnya yang selama ini membimbingnya.
Mikel mengepalkan kedua tangannya yang terasa gemetar sebelum kemudian berbicara.
"Maafkan saya ayah-"
"Cukup! Pokoknya aku ingin kamu segera menutupi cacat itu dan harus seimbang dengan kemampuan Christof! Jika tidak, kamu tidak layak di sebut keturunan Aristotle."
"Baik ayah."
"Pergilah! Kamu membuat ku sakit kepala."
Duke membentak kemudian mengusir Mikel dari dalam ruangan, anak itupun keluar dari sana setelah memberi salam. Begitu pintu tertutup tubuhnya hampir saja jatuh karena takut akan amukan dari Duke.
Ayahnya sangat menakutkan jika sedang marah.
"Aku harus berusaha lebih keras agar dapat bersanding dengan kakak."
Mulai dari saat itulah Mikel terus berusaha mati-matian pada hal yang menurutnya kurang, seperti sejarah dan ilmu berpedang. Ia kebanyakan tidur larut malam demi menutupi cacat tersebut.
Sampai pada saat penilaian akhir, nilai yang ia dapati cuma berbeda tipis dengan sang kakak. Tetapi Duke tidak mau menerima hal itu, ia mau nilai Mikel setara dengan Christof.
Dan kembali lagi dirinya di banding-bandingkan dengan saudara laki-lakinya yang sempurna dan tidak memiliki cacat cela.
Karna merasa penat, Mikel putuskan untuk bertemu dengan ibunya, sekedar mencari ketenangan. Dia mengetuk pelan pintu ruangan kerja Duchess hingga terdengar suara wanita yang ia rindukan dari balik pintu, menyuruhnya untuk masuk ke dalam.
"Mikel, ada apa kesini?" tanyanya lembut sambil mengajak sang anak untuk duduk terlebih dahulu.
Setelah mereka duduk saling bersebelahan, Mikel mulai menelan kasar ludahnya sebelum berbicara.
"Ini tentang ayah. Padahal aku sudah berusaha, dan nilai yang ku dapat tidak buruk juga, tetapi dia selalu merasa kurang. Aku bahkan bingung harus berbuat apa."
Mikel menjelaskan dengan nada lelah, berharap bahwa sang ibu mau mengerti dirinya dan memberikan solusi. Tetapi yang terjadi malah dia lebih terpuruk. Dengan mudahnya Duchess berkata bahwa apa yang di lakukan Duke benar, sebab keturunan Aristotle haruslah sempurna.
Seketika Mikel bungkam. Dia segera berpamitan dari sana karna tidak mau berbicara lagi dengan Duchess. Benar juga, selama ini ibunya bahkan tidak pernah mengunjunginya untuk sekedar memberikan semangat dan motivasi, kenapa Mikel kepikiran untuk mencari ketenangan padanya?
Dan lagi-lagi ia berusaha sendiri agar keluarga Aristotle tidak di permalukan. Tetapi tetap saja, nilai yang ia dapati selalu berada di bawah Christof. Dan sekali lagi Duke memarahinya sekaligus membanding-bandingkan dia.
...∆••∆...
Menjelang sore Mikel keluar menuju taman utama ingin mengistirahatkan diri sejenak, atau lebih tepatnya merenungkan kekurangan yang tidak dapat ia tutupi.
Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang di balik semak-semak tinggi samping kanannya.
"Kau lihat tadi? Tuan Christof sangat keren saat mengayunkan pedangnya."
"Uhum! Aku juga berfikir begitu, dia memang keturunan Aristotle asli. Tidak ada cacat cela barang sedikit padanya."
"Benar, benar. Tuan Christof tidak sama dengan Tuan Mikel, kata gosip yang beredar sih..., dia si cacat dari keluarga Aristotle."
"Pftt... Bagaimana tidak cacat, semua kelebihan sudah di ambil oleh Tuan Christof. Beruntung sekali yang lahir lebih dulu Tuan Christof, jika sebaliknya? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keturunan mulia ini."
"Hahaha... nanti yang akan di catat dalam sejarah Aristotle adalah cacatnya."
"Hihihihi benar sekali."
Mikel mengepalkan kedua tangannya marah, perasaan kesal yang sudah ia pendam cukup lama akhirnya meledak juga. Di ejek dan di rendahkan banyak orang termasuk keluarganya sendiri, tanpa mengetahui seberapa besar usahanya untuk menjadi seperti yang di inginkan.
"Jika memang begitu seharusnya, maka si cacat inilah yang akan mempermalukan harga diri Duke sialan itu."
Dia menatap bengis ke arah bangunan tempat Duke berada, dan mulai dari saat itulah Mikel melakukan hal yang ia sukai tanpa memedulikan status dan harga diri keluarga.
Baginya itu semua tidak penting, sudah cukup dirinya bersabar menerima penghinaan dari keluarga juga para pekerja kediaman. Sekarang dia akan menjadi si cacat yang suka membuat onar.
Tahun demi tahun berlalu, Mikel menjadi sesosok pria yang selalu mempermalukan harga diri keluarga Aristotle. Dia sudah malas belajar termasuk melakukan hal-hal lainya seperti ilmu berpedang, karna menurutnya itu sebuah kutukan.
Melihat sikap yang tidak berubah dari tahun ke tahun, membuat Duke makin sakit kepala. Mikel berulah seperti anak-anak yang tidak memiliki didikan.
Karena marah, Duke memutuskan untuk memanggil penyihir agar meletakan sihir perubahan pada Mikel sebagai sebuah hukuman, dan sesuai dengan sikapnya yang seperti anak-anak nakal.
Duke meminta pada sang penyihir untuk mengubahnya kembali seperti anak usia 12 tahun. Nanti saat Mikel sudah berfikiran terbuka dan dapat menutupi cacat yang ia miliki, barulah dia di kembalikan pada tubuh semula.
Para pekerja di sana juga di berikan sihir agar melupakan kejadian tersebut dan menganggap bahwa Mikel masih kecil dengan perbedaan umur yang jauh dari Christof.
Tetapi, meskipun sudah di berikan sihir perubahan sebagai hukuman baginya, Mikel tidak berubah dan terus berbuat ulah sana-sini tanpa kenal lelah. Duke jadi pusing di buatnya dan lama-kelamaan dia cuma membiarkan anak itu melakukan hal yang ia sukai.
^^^To be continued...^^^