
‘Eros?’
Rebecca mengerling ke samping saat mendengar suara wanita yang sejak tadi ada di dalam ruangan kamar. Dia lalu menatap Olivia dan kembali membuka suara.
“Katakan padanya aku akan segera turun ke bawah.”
Pelayan itupun mengangguk patuh sebelum kemudian berbalik meninggalkan ruangan majikannya. Sepeninggalan Olivia dari sana, Rebecca langsung berbalik sambil bersedekap dada.
“Kamu mengenalnya? Pria bernama Eros,” tanyanya yang mencoba untuk memastikan sesuatu.
Jika benar roh Rebecca mengenal pria itu, artinya dia harus berpura-pura mengenalinya juga agar tidak di curigai.
‘Tidak, aku hanya pernah mendengar namanya saat Killian berbincang dengan bawahannya. Lebih dari itu, aku belum pernah bertemu bahkan berbincang dengannya.’
Rebecca menaikan satu alisnya setelah mendengar penjelasan yang di katakan roh itu. Di dalam novel, dia tidak pernah menjumpai karakter bernama Eros. Mungkin saja pria itu hanya karakter sampingan, jadi dia tidak menjadi sorotan dalam novel.
Jadi, aku tidak perlu waspada 'kan?
Ia pun mengangguk etis sembari berbalik arah, hendak mengganti gaunnya terlebih dahulu. Karna saat ini wanita itu sedang mengenakan pakaian santai berlengan pendek. Sangat tidak sopan jika ia keluar dan menemui Eros dengan pakaian seperti ini.
Rebecca tidak ingin desas-desus buruk tentang dirinya menyebar luar dan menjadi obrolan para wanita bangsawan di luar sana.
Apa lagi dengan posisinya sekarang yang bisa di sebut sebagai calon ratu? Ya, itu akan terjadi beberapa bulan mendatang setelah Killian berhasil menguatkan posisinya, serta membongkar semua kebusukan Pangeran kedua di hadapan publik.
Seusai mengganti gaun dengan yang lebih baik, Rebecca bergegas turun ke bawah dan lanjut menuju ruangan tamu.
Sesampainya di sana, dapat ia lihat seorang pria bersurai biru tengah duduk santai menikmati kudapan serta teh yang di sediakan oleh para pelayan kediaman. Butuh waktu beberapa detik untuk Eros menyadari keberadaan Rebecca—itu karena dia terlalu terbuai dengan kue yang ada di sana.
Eros pun bangkit berdiri dan memberikan salam ala-ala bangsawan sebelum kemudian bergerak mendekati Rebecca yang masih setia berdiri di depan pintu masuk.
“Hallo, Lady Dowis, senang bertemu dengan anda.”
Ia menunduk hendak menggapai tangan Rebecca, namun dengan cepat wanita itu menyembunyikan tangannya, membuat Eros terhenti sebentar sebelum kemudian tertawa pelan.
“Mari duduk dulu, tuan Eros.”
Rebecca melewatinya begitu saja dan memilih untuk duduk di salah satu sofa ruangan. Eros pun berbalik dan kembali mengambil tempat yang sebelumnya ia duduki.
Kini keduanya saling berhadapan dengan satu meja kotak yang membelah jarak di antara mereka.
“Katakan, apa tujuan anda datang ke sini tanpa mengirim surat pertemuan terlebih dahulu.”
Rebecca menekankan kesalahan Eros yang mana bertindak tidak sopan padanya, dengan datang secara tiba-tiba ke kediaman Dowis. Namun nampaknya pria itu tidak merasa bersalah sama sekali. Lihat saja senyuman aneh yang ia tampilkan sekarang.
Rebecca bahkan merasa tidak nyaman akan keberadaannya. Pria di hadapannya ini seperti mengeluarkan aura mengintimidasi lewat senyuman itu.
‘Berhati-hatilah, aku tidak tahu dia baik atau tidak.’
Mendengar perkataan roh Rebecca asli yang berada di samping tubuhnya, mengundang sang puan untuk mengangguk kecil sebagai tanggapan tanpa memutuskan pandangan pada Eros.
“Astaga, saya tahu alasan Killian merasa resah akhir-akhir ini. Ternyata memang ada orang asing di dalam sana.”
Kata-kata yang di tujukan padanya, entah kenapa membuat Rebecca sedikit terkejut. Apa-apaan kalimat 'orang asing' itu? Jangan katakan bahwa dia mengetahui siapa Rebecca yang sebenarnya. Tetapi, ia tidak ingin terlalu menduga-duga, bisa saja itu hanya sebuah kata tanpa alasan apapun.
“Apa maksudmu, tuan? Perkataan anda terlalu aneh untuk di mengerti. Juga, ada apa dengan Killian? siapa yang ia resahkan?” tanya Rebecca beruntun. Ia mencoba untuk tetap tenang tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali.
Eros lantas tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Entah apa yang lucu dari kata-katanya barusan.
“Lady, melihat anda yang menutupi kebenaran yang sudah kuketahui dengan ekspresi polos itu, membuat sesuatu menggelitik dalam diri saya.”
Ia menumpukan kedua siku ke atas paha. Mengubah posisi tubuhnya menjadi sedikit condong ke depan.
Sambil berbisik, ia berkata, “Sayang sekali banyak orang yang tertipu dengan sikap anda. Tapi, berbeda dengan saya yang langsung mengetahuinya—”
Manik matanya seketika membola saat itu juga. Ternyata dugaannya yang tidak ingin ia pikirkan lebih lanjut, langsung di jawab oleh Eros.
Jadi pria ini tahu siapa aku yang sebenarnya? Tapi bagaimana bisa!
Rebecca membatin. Ia mencoba untuk berfikir secara rasional terlebih dahulu. Karna jika menanggapinya dengan emosi, maka dia tidak akan tahu siapa Eros yang sebenarnya.
“Memangnya, kebenaran apa yang sedang ku sembunyikan?”
Ia memicingkan matanya pada Eros. Menunggu reaksi apa yang akan di berikan pria itu. Akan tetapi, sosok di hadapannya malah tertawa kencang sambil memukul-mukul pelan pahanya sendiri.
"Hahaha! Lucu! Lucu sekali! Meskipun sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini, anda masih saja bertanya? Apakah anda sedang memancing saya untuk mengatakan identitas ku yang sebenarnya?”
Rebecca tidak mengelak ataupun menjawab. Ia tetap diam sambil terus menatap Eros dengan tatapan yang sama seperti tadi. Hal tersebut membuat pria itu berdecak kesal seraya menyunggingkan senyuman miring.
“Saya adalah kepala penyihir agung yang sudah hidup cukup lama. Jadi, tentu saja saya mengetahui siapa anda yang sebenarnya," jelasnya sembari mengambil segelas teh dan menyeruputnya perlahan-lahan sebelum meletakkannya kembali ke atas meja.
Tak Rebecca sangka bahwa sosok Eros akan menjadi pemeran pembantu karakter utama dalam novel.
“Lantas, apa yang akan anda lakukan setelah mengetahui siapa 'aku' yang sebenarnya?”
Eros kembali tersenyum. Dia kini memangku salah satu kakinya sembari bersedekap dada. Pandangan matanya begitu intes menatap Rebecca.
“Tentu saja melaporkannya pada Killian, dia begitu khawatir akan hal ini. Mungkin jika dia tahu yang sebenarnya, Killian akan meminta ku untuk mengembalikan roh yang asli ke dalam tubuh itu.”
Ia kembali tersentak saat mendengar penjelasan Eros. Jika mereka benar-benar melakukan itu, hidupnya di dunia novel ini akan segera berakhir. Bahkan semua perjuangan yang ia lakukan selama menempati tubuh Rebecca, akan menjadi sia-sia.
Tidak! I-itu tidak boleh terjadi! Aku ... Aku sudah mencintai kehidupan ini. Tidak akan kubiarkan mereka melakukannya!
“Apa Lady tidak merasa malu? Anda sudah mengambil ahli tubuh Rebecca dan menipu semua orang dengan berperan menjadi dirinya.”
Seperti bisa membaca isi pikirannya, Eros melontarkan kalimat yang menusuk ke dalam relung hatinya. Rebecca lantas menunduk dalam sembari meremas gaun simpel berwarna pastel yang membalut tubuhnya.
“Lalu, bukankah roh Rebecca asli ada di samping anda? Tanyakan bagaimana perasaannya saat anda menempati tubuhnya? Apa lagi sampai berkencan dengan tunangannya sendiri.”
Untuk kesekian kalinya dia tersentak. Sambil mendongak, ia menatap Eros penuh tanya. Bagaimana bisa pria itu dapat melihat roh Rebecca asli? Lalu apa-apaan dengan perkataannya itu?
Dia terlihat sedang memojokkanku di hadapan Rebecca.
“Tidak! Rebecca bahkan tidak keberatan dengan aku yang menempati tubuhnya! Anda tidak bisa melakukan ini padaku! Jangan berbicara seolah-olah aku penjahatnya di sini!”
Ia memekik di akhir kalimat. Memandang Eros dengan tatapan tidak terima. Perasaan khawatir seketika menggerogoti hatinya saat melihat pria itu masih menunjukkan senyuman yang sama seperti tadi.
“Benarkah? Mungkin anda tidak tahu cerita yang sebenarnya. Tapi Killian rela memutar waktu hanya untuk menyelamatkan Rebecca. Seseorang telah menipu mereka di masa lalu untuk membalaskan dendamnya pada Killian—”
‘Apa maksud mu! Killian memutar waktu? Jelas-jelas saat itu dia menarikku untuk di eksekusi! Killian bahkan tidak menginginkanku! Dia lebih memilih Harmonie! Aku mendengarnya secara langsung saat dia berbincang dengan Aaron!’ teriaknya di akhir kalimat.
Eros lantas melirik ke samping kiri sang puan saat mendengar roh itu berbicara kembali setelah sekian menit berlalu. Ya, sebenarnya dia bisa melihat bahkan mendengar apa yang dikatakan Rebecca asli sejak tadi. Akan tetapi, dia lebih memilih berpura-pura tidak tahu terlebih dahulu.
Sementara wanita yang adalah Viely, hanya bisa terdiam saat mendengar fakta yang di ucapkan Eros padanya. Bagaimana bisa alur cerita Love Prince melenceng sangat jauh dari kisah aslinya?
Kejadian ini tidak di jelaskan dalam novel. Dia bahkan tidak tahu jika pemeran utama pria akan melakukan perputaran waktu untuk menyelamatkan tunangannya sendiri.
Aku ... Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ini benar-benar membuatku sakit kepala.
“Ada kesalahpahaman di sini. Sosok yang mendatangi anda saat itu bukanlah Killian, melainkan Marquess Rone yang sedang menyamar.”
Viely melirik sekilas ke arah Eros. Ternyata pria itu bisa mendengar apa yang Rebecca katakan. Dasar picik.
‘Apa? Tidak mungkin...’
Mendengar suara Rebecca yang terdengar skeptis, mengundang Viely untuk menoleh ke samping kiri. Lantas, Eros segera menjelaskan semua kebenaran yang terjadi ketika mendengar suara Rebecca yang seperti tidak mempercayainya.
Di mulai dari percakapan dengan Aaron, lalu Marquess Rone yang menjebak Killian serta rencana licik yang ia susun untuk membuat Rebecca meracuni Harmonie, dan terkahir tentang perputaran waktu yang di lakukan Killian setelah Rebecca meninggal. Dia menceritakannya secara terperinci, yang mana membuat Viely terdiam mendengar kenyataan itu.
Dia ingin menyangkal semua yang dikatakan Eros. Namun, entah kenapa, mulutnya terasa kelu untuk sekedar menyuarakan sejumlah kalimat yang ada di dalam pikirannya.
“Killian sangat mencintaimu, Rebecca. Karna itu, aku akan mengembalikanmu ke tubuh aslimu agar kalian bisa hidup bersama.”
Ucapan Eros membuatnya mematung di tempat. Rasa terkejut yang ia alami seperti menghantamnya tanpa tanggung-tanggung. Dia lantas melirik ke arah Rebecca. Berharap bahwa wanita itu tidak menyetujuinya.
‘Aku ... Aku ingin menemui Killian dan meminta maaf! Aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengannya! Karna aku sangat mencintainya—’
Brak!
Viely memukul keras meja yang ada di hadapannya sembari bangkit berdiri. Tatapan matanya berkaca-kaca saat mendengar jawaban Rebecca.
“Tidak! Itu tidak akan terjadi! Ka-kalian tidak bisa mengusirku dari tubuh ini! Aku yang sejak awal di tarik ke dalam dunia novel dan menempati karakter Rebecca—”
"Apa yang anda katakan Lady? Tubuh itu bukan milikmu, juga—”
“DIAM! KALIAN TIDAK AKAN BISA MEMAHAMI SEMUA PERJUANGAN DAN USAHA YANG KULAKUKAN UNTUK BERTAHAN HIDUP!! LALU SEKARANG KALIAN MAU MERAMPASNYA?! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ITU TERJADI!”
Viely ingat dengan jelas apa yang ia lakukan untuk mengikis takdir buruk yang mengikat karakter Rebecca sejak awal. Dia bahkan rela mencari uang dan menyusun segala rencana untuk menolong keluarganya yang terpuruk, serta membantu Killian agar pria itu tidak membunuhnya suatu hari nanti.
Sepanjang malam ia selalu merasa takut akan apa yang akan terjadi besok. Bahkan, bayangan kematian yang terus muncul dalam tidurnya, membuat Viely harus terjaga hingga pagi.
Tapi apa ini? Penjelasan konyol yang di katakan Eros tentang Marquess Rone-lah yang menyamar sebagai Killian untuk mengeksekusi Rebecca, berserta kenyataan lain yang ia dengar. Semuanya itu tidak bisa di terima begitu saja olehnya.
Ini bukan akhir yang ia inginkan. Menyerahkan apa yang selama ini dia perjuangan secara cuma-cuma? Dia bukan pemeran utama wanita yang baik hati.
Meskipun tubuh ini bukan miliknya, dan dia terdengar jahat karna sudah mengambil semua yang di miliki Rebecca tanpa mau melepaskannya, hati kecilnya tidak rela jika wanita itu harus mengambil semuanya.
Padahal aku hanya ingin bahagia. Tidak bisakah aku sedikit egois untuk kali ini saja?