
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Suara sepatu yang menyentuh jalan setapak terdengar saling bersahutan satu sama lain. Mereka baru saja tiba di gedung pertemuan dengan selamat, terkecuali Rebecca. Dia sedari tadi memegang pinggang yang terasa nyeri.
"Kau terlihat seperti nenek-nenek berumur seratus tahun, jika berjalan seperti itu."
Rebecca berdecih pelan menatap Mikel kesal, tidak bisakah ia melihat anak ini tutup mulut untuk beberapa jam saja? Kenapa dia selalu menyebalkan ketika membuka mulut.
Tidak Rebecca! Kau harus semangat, anak inilah satu-satunya jalan untuk mu mendapatkan uang lebih banyak!
Rebecca mengepalkan satu tangannya di samping wajah dengan kobaran api imajiner di matanya yang sangat membara. Mikel yang sejak tadi melirik Rebecca menatap aneh perempuan itu sambil mengatainya 'tidak waras'.
Di langkah terakhir mereka berhenti di depan pintu besar berwarna cokelat pastel dengan dua prajurit yang berjaga di sisi kiri dan kanan pintu. Segera mereka membukakan jalan untuk Mikel, Rebecca serta dua kesatria untuk masuk ke dalam.
Hal yang pertama kali mereka lihat adalah dekorasi yang mewah dan berkelas. Lain dari pada itu ada banyak anak perempuan dan laki-laki yang membuat kelompok masing-masing untuk berbicara.
Mikel yang melihat keramaian itu cuma berdecak pelan dan berlengan pergi ke salah satu tempat kosong.
Rebecca dan yang lain cuma bisa mengikuti dalam diam dari belakang, terlihat sekali bahwa Mikel tidak menyukai tempat ramai.
Anak yang malang...
"Tuan muda, bagaimana jika anda mencari teman sebaya. Atau tidak mencari seorang gadis untuk di jadikan kekasih," lontar Rebecca panjang lebar membuat telinga Mikel berdenyut sakit.
"Bagaimana jika kau saja yang mencari teman dan seorang kekasih?"
Rebecca tersentak saat mendengar hal itu, dia pun tertawa miring sambil menunduk di samping Mikel dan membisikkan sesuatu.
"Tapi saya sudah punya teman dan seorang tunangan tuh."
"Ap-apa? Pelayan seperti mu sudah bertunangan? Ck, pasti tunangan mu itu adalah seorang pria tua berwajah jelek dengan perut besar."
Mikel mencibir sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Rebecca yang menerima hinaan tidak benar itu malah jadi kesal sendiri, bagaimana bisa Killiannya di bilang pria tua jelek berperut besar?!
"Asal Tuan muda tahu--"
"Selamat sore tuan muda, senang bertemu dengan anda."
Seorang gadis cantik dengan gaun berwarna putih memberi salam pada Mikel. Rebecca yang melihat hal itu jadi tertawa banyol sembari memundurkan langkahnya ke belakang, memberi ruang untuk mereka berdua.
Meskipun majikannya adalah anak yang terkenal sangat nakal, tetapi di kalangan para gadis bangsawan Mikel cukup terkenal. Sebab ketampanan anak itu mirip seperti Duke Aristotle.
Lebih baik aku jalan-jalan sebentar.
Dia pun berbalik pergi dari dalam ruangan, menitipkan Mikel pada dua kesatria tadi.
"Ahh... Akhirnya aku bisa bernafas."
Rebecca berkata lantang sambil mengelilingi gedung pertemuan yang terbilang cukup besar. Sedikit ia bersenandung pelan sembari menyapu pandangan ke sekitar taman yang ada di samping bangunan.
Terlihat ada beberapa pelayan yang sedang duduk di atas risban samping kolam ikan. Ada juga yang bersimpuh di bawah pohon sambil berbincang-bincang.
"Ramai sekali di sini," gumamnya menatap sekeliling.
Dia lalu beranjak membawa tubuhnya ke dalam taman tersebut, sembari mencari tempat duduk kosong. Setelah mendapati apa yang Rebecca cari, ia langsung saja mendaratkan bokongnya ke atas risban dengan nyaman.
Menutup mata sambil menghirup udara segar yang sangat melegakan. Jarang-jarang dia dapat bersantai seperti ini, jika Rebecca punya kekuatan sihir pasti dia akan memberhentikan waktu agar punya jam istirahat yang panjang.
Saat tengah tercenung mengagumi indahnya taman bunga, sayup-sayup suara para pelayan yang sedang duduk bergosip terdengar. Mereka seperti membicarakan hal yang serius.
Rebecca segera mempertajam telinganya dengan mengesampingkan surainya ke belakang telinga.
"Oh jadi begitu ya... aku juga tidak menyangka bahwa Marquess Rone akan berpindah faksi."
Secepat kilat Rebecca menoleh ke arah suara, merasa terkejut dengan apa yang ia dengar. Tanpa menunggu lebih lama lagi dia segera bangkit berdiri hendak mendekati kumpulan penggosip itu.
Namun langkahnya tertahan saat mendengar suara Mikel dari belakang yang memanggilnya.
"Tuan muda? Kenapa anda kesini?" tanya Rebecca bingung.
"Ayo pulang, aku sudah bosan di sini."
Setelah berucap seperti itu, segera dia berbalik meninggalkan Rebecca yang bingung harus berbuat apa.
Dia pun berdecak kesal seraya mengikuti sang majikan yang sudah berada jauh di depan bersama dua kesatria penjaga.
...∆••∆...
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar memenuhi ruangan kerja Killian, lelaki itupun memberi izin masuk untuk orang yang berdiri di depan pintu ruangannya.
Ternyata itu adalah Aaron. Dia menunduk sopan sembari menyerahkan surat laporan hasil penyelidikan kemarin pada Killian.
Bergegas Killian mengambilnya dan membuka surat tersebut. Ia membaca setiap kata yang terserah di sana dengan hati-hati.
Para kesatria bayangan melaporkan bahwa selama seharian penuh mereka tidak menjumpai ciri orang yang Killian lihat waktu itu. Mereka menebak bahwa orang yang menjadi targetnya tidak datang setiap hari ke sana.
Killian menghela nafas pelan sambil menyerahkan surat itu pada Aaron yang terlihat penasaran. Setelah selesai mengisi rasa penasarannya itu, Aaron menatap lama tuannya dalam diam.
"Apa yang akan anda lakukan?" tanyanya serius.
"Kita tunggu saja kabar selanjutnya, karna saat ini aku sedang berusaha untuk menarik kembali para pendukung yang berpindah faksi dan mengumpulkan relasi."
"Keluarga Rone itu tidak tahu diri! Apa mereka lupa, siapa yang membantu saat keadaan mereka sedang berada di titik terendah?!" geram Aaron dengan tangan yang sudah terkepal erat.
"Tenanglah Aaron, aku juga tidak berharap akan di bantu balik oleh mereka. Karna saat itu mendiang Duchess memberikan bantuan dengan tulus tanpa pamrih," jelasnya menatap foto sang ibu yang ada di atas meja kerjanya.
Di samping itu ada foto Rebecca dengan senyuman cantiknya. Dua wanita yang berharga untuk Killian.
"Tapi tetap saja Tuan muda! Mereka harusnya tahu diri sedikit. Kejayaan mereka sekarang kan, cuma karna mendiang Duchess."
"Aku tahu kamu marah, tetapi itu tidak akan membuat mereka berbalik arah lagi. Makanya aku akan mencari relasi lebih banyak dari sebelumnya, dan aku akan membuat bisnis spirit stone seperti di masa depan."
Aku juga harus mengungkap kejahatan pangeran kedua tentang penjualan organ tubuh manusia. Jika tidak, maka akan sangat bahaya untuk ku bertahan, lanjutnya dalam hati sambil menghela nafas pelan.
"Masa depan? Maksud anda?" bingung Aaron.
Killian hanya tertawa kemudian menyuruh Aaron untuk meninggalkan dia sendiri. Pria itupun mengikuti kemauan majikannya dan segera keluar dari dalam ruangan tersebut.
Setelah kepergian Aaron, Killian menyandarkan punggungnya ke tempat sandaran dengan mata yang tertutup. Dia mengernyit heran, padahal di masa lalu Marquess Rone tidak berahli faksi dan tetap mendukungnya.
Tetapi sekarang? Malah berbeda drastis, apa karna dia mengubah sedikit alurnya, jadi ada beberapa kejadian yang melenceng jauh?
"Jika sudah begini, aku harus bersiap-siap. Bisa jadi Pangeran memiliki rencana baru lainnya."
...∆••∆...
Dalam kereta kuda keluarga Aristotle, Rebecca tengah duduk diam memikirkan keanehan yang terjadi dalam novel love prince ini. Sudah banyak sekali perubahan alur yang terjadi tanpa di duga-duga.
Apa semua gara-gara aku? Atau... Killian?
Rebecca berfikir keras. Memang saat ia datang ke sini tidak pernah dirinya bertemu atau berbincang singkat dengan pria itu. Tetapi Killian-lah yang datang menemuinya dengan sikap aneh yang tidak sama seperti dalam novel.
Pasti ada sesuatu yang terjadi. Aku jadi menyesal karna tidak membaca habis cerita itu.
Ia mulai menggigit kuku jari merasa panik akan situasi tersebut. Mikel yang melihat tingkah-laku dayangnya yang aneh segera berpindah tempat dan menarik tangan Rebecca secepatnya.
"Apa yang kau pikirkan!" bentaknya yang membuat Rebecca mengernyit bingung.
"Tidak ada apa-apa." Rebecca menjawab cepat sambil menarik tangannya dari Mikel.
"Tidak ada apa-apa? Bagaimana dengan kuku tangan mu yang terluka," jelasnya sambil menunjuk kuku ibu jari Rebecca yang mengeluarkan darah.
"Eh, aku tidak sadar—"
"Dasar bodoh. Kemarikan tangan mu."
Mikel menarik paksa tangan kiri Rebecca yang terluka. Dia kemudian mengeluarkan sapu tangannya dari kantong kemeja dan membungkusnya pada jari Rebecca.
Ia yang melihat perhatian kecil Mikel seketika tersentuh. Mungkin jika Rebecca memiliki adik, rasanya akan seperti ini. Perempuan itupun langsung menarik Mikel ke dalam pelukan hangatnya.
"Astaga Tuan muda ku sangat perhatian ternyata!" ucap Rebecca sambil mengelus surai perak Mikel.
Ia lantas mendorong kasar tubuh Rebecca dengan wajah yang memerah seperti tomat.
"Berani sekali kau memeluk ku!!" pekiknya yang membuat Rebecca menutup dua telinganya dengan telunjuk jari tangan.
"Ah! Maafkan saya Tuan muda. Tadi itu reflek semata saja."
Mikel mendengus kesal dan berpindah tempat duduk lagi. Rebecca yang melihat majikannya cuma bisa meringis pelan. Hampir saja dia bernasip seperti terakhir kali, yakni berjalan kaki selama sejam.
"Emm... Bagaimana dengan pembicaraan anda bersama gadis cantik tadi?" Rebecca berujar mencairkan suasana yang terasa beku. Mikel meliriknya sebentar sebelum kemudian menjawab.
"Membosankan. Ku pikir di sana ada hal menarik. Tapi ternyata cuma sekumpulan orang bodoh saja yang datang."
"Tapi ... Anda kan datang ke sana juga, " timpal Rebecca.
Dengan tatapan sinis ia menatap sang dayang. "Maksud mu aku bodoh ya!"
Rebecca hanya mengendikkan bahu membuang pandangan ke samping. Bisa bahaya jika pembicaraan 'bodoh' ini berlanjut.
"Hei! Katakan maksud mu tadi!"
Rebecca terkejut mendengar Mikel yang berteriak meminta jawaban. Wanita itupun menghela nafas berat sembari menatap tuannya malas.
Detik selanjutnya Rebecca menunjukkan raut dan tatapan polos pada Mikel.
"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan."
"Ck, jangan berpura-pura bodoh Rere!" geramnya dengan kedua tangan yang sudah terkepal erat.
Di saat yang bersamaan, sebuah anak panah masuk ke dalam kereta kuda dan tertancap di tengah-tengah mereka.
"Tuan muda! Menunduk!"
Rebecca berteriak sembari bergerak cepat menutup jendela kereta kuda rapat-rapat. Setelah teriakan Rebecca, kereta kuda yang mereka naiki berhenti secara kasar membuat goncangan dalam kabin.
Perempuan itu lantas memberi isyarat diam untuk Mikel. Dia lalu bergerak mengintip di balik tirai jendela yang tertutup. Di sana terdapat tiga orang berpakaian serba hitam sedang di hadang dua kesatria Aristotle.
"Serahkan anak yang kalian bawa itu!"
Teriakan salah seorang berbaju hitam terdengar sampai ke dalam kabin. Rebecca mengernyit bingung, kenapa mereka mau menangkap Mikel?
Tiba-tiba Rebecca teringat akan pembicaraannya bersama dengan Duchess siang tadi, bahwa ada banyak penculikan anak akhir-akhir ini.
Jangan-jangan mereka...
^^^To be continued...^^^