Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Kebenaran >



Tok, tok, tok


Suara ketukan itu menginterupsi pemilik ruangan untuk berhenti sejenak dari aktivitas menulisnya.


Dia lantas menoleh ke arah pintu yang terbuka dan mendapati sosok sang istri yang tengah tersenyum.


"Tumben sekali kamu mengunjungi ku sepagi ini, ada apa?"


Tutur kata yang lembut terdengar kala wanita itu sudah berada di hadapannya. Kelihatan sekali bahwa ada hal penting yang ingin di bicarakan.


"Sayang, ini tentang dayang Rere."


Duke lantas mengernyit bingung saat mendengar perkataan istrinya. Apa lagi yang di lakukan wanita itu sampai istrinya harus menghadap seperti ini.


"Memangnya dia kenapa?"


Duchess terlihat sedikit ragu dalam beberapa saat. Namun, dia tetap memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin siang.


Di mulai dari pengunduran diri sampai alasan-alasan lainnya yang Rere katakan, semua di jelaskan Duchess secara terperinci.


Duke sampai tak menyangka bahwa dayang keras kepala itu malah mengundurkan diri secara tiba-tiba, tanpa ada sangkut pautnya dengan Mikel.


"Lalu, apa kamu sudah memberikan ramuannya? Apa anak itu sudah tahu?"


Duchess mengangguk sekilas saat mendengar pertanyaan pertama yang di lontarkan suaminya.


"Tapi ... Soal Mikel, dia sepertinya belum tahu," ucapnya menatap Duke.


Melihat Mikel yang sejak kemarin tenang-tenang saja, membuat Duchess sadar bahwa Rere tidak mengatakan apapun padanya.


Dia juga sebenarnya agak tidak enak hati mengatakan hal ini pada Mikel. Mengingat anak itu yang sangat dekat dan terlihat menyukai Rere, pastilah dia akan marah besar setelah mendengar pengunduran diri dayangnya.


Di tambah soal ramuan pelupa yang di campurkannya ke dalam teh kemarin, dengan tujuan agar Rere tidak mengingat sosok Mikel, makin membuatnya khawatir.


Duchess sebenarnya tidak ingin melakukannya, tapi karna Duke yang bersikeras untuk memberikan ramuan pelupa pada para dayang yang mengundurkan diri, ia tidak bisa menolaknya begitu saja.


Entah apa yang Duke pikirkan sampai melakukan hal sejauh ini. Mungkin saja dia tidak mau Kaisar dan orang-orang tahu apa yang telah ia perbuatan. Tapi, bukankah saat Mikel akan di sihir kembali seperti semula, dia akan tetap ketahuan?


"Kamu melamun."


Duchess sontak terkejut saat mendengar suara Duke yang terdengar datar.


"Maaf. Aku hanya memikirkan kenapa kamu harus memberikan ramuan pelupa pada para dayang Mikel yang mengundurkan diri."


Duke lantas menghela nafas pelan. Menatap intens istrinya. "Hanya tidak ingin gosipnya tersebar ke seluruh Kekaisaran."


"Tapi, bukankah itu percuma saja? Mereka pasti akan tahu nantinya. Apa lagi ada beberapa bangsawan yang sudah mengetahui hal ini."


Duchess berkata lemah sambil menghela nafas panjang. Jalan pikiran suaminya memang begitu sulit dan tidak mudah terbaca. Bikin kesal saja.


"Ya, mereka memang akan tahu, tapi hanya sedikit kan? Kalau terjadi gosip pun, itu pasti akan seperti kabar burung yang tidak mendasar. Sebab mereka tidak memiliki bukti lebih, karna kita telah menghilangkannya."


Setelah mendengarkan penjelasan Duke lebih rincih, dia jadi paham sekarang. Ternyata seperti itu rupanya.


Mereka juga akan lolos dari hukuman berat karena telah menggunakan sihir tanpa persetujuan Kaisar.


Sebenarnya, ada beberapa peraturan yang di buat Kekaisaran. Salah satunya adalah larangan soal penggunaan sihir tingkat menengah dan sihir tingkat tinggi tanpa persetujuan Kaisar.


Karna saat itu Duke sedang marah besar, dia malah memanggil penyihir tanpa sepengetahuan Kaisar dan melakukan sihir tingkat menengah.


Makanya, untuk menjauhkan diri dari hukuman, Duke melakukan hal seperti ini.


"Lalu, bagaimana soal penyihir itu? Dia pasti akan buka mulut nantinya."


Duke menunjukkan senyuman kecilnya, kemudian bangkit berdiri mendekati sang istri.


Dia lalu menyentuh lembut puncak kepala Duchess yang membuat sang puan terkejut di tempat.


"Jangan khawatir. Penyihir itu adalah orang terpercaya yang tidak akan membuka mulut ke sembarangan orang termasuk Kaisar."


Duchess mengangguk samar. Dia sedikit lega saat mendengar perkataan tersebut. Ia lalu membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Duke yang terasa hangat. Menikmati setiap momen yang berlalu.


Sejenak, Duke melepaskan pelukannya dan kembali menatap sang istri.


"Sebentar sore, penyihir itu akan datang dan mencabut sihir yang ia letakan pada Mikel. Jadi kamu harus menyiapkan beberapa hidangan untuk tamu kita nantinya."


Ucapan tersebut di angguki oleh Duchess. Kelihatannya dia akan sibuk untuk menyediakan semuanya.


...❁❁❁...


"... Rebecca?"


Sang puan seketika terkejut saat merasakan seseorang menyentuh punggung tangannya dengan lembut.


Ia lantas menoleh. Mendapati seorang pria yang adalah tunangannya tengah menatapnya khawatir.


"Y-ya?"


Ia mengerjab beberapa kali. Memberikan tatapan tanya pada pria tampan yang duduk bersebrangan dengannya.


"Kamu sejak tadi melamun. Apa ada masalah serius?"


Nada cemas yang terdengar darinya membuat Rebecca tersenyum kecil sambil menelan kasar salivanya.


Mana mungkin dia menceritakannya pada Killian. Bisa-bisa pria itu akan marah besar padanya. Atau lebih parahnya lagi, cekcok antar dua keluarga akan tercipta.


jadi, lebih baik baginya untuk menghindari pertanyaan Killian.


"Aku hanya merasa lelah."


Ujung-ujungnya hanya alasan klasik seperti itu yang bisa ia katakan. Tapi, bukannya Killian memaklumi apa yang ia katakan, dia malah terlihat terkejut dan langsung bangkit berdiri secepatnya.


"Apa kamu sakit? Katakan, dimana yang sakit? Atau mau ku panggilkan dokter?"


Rentetan pertanyaan yang cukup menghebokan dari Killian, menyadarkan Rebecca bahwa dia sudah salah bicara. Lagi pula, bagaimana bisa rasa lelah di sangkut pautkan dengan sakit?


"Tidak ada yang sakit, aku baik-baik saja. Hanya merasa lelah karna cuaca sekitar sedikit panas."


Rebecca mengipas-ngipasi wajahnya dengan satu tangan sambil mencuri-curi pandang ke depan, tepatnya pada Killian.


Kalau di lihat-lihat, entah kenapa pria ini semakin tertarik padanya. Tidak seperti jalan cerita yang sebenarnya. Apa jangan-jangan ada yang di lewatkan Rebecca?


Sepertinya tidak. Meskipun dia hanya membaca seperempat dari novel dan tidak sampai selesai, ia sangat yakin bahwa kejadian seperti Killian tertarik padanya itu tidak ada dalam alur cerita.


Lalu kenapa jadi seperti ini? Memusingkan saja.


Killian tiba-tiba menarik satu tangannya dan menggengamnya erat. Dengan tatapan sayang ia menatap Rebecca.


Jujur, siapapun yang melihatnya pasti akan terhipnotis hanya dalam sekali pandang.


"Aku tahu kamu berbohong Rebecca. Tapi itu tak apa. Hanya saja ... Tolong lebih terbuka dengan ku, jangan pendam itu sendirian. Karna aku tidak ingin kau kenapa-napa lagi."


Ucapan tulus yang di katakannya membuat Rebecca terdiam. Sedikit merasa terenyuh akan kata-kata tersebut. Tapi, dari pada itu, ada satu hal yang mengganjal dalam kepalanya.


Ungkapan 'lagi' yang di katakan Killian sedikit terdengar aneh. Apakah Rebecca pernah berada dalam bahaya sebelumya?


Jika di ingat-ingat, kejadian bahaya hanya terjadi saat Rebecca asli terpeleset dan jatuh pingsan saja. Lalu setelah itu dia yang menggantikan tubuh Rebecca, dan tidak ada hal serius lagi yang terjadi.


Mungkinkah dia hanya terlalu khawatir sampai mengatakan hal tersebut?


Sambil tersenyum, Rebecca menggengam balik tangan Killian yang membuat pria itu terkejut.


"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak seperti dirimu saja deh."


Mendengar lontaran tersebut Killian tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya sambil berdeham pelan.


Samar-samar Rebecca bisa melihat semburat merah yang muncul di kedua telinga tunangannya.


Hal itu mengundang Rebecca untuk bertanya secara terang-terangan.


"Kenapa kamu malu?" ucapnya menelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang terlihat polos.


Killian sempat melirik sang puan sebelum memberikan jawaban.


"Itu karna perkataan mu terdengar seperti kamu selalu memerhatikan ku."


Rebecca mengernyit heran sembari mengingat perkataan yang sebelumnya ia ucapkan.


"Anu ... Maksud mu di bagian mana? Dan Kenapa sampai kamu berpikir seperti itu?"


Raut kekecewaan seketika nampak jelas dalam wajah tampan Killian. Dia begitu terpukul akan perkataan yang di ucapkan Rebecca.


Jadi, kalimat tadi itu hanya ucapan semata tanpa ada niat yang tersembunyi? Killian rasa dia terlalu berharap lebih di sini.


Sementara dari posisi Rebecca, dia masih tidak paham akan jalan pikiran Killian yang terasa berliku-liku dan susah untuk di tebak. Memang, otak zaman bangsawan itu sangat berbeda dengannya yang seorang modern.


"Ah begitu ya ... Aku sudah salah mengartikan kata-kata mu. Ku pikir kamu berkata seperti itu karena selalu memerhatikan ku."


Setelah mendengar beberapa kalimat tersebut, entah kenapa seperti ada sengatan listrik yang masuk ke dalam kepalanya dan membuat Rebecca jadi sedikit paham akan topik pembicaraan mereka.


Jika kata-katanya di terjemahkan, akan jadi seperti ini. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak seperti dirimu saja deh.


Klita garis bawahi beberapa kalimat terakhir. Yakni 'Tidak seperti dirimu saja' dan hal tersebut akan menjadi 'Aku selalu memerhatikan mu' dalam bahasa bangsawan.


Padahal yang sebenarnya terjadi, Rebecca hanya berucap asal-asalan agar pria itu tidak mengkhawatirkannya lagi.


Karna sudah terlanjur seperti ini, mari kita lanjutkan saja kesalahpahamannya.


...❁❁❁...


Dalam ruangan yang di dominasi warna gelap, terdapat beberapa orang yang tengah berdiri menunggu seseorang untuk menyelesaikan tugasnya. Yakni membuat lingkaran sihir untuk mengembalikan Mikel seperti semula.


Tinggal menghitung waktu dan dia dapat kembali ke tubuh aslinya. Setelah itu terjadi, dia akan mengejutkan Rere. Dayang pribadinya.


Pastilah akan sangat seru jika melihat raut mangap dayangnya nanti.


Meskipun seharian ini Mikel tidak melihat wanita itu di kediaman Aristotle. Mungkin saja dia sedang sibuk bekerja sampai tidak menunjukkan batang hidungnya barang sekilas.


Tapi, dia tetap akan mencarinya setelah urusan ini selesai.


Aku yakin Rere tidak akan berkedip saat melihat sosok ku yang sebenarnya.


Pemuda itu tersenyum sumringah sebelum seorang pria yang adalah ayahnya menyuruh dia untuk masuk ke dalam lingkaran sihir yang sudah selesai di buat oleh salah satu penyihir berbakat.


Selanjutnya penyihir itu mulai merapalkan beberapa kata-kata asing yang tidak di mengerti Mikel, sampai tiba-tiba sebuah serpihan cahaya kebiruan mulai memancar dari dalam lingkaran dan menelan tubuhnya.


Setelah beberapa menit berlalu, cahaya itu perlahan-lahan redup dan menampilkan sosok seorang pria yang begitu menawan sedang menatap lurus ke satu arah.


"Mikel!"


Tiba-tiba saja Duchess datang menerjang anaknya ke dalam sebuah pelukan hangat. Dia merasa senang saat melihat sosok dewasa Mikel lagi setelah bertahun-tahun lamanya.


Walaupun itu semua karena ulah mereka sendiri sampai Mikel harus menetap dalam tubuh kecilnya.


"Ibu ... Pelukan mu terasa menyekik ku."


Mendengar keluhan tersebut, lekas-lekas Duchess melepaskan pelukannya sambil sedikit tersenyum maklum.


"Terima kasih atas bantuannya Tuan penyihir."


Seketika Duke angkat bicara sambil melirik pria yang memakai jubah kebesaran dengan lambang penyihir Kekaisaran.


"Sama-sama Tuan Duke. Saya juga merasa senang dapat membantu anda."


Pria itu tersenyum dari balik tudung jubahnya. Duke lalu mengajaknya untuk makan bersama sebelum memberikan bayaran pada penyihir tersebut.


Mereka lalu melangkah pergi meninggalkan Mikel bersama Duchess yang masih berada di dalam ruangan.


Menyadari keduanya sudah di tinggal pergi oleh Duke dan tuan penyihir, Duchess segera mengajak Mikel untuk menyusul sekaligus menawarkan anaknya untuk ikut makan bersama-sama mereka.


"Ibu pergi saja dulu. Karna aku ingin menemui seseorang, sebelum ke ruangan makan."


Perkataannya sontak membuat wanita itu melunturkan senyuman yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya.


Dia sangat tahu bahwa seseorang yang di maksud Mikel adalah Rere. Dayang yang sudah tidak bekerja lagi di kediaman mereka.


Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya pada Mikel.


"Ada yang ingin ibu katakan padamu," ucapnya yang memberhentikan Pria itu secara tiba-tiba.


"Ada apa?"


Dia lantas menoleh. Menatap tanya Duchess yang ada di dekatnya dalam diam. Menunggu wanita itu untuk berbicara.


Namun naas. Sudah beberapa menit berlalu, dan ibunya masih diam seperti patung. Hal tersebut tentu saja membuat Mikel merasa kesal.


"Jangan membuang waktu ku ibu—"


"Rere ... Dia sudah mengundurkan diri sejak kemarin siang."