
Cahaya apik yang menyentuh beberapa insan yang tengah duduk berbincang di salah satu taman kediaman Marquess Rone, tidak membuat mereka terganggu sama sekali.
Itu karena kediaman tersebut memiliki pepohonan tinggi dan lebat. Ada juga beberapa bunga Lily yang bermekaran dengan aromanya yang khas. Bahkan tak jauh dari tempat ini, ada satu kolam air mancur dengan patung malaikat kecil di tengah-tengahnya sedang tersenyum.
Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata jika saja Rebecca tidak melihat perawakan Pangeran kedua yang muncul bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Harmonie.
Bisik-bisikan pun terjadi saat mereka sudah memasuki taman tempat acara berlangsung. Mereka mempertanyakan kenapa sampai Pangeran kedua menghadiri acara yang hanya di khususkan kaum bangsawan wanita.
Apalagi dengan tingkah keduanya yang telihat begitu mesra karena Harmonie menggandeng lengan Pangeran Charles dengan erat sambil tersenyum hangat.
"Wah ... Wah ... Apa-apaan ini? Sejak kapan Yang mulia Pangeran dekat dengan Lady Rone?"
"Entahlah, aku juga baru mengetahuinya sekarang."
"Apakah mereka menjalin hubungan diam-diam sejak lama?"
"Bisa jadi seperti itu. Apa kalian lupa bahwa keluarga Rone sudah berpindah faksi? Pastilah ini alasannya."
Beberapa dugaan langsung memenuhi gendang telinga Rebecca yang tengah duduk di antara para Lady bangsawan dari beberapa wilayah.
Dia juga ingin ikut bergabung dalam pembicaraan tersebut, namun hal itu tidak dapat memungkinkan karena dirinya yang tidak mengenal atau dekat dengan mereka.
Makanya dia lebih memilih untuk diam mendengarkan perbincangan mereka.
Ketika Harmonie bersama Pangeran Charles sudah mencapai pertengahan taman, serentak para tamu bangkit berdiri dan memberikan salam ala-ala bangsawan yang sering mereka lakukan.
Harmonie tersenyum lembut sembari menatap satu-persatu para tamu hadirin yang ada. Sampai tatapannya jatuh pada Rebecca yang sedang menatap Pangeran Charles secara terang-terangan.
Ia lantas tersenyum dingin sembari membalas salam mereka dengan ramah sebelum mempersilahkan para tamu untuk duduk.
"Saya senang para Lady sekalian bisa menyempatkan waktu untuk datang ke acara sederhana ini."
Masih dengan senyuman hangatnya, Harmonie lantas melirik ke samping. Tepatnya pada Pangeran Charles yang duduk di dekatnya.
Menerima kode mata dari sang puan, Pangeran segera mengangguk pelan sambil melempar pandangan ke sekeliling tempat.
Menatap salah satu dari beberapa pelayan kediaman Rone yang berdiri di sisi kanan taman tanpa sepengetahuan orang-orang.
"Baiklah, silakan menikmati hidangan yang sudah saya sediakan dengan sepenuh hati, sambil kita berbincang-bincang ringan."
Setelah mendengarkan perkataan tersebut, para pelayan segera beranjak dari tempatnya masing-masing dan pergi melayani semua tamu yang ada.
"Lady, saya sungguh merasa terhormat bisa menghadiri acara yang sudah anda persiapkan ini."
Salah satu wanita bersurai ikal pendek angkat bicara sambil memberikan senyuman kecil pada tuan rumah.
Setelah perkataan tersebut, beberapa Lady langsung melontarkan sejumlah kalimat basa-basi sebelum memulai acara sindir-menyindir dan saling membanggakan diri sendiri.
Rebecca yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas pelan.
Untung saja aku tidak ikut dalam obrolan. Jika iya? Pasti akan berakhir saling mengejek seperti mereka.
Ya, belum beberapa saat berlalu, sudah ada dua wanita yang duduk sekelompok dengannya saling adu mulut dengan sindiran pedas yang cukup kentara.
Jika di katakan, sekarang ini mereka duduk sehidangan dengan Pangeran kedua dan Harmonie. Mengingat tuan rumah yang memesan meja panjang, jadi mereka hanya di bedakan dalam dua kelompok saja. Yakni kelompok kiri dan kanan. Sekarang ini Rebecca berada di kelompok kanan.
"Tapi ... Tidak ku sangka bahwa lady Dowis akan menghadiri acara ini. Aku sangat senang."
Rebecca mengumpat kesal dalam hati saat Harmonie memasukannya ke dalam pembicaraan menyebalkan mereka. Lihat saja sekarang, para Lady serta Pangeran kedua sedang menatapnya lamat. Menunggu jawaban apa yang akan di katakannya.
"Saya juga merasa terhormat atas undangan minum teh yang anda berikan, Lady Rone."
Ia mengangguk etis sembari tersenyum anggun. Berusaha menampilkan aura baik hati pada orang-orang sekitar. Meskipun terasa enggan, tapi dia harus memaksakannya.
Padahal mereka baru saja bertemu, entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa dia sudah pernah melihat Harmonie, bahkan ada rasa tidak suka dalam hati.
Mungkinkah ini akibat dari dia yang sudah membaca novel, hingga terasa familiar dengan sosok pemeran utama wanita? Atau ada hal lain? Seperti reflek dari pemilik tubuh asli.
"Saya dengar-dengar, hubungan Lady Dowis dan Killian makin dekat ya. Dia pasti sangat mencintai Lady."
Rentetan kalimat yang ia ucapkan membuat beberapa orang di antaranya berbisik-bisik. Mereka mengatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka melihat tunangan tuan muda Osmond secara langsung.
Rebecca bahkan jadi heran sendiri. Apa mungkin Rebecca asli suka sekali menutupi diri dari orang-orang? Mungkin karena hal tersebut, tidak ada wanita bangsawan yang menyapanya saat datang.
"Hahaha ... Saya tidak menyangka anda sangat terobsesi dengan hubungan kami."
Ia seketika menutup mulutnya dengan satu tangan saat melihat ekspresi wajah Harmonie yang menjadi dingin. Sungguh, dia tidak berniat menjawab perkataan wanita itu dengan kata-kata menyindir. Tapi tadi mulutnya bergerak sendiri dan mengatakannya secara langsung.
"Astaga ... Saya tidak mengira Lady akan berfikir seperti itu."
Harmonie menunduk dalam sambil memegang dadanya. Berekspresi seakan-akan dia terluka. Tindakannya itu mengundang beberapa simpati para Lady hingga mereka menatap sinis ke arah Rebecca secara terang-terangan.
"Saya tidak menyangka bahwa Lady Dowis akan sejahat itu pada Lady Rone."
Wanita berambut keriting dengan gaun kuning yang mencolok, melontarkan cibirannya dengan pedas. Membuat beberapa Lady di sekitarnya mengangguk setuju.
"Lalu? Apakah saya harus berpura-pura baik seperti mu?"
Wajah wanita itu bahkan sudah marah padam menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak layaknya bom.
Ting...
Suara ketukan gelas kaca terdengar nyaring kala seseorang yang duduk di dekat Harmonie mengetuknya menggunakan garpu.
Seluruh atensi para tamu langsung tertuju pada seorang pria berparas tampan, yakni pangeran kedua. Dia tersenyum kecil sambil meletakan kembali garpu yang di pegangnya ke atas serbet putih.
"Para Lady sekalian, berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan dengarkan apa yang akan ku katakan pada kalian."
Pangeran lantas menggengam tangan Harmonie dengan lembut sambil menatap wanita itu dalam. Semuanya tentu saja makin penasaran, termasuk Rebecca yang sejak tadi merasa curiga akan kedatangan Pangeran.
"Aku dan Lady Harmonie resmi bertunangan hari ini."
Sangking terkejutnya, semua yang ada di sana tidak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan yang bersarang dalam hati mereka masing-masing —tentang kedatangan Pangeran Charles— Sudah terjawab sepenuhnya.
"Wah ... Selamatnya Lady, saya turut senang mendengarnya."
Wanita bersurai biru gelap yang duduk tepat di samping kiri Rebecca, memecahkan keheningan secara tiba-tiba. Dan setelah ia memberikan komentar, para Lady yang lain mulai melontarkan hal yang serupa pada Harmonie dan juga Pangeran.
Sedangkan Rebecca sendiri, dia lebih memilih untuk bungkam sambil menggigit kuku jarinya.
Alur novel benar-benar melenceng makin jauh. Dan hal tersebut makin membuatnya khawatir. Karna bisa saja ada rencana tak terduga yang di buat Pangeran untuk menghancurkan Killian beserta dirinya.
Ini benar-benar gawat.
"Kalau begitu, untuk merayakan kebahagiaan ini, mari kita bersulang."
Pangeran mengangkat satu cangkir berisi teh hangat ke udara, di ikuti oleh para tamu undangan. Rebecca yang baru tersadar, langsung mengambil cangkirnya yang sudah di isi teh oleh salah satu pelayan wanita, dan mengangkatnya sebatas wajah.
"Bersulang."
Serempak mereka berucap sopan sebelum kemudian meneguk teh masing-masing secara perlahan-lahan.
Rebecca yang sudah bersiap meminum tehnya, malah menerima senggolan dari wanita di samping kanan, hingga membuat cairan itu tumpah membasahi gaunnya.
"Ah!" pekiknya terkejut akibat rasa panas yang menembus lapisan gaun. Ia kemudian bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk gaun bawahnya yang basah.
Orang-orang sontak menatap Rebecca dengan berbagai macam ekspresi. Termasuk satu pasangan yang sejak tadi menunggu wanita Dowis itu meminum tehnya.
"Astaga! Maafkan saya Lady. Mari saya bantu bersihkan."
Wanita berparas lembut dengan rambut yang di kepang dua, segera bangkit berdiri dan langsung menarik Rebecca untuk pergi dari sana secepat mungkin.
Sementara yang di tarik, hanya bisa mengikutinya dalam diam dengan pikiran yang kemana-mana akibat kejadian tersebut.
...❁❁❁...
Di tengah teriknya sinar matahari, seorang pria berparas rupawan turun dari dalam kereta kuda setelah ia tiba di tempat tujuannya.
Mengendarkan pandang ke sekeliling tempat, ia kemudian melangkah menelusuri seluk-beluk kota yang berada di bawah kuasa seorang Count.
Tiba-tiba pandangannya jatuh pada seorang penjualan roti yang terlihat sudah berumur, sedang melayani salah satu pelanggan yang membeli dagangannya.
Atensinya yang sejak awal sudah mengundang tatapan para warga yang berlalu-lalang, tentu saja di sadari oleh wanita penjual roti itu saat ia melangkah mendekati kedainya.
"Apa anda tertarik untuk membeli roti saya, tuan?"
Dengan ramah ia melontarkan satu pertanyaan sambil menatap kedua manik ruby milik pria tampan di hadapannya.
"Ya. Tolong siapkan."
Jawaban singkat darinya membuat pemilik kedai tersenyum kecil. Dia dengan senang hati menyediakan roti tersebut.
Siapa juga yang tidak bahagia jika jualannya di beli oleh seorang pria bangsawan yang tampan dan berkarisma.
"Apakah nyonya sudah tinggal lama di daerah ini?"
Pertanyaannya membuat wanita itu berhenti sebentar dari kegiatan membungkus roti. Ia lalu menatap pria tinggi di depannya sebelum kemudian menjawab.
"Mendengar pertanyaan tuan, sepertinya anda pendatang baru. Saya sudah ada di kota ini cukup lama, mungkin sekitar 50 tahun yang lalu."
Pria itu lantas mengangguk paham. "Apakah anda mengenal seorang wanita cantik bernama Rere?" tanyanya menatap penuh harap wanita tua di hadapannya.
"Astaga. Tuan, ada banyak wanita bernama Rere di kota ini. Salah satunya cucu saya."
Sontak pria bermanik ruby yang adalah Mikel, membelalakan kedua matanya. Perasaan senang yang tiba-tiba mengalir deras dalam hatinya, tidak dapat di pungkiri lagi.
"Bisakah aku melihat cucu mu itu?"
Senyuman Mikel langsung mengembang saat melihat anggukan kepala yang di tujukan padanya. Wanita itu setuju untuk membawanya pada Rere yang menjadi cucunya.
Sepertinya aku akan bertemu dengannya lagi.