Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Kediaman Penyihir >



Jumantara biru yang terlihat indah, kini di gantikan oleh senja yang damai. Suara burung-burung yang mengudara di bawah langit, sangat terdengar kala mereka menyampaikan bahwa akan kembali pulang ke sarang masing-masing.


Sama halnya dengan seorang wanita yang tertutup surai hitam. Ia kini sedang bersiap-siap untuk kembali pulang juga.


Saat hendak berbalik, di dapatinya Mikel yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia lalu memberi salam sembari mendekati sang majikan.


"Anda sudah selesai belajar?" tanyanya sekedar basa-basi sembari tersenyum kecil. Mikel sendiri hanya menganggukkan kepalanya singkat sambil mendudukkan diri di atas sofa.


"Tuan--"


"Pergi dan buatkan aku segelas susu coklat dingin."


Belum sempat menjelaskan bahwa ia akan segera pulang, Mikel malah memerintahkannya untuk pergi membuatkan segelas susu.


Seraya menghala nafas pelan, perempuan itu berbalik meninggalkan kamar tuannya untuk memenuhi perintah. Dan setelah beberapa menit berlalu, ia kembali dengan segelas susu coklat dingin sesuai dengan keinginan majikannya.


Rebecca meletakkan gelas bening yang ia pegang ke atas meja dengan hati-hati.


"Silakan di minum tuan muda," ujarnya sopan. Mikel segera mengambilnya dan meneguk minuman itu perlahan-lahan.


"Tuan muda, karna ini sudah sore, saya akan kembali ke rumah."


Sedikit anak itu melirik Rebecca sebelum menyudahi aktifitas minumnya.


"Pulanglah. Aku tidak akan menahan mu, lagi pula kau pasti harus bergegas, mengingat orang tuamu yang sedang sakit bukan?"


Rebecca mengangguk samar menampakkan senyuman kecilnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa keluarga Aristotle akan percaya begitu saja pada kebohongannya.


"Lain kali aku akan menjenguk orang tuamu yang ada di County." Mikel menambahi kalimat terakhirnya yang membuat Rebecca terkejut.


"Ahaha ... Anda tidak perlu repot-repot untuk itu, saya takut penyakit yang orang tua saya derita akan berjangkit pada anda."


Penjelasan yang cukup realistis, di katakannya pada Mikel. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ia merasa takut jikalau lelaki itu datang ke kota County. Bisa-bisa apa yang telah ia sembunyikan akan ketahuan dan akan sangat merepotkan jika itu benaran terjadi.


Pokoknya tidak boleh!


Sementara itu, Mikel yang mendengarnya malah merasa kurang setuju. "Tapi kau tidak kenapa-napa tuh, saat merawat orang tua mu."


"Ah—itu ... Kar-karna saya kan kuat! Makanya tidak terjangkit."


Rebecca gelagapan saat menjelaskannya pada sang majikan, bahkan kedua telapak tangannya mendingin kala melihat ekspresi Mikel yang berubah aneh? Saat setelah ia selesai menjelaskan.


"Jadi maksud mu aku lemah, begitu?!" ucapnya emosi.


"E-eh! Bu-bukan begitu. Saya hanya khawatir pada anda, itu saja. Makanya anda tidak perlu repot-repot ke sana."


Keringat dingin mulai menetes dari dahi kanan Rebecca. Ia berharap bahwa tuannya mau percaya dan tidak keras kepala ingin menjenguk ke rumahnya.


Mikel lantas membuang pandangan ke samping dengan kedua ujung telinganya memerah. Kata 'khawatir' yang di ucapkan Rebecca membuatnya malu sendiri.


"Ya-ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan pergi. Titipkan salam untuk orang tuamu di sana, juga, besok ujian sejarah akan di mulai. Jangan lupakan janjimu jika aku menang nantinya."


Wanita itu mengangguk antusias saat mendengar Mikel tidak akan pergi menjenguk kedua orang tuanya. Ia aman sekarang.


Segera, selepas perbincangan singkat mereka, Rebecca memutuskan untuk berpamitan dari sana dan meninggalkan ruangan kamar sang majikan yang sudah rapi sejak tadi.


Mikel yang kini melihat kepergian wanita itu, sedikit merasa sedih. Mempertanyakan kenapa waktu begitu cepat sekali berlalu.


Tapi, mau bagaimana lagi. Masih ada hari esok untuk mereka bertemu kembali. Juga, ia harus lebih semangat untuk latihan berpedang.


Karna, alasan dasar Mikel kembali belajar berpedang adalah untuk melindungi Rebecca. Agar kejadian yang hampir mengancam nyawa wanita itu tidak terjadi lagi, dan untuk kedepannya dialah yang akan melindungi Rebecca.


...✾✾✾...


Roda kereta kuda keluarga Osmond berhenti di depan gerbang kediaman penyihir. Pintu kereta pun di buka dari dalam oleh seseorang yang adalah Aaron.


Ia pun mempersilahkan tuannya untuk turun dari dalam kabin. Seketika pria berperawakan tinggi itu menapakan kakinya ke atas jalan setapak sambil membenarkan jasnya.


Dia lantas melempar pandang ke arah menara yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini, tujuan Killian hanya satu, yakni ingin bertemu dengan teman lamanya yang berstatus seorang kepala penyihir.


"Mari pergi Aaron."


Setelah berucap, ia melangkahkan kedua tungkai kakinya memasuki pekarangan kediaman penyihir.


Keadaan sekeliling sangatlah asri, tidak sama seperti yang di cerita dalam buku dongeng anak-anak—Tentang menara penyihir yang adalah tempat suram dan mengerikan— Kenyataan itu sangat berbanding jauh dengan yang ia lihat sekarang.


Setibanya mereka di depan pintu masuk menara, satu tangan Aaron bergerak hendak mengetuk pintu. Namun, belum sempat punggung jari tangannya sampai ke permukaan pintu, kedua benda itu malah bergerak dengan sendirinya dan perlahan-lahan terbuka lebar.


Kini di hadapan mereka nampak seseorang berjubah putih dengan corak elegan berwarna emas di setiap ujung kain. Wajah orang itu tidak terlihat, sebab ia menutupinya dengan tudung jubah.


"Katakan ada perlu apa sampai anda sekalian datang ke sini?"


Nampak dari suaranya yang lembut, sepertinya dia adalah seorang wanita. Tetapi kenapa bentuk tubuhnya telihat berbeda?


"Jangan berpikir macam-macam jika anda masih ingin hidup."


Nada dingin yang begitu menusuk, terdengar dari balik bibir wanita itu. Killian lantas melirik sebentar ke arah Aaron sebelum kemudian menjelaskan kedatangan mereka ke sini.


"Aku ingin menemui Eros. Katakan padanya bahwa ada hal penting yang harus di bicarakan."


"Tuan—"


Belum sempat memberikan sebuah jawaban, kini sosok yang di maksud malah datang dengan sendirinya dari balik pintu.


"Killian? Sedang apa kamu di sini?" Lelaki itu menatap tanya sang sahabat yang tumben sekali datang berkunjung ke kediamannya.


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan mu, Eros."


Mendengar hal penting yang di ucapkan Killian, Eros segera mengangguk paham sembari menyuruh kedua tamunya untuk masuk terlebih dahulu.


Setelahnya Eros membawa mereka ke salah satu ruangan yang di dalamnya memiliki sihir meredam suara. Agar supaya pembicaraan mereka tidak terdengar sampai ke luar.


"Duduklah," Ia berucap sembari menjentikkan jarinya sekali.


Seketika di atas meja muncul beberapa cangkir juga satu teko yang di isi teh hangat. Lain dari pada itu ada sepiring kue kering sebagai pengganjal perut.


"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?"


Dalam sekejap, suasana sekitar menjadi serius. Killian terdiam sebentar sebelum kemudian melirik Eros yang duduk bersebrangan dengannya.


"Ini tentang Distrik timur. Kamu pasti tahu bahwa di sana ada sebuah desa yang memiliki lahan besar, namun tanahnya tidaklah baik."


Eros terlihat mengangguk samar. "Ya, aku tahu itu. Tetapi aku tidak pernah mengunjunginya," ucapnya sembari menatap satu objek acak yang ada di dalam ruangan.


"Begitu ya ... Aku hanya ingin kamu pergi bersama-sama dengan ku besok, ke sana."


Pria bersurai biru itu mengangkat satu alisnya tanda tidak mengerti. Melihat siratan kebingungan dalam manik matanya, Killian segera menjelaskan secara detail tentang rencana serta alasan ia mengundang Eros ke sana.


Seperti yang sudah di bicarakan bersama Rebecca beberapa hari lalu, rencana yang wanita itu katakan adalah untuk mengobati tanah yang ada di salah satu desa dalam Distrik timur.


Menurut Rebecca, Killian harus membangun relasi dengan Duke Eld yang dalam pemilihan faksi penerus, dia memilih pilihan netral,


di karenakan pria itu masih bingung dalam memilih pemimpin yang pantas untuk memimpin kekaisaran untuk kedepannya.


Makanya Rebecca menyarankan Killian agar mau membantu permasalahan tanah di Distrik timur.


Mengingat sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk memperbaiki tanah itu, pastilah Duke akan dengan senang hati mendukungnya jika ia berhasil menyelesaikan permasalahan tersebut.


Jujur saja, rencana yang Killian dengar dari mulut Rebecca, mengundang keterkejutan dalam dirinya. Tidak ia sangka tunangannya memiliki pemikiran seperti itu.


Apa lagi soal dia yang mengatakan untuk membawa seorang penyihir karna mereka pasti memiliki jalan keluarnya.


Menurutnya, Rebecca terlihat seperti sudah mengetahui segalanya, sampai ia dengan yakin berkata seperti itu.


Tapi bagaimana bisa? Ia sungguh tidak mengerti akan jalan pikiran Rebecca. Karna hanya dengan memikirkan tindakannya saja, sudah membuat Killian sakit kepala.


"Jadi begitu ... Ternyata semua ini rencana tunanganmu ya," ujarnya yang di beri anggukan singkat dari sang lawan bicara.


"Perubahan yang ia tunjukkan selama beberapa hari berjalan ini, sering kali membuatku terkejut."


Eros menatap lurus ke dalam manik biru Killian yang nampak gelisah.


"Tenanglah Killian, aku pastikan tunanganmu itu tetaplah 'Dia' yang dulu dan bukan 'Orang lain'."


Mendengar kata orang lain dari beberapa rentetan kalimat yang di ucapkan Eros, membuat Killian mengeryit bingung.


"Apa maksudmu soal orang lain?" tanyanya yang tak kunjung di jawab.


Aaron yang sejak tadi hanya diam mencerna pembicaraan dua insan yang ada di sisi kanannya, hanya melempar pandang tidak mengerti.


"Aku akan menjelaskannya nanti," Eros berucap sembari memberikan satu senyuman kecilnya seperti biasa.


Ingin sekali ia bertanya kenapa tidak sekarang? Tetapi, saat mengetahui sifat Eros, mau tidak mau ia harus menunggu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tadi.


Detik selanjutnya mereka segera menyudahi pembicaraan panjang itu dengan membuat janji akan bertemu besok pagi di Distrik timur.


Namun, belum sempat Killian meninggalkan ruangan itu, Eros malah memanggilnya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan.


Segera Killian berbalik menatap sahabatnya.


"Aku di bayarkan?" tanyanya yang mengundang kekehan pelan dari Killian.


"Iya, itupun kalau kamu berhasil."


Nada ejekan yang di katakan sahabatnya, membuat Eros mencebik kesal. Berani sekali dia meremehkan kepala penyihir. Lihat saja, dia pasti bisa mengobati tanah itu.